
"Ugh, sakit." keluh Yuniar saat dia tersadar di pagi hari.
"Eh, ini apa kok lembut dan juga keras?" Yuniar meraba raba kan tangannya.
Tep
"Apa masih juga belum puas juga setelah semalaman beraksi dengan sangat liar?" ucap seseorang dengan suara parau bangun tidur dan memegang tangan Yuniar yang meraba raba perutnya.
"Sa - satria?!" teriak yuniar kaget setelah menoleh dan ada satria yang tidur ditempat tidurnya tanpa baju.
"Apa yang kau lakukan di sini, dan tidur tanpa baju begitu?" tanya Yuniar bingung.
"Hah, harusnya aku yang tanya apa yang kakak lakukan padaku semalam? Dan pagi ini masih meraba raba tubuh ku." jawab satria balik bertanya.
"A - aku? Emang apa yang ku lakukan semalam?" tanya Yuniar dan dia sadar kalo dirinya juga tak memakai baju.
"Waaaah.!" teriak yuniar menarik selimut.
"Eh, tunggu kak." satria kalah cepat dengan Yuniar, sehingga menampakkan tubuh satria yang kekar tanpa sehelai benang pun.
"Satria.!?" teriak yuniar yang terkejut dengan penampilan satria
"Hus, jangan teriak. Lagian Kakak juga sudah merasakan, memegang dan juga memainkannya serta menikmatinya." jawab satria ringan sambil melenggang masuk kedalam kamar mandi
"Apa yang dia bilang tadi?" ucap Yuniar dan dia berusaha untuk mengingat.
"Ampun, apa yang sudah ku lakukan?" gumam Yuniar setelah dia teringat kejadian semalam yang menampakkan dirinya yang sangat aktif menguasai satria dari bawah hingga atas.
"Aku sudah gila ya, bagaimana aku bisa menyerangnya dan juga menyerahkan malam pertamaku pada dia adik sahabatku sendiri dan juga termasuk adik ku." gumam Yuniar yang bisa didengar oleh satria saat dia keluar dari dalam kamar mandi.
"Apa? Jadi itu yang pertama kalinya bagi kakak? Itu artinya aku adalah orang pertama yang membobol segel Kakak." ucap satria tersenyum puas menatap Yuniar.
"Diam lah dan lupakan itu semua." Yuniar tak menjawab dan lari masuk kedalam kamar mandi.
"Kak aku pergi mengambil motor ku di bar." teriak satria dan keluar dari kamar Yuniar.
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
Setelah mengambil motornya satria menghubungi liyon dan temannya yang lain untuk mengajak ketemuan di sebuah kafe.
30 menit kemudian liyon sampai di kafe yang disebutkan oleh satria. Dan di sana sudah ada Brayen, Saputra dan juga Bagas.
Dan karena kafe itu adalah milik Brayen mereka bisa memesan apa saja yang mereka mau secara khusus.
"Tumben kamu mengumpulkan kami semua?" tanya liyon berjalan mendekati meja dimana teman temanya sudah berkumpul di sama
"Tidak ada aku hanya ingin berkumpul bersama semuanya di akhir pekan ini bersama apa salah?" jawab satria yang terlihat tak biasa.
"Jangan membodohi aku" jawab liyon tegas.
"Hahaha, ok ok. Aku hanya ingin bertanya apa kamu sudah mendapatkan kakak yang kamu maksud waktu di Beijing?" tanya satria dan liyon mengerutkan alisnya tanda bingung.
"Aku telah bertemu dengan kakak yang aku maksudkan dan mulai sekarang aku akan berusaha untuk mengejarnya dengan perlahan." jawab satria.
"Kau telah mendapatkannya rupanya." jawab Saputra dan tersenyum
"Heh berhasil juga kau" jawab liyon dengan seringainya.
Setelah selesai meledek satria, mereka pun makan bersama sambil berbincang ringan membahas soal wanita wanita yang mereka kencani dan juga permainan yang mereka mainkan bersama dengan para wanita wanita itu.
"Aku kan tidak tau kau mereka ternyata bersaudara." bela Brayen.
"Oh iya Sat, katanya kau punya kakak perempuan." ucap Bagas saat mereka semua mentertawakan Brayen
"Eh, benarkah? Dari mana kau tau Gas." tanya Saputra.
"Ya, waktu itu aku mencari Satria ke rumah neneknya dan kata pegawai neneknya Satria tinggal bersama dengan kakak perempuannya." tutur Bagas dan itu membuat Brayen serta Saputra manggut - manggut, nun tidak dengan liyon. Dia menatap tajam kepada teman temannya.
