Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Lira mabuk


__ADS_3

"Bos kerusakan kafe ini?" tanya salah satu anak buah Liyon sebelum Liyon keluar.


"Ganti semuanya dengan yang baru dan berikan kompensasi pada mereka sebagai ganti rugi atas waktu dan psikisnya." jawab Liyon tanpa melihat anak buahnya yang bertanya.


Anak buah Liyon yang lain membawah ke 4 pembuat onar itu dan yang lainnya berurusan sama manager kafe serta membagikan banyak makanan dari kafe itu juga uang untuk mereka semua.


Farid sudah membawah Meli dan Arlin kembali pulang ke rumah mereka. Dan menyuruh Sulasih untuk membawah Surti ke mansion Liyon untuk mendapatkan pengobatan atas luka di kening. Sementara Satria membawah pulang Yuniar dan juga Ferdi bersama dengannya.


"Ferdi, dia dimana?" tanya Lira karena tak melihat keberadaan putranya.


"Dia sudah pulang bersama dengan Satria." jawab Liyon membukakan pintu mobil untuk Lira.


"Lain kali kalau ada hal seperti itu jangan turun tangan sendiri, bukankah aku sudah bilang bawah seseorang untuk mengawal jika ada keperluan dan urusan keluar rumah. Jika aku terlambat datang apa yang akan terjadi?!" kesal Liyon pada Lira sambil menyetir.


"Aku tak sangka hal itu akan terjadi, lagian selama ini juga baik - baik saja." elak lira dengan enteng sehingga itu membuat Liyon jadi semakin geram.


"Keras kepala.!" gerutu Liyon dan Lira hanya melirik saja.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, tak perlu merepotkan mu." elak Lira lagi.


Ckiiiitttttt.


"Kyaaaa.!" Lira teriak Karen kaget tiba - tiba saja Liyon memutar balik dengan tajam dan mengerem sangat cepat.


"Liyon.! Emm" Lira yang mau teriak tertahan karena Liyon melahap bibir Lira dengan kasar.


"Puah, aku sulit bernafas. Apa kau mau membunuhku?!" kesal Lira pada Liyon yang tiba - tiba saja marah.


"Aku tau kau hebat, tapi bagaimana dengan putraku. Bagaimana dengan diriku kalau sampai terjadi apa - apa pada kalian?! Bisakah kakak tidak memikirkan diri kakak sendiri!?" teriak Liyon sangat kesal pada Lira yang selalu saja mengentengkan segala hal.


"Li-liyon aku tak berfikir sejauh itu." Lira berkata dengan tertunduk.


"Haaaaargh.!" Liyon teriak dan memukul setir mobilnya.


"Liyon." Lira memanggil nama Liyon dengan nada takut.


"Apa kau tau, aku bisa melakukan apa saja bahkan menghancurkan semua orang dengan mudah. Namun aku menghargai dan menghormati kakak yang tak ingin ada kekerasan. Tapi bisakah kakak untuk lebih berhati - hati dan menghindari kerusuhan." ucap Liyon sambil menyandarkan keningnya disetir.


"Tau apa yang aku pikirkan dan aku bayangkan tadi? Aku sangat takut, bagaimana jika peluru itu tak menggores lengan kakak melainkan menembus jantung kakak, bagaimana dengan ku? Bagaimana dengan Ferdi? Kami tak akan bisa hidup tanpa kakak, apa yang harus ku lakukan coba? Kenapa kakak tak memikirkan itu?" Liyon bertanya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya dan menatap Lira.


"Liyon, maafkan aku." Lira menepuk punggung Liyon dengan lembut.

__ADS_1


Greb


Liyon memeluk Lira dengan sangat erat seakan tak mau melepaskan Lira lagi. "Aku tak ingin kehilangan mu lagi, cukup sekali saja aku kehilangan dirimu. Dan itu sudah cukup membuat aku jadi gila. Tolong jangan buat aku takut dan khawatir tentang keselamatanmu." ucap Liyon yang masih memeluk Lira dengan erat.


"Iiss, liyon sakit." keluh Lira yang merasakan lukanya nyeri.


"Maafkan aku, aku sangat mencintaimu Lira." ucap Liyon dan dia kembali menc*um bibir Lira, tapi kali ini dengan sangat lembut.


"Kita pulang, kit obati lukamu." ucap Liyon setelah dia mengurai c*umannya dan mengusap kepala Lira dengan lembut.


"Eh, Liyon apa yang kau lakukan? Yang terluka tangan ku bukan kakiku, turunkan aku aku bisa jalan sendiri." Lira berontak saat Liyon menggendongnya dari parkiran mansion Liyon untuk masuk kedalam rumah.


"Diam lah atau ku makan kau di sini." ucap Liyon dan itu membuat Lira langsung diam.


"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa jadi seperti ini?" tanya Bagas saat melihat lengan Lira yang sobek.


"Aku akan mengobatinya." ucap Bagas dan dia mulai mengobati luka Lira dengan serius.


