
"Pagi sayangku, hemm,,, baunya harum." ucap Liyon memeluk Lira dari belakang saat Lira sedang masak.
"Menyingkir lah, kau mencium bau harum ke masakan bukan ke leherku begini.!" kesal Lira karena Liyon justru menyesap leher Lira.
"Jahat banget, kakak masak apa sih.?" tanya Liyon yang masih memeluk Lira.
"Bikin masakan kesukaan Ferdi." jawab Lira yang masih sibuk memasak.
"Setelah itu aku mau makan ya." ucap Liyon menarik dagu Lira keatas dan melahap bibir Lira.
"Humm." suara Lira dan kakinya menginjak kaki Liyon.
"Auh, sakit kak." Liyon melepaskan Lira karena merasa kesakitan diinjak dengan sandal kayu.
"Siapa suruh mengganggu." jawab Lira dan melanjutkan masak.
"Lagian sejak kapan sandal jahanam itu ada di sini.!? Aku harus membuangnya nanti." kesal Liyon.
"Kenapa menyalahkan sandal. Pergi atau ku lempar dengan penggorengan." Lira mengangkat penggorengan dengan tangan kanannya.
"Duh punya istri kenapa jahat banget, gak sekarang, gak di ranjang dia benar - benar bikin kesal." Liyon pergi sambil menggerutu.
"Jangan menggerutu dan menyalahkan aku, siapa suruh tiap kali kau membuat punggung ku sakit." kesal Lira balik.
"Iya, iya sayang maaf." jawab Liyon tertawa dan masuk kedalam kamar mandi.
"Nanti kakak gak perlu menjeput Ferdi karena Mama bilang mau mengajak Ferdi jalan - jalan, Makanannya biar Gali saja yang mengutip kesana." ucap Liyon teriak dari balik pintu kamar mandi.
"Oh, begitu. Pantas saja kemaren dia bersih keras yang mau menjemput Ferdi, gak taunya mau dianter ke rumah mamanya" gumam Lira dan mengemasi masakannya kedalam kotak makan tahan panas biar awet panasnya.
"Sudah selesai masaknya? Kakak tak mandi?" tanya Liyon yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja yang terlilit dipinggang.
"Sudah, nanti saja aku mau menyelesaikan roti dulu karena baru memanggangnya." jawab Lira tanpa melihat kearah Liyon.
"Oh iya, mau makan sekarang biar aku siapkan." tanya Lira dan berbalik menatap Liyon yah sudah berdiri tepat dibelakang Lira.
"Iya aku mau makan." jawab Liyon dan sudah mengunci pergerakan Lira.
"Liyon kau. Ah,,, emm." Liyon mengangkat Lira dan meletakkannya diatas meja makan lalu melahap bibir Lira dengan lembut serta dalam. "Kau tak memakai bra kak" bisik Liyon dan kembali melum-mat bibir Lira serta memberikan pijatan pada daging kenyal Lira di dada Lira.
"Lira, kalian?" Rian yang menerobos masuk kedalam rumah Lira merasa kesal melihat pemandangan yang dia lihat.
Rian mengepalkan kedua tangannya disamping tubuh dan menatap Liyon seperti menatap musuh yang ingin segerah dia habisi ditempat. Tatapan mata Rian menghitam menatap Liyon.
"Kau, apa yang kau lakukan di sini. Dan sejak kapan kau punyak akses masuk kedalam rumah ini secara bebas?!" tanya Liyon balik menatap Rian dengan kesal.
"Tunggu Liyon, dia datang memang aku suruh dan pintu rumah tadi aku buka jadi Rian,,," kalimat Lira tertahan karena jari telunjuk Liyon menekan bibir Lira dan menatap Lira dengan tajam.
Glek
Lira menelan salifanya karena dia tau situasinya saat ini, Liyon sedang marah pada dirinya.
"Aaah. Liyon." Lira kaget karena Liyon mengangkat tubuh Lira begitu saja.
"Apa yang mau kau lakukan.!" cegah Rian menahan lengan Liyon.
__ADS_1
"Apa yang mau aku lakukan itu urusanku bukan urusanmu, karena dia adalah wanitaku." jawab Liyon menyentak tangan Rian dan melewatinya.
"Liyon, tunggu. Dengarkan aku dulu" Lira berusaha untuk menjelaskan.
