
Setelah beberapa lama Liyon tak melihat Lira mondar mandir untuk memilih buku lagi, Liyon pun merasa sepi. "Eh, kenapa dia begitu tenang?" Liyon bergumam dan saat dilihat ternyata Lira telah terlelap di sofa dengan sebuah buku ditangannya.
"Rupanya dia tertidur. Apa karena hamil jadi sering ngantuk dan tidur sembarangan." Liyon bangun dari kursinya dan berjalan mendekati Lira, menatap dengan tersenyum lalu mengambil buku ditangan Lira dan mengangkat Lira untuk dipindahkan kedalam kamar istirahat Liyon didalam ruangan itu, agar Lira bisa tidur dengan nyaman.
Liyon menatap dalam wajah Lira yang tidur dengan tenang, "Kau sangat cantik sayang, dan juga sangat menawan." ucap Liyon liri dan mengecup kening Lira lalu menyelimutinya.
Sekitar jam 6 sore Lira terbangun dan mendapati Liyon sudah berbaring disebelahnya. " Eh, aku tidur berapa lama?" tanya Lira pada Liyon
"3 jam sayang, kalau masih ngantuk tidur lagi aja." jawab Liyon mengusap pipi Lira.
"Tidak, Ferdi pasti nyariin aku. Ayo kita pulang." ajak Lira yang merasa khawatir pada Ferdi.
"Dia tak akan nyariin kamu, karena malam ini dia akan tidur di rumah mama." jawab Liyon memberintahu.
"Loh, kok tumben." Lira menatap Liyon dan Liyon tersenyum lalu duduk.
"Ya karena aku tadi sudah menghubunginya saat dia nyariin kamu, dan aku bilang kalau kamu sedang capek, butuh waktu istirahat sendiri karena adiknya sedang rewel, jadi dia percaya lalu setuju untuk tidur di rumah mama. Jadi,,, malam ini waktu kita berdua saja sayang ku." jelas Liyon mencolek dagu Lira dan memainkan mata.
"Kamu ini sangat jahat pada anak mu sendiri." Lira memukul bahu Liyon dan Liyon hanga tertawa.
"Habisnya tiap hari dia mendominasi dirimu, begitu menjaga kamu sampai - sampai tak mengijinkan aku untuk mendekatimu sedikit pun." Liyon berkata dengan kesal.
"Hahaha, karena dia tau kalau papanya suka mengganggu mamanya dan menyusahkan mamanya, dia lah baru anak yang pintar menjaga mamanya dari pengganggu." jawab Lira terbahak.
"Apa? Jadi kamu juga menganggap aku ini adalah pengganggu begitu, hem?" Liyon menggelitik Lira hingga Lira terbahak.
"Ampun,,, Liyon jangan geli hahaha,,," Lira terbahak dan meringkuk menghindari gelitikan dari Liyon.
"Ayo, rapikan bajumu kita makan malam dan pulang istirahat di rumah." ajak Liyon dan mereka pun keluar dari kantor Liyon saat sudah jam 7 malam.
"Bos baru pulang? Apakah lembur?" tanya satpam yang berjaga di pintu luar kantor.
"Kau tau sendiri." jawab Liyon tersenyum dan menarik Lira keluar dari pintu.
"Oh, bersama dengan nyonya." jawab satpam itu tersenyum mengerti apa yang dibicarakan oleh Liyon tadi.
__ADS_1
"Iya, selamat malam pak." sapa Lira ramah.
"Iya nyonya selamat malam, hati - hati dijalan." jawab satpam itu dan Lira tersenyum sambil mengangguk.
"Aku tak nyangka kalau non Lira yang awalnya pegawai magang, jadi sekretaris, bodyguard dan sekarang nyonya bos." ucap satpam itu pada temannya.
"Ya, aku juga tak menyangka sama sekali. Tapi lebih baik sama non Lira dari pada Yusnia dulu." jawab teman satpam itu.
Setelah makan malam, Liyon dan Lira pulang menghabiskan waktu berdua saja tanpa pengganggu Ferdi yang selalu mendominasi Lira. Liyon seakan ingin terus bersama dengan istrinya melepaskan rasa - rasa yang terbendung sangat lama didalam hatinya karena setiap hari selalu saja dihalangi oleh Ferdi yang katanya tak boleh mengganggu mamanya, dan tak boleh membuat mamanya capek karena mamanya sedang membawah adik bayinya.
"Rasanya aku sangat merindukanmu walau tiap hari juga sudah ketemu." ucap Liyon yang tidur dipangkuan Lira dengan manja sambil mengelus dan mengecup perut buncit Lira.
"Hem, apa karena Ferdi?" tanya Lira dengan tersenyum dan mengusap kepala Liyon dengan rasa sayang.
"Ya, dia sangat menyayangi dirimu. Aku tak tau seperti apa kamu menjaga dan merawat dia seorang diri hingga dia tumbuh menjadi anak yang begitu peduli dan juga punya empati yang sangat tinggi." ucap Liyon menarik tangan Lira dan mengecupnya.
"Aku hanya merawat dia biasa dan memberitahu dia tentang banyak hal. Ferdi memang anak yang mudah belajar dan juga cerdas, aku sangat bersyukur memiliki dia. Dari dulu dia tak pernah menyusahkan." ucap Lira tersenyum membayangkan waktu dia hanya hidup berdua saja dengan Ferdi.
"Dia anak yang sangat mandiri, dan juga keras seperti dirimu." ucap Lira lagi.
"Aku sangat menyayangimu sayang, aku tak salah memilih dan menambatkan hatiku pada dirimu. Kamu benar - benar wanita hebat yang luar biasa, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan dirimu." ucap Liyon memuji Lira.
