Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Perkelahian


__ADS_3

Drap


Drap


"Hah,,hah." nafas liyon tersengal dan memburu karena lari dari kamarnya hingga lobby.


"Tuan Song maaf apa anda terganggu dengan kerusuhan barusan? Kami benar - benar minta maaf, tapi semuanya sudah terselesaikan untung saja ada Ani jadi tak terjadi lebih parah lagi." jawab pak Sugeng yang juga lari begitu dapat kabar kalau ada keributan di hotel.


"A-ani." ucap liyon dengan suara tersengal.


"Iya dia adalah sekretaris saya yang saya rekomendasikan dari Singapura. Dia kebetulan dulu juga mengajar disebuah sanggar beladiri disana selain menjadi pegawai hotel." jawab pak Sugeng.


"Jadi dia orang lain, ku pikir tadi dia adalah kakak." gumam liyon dalam hati.


"Baik, terima kasih" ucap liyon dan dia berputar balik ke kamarnya lagi.


"Untung saja dia orangnya mudah diatasi" suara pak Sugeng dengan nafas leganya.


"Ayo cepat bereskan dan bersihkan tempat ini, lalu berikan kompensasi pada semua pengunjung yang merasa tak nyaman karena kejadian ini. Mereka pasti akan berfikir kalau hotel ini tak bagus, ayo cepat lakukan semuanya dengan benar jangan sampai pimpinan tau akan hal ini." perintah pak Sugeng pada semua pegawai hotel.


"Dimana Ani sekarang, kenapa aku tak melihatnya?" tanya pak Sugeng begitu dia sadar kalau lira tak ada.


"Bu Ani pergi pak setelah menerima panggilan telepon dari sekolah anaknya." jawab penjaga resepsionis yang tau kepergian lira.


"Baiklah, ayo semuanya bekerja dengan cepat kita bereskan semuanya." perintah pak Sugeng lagi, dan semua orang saling bantu membersihkan tempat yang tadi dilakukan perkelahian dan juga merapikan lagi tatanan hotel yang terlihat berantakan.


...🍂🍂🍂...


"Mama.!" teriak Ferdi saat dia melihat mamanya datang.


"Apa yang terjadi sayang? Bukankah mama sudah bilang jangan berkelahi karena mereka bukan tandingan kamu." ucap lira memeluk putranya dengan penuh sayang.


"Maaf ma, maafkan Ferdi." ucap Ferdi terdengar sangat menyesal.


"Ferdi tidak salah Tante, merekalah yang salah. Ferdi hanya ingin mengajaknya berteman setelah dia berhasil naik lebih tinggi dari Beril, tapi Beril malah tak menepati janjinya dan menghina Ferdi juga memukulnya." jawab teman Ferdi membela dan melaporkan kejadian yang sebenarnya.


"Siapa yang mau berteman dengan anak haram seperti dia. Mamaku bilang jangan berteman dengan anak haram karena dia kotor." jawab Beril dengan lantang.


"Apa? Apa yang kamu katakan barusan?" ucap lira bertanya karena dia terkejut anak sekecil itu bisa mengucapkan kata - kata kejam seperti itu.


"Memangnya kenapa, apa salahnya anak ku? Yang dia katakan tak ada salahnya, hanya wanita - wanita jal*nglah yang melahirkan anak tanpa suami." ucap mama Beril dengan tak suka menatap lira.


"Hei Bu, memang ya ibu dan anak sama - sama jahatnya." ucap meli dengan kesal.

__ADS_1


"Mel, diam lah." lira melihat meli dengan tajam.


"Mama Beril ini adalah perkelahian antar anak - anak saya kan sudah bilang agar Beril tak lagi mengganggu anak lain di sekolah." ucap guru itu pada mama Beril yang terlihat bringas.


"Bagaimana mungkin, aku tak terima karena anak ku dipukul lagian yang dia katakan memang benar tak ada salahnya. Aku juga melihat didalam kartu keluarganya tak ada nama kepala keluarga dan hanya ada nama mereka berdua ibu dan anak saja." jawab mama Beril dengan lantang menghina lira.


Dan semua para wali murid yang datang menjemput anak - anak mereka saling berkasak kusuk mendengar dan melihat keramaian itu.


