
Setelah menarik Meli pergi dari hadapan Denis Farid langsung melajukan mobilnya, sementara Denis hanya diam menatap kepergian Meli dan Farid yang tak dia mengerti kenapa bisa Farid begitu dekat dengan Meli.
"Kenapa tuan Farid begitu dekat dengan Meli, dan kenapa juga mereka terlihat sangat akrab? Padahal aku mendekati Meli karena aku tau dia dekat dengan Lira." gumam Denis bingung.
Sementara didalam mobil Farid merasa sangat kesal dan juga marah pada Meli, dan Farid berusaha untuk menahannya agar tak menyakiti hati Meli. Namun perasaan yang meluap itu seolah menghimpit saluran pernafasannya hingga membuat dia merasakan sesak yang amat sangat. Dan meluap keluar juga.
"Aku selalu menghargai dan menghormati setiap keputusan dan pilihan mu, bahkan aku terima kau menyukai serta menyimpan nama pria lain dihatimu. Tapi tidak bisakah kau menahannya sebentar dan menunggu selama 6 bulan lagi sampai anak ku dalam kandungan mu itu lahir." ucap Farid dengan dingin pada Meli.
"Aku tak mengharapkan atau menginginkan apa pun selain kesehatan dari calon anakku. Jadi tahanlah sebentar lagi dan jangan berbuat semau mu sendiri. Karena aku gak mau anakku nanti terpengaruh oleh hal yang kurang baik. Kau tak tau dan tak mengenal tuan Denis dengan baik dan benar." jelas Farid lagi.
"Dan 1 lagi, jangan menjadi seperti wanita murah, yang mau dan menerima saja orang dengan alasan cinta. Apa lagi menjadi wanita kedua diantara hubungan orang lain." Farid berkata tanpa menyadari kalau kalimatnya menyakiti hati Meli.
"Keluar." perintah Farid saat mereka sampai didepan rumah Farid yang baru saja dibelinya setelah mereka menikah.
Meli langsung lari masuk kedalam rumah dan menuju kamarnya dengan air mata yang sudah berlinang karena kata - kata Farid yang terakhir dan mengatakan kalau dia seperti wanita murahan.
Farid yang melihat itu tak menyadari apa pun karena dia sudah diliputi oleh rasa kesal dan juga marah jadi satu yang sudah menghimpit dadanya.
"Tunggu kenapa aku tak tanya apakah Meli sudah makan atau belum ya? karena tadi aku hanya melihat ada minuman saja diatas meja mereka." gumam Farid dalam kamarnya.
Perlahan Farid membuka pintu kamar Meli untuk melihat kondisi Meli, dan ternyata Meli sudah terlelap dalam tidurnya yang sangat tenang. Farid tersenyum menatap wajah Meli yang terlihat polos dan cantik karena Meli memang masih muda.
"Apa kabar sayang, apa kamu sudah bisa mendengarkan suara papa dari sana? Tolong jaga Mama ya dan jangan nakal." bisik Farid mendekat pada perut Meli yang masih datar.
"Sebelum berangkat sarapan dulu, sudah ku buatkan sarapan di meja makan." ucap Farid pada Meli yang baru saja bangun tidur.
"Nanti kalau ada apa - apa kabari aku. Aku berangkat dulu." ucap Farid keluar dari dalam rumah.
Ting ( suara pesan masuk )
Denis
Halo sayang, selat pagi
^^^Meli^^^
__ADS_1
^^^Pagi, maaf soal kemaren^^^
Denis
Tak apa sayang, oh iya ada yang ingin aku tanyakan pada mu maukah kamu datang dan menemui aku di kafe biasanya?
^^^Meli^^^
^^^Iya nanti sepulang dari kampus aku akan menemui kamu di kafe^^^
...🍂🍂🍂...
"Selamat pagi pak Farid." sapa Endang yang melihat Farid di lobby.
"Iya, selamat pagi." jawab Farid ramah.
"Liyon, kamu sudah masuk." sapa Farid yang melihat Liyon didalam lif bersama dengan Satria.
"Ya, hari ini ada rapatkan? Aku sudah menunda cukup lama semua pekerjaanku. Dan juga merepotkan kalian." jawab Liyon melenggang masuk kedalam ruangannya.
"Halo Liyon." Saputra langsung masuk kedalam ruangan Liyon karena memang sudah janjian akan ketemu di kantor.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Liyon pada Saputra yang baru saja datang.
"Apa - apaan kau ini, langsung tanya apa yang ingin diketahui. Tak bisakah kau menawarkan aku minum dulu?" tanya Saputra dengan kesal.