"Apa yang terjadi, kenapa dia bisa terluka sampai seperti itu?" tanya Bagas pada Liyon setelah dia mengobati Lira.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Liyon balik sebelum menjawab pertanyaan Bagas.


Liyon menghela nafas dalam, "Dia mulai lagi ikut campur dengan kerusuhan yang ada disebuah kafe, untung saja aku menyuruh orang untuk mengikutinya jadi aku bisa datang tepat waktu saat terjadi sesuatu pada Lira. Mereka membawah senjata api." jelas Liyon.


"Bahaya banget." ucap Bagas lalu dia ijin pulang.


Keesokan harinya Satria datang bersama dengan Yuniar dan Ferdi, begitu juga dengan keluarga Farid. Mereka semua berkumpul semua bersama untuk menjenguk dan melihat kondisi Lira.


"Sayang bagaimana keadaan kamu, apakah sudah baikan?" tanya mama Li yang langsung datang pagi itu bersama dengan papa Li setelah mendengar kabar beritanya dari Gali.


"I-iya sudah baik." jawab Lira canggung.


"Baiklah biar nanti Ferdi sama mama saja kamu sembuhkan dulu luka kamu." ucap mama Li dengan senyuman yang aneh.


"Yeeee, Ferdi pulang ke rumah nenek sama kakek. Nanti Ferdi makan coklat sama es krim lagi ya nek." ucap Ferdi kegirangan.


"Tidak boleh." ucap Liyon dan Lira bersamaan.


"Nenek,,," Ferdi berjalan merepet ke mama Li dengan wajah sedih dan takut karena ucapan mama serta papanya yang melarang bersamaan.


"Tenang saja, urusan di rumah nenek. Nenek lah yang berkuasa."bisik mama Li dan Ferdi tersenyum.

__ADS_1


"Lira minumlah ini, ini adalah minuman buatan ku sendiri." mama Li menyodorkan sebuah botol besar pada Lira.


"Terima kasih." ucap Lira dengan tersenyum.


Mereka semua berbincang dengan seru dan juga sangat asik. Mama Li sudah membawah Ferdi pulang karena mereka bermain tanpa terasa dari pagi hingga malam hari.


Para pria sedang latihan dihalaman belakang bersama dan para wanita berbincang bersama. Mereka membahas segala yang bisa dibahas dan juga Meli yang selalu saja memuji - muji kehebatan Lira.


"Oh iya, minuman yang dibawakan oleh ibu mertua kamu ini apa? Boleh di UKA dan diminum bersama?" tanya Yuniar ya g penasaran karena setelah dia buka itu botol sangat menarik dan tutupnya masih tersegel.


"Iya ayo kita minum bersama - sama." ucap Lira mengambil gelas. Dan mereka bertiga pun meminumnya.


"Mbak Surti,,, nanti,,, ikut pulang sama kami ya? Karena aku,,, merasa sedikit tak enak badan kayaknya, takut nanti mas Farid,,, kerepotan mengurus,,, Arlin." ucap Meli yang mulai sedikit oleng dan bicara terbata - bata."


"Eh, iya nyonya. Apa nyonya mabuk?" tanya Surti yang merasa ada yang aneh dengan ke 3 wanita ini.


"No, no. Jangan panggil,,, aku nyonya, panggil aku Meli saja." ucap Meli dengan senyuman dan pandangan yang mulai kabur.


"Iya, kedengaran aneh gak sih kalau dipanggil nyonya, hahaha." ucap Yuniar yang juga mulai mabuk.


"Tuan gawat." ucap Surti lari kebelakang dan teriak, sehingga membuat para suami kaget.


"Katakan." ucap Liyon tegas.


"Sepertinya mbak Lira dan yang lainnya mabuk." jelas Surti dan Liyon sama yang lain bingung langsung lari melihat.


"Oh, berondong nakal ku." ucap Lira langsung lompat kearah Liyon begitu melihat Liyon, padahal dari tadi dia diam saja.


"Ups." Liyon menangkap dengan tepat.


"Wahahaha,,, Lira. Kau sudah menemukan pacar sewaan ya? Bagus - bagus kau bisa pamerkan pada Denis dan Desi para pecundang itu." ucap Yuniar berdiri mendekati Liyon dan Lira.


"Oh, sepertinya dia orang yang hebat Lira, coba lihat ini ototnya." ucap Yuniar menoel lengan Liyon.


"Eh?" liyon kaget


"Apa yang kau lakukan?!" Satria langsung menarik Yuniar ke pelukannya.


"Wah, wah Lira coba lihat ini adalah berondong nakal ku." ucap Yuniar saat Satria menarik dan memeluknya.


"Hahaha, ya, ya aku tau. Dia memang nakal, dulu dia pernah menggigit pantatku gara - gara kalah tanding dengan ku. Dia sangat nakal karena dia terus saja mengincar pantat ku kalau kalah.

__ADS_1


__ADS_2