
"Ini sangat membosankan, sudahlah makan dan selesaikan setelah itu langsung pergi dengan natural." Robin bergumam lagi dalam hatinya.
"Apa anda ada kesibukan lain selain bekerja nona Lira?" tanya robin membuka obrolan.
"Tidak ada sih, selain bekerja saya biasanya cuma membantu nenek saya yang punya usaha toko sembako." lira menjawab dengan apa adanya.
"Oh begitu, kalo boleh tau apa pekerjaan anda nona Lira?"
"Tolong jangan panggil nona, cukup panggil dengan nama saja Lira. Saya seorang sekretaris." jawab lira dengan nada baik dan sopan.
"Iya baiklah kalo begitu, mari kita makan dulu karna makanan sudah dihidangkan." ucap robin yang ingin agar secepat mungkin mengakhiri acara pagi itu.
Disisi lain tanpa sengaja farid yang melintas di restoran itu melihat lira yang sedang duduk makan berdua dengan seorang pria.
"Lira? dengan siapa dia, dan kenapa dia memakai baju yang begitu bagus serta menata rambutnya begitu. Apa pria itu kekasihnya? Lalu bos apa dong." gumam farid merasa bingung dengan apa yang dia lihat.
"Kenapa kamu begitu lama?" tanya liyon pada farid yang baru datang padahal sudah sekitar 30 menit dia disuruh liyon datang.
"Ah, maaf tadi aku melihat sepertinya sekretaris Lira dengan seorang pria didalam restoran hotel ini sedang makan berdua." lapor farid pada liyon atas apa yang dilihatnya tadi.
"Apa? Apa kamu tak salah lihat. Ngapain dia di sini dengan seorang pria?" tanya liyon yang merasa tak tenang.
" Entahlah, mungkin dia sedang bersama dengan kekasihnya menikmati akhir pekan." jawab farid asal.
"Dia tak punya pacar." liyon berkata dengan langsung berdiri dan melangkahkan kakinya kearah restoran.
"Berani sekali dia." gumam liyon melihat lira yang sedang makan dan bercakap dengan seorang pria asing.
Pandangan mata liyon menghitam menatap lira dengan tajam dari balik dinding yang berhiaskan bunga - bunga.
Sedangkan lira yang bisa melihat dengan jelas pada liyon yang tampak marah padanya merasa bingung.
"Maaf aku mau ijin ke kamar mandi dulu sebentar." ijin lira pada Robin yang sebenarnya ingin ketemu sama liyon yang terus menatapnya dengan pandangan kesal dan marah.
"Apa yang bos lakukan di si...ehm." kalimat lira terpotong dengan c*uman paksa yang diberikan oleh liyon.
"Apa - apa'an ini.!" kesal lira pada liyon yang langsung menc*umnya begitu saja.
"Aaah." d*sah lira liri saat liyon berpindah dengan menggigit ringan leher lira dan meninggalkan jejak kepemilikannya di sana.
Dinding hias itu menjorok jadi tak ada orang yang tau apa yang dilakukan oleh lira dan liyon.
"Ja ngan di sini." kalimat lira terputus - putus dengan ulah liyon.
__ADS_1
"Apa kamu gila hah? Aku hanya pegawai kamu." kesal lira pada liyon saat liyon sudah melepasnya.
"Ya, kamu adalah pegawai ku dan juga milik ku. Aku ingin lihat apa yang akan dilakukan oleh pria itu jika dia melihat tanda itu dileher kakak." ucap liyon pada lira dan meninggalkan lira begitu saja.
"Ah.! Bocah sial itu, apa yang dia lakukan cobak. Kenapa dia memberikan tanda begitu merah terang, pantas saja tadi sakit banget." ucap lira kesal didepan cermin kamar mandi dan dia langsung membongkar kepangan rambutnya dan menatanya kedepan setengah dan kebelakang.
"Maaf menunggu lama ya?" ucap lira yang kembali lagi pada teman pria kencan buta-nya.
Deg
Robin terkejud melihat gaya lira yang berubah dan juga nada bicara yang terlihat santai apa adanya.
"Ah, kamu pasti menunggu lama dengan kesalkan? Aku juga akan kesal jika aku harus menunggu lama pada orang yang tak ku kenal atau baru pertama kali ku temui." ucap lira mewakili isi hati dari robin yang pada awalnya emang merasa kesal.
"Tidak juga, aku suka bertemu dengan kamu dan menghabiskan waktu dengan kamu. Kalau misalnya besok kamu ada waktu mau kah untuk bertemu dengan ku lagi.?" tanya robin yang mulai berubah sudut pandangnya soal lira.
"Kita lihat untuk besok saja." jawab lira tak mau memberi Robin sebuah janji.
"Baiklah, kalau begitu bolehkan aku meminta nomor telpon kamu?" tanya robin pada lira, dan lira langsung memberinya nomor telpon.
"Baiklah, aku hubungi besok kalau kamu bisa mari kita bertemu lagi." ucap robin sebelum mereka berpamitan satu sama lain.
