
Brayen menatap liyon dengan bingung karena dia tak akan bisa mengatasi liyon sendirian apa lagi saat ini suasana hati liyon sangat tidak baik, ditambah lagi dia sedang merasakan rasa sakit yang mendalam.
"Jaga dia baik - baik, jangan biarkan dia minum lagi dan jangan biarkan dia keluar berkeliaran, lakukan apa saja untuk mencegah dia. Aku akan segerah kembali." Brayen memerintahkan pada pegawainya dan dia keluar menghubungi seseorang.
30 menit kemudian Bagas datang dengan terburu - buru karena telepon dari Brayen yang terdengar sangat mengkhawatirkan. Bagas masuk dan langsung menuju kedalam ruangan yang dikatakan oleh Brayen lewat panggilan telepon tadi.
"Hei sudah aku bilang hentikan, aduh." Brayen sedang bergelut sama liyon dan berguling kesana kemari karena liyon berusaha untuk mengambil botol whisky-nya yang dipegang oleh Brayen, dan 2 pegawai Brayen tak sanggup mengatasi liyon yang terus saja berontak ingin minum lagi dan lagi.
"Eh, apa ini yang terjadi?" Bagas bingung melihat tontonan itu, karena liyon tak pernah mabuk sampai tak bisa menguasai dirinya seperti saat ini.
"Tolongin, lakukan apa pun agar dia berhenti." pinta Brayen yang sudah kewalahan mengatasi liyon.
"Hei Li tenangkan dirimu dan kendalikan dirimu, kenapa dan ada apa ini sebenarnya?" Bagas menarik liyon dari atas tubuh Brayen dan mendudukkannya di sofa.
"Kau? Dia melarang aku minum lagi dan mengambil botol minum ku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus bagaimana?" liyon menangis dengan sedih.
"Ya Ampun bocah ini, siapa cobak yang mengira kalau dia ini adalah orang yang dingin dan kejam kalau saat mabuk jadi terlihat manis seperti anak - anak begini." ucap Bagas menatap liyon yang sedang mabuk berat dan meringkuk di sofa dengan sangat menyedihkan.
"Aku mau minum." liyon berulah lagi.
"Ya ya minumlah yang banyak dan tidur." Bagas memberikan botol whisky kepada liyon.
"Ceritakan apa yang sedang terjadi dan kenapa dia jadi seperti ini?" tanya Bagas pada Brayen saat mereka berdua duduk di sofa samping liyon.
"Aku tak tau ceritanya karena begitu aku datang dia sudah seperti itu." Brayen menunjuk pada liyon yang sedang minum
__ADS_1
"Tapi tadi sempat aku tanya katanya dia ditinggalkan oleh lira, dan sepertinya Lira pergi meninggalkan dia. Atau mungkin Lira menginginkan putus dengan dia." jelas Brayen.
"Bagaimana bisa? Lalu dimana Farid sudah lama dia tak muncul, karena hanya dia saja yang bisa menghadapi liyon." Bagas bertanya lagi dan memperhatikan liyon yang sudah mulai oleng.
"Entahlah, sepertinya dia mendapat tugas khusus karena sudah berbulan - bulan tak muncul." jawab Brayen yang juga tak tau menahu soal keberadaan Farid saat ini.
"Haaaah, mereka benar - benar ya." Bagas menghela nafas dalam.
"Apa sebaiknya kita cerita sama mama Li soal Liyon dan Lira? Kita ceritakan semuanya apa yang kita tau dan kita lihat selama Liyon di Beijing, dan bagaimana dia menjalani hidupnya waktu itu." tutur Brayen pada Bagas dan Bagas hanya diam membisu.
"Lira adalah wanita yang benar - benar sangat diinginkan oleh Liyon, dan Lira lah yang mampu membuat Liyon normal. Mungkin saja dengan begitu rencana perjodohan dan pernikahannya dengan putri Bagaskara akan dibatalkan, bagaiman menurut mu?" tanya Brayen dan Bagas masih tak merespon.
"Gas, kita gak mau kan melihat sahabat kita hancur. Kamu juga tau kan bagaimana liyon menyiksa dirinya waktu itu, dan bagaimana kegigihannya untuk segerah menyelesaikan semua pekerjaannya di sana agar bisa dengan cepat kembali ke sini dan mencari Lira wanita yang dia inginkan." ucap Brayen lagi.