Lira sangat menikmati setiap sentuhan dan juga permainan Liyon yang sangat lembut. Liyon selalu menghindari area perut Lira karena Liyon tak mau menyakiti dan membuat anaknya terganggu serta terusik, Liyon selalu melakukan pergerakannya dengan sangat hati - hati dan lebih membuat Lira nyaman.
Keesokan paginya Lira seperti biasa sudah selesai masak dan menyiapkan sarapan dan menatanya diatas meja makan dengan rapi, lalu kembali ke kamar untuk membangunkan Liyon.
"Sayang, kemarilah." ucap Liyon menepuk tempat tidur didepannya saat dia dibangunkan Lira.
Liyon memeluk tubuh Lira dengan erat dan mengecup kening Lira. Liyon selalu bersyukur dengan adanya Lira dalam hidupnya, dan Lira selalu bisa membuat Liyon puas, seakan hanya Lira lah pemuas yang luar biasa bagi Liyon.
"Aku mencintaimu dan juga sangat menyayangimu." ucap Liyon masih memeluk Lira erat.
"Hem, bangunlah sudah pagi. Ayo mandi, sarapan dan berangkat kerja." ucap Lira yang suaranya bindeng karena Liyon memeluknya sangat erat sehingga hidungnya tertahan didada Liyon.
"Begini sebentar sayang, karena ini sangat nyaman." jawab Liyon dengan menutup mata dan masih dalam posisi memeluk Lira, hingga Lira pun ikut terlelap lagi.
__ADS_1
Setelah tertidur sebentar, Liyon bangun, dan setelah selesai sarapan dia pergi mengantar Lira lalu sibuk seharian dengan pekerjaan yang sangat menumpuk. Namun Liyon tetap saja ingat dengan Lira, hingga tiap 2 sampai 3 jam sekali Liyon akan menghubungi Lira untuk tanya keadaannya.
"Liyon aku mau pulang ke rumah ibu." ucap Lira saat Liyon menjemput dia waktu pulang kerja.
"Kenapa tiba - tiba? Apakah kamu sedang merindukan ibu? Aku bisa menjemput ibu untuk kesini." ucap Liyon karena Liyon merasa khawatir jika melepaskan Lira bepergian ke tempat yang jauh.
"Tidak, aku hanya ingin menghirup udara pagi desa dan juga aku ingin makan batu bata." jawab Lira, dan sontak kalimat Lira yang terakhir membuat Liyon kaget.
"Eh, ada apa? Kenapa kok menepi?" tanya Lira karena bingung tiba - tiba Liyon menepikan mobilnya.
Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya Liyon menepikan mobilnya lalu menatap Lira dalam dengan penuh pertanyaan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Lira yang merasa aneh dengan Liyon.
"Katakan lagi kalau aku salah dengar, apa barusan kamu bilang ingin makan batu bata?" tanya Liyon memperjelas lagi dengan bertanya pada Lira.
"Iya, aku ingin makan batu bata. Dan aku ingin batu bata yang dari rumah halamanku atau tempat tanah kelahiran ku, emang kenapa? Apa kamu gak mau membawahkah? Kalau gak mau aku akan pergi sendiri kesana." jawab Lira dengan santai.
"Kamu ingin makan kue dengan bentuk yang mirip sama batu bata begitu kan? Bukan batu bata yang asli." tanya Liyon memperjelas lagi pertanyaannya.
"Tidak, aku memang mau makan batu bata yang asli bukan kue." jawab Lira dengan serius.
"Sayang, itu kotor loh, dan itu bukan makanan." ucap Loyo menegaskan
"Aku tau, kamu kenapa sih?!" Lira mulai kesal dengan Liyon.
"Tidak, tidak boleh. Besok aku akan menyuruh koki untuk membuat kue yang mirip persis dengan bentuk aslinya." Liyon melarang dan melajukan lagi mobilnya.
"Aku gak mau. Kalau kamu gak mau membawahkan dari rumah ibu aku bisa pergi sendirian" ucap Lira yang mulai kesal, dan Liyon tak mendengarkannya, Liyon mengabaikan apa yang dikatakan oleh Lira.
Karena Liyon tak memenuhi keinginan Lira maka Lira pun mulai uring - uringan, selama 3 hari semua yang dilakukan oleh Liyon selalu salah. Bahkan Lira mengabaikan Liyon.
Liyon berfikir sangat keras, apakah ibu hamil boleh makan pasir, karena batu bata sama dengan pasir. Tapi melihat sikap Lira yang selalu ngambek dan juga marah membuat Liyon khawatir akan berpengaruh pada bayi dalam perutnya. Karena Lira jadi sering mengeluh sakit perut tapi tak mau disentuh oleh Liyon.
"Ya ampun, kenapa ada ibu hamil yang ngidam dengan keinginan yang sangat aneh begitu? Apa anak ku jadi gemar makan pasir?" gumam Liyon tak habis pikir, yang pada akhirnya juga menghubungi orang tua Lira untuk membawah batu bata karena akan ada orang yang datang menjemput, sebab Lira ingin makan batu bata.
__ADS_1
2 hari setelahnya orang tua Lira datang dengan membawah batu bata pesanan Liyon, dan Lira terlihat sangat senang melihat itu. Seakan sedang menemukan permata.
"Terima kasih sayang, terima kasih." ucap Lira berkali - kali pada Liyon dan Lira pun mengikir batu bata itu dan memakannya dengan nikmat ya walau hanya dimakan sedikit tetap saja itu terlihat aneh bagi Liyon. Tapi demi sang buah hati Liyon pun mengalah dan menurutinya.