
"Wah wah wah rupanya tuan liyon sudah mulai tak sabar ya untuk membuat wanita itu hamil, aku do'akan semoga usaha tuan liyon berhasil. Namun untuk memulihkan semuanya masih butuh waktu untuk penyembuhan dulu." goda dokter itu pada liyon yang terlihat sangat bersemangat.
"Kamu jangan meledek ku, nanti ku tunjukkan padamu bagaimana usahaku karena dia bukan wanita sembarangan dan juga bukan wanita yang mudah untuk dihadapi." jelas liyon dengan tersenyum bahagia.
"Hem, apakah itu artinya tuan liyon masih belum berhasil menaklukkannya?" tanya dokter itu penasaran.
"Tidak sepenuhnya dibilang belum, tapi aku hanya ingin melakukannya dengan lembut dan pelan. Karena aku tak ingin membuat dia sakit dan lari menjauh karena takut pada ku." jelas liyon masih dengan senyum yang terukir dibibir seksinya.
"Tak ku sangka ada juga wanita yang mampu membuat tuan liyon bertekuk lutut padanya. Aku jadi penasaran seperti apa wanita ini, pasti dia wanita yang cantik dan penuh enegi." goda dokter itu lagi pada liyon.
"Dia..." kalimat liyon terhenti karena sedang membayangkan wajah lira yang menangis menceritakan serta meminta agar ada seorang pria yang mau tidur dengannya.
"Wah, apa ini? Wajah tuan liyon memerah, jangan bilang kalo kalian sudah melakukannya." ledek dokter lagi.
Liyon tersenyum " Ya, kami telah melakukannya. Dan itu membuat ku jadi semakin menginginkan dirinya lebih dari apa pun." jelas liyon.
"Hem, aku aka memberi obat yang bagus agar luka bekas operasinya cepat sembuh dan kembali membaik." ucap dokter itu dan memuliakan obat pada kertas resep.
"Tapi aku masih penasaran dengan kasus mu yang melibatkan keluarga Mey, apa semuanya sudah beres?" tanya dokter itu penasaran.
"Seperti yang terlihat, hasil tes itu menunjukkan kalo itu bukan darah daging ku dan lagi aku memang tak pernah melakukan hubungan badan dengan putrinya." jawab liyon santai.
"Ya aku tau, tapi sepertinya putri tuan Mey sangat menyukaimu bahkan dia mengejar - ngejar kamu dari dulu." dokter itu berkata karena dia pernah melihat bahwa gadis itu berulang kali membuat jebakan untuk liyon agar bisa tidur dengan dirinya.
"Apa dokter ingin mengingatkan aku tentang kejadian lalu? Tapi sayangnya semua usahanya selalu gagal, dan karena itu lah aku mengambil tindakan ekstrim dengan vasektomi ini." ucap liyon yang terlihat jelas masih kesal dengan kejadian 4 tahun lalu.
"Baiklah terima kasih, aku pergi dulu karena lusa aku mau balik ke Indonesia." ucap liyon berpamitan pada dokter dan melaju pulang untuk menyiapkan semuanya agar bisa cepat pulang dan bertemu dengan lira.
...🍂🍂🍂...
Satria yang berada di rumah sendirian merasa tak tenang, karena lira bermalam di rumah Yuniar. Satria selalu saja salah tingka setiap kali habis bertemu dengan Yuniar, seolah ada rasa rindu yang mendalam dan rasa sesak yang tak bisa diungkapkan hanya memenuhi relung hati, dan telah menjadi beban yang telah berkarat.
"Haaah, aku bisa gila kalo seperti ini terus. Sebaiknya aku ke rumah nenek untuk berkumpul dengan yang lainnya disana, pekerjaan juga sudah selesai aku kerjakan. Dari pada aku berdiam diri begini, aku jadi semakin memikirkannya."
"Mungkinkah ini yang dirasakan oleh liyon dulu? Cinta ini membuat aku gila, apa jadinya kalo sampai kak Lira tau keadaanku ini."
Satria mengacak rambutnya dan menghela nafas dalam berkali kali, lalu beranjak keluar rumah untuk pergi kerumah neneknya.
...🍂🍂🍂...
"Tak terasa sudah hari senin saja." gumam lira saat dia sedang merapikan baju mau berangkat kerja.
Suasana kantor pagi itu seperti biasa, dan kesibukan semua orang juga sama seperti biasanya. Yang berbeda hanyalah Dania yang dari devisi pemasaran, dia terlihat lebih pemurung dari pada biasanya.
__ADS_1
"Mbak Lira ada titipan untuk mbak Lira dari kurir." ucap Endang yang masuk ke ruangan dengan buket bunga yang bisa dibilang lumayan bagus dan juga sangat harum.
"Dari siapa, apa ada pengirimnya?" lira bertanya dan melihat serta memilah karangan bunga itu, namun tak ada satu pun kertas yang tertinggal untuk menuliskan si pengirim.
"Aneh banget tak ada identitasnya samasekali." ucap lira menatap Endang dan endang mengangkat bahunya tanda kalo dia juga tak tau.
Setelah itu lira meletakkan bunga bunga itu dalam vas yang berisi air agar bunganya tahan lebih lama kesegarannya.
Satu hari telah lewat dan saatnya pulang kerja. Setiap hari lira pulang dengan Endang dan Safitri, mereka selalu berkeliling dan mencari makan dulu sebelum pulang ke rumah.
"Baiklah lira ketemu besok pagi ya.!" teriak safitri pada lira saat mereka bertiga mau berpisah setelah mencari makan.