Saat lira mau pulang, tiba - tiba saja liyon menghubunginya dan memintak lira untuk datang ke rumahnya untuk mengambil kopernya yang tertinggal di rumah liyon.
"Jangan buat aku naik pitam.! Ke sini sendiri atau ku seret dari sana.!?" teriak liyon menahan kesalnya.
"Iya ya aku kesana sekarang untuk mengambil koper ku." ucap lira dan menutup panggilan telpon dari liyon.
Lira langsung mencarik angkutan umum untuk datang ke rumah liyon yang terletak tak jauh dari hotel tempat dia melakukan kencan buta tadi.
"Eh, ada apa kok tiba - tiba dia pergi begitu saja? Dia yang ngajak ketemuan dan dia juga yang ninggalin aku sendirian." ucap satria menatap farid yang merasa bingung dengan sikap temannya yang terlihat aneh.
"Maaf mas Satria saya juga gak tau." jawab farid pada satria karna dia gak tau bagaimana caranya menjelaskan pada satria.
"Lah terus kita mau ngapain ini?" satria menatap farid lagi dan farid hanya mengangkat bahu tanda tak tau.
"Huff, susah kalau sama bos besar. Kek orang lagi PMS emosi tak terkontrol dan tak terduga, datang dengan tiba - tiba." gumam satria dengan kesal karna baru datang langsung ditinggal pergi sama liyon.
"Emang mas Satria pernah PMS?" tanya farid dengan polosnya, dan itu membuat satria makin kesal yang langsung menonyor farid.
"Aduh, mas Satria mau kemana? Mau pulang?" farid bertanya dengan mengikuti satria keluar dari kamar hotel.
"Kau pikir aku mau kemana? Berduaan saja dengan mu dalam kamar membuat ku merinding." jawab satria yang langsung keluar dan menuju ke jalan utama.
__ADS_1
"Kenapa kau mengikuti ku?" satria yang sadar diikuti oleh farid bertanya bingung.
"Saya tak tau harus kemana." jawab Farid dengan tersenyum tanpa dosa.
"Ya Ampun, ya sudah ayo ikut kita ke kedai." satria menarik farid untuk pergi keledai kopi.
...🍂🍂🍂...
"Aduh ini rumah kenapa besar banget sih, jalan dari pintu depan ke pintu utama saja secapek ini." lira terus bergumam dengan kesal.
Ting tong
Lira memencet bel rumah liyon, namun liyon tak kunjung membuka pintu rumahnya.
"Ini orang kemana ya, kok lama gak bukain pintu?" lira celingukan dan akhirnya mencobak membuka pintu itu yang ternyata tak dikunci.
"Lah, tau gitu ku buka dari tadi saja." lira melangkah masuk dengan pelan dan waspada.
"Bagus ya, melakukan kencan buta saat aku masih berada di sini dan dalam keadaan masih sehat." ucap liyon yang duduk di sofa dengan angkuh.
"Eh, kalo ada di rumah kenapa tak bukain pintu." ucap lira melangkah mendekat dan mau mengambil koper yang ada didekat liyon.
"Siapa pria itu dan sejak kapan kalian bertemu.?" tanya liyon dengan nada dingin.
"Aku tak tau, aku baru ketemu sama dia hari ini dan dia adalah teman dari pacarnya Yuniar." jawab lira menjelaskan.
Liyon berdiri dan melangkah mendekati lira, dan secara sepontan lira melangkah mundur untuk menghindari liyon.
"Aku perintahkan kamu untuk tak dekat - dekat dengan pria lain apa lagi berhubungan dengan mereka." ucap liyon dengan nada yang masih dingin.
"Kenapa begitu? Kita tak ada hubungan apa - apa, dan juga itu tak mengganggu pekerjaan ku. Itu urusan pribadiku kenapa bos yang mengatur." lira berkata dengan tak terima pada liyon yang terkesan mengaturnya.
"Diam.! Itu adalah perintah, dan merupakan keinginan sang bos, jadi kamu tak punya hak untuk melanggarnya." ucap liyon yang tetap dengan nada dingin.
"Ha ha terserah bos saja." lira mengalah karna dia tak mau memperpanjang urusan dengan liyon.
"Kau?! Semakin lama semakin mengesalkan dan juga berani, bawah pergi koper mu. Dan ingat, jika ku lihat kau masih menemui pria itu lihat saja apa yang akan ku lakukan." ancam liyon pada lira.
"Mulai besok aku ingin kamu menyiapkan sarapan untuk ku, mengatur jadwal makan ku dan menyiapkannya. Aku juga ingin kamu menyambut ku di depan pintu masuk ruangan ku, kamu tak boleh telat dan harus datang 5 menit sebelum aku datang, dan kerjakan itu semua mulai besok pagi." ucap liyon memerintah lira dan harus dipatuhi mulai besok pagi.
"Iya, sesuai dengan keinginan sang bos." jawab lira dengan rasa kesal yang berusaha ditahannya.
"Bagus, ayo aku antar pulang." sambung liyon lagi dan pergi ke parkiran untuk mengambil mobil.
__ADS_1