"Jika kau ingin mendengarkan aku menikmatinya tetaplah di sini karena kamar ini tak kedap suara." ucap Liyon sebelum dia menutup pintu kamar Lira.
"Aah, Liyon jangan disitu sakit." suara Lira terdengar oleh Rian.
Berbagai suara yang lain mulai terdengar, Lira juga mulai mengeluarkan suara seksinya. Dan sahutan suara antara Lira dan Liyon bagaikan nyanyian merdu.
Lambat laun suara dari keduanya semakin tak bisa diterima oleh Rian, telinga dan juga muka Rian memerah. Rian berusaha menahan antara amarahnya dan juga has-ratnya bersamaan karena merasa terpancing oleh suara - suara merdu Lira.
3 jam lamanya Liyon memberikan hukuman pada Lira tanpa ampun, hingga membuat Lira lemas dan tak sanggup mengangkat tubuhnya.
"Kenapa bau angus. Bos,,, Bos dimana? Ini bau angus apa?" teriak Gali yang datang mau mengambil bekal makanan untuk Ferdi.
"Ya ampun sampai keras dan gosong begini." ucap Gali yang menemukan roti buatan Lira sudah jadi batu hitam yang keras.
"Masakannya diatas meja makan itu, kau bawah semuanya." ucap Liyon yang keluar dari kamar Lira dengan menggunakan jubah mandi.
"Baik, itu rotinya gosong." ucap Gali menunjuk pada roti yang baru saja dia keluarkan dan diletakkan diatas meja dapur.
"Biarkan saja, semprot dengan pengharum biar bau hangusnya hilang." ucap Liyon dan Gali langsung menyemprotkan pangharum ruangan.
Setelah Gali pergi Liyon mengunci pintu utama rumah Lira dan dia kembali masuk kedalam kamar.
"Liyon lepaskan ikatannya sakit, kenapa kau harus mengikatku seperti ini." Ucap Lira memohon pada Liyon.
"Iya, lain kali jangan diulangi lagi." ucap Liyon membuka ikatan ditangan Lira.
"Kau benar - benar kelewatan. Rian adalah teman ku, dia orang yang dulu membantu juga menolong ku. Bukankah aku sudah cerita semalam." ucap Lira pada Liyon yang sangat pencemburu.
"Dan aku tak suka melihat pria lain yang menatap wanitaku dengan penuh has-rat." Liyon mendekati Lira dan mengecup sekilas bibir Lira
"Kau sangat aneh, rasa cemburum mu terlalu besar." Lira mendorong dada Liyon menjauh dari dirinya.
"Bangun dan bersihkan tubuh kakak, kita kembali ke mansion ayo latihan." ucap Liyon bangun dan berganti baju.
"Kau masih mau mengajak aku latihan setelah menghajar ku seperti ini." kesal Lira sambil berjalan masuk kedalam kamar mandi.
...🍂🍂🍂...
"Kemaren aku terus menghindari tuan karena merasa malu dan tak tau bagaimana caranya aku menghadapi dia. Dan hari ini juga, dari pagi aku juga terus menghindar, sekarang sepertinya asi ku penuh, aku harus menyusui Arlin sekarang." ucap Meli didalam kamarnya.
"Mbak, Arlin dimana?" tanya Meli saat dia keluar dari kamarnya dan melihat Surti sendirian.
"Non Arlin sama tuan Farid nyonya dikamar tuan." jawab Surti.
"Kalian mau pergi ya? Mau kemana malam - malam begini." tanya Meli lagi yang melihat Surti mengemas botol - botol susu Arlin.
"Oh, tidak nyonya. Ini habis saya steril dan sekarang mau saya tata biar rapi." jawab Surti.
"Nyonya masuk saja tuan pasti sedang main sama non Arlin." ucap Surti yang melihat Meli ragu - ragu.
"Iya mbak." Meli memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Farid.
__ADS_1
"Iya masuklah." teriak Farid dari dalam.
"Tu-tuan sudah saatnya Arlin minum asi, biar saya bawah Arlin ke kamar saya." ucap Meli dengan wajah yang sudah memerah dan jantung yang berdegup sangat keras saat dia melihat Farid berdiri didekat jendela hanya menggunakan celana panjang saja dan sedang bicara lewat telepon.