"Apa maksud mu Gas, aku jadi bingung." Brayen mencari penjelasan pada Bagas.
"Kau bilang kemaren satria mau menikah sama wanitanya, dan kemaren saat Liyon sama Satria ketemu bukannya mereka membahas kalau mereka saling tak mau melepaskan wanita yang sama - sama dipanggilnya kakak kan?" Bagas menatap Brayen "dan bisa jadi wanita yang mau dinikahi oleh Satria itu adalah Lira wanita yang juga disukai oleh Liyon selama ini." jelas Bagas
"Mungkin juga, tapi kalau memang benar seperti itu harusnya Satria mengalah sama Liyon. Bukankah dia tau bagaimana perasaan Liyon dan perjuangan Liyon selama ini, bahkan dia juga ada di sana untuk membantu Liyon." gerutu Brayen kesal pada Satria.
"Apa kau gila, bagaimana bisa dia melihat dan membiarkan wanita yang dia sukai menderita dan terus tersiksa seperti itu? Tentu saja mau tak mau Satria akan memperjuangkannya dan pastinya Lira juga ingin kehidupan pernikahan yang tenang, walau Liyon punya kuasa dan berduit namun kalau hidup tak tenang siapa yang mau." jelas Bagas dan Brayen mengangguk setuju.
"Sepertinya Lira bukan wanita mata duwitan, karena dia lebih memilih pergi meninggalkan Liyon dan memilih Satria." gumam Brayen
Bruk
__ADS_1
Liyon yang sudah mabuk berat akhirnya tumbang juga dan dia tertidur meringkuk di sofa seperti anak kucing yang kedinginan dan terlantar di jalanan.
"Ya, akhirnya K.O juga dia, ayo antarkan dia pulang dari pada nanti dia mulai lagi saat bangun." ajak Bagas pada Brayen.
Bagas dan Brayen beserta kedua pegawai Brayen membantu mengangkat liyon masuk kedalam mobil untuk mengantarkan liyon pulang ke rumahnya, dan dengan susah paya akhirnya liyon sampai di rumahnya. Dengan dibantu para maid yang ada di rumah liyon Bagas dan Brayen memindahkan liyon dari mobil kedalam kamarnya.
"Apa yang terjadi tuan Bagas? Kenapa tuan muda bisa jadi seperti ini?" tanya bi min pada Bagas setelah selesai membantu liyon melepasi semua baju - bajunya.
"Dia mabuk di tempat ku dan kami tak sanggup mencegahnya jadi membiarkan dia mabuk sampai pingsan baru mengangkatnya pulang." jelas Brayen yang duduk karena kelelalah mengangkat liyon.
"Dimana Gali dan Suryo Bi, aku tak melihat mereka dari tadi?" tanya Bagas yang kembali setelah mengambil air untuk dia minum.
"Oh, mereka pergi ke rumah tuan besar katanya diminta sama nyonya untuk membantu persiapan acara pernikahan tuan muda nanti." jelas Bi Min dan Bagas langsung tersedak oleh air yang dia minum.
"Ya Ampun tuan Bagas hati - hati kalau minum, kok bisa sampai tersedak begini." bi min merasa panik dan terus menepuk - nepuk punggung Bagas.
"Wah - wah Tante benar - benar ya tak sabaran, dia langsung menyiapkan acara pernikahan Liyon saja." ucap Brayen sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana Gas, untuk saran ku tadi? Apakah perlu kita yang bertindak dan menceritakan semuanya pada sang mama." tanya Brayen untuk sarannya yang ingin menceritakan cerita antara liyon dan lira selama ini.
"Hem, entahlah. Kalau liyon tak mau cerita pasti ada sesuatu yang mau dia buktikan pada mamanya, dan kalau kita ikut campur nanti takutnya malah jadi berantakan." jawab Bagas yang sudah bisa menguasai dirinya dari tersedak air minumnya.
"Benar juga sih, liyon pasti sudah punya rencana. Tapi aku jadi tak sabar karena rencananya itu malah bikin dia kehilangan cintanya." gerutu Brayen dengan kesal.
Dan malam itu Bagas sama Brayen tidur dirumah liyon, mereka memilih bermalam karena takut nanti liyon akan bertindak aneh lagi tanpa pengawasan.
__ADS_1