"Haaaah, di rumah sendiri. Sekarang aku jadi kebiasaan bersama dengan satria. Sekarang dia berangkat untuk dinas luar karena dikirim oleh perusahaannya dan akan seminggu dia disana. Sepi dong rumah, apa aku ajak Yuniar aja besok untuk menginap." gerutu lira sambil membuka pintu remahnya.
Greb
Sret
Bruk
Dengan cepat lira menarik tangan orang yang menepuk bahu dan ingin memeluknya, serta mendorong orang itu Kedinding dengan menarik satu tangan orang itu kebelakang tubuh.
"Auw auw sakit." teriak liyon yang mendapat serangan dari lira.
"Iya ini aku, tak bisakah kakak menyambut ku dengan sedikit lebih halus? Benar benar, bisa patah tangan ku karena ulah kakak." keluh liyon dengan memonyongkan bibirnya dan memegangi tangannya yang tadi dipelintir oleh lira.
"Siapa suruh mengagetkan aku." jawab lira berjalan masuk kedalam rumah.
"Benar benar ya, tak bisa romantis sama sekali. Tak seperti wanita lain jika dikagetkan langsung peluk." gerutu liyon dengan mengikuti lira masuk kedalam rumah.
Deg
Mendengar kalimat liyon membuat lira teringat akan kata kata dafid yang mengatakan kalo dirinya tak butuh seorang pria karena sudah bisa menjaga diri sendiri.
"Kak..." liyon terkejut saat dia melihat lira berdiri ditempat dengan wajah sedih dan pandangan kosong.
"Ah sial, mulutmu bicara apa tadi liyon." liyon mengumpat dirinya sendiri setelah dia sadar dengan kata katanya pada lira.
"Huuuff."
Liyon bernafas dalam sebelum dia membuyarkan lamunan lira yang dirasa liyon itu sangat menyakitkan bagi lira.
"Ah kak dengar aku tadi ti..." kalimat liyon belum selesai namun lira sudah tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Ah maaf, satria tidak ada di rumah dia sedang ada tugas luar dari kantornya, dan akan lama kembali." ucap lira memotong kalimat liyon.
"Iya aku tau itu. Aku datang bukan untuk dia, aku datang untuk menemui kakak." jawab liyon melangkah mendekati lira yang sedang berdiri di balik meja dapur yang sedang menuangkan air untuk liyon.
"Oh, tapi maaf aku capek banget. Kita bisa ketemu besok di kantor, maafkan aku." lira menjawab dan berjalan menuju kedalam kamarnya setelah menyerahkan air digelas pada liyon.
"Kak tunggu, aku minta maaf. Tolong maafkan aku kak, aku tak bermaksud menyakiti kakak atau mengingatkan kakak pada hal yang mungkin menyakiti kakak." ucap liyon menahan langkah lira.
"Tidak apa, aku tidak apa apa." jawab lira dan menyingkirkan tangan liyon lalu masuk kedalam kamarnya.
"Liyon...Kamu begok begok begok." liyon mengacak rambutnya.
Sekitar 30 menit berlalu lira masih tak keluar dari kamarnya. Sementara liyon yang menunggu merasa lelah dan juga ngantuk, karena dia baru nyampek dari Beijing langsung ke rumah lira.
Liyon yang sudah ngantuk pun melepaskan bajunya dan tidur di sofa ruang tengah setelah dia mematikan semua lampu di rumah lira dan menggantinya dengan lampu kecil.
Di pagi hari liyon sudah menyiapkan masakan untuk sarapan dan tinggal menunggu lira bangun untuk sarapan.
"Selamat pagi kak, aku sudah menyiapkan menu sarapan untuk kakak. Tak ku sangka semua bahan di rumah kakak lengkap." ucap liyon begitu dia melihat lira keluar dari kamarnya.
"Ayo sarapan dulu kak, aku sudah menghubungi Farid untuk datang menjemput ke sini, jadi kita bisa berangkat bersama nanti."
Lira berjalan kearah meja makan dengan diam tanpa berkomentar apa pun, dan membiarkan liyon begitu saja.
"Oh iya, kakak suka makanan yang sedikit asin kan? Aku sudah membuatkan olahan ikan dengan bumbu yang pas, tidak manis dan juga sedikit asin." liyon menjelaskan dan melayani lira.
"Kakak mau makan omeletnya? Aku buat tanpa campuran dan hanya menambahkan sedikit cabe bubuk." jelas liyon lagi dan dia melayani lira dengan sangat lembut dan juga baik, dengan senyuman yang selalu merekah di bibirnya.
"Entah kenapa aku merasa nyaman dengan perlakuannya, dia terlihat sangat berusaha untuk mendapatkan perhatian ku. Dia sangat baik, tak ku sangka bos yang begitu berwibawah bisa melakukan ini semua untuk ku, dan hanya aku yang bisa melihat serta mendapatkan perlakuan ini dari dirinya." gumam lira dalam hati.
"Terima kasih." ucap lira dan itu membuat liyon sangat senang.
"Kamu juga makan, kita makan bersama." sambung lira dan tersenyum pada liyon.
Deg
"Ya Ampun Li, bisakah kamu menahan diri jika seperti ini." gumam liyon dalam hati.
"Kakak memaafkan aku?" tanya liyon dengan memegang kedua tangan lira dan tersenyum menatap lira sambil bersimpuh didepan lira.
"Duduklah dan makan." ucap lira dan memalingkan wajahnya dari liyon.
"Rupanya masih belum dimaafin ya, ok, ayo berjuang liyon." suara hati liyon dan dia duduk disebelah lira untuk sarapan bersama.
__ADS_1