"Lakukan di sini saja tak usah pindah, dia ada di box bayi." jawab Farid yang menatap Meli sekilas.
Dengan ragu - ragu Meli mendekat dan mengambil Arlin yang sedang asik main dengan kerincingannya dan memasukkan kerincingan itu kedalam mulutnya.
"Sayang haus ya." ucap Meli mengangkat putrinya.
"Baring-lah ditempat tidur, aku sudah menyiapkannya." ucap Farid lagi, dan Meli meletakkan Arli lalu dirinya berbaring miring untuk memberikan asi pada putrinya.
"Auh. Jangan menggigit sayang sakit, sudah mulai tumbuh gigi ya putri mama. Sudah besar ya sayang." Meli berkomunikasi dengan putrinya.
"Eh." Meli terkejud dan bangun karena ada sesuatu yang meraba kakinya.
"Huwaaaa." Arlin menangis keras karena kaget tiba - tiba ASI-nya tersentak dan lepas dari mulutnya.
"Kenapa kau membuat dia menangis." ucap Farid yang ada di tepi tempat tidur.
"Oh, sayang maafkan Mama kamu kaget ya." Meli mengangkat Arlin dalam gendongannya dan menyusuinya lagi.
"Rileks lah agar dia tak menangis." Farid memegang punggung Meli dan Arli lalu membaringkan Meli perlahan.
"Tuan ini,,,?" Meli merasa aneh menatap dan bertanya pada Farid.
"Pegang yang erat agar Arlin tak berguling dan jangan banyak bergerak ikutin saja." bisik Farid lalu tersenyum nakal.
Meli yang tak mengerti hanya mengerjap saja, namun benar Arlin yang menyusu dengan tiduran didada Meli jadi tenang dan diam dari tangisnya. Meli berfikir itu adalah cara Farid menenangkan Arlin selama ini. Tapi Meli salah karena tiba - tiba Farid membuka kedua kaki Meli lebar - lebar.
"Tuan?!" Meli kaget tapi tak berani bergerak karena takut Arlin menangis lagi.
"Tenanglah dan ikuti saja, aku akan mengingatkan kamu soal kejadian 2 hari lalu." ucap Farid dan langsung melahap V Meli setelah membuang penghalangnya.
"Gila.!" gumam Meli yang tubuhnya mulai bergetar karena permainan Farid ditambah lagi posisi dia yang memeluk Arlin diatas dadanya.
Terlihat senyum Farid dan otot - otot Farid yang sangat membuat Meli selalu ingin meraihnya selama ini. Meli tak tau kalau suaminya ini adalah orang gila yang bisa melakukan apa pun sesuai kemauannya.
"Kau benar - benar sudah tak waras." gumam Meli setelah keduanya mendapatkan puncaknya.
"Ya dan kau akan tau ketidak warasanku yang lainnya nanti." ucap Farid.
"Dia sudah tidur?" Farid mengintip Arlin yang terlelap dalam dekapan Meli.
"Biar ku pindahkan tangan mu pasti capek." Farid mengangkat Arlin dan memindahkannya kedalam box bayi dengan berlenggang tanpa busana.
"Um." Meli yang melihat merasa malu dan menutup mulutnya agar tak teriak.
"Jangan mengolok ku, karena kamu juga harus berpenampilan yang sama dengan ku." ucap Farid menarik keatas tangan Meli dan membantu Meli melepaskan bajunya juga.
Malam itu Farid dan Meli untuk pertama kalinya mereka tidur bersama setelah seharian Meli terus saja menghindari Farid. Mereka terlihat seperti pasangan suami-istri pada umumnya yang selalu hidup bahagia.
"Berjanjilah pada ku, bahwa tak ada pria lain diantara hubungan kita ini. Karena aku tak akan bisa mentolelir lagi perbuatan seperti dulu." ucap Farid memeluk Meli.
"Apa tuan marah?" tanya Meli yang mulai bisa terbuka pada Farid.
__ADS_1
"Tentu saja, dulu aku sudah sangat menahan diri. Dan sekarang tak akan bisa lagi karena kau sudah memulainya duluan." ucap Farid dan menyusupkan wajahnya didada Meli.
"Hahaha,,, iya, iya tau. Jangan di situ geli." ucap Meli saat Farid masuk semakin dalam didada Meli.