"Ya aku punya kakak perempuan yang beda ibu dengan ku. Tapi aku sangat menyayanginya, dan aku tak akan memberikan kakak ku pada kalian yang berandal ini." jawab satria
"Uhuk uhuk," liyon terbatuk - batuk karena tersedak minuman yang dia minum.
"Elah, ngapain sih kau ini pakek nyembur segala." gerutu Bagas yang ada disamping liyon.
"Ya bagaimana dia gak nyembur kalo denger adik dari wanita yang dia kejar berkata begitu." gumam Farid dalam hati sambil memberikan tisu pada liyon.
__ADS_1
"Duh Rid ajarin bayi mu ini tata krama minum dong, jadi basah kan baju ku." Bagas masih menggerutu karena kena semprot oleh liyon.
"Berisik, bukankah mol mu banyak baju. Atau mau ku beli semua saja sekarang " kesal liyon pada Bagas yang terus saja menggerutu.
"Eit, kalo bos turun tangan beda dong ceritanya." ucap Bagas dengan tertawa.
"Eh, iya aku baru ingat bukankah liyon juga suka pada kakak di Indonesia hingga ngambil tindakan ekstrim dengan steril. Bagaimana, apakah sudah bertemu dengan kakak itu? Atau masih mengkonsumsi obat itu?" tanya Brayen seketika dan membuat yang lain menatap liyon dengan mengangguk mantap.
"Dengar Li, jangan terlalu ditahan. Jika urusan itu tak terlaksana dan berjalan dengan lancar nanti bisa bikin letoi serta tak mampu lagi bangun." ucap Saputra menatap kearah bawah milik liyon.
"Benar yang dikatakan oleh Saputra kamu harus melatih adik kecilmu itu untuk beraktifitas agar dia tak jadi masalah pada akhirnya nanti, bisa repot kalo sampai dia tak mampu untuk bangkit lagi." sambung Bagas dan itu membuat aura pandangan liyon jadi menggelap karena kesal, teman temannya meremehkan kemampuan tempur dari senjatanya yang paling berharga itu.
"Tak masalah kau berhubungan dengan wanita, toh kau tak akan meninggalkan benih mu pada wanita itu." sambung Brayen dan satria ikut manggut manggut
"Kalian ingin aku memblokir semua usaha kalian ya" jawab liyon dengan nada serius serta dingin, dan itu membuat semua temannya jadi merinding.
...🍂🍂🍂...
"Yun, ya ampun kamu ini kemana saja? Aku menghubungimu dari semalam, kenapa hanpon mu tak bisa dihubungi? Kamu tak papa kan? Tak ada masalahkan?" tanya lira pada Yuniar yang datang kerumahnya pagi pagi.
"Kenapa? Apa kamu sudah tau lira? Sepertinya kamu sudah tau ya." jawab Yuniar dengan tertunduk dan duduk dengan lemas di kursi ruang tamu.
"Ya, secara tidak sengaja saat pulang kerja kemaren aku melihatnya." jawab lira ikut duduk disebelah Yuniar.
Yuniar menghela nafas dalam dan menghabiskannya berkali kali sebelum akhirnya dia menceritakan semua apa yang terjadi pada hubungannya dengan Denis yang sudah berjalan selama 5 tahun.
"Apa kamu tak apa Yun?" tanya lira khawatir.
"Tidak, aku tak apa. Aku justru merasa khawatir dengan sesuatu, karena semalam aku telah menghabiskan malam dengan seseorang." ucap Yuniar dengan suara sedikit ragu.
"Hem, kamu mabuk dan tidur dengan seorang pria yang tak kamu kenali?" tanya lira bingung karena kalimat Yuniar memberi penjelasan yang tak lengkap.
"Tidak, bukan tak kenal. Aku kenal dengan orangnya hanya saja aku tak menyangka kalo itu adalah dia, dan lagi dia orang yang sangat dekat. Aku bingung bagaimana nanti caranya aku menghadapi dia." ucap Yuniar dengan kekhawatiran yang sangat terlihat jelas oleh lira.
"Kenapa kamu sekhawatir itu? Apakah dia menyalahkan mu? Atau meminta ganti rugi?" tanya lira lagi
"Bukan begitu, aku hanya takut saja karena dia adalah orang yang aku kenal dengan baik." jawab Yuniar.
__ADS_1
Mendengar itu lira diam, karena dia juga punya pengalaman tidur dengan orang yang dia kenal bahkan orang itu adalah bosnya sendiri.
"Lira, kenapa kamu melamun, bagaimana menurut mu?" tanya Yuniar dan lira diam karena tak punya jawaban.