"Bos jadwal anda hari ini apa mau saya bacakan? Dan untuk jadwal lanjutannya mau dijadwalkan untuk hari apa?" tanya Safitri pada Liyon.
"Fitri, jangan mengurus dia. Urus lah diriku dulu, tolong buatkan aku minum karena aku haus dan ingin minum kopi buatan mu." ucap Saputra pada Safitri.
"Sejak kapan kau akrab dengan sekretaris ku." ucap Liyon kesal.
Saputra tersenyum "Sejak aku menyatakan perasaanku padanya, tapi belum ada jawaban sampai sekarang." jawab Saputra menatap Safitri dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Buatkan kopi untuknya dari pada dia resek." ucap Farid dan Safitri langsung keluar untuk membuatkan kopi Saputra.
__ADS_1
"Katakan siapa saja yang terlibat dalam masalah waktu itu, aku ingin kamu menemukan semua orangnya." ucap Liyon menatap serius pada Saputra.
"Yang jelas Mey Niyang adalah dalang utamanya dari masalah waktu itu. Tapi untuk obat - obatan mereka bilang kalau mereka mendapatkannya dari seseorang yang menghubungi mereka lewat telepon dan meninggalkan barangnya di tempat pertemuan yang sudah dijanjikan." Saputra diam sebentar. "Aku juga menekan sesuatu yang dilakukan oleh Santo." lanjut Saputra.
"Katakan." ucap Liyon langsung.
"Tuan kopinya." Safitri menyelah pembicaraan mereka.
"Terima kasih sayangku." jawab Saputra tersenyum pada Safitri.
"Sepertinya Santo sedang mengincar Lira dan mereka sepertinya sedang terlibat suatu perjanjian bersama. Karena aku menemukan rekaman pembicara mereka saat melakukan penyelidikan." jelas Santo setelah Safitri keluar dan ketiga orang yang mendengarkan merasa kaget.
"Maksudmu.!" ucap Satria dan Liyon bersamaan.
"Wei, tenang dulu bro." Saputra tersenyum menatap Saputra dan Liyon bergantian.
Saputra menjelaskan apa yang dia temukan dan apa pembicaraan yang dilakukan oleh Santo dan juga Lira. Liyon mendengarkan secara seksama isi rekaman suara yang terekam oleh alat perekam yang dipasang oleh Saputra pada saat anak buahnya yang berpura - pura sebagai tukang reparasi air karena Saputra sengaja memutuskan sambungan air ke rumah Santo.
...🍂🍂🍂...
Disebuah kafe yang ditentukan Meli dan juga Denis melakukan pertemuan lagi sore itu saat Meli baru pulang dari kampus. Mereka terlihat sangat bahagia berdua seperti pasangan muda pada umumnya.
"Meli, maaf karena aku tak mencegah tuan Farid saat dia membawah mu pergi dari hadapanku. Sejujurnya aku sangat marah waktu itu, tapi aku tak bisa berbuat apa pun karena pengaruhnya terlalu besar." jelas Denis pada Meli, seolah dia adalah pasangan yang sangat penyayang dan pengertian pada kekasihnya.
"Tidak, aku lah yang harusnya minta maaf karena aku tak bisa berbuat apa pun. Dia adalah orang yang sangat dipercaya oleh papa." jawab Meli merasa bersalah pada Denis.
"Tak apa sayang, aku akan menjelaskan pada papamu nanti dan akan berusaha untuk meminta restunya pada beliau." ucap Denis mengusap pipi Meli dengan lembut.
"Sebenarnya aku penasaran kenapa bisa papa mu sangat percaya pada tuan Farid, dan kenapa dia seolah sangat berhak atas dirimu. Dan lagi apa hubunganmu dengan dia sebenarnya? Kalian terlihat sangat dekat kemaren." tanya Denis membuat tatapan menyedihkan dimata Meli.
"Itu,,, sebenarnya aku,,," Meli merasa ragu ingin mengatakan yang sebenarnya.
"Aku sungguh sangat iri dan juga cemburu melihat tuan Farid bisa menggandeng tangan mu dan mengantarkan kamu pulang." ucap Denis lagi dengan mimik menyedihkan.
"Sebenarnya ada kejadian yang tak bisa dijelaskan yang membuat aku terjebak serta terpaksa menikahi dia." ucap Meli dengan tertunduk.
__ADS_1
"Apa? Apa yang barusan dia katakan, terjebak dan terpaksa menikahi? Dia dan tuan Farid, bagaimana bisa?" gumam Denis dalam hati menatap Meli yang tertunduk.