"Ferdi, kamu dipukul dibagian mana tadi? Apakah masih terasa sakit bekas pukulannya?" tanya lira pada putranya tanpa melihat putranya yang berdiri dibelakangnya, karena lira berdiri menghadap mama Beril.


"Di lengan dan masih sakit karena dipukul pakek balok." jawab Ferdi terdengar sedih.


"Lakukan dengan tega padanya, mama memerintah mu sekarang." ucap lira dengan lantang.


"Baik ma, maafkan aku Beril ini perintah mamaku." ucap Ferdi berjalan maju dan dengan kuat memukul lengan Beril sama seperti saat Beril mukulnya.


Bug


"Huwaaaa, mama,,,sakit" tangis Beril setelah dipukul oleh Ferdi.


Dan semua orang yang ada disitu terkejud melihat kejadian itu, mereka tak habis pikir bagaimana bisa lira malah menyuruh anaknya memukul balik, seperti sedang mengajari anaknya untuk balas dendam.


"Apa yang kau lakukan dasar anak kurang ajar." teriak mama Beril dan hendak memukul Ferdi, namun dengan cepat Ferdi menangkis tangan mama Beril.


"A-apa?" mama Beril berjalan mundur.


"Lagi pula pendidikan utama seorang anak adalah ibu - ibu mereka, jika anda selalu mengajarkan hal - hal buruk pada anak anda bukan tidak mungkin suatu saat nanti anak anda akan terjerumus dalam jurang yang lebih dalam, dan bisa saja dia akan kehilangan nyawanya jika sampai dia menyinggung orang yang lebih kuat dari dia."


"Dan lagi, jika dalam kartu keluarga tak ada nama kepala keluarga yang bisa disebut sebagai papa bukan berarti dia tak punya seorang papa."


"Apakah jika suami anda meninggal maka anak anda akan menjadi anak haram? Karena dia tak punya orang yang akan dipanggilnya papa, sebab papanya sudah tak ada di dunia ini lagi. Katakan padaku, apakah seperti itu?"


Jelas lira panjang lebar serta pertanyaan yang diajukan untuk mama Beril tak bisa dijawab oleh mama Beril. Sementara para wali yang ikut datang menjemput anak - anak mereka juga membenarkan apa yang dikatakan oleh lira.


"Benar coba jelaskan pada kami, karena aku juga tak punya suami. Suamiku baru saja meninggal dunia karena sebuah kecelakaan, apakah anak ku juga disebut anak haram, karena papanya telah meninggal? Dan didalam kartu keluarga juga hanya ada namaku dan putriku saja." celetuk seorang ibu yang juga merasa geram pada mama Beril yang terlihat sombong.


"Ka-kalian? Apa kau menyumpai kalau suamiku akan meninggal?!" kesal mama Beril pada lira.


"Aku hanya bertanya saja." jawab lira santai


"Mama apa yang terjadi?" papa Beril datang karena sebelumnya sudah dihubungi oleh istrinya.


"Sekarang aku ingin anda minta maaf pada putraku." ucap lira lagi pada mama Beril.

__ADS_1


"Apa?! Pa coba lihat wanita ini telah menghina mama dan juga anaknya telah memukul anak kita, dan sekarang dia mau mempermalukan mama dengan menyuruh mama meminta maaf pada anaknya, bocah kecil itu." adu mama Beril pada suaminya yang baru datang.


"Eh, eh. Dia bu-bu Ani." ucap papa Beril memanggil nama lira.


"Tak peduli orang dewasa atau anak kecil, dia yang bersalah harus minta maaf." ucap lira dengan dingin.


Mendengar itu papa Beril bergetar karena dia tau dan juga menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya sendiri bagaimana lira menghajar dan melumpuhkan orang - orang yang telah membuat onar di hotal tadi.


"Di-dia adalah orang yang tak bisa disinggung." gumam papa Beril


"Bu Ani tolong maafkan putra dan juga istri saya." ucap papa Beril pada Lira


"Apa yang papa lakukan? Dan kenapa papa memanggilnya Bu,,,umm" kata - kata mama beril belum selesai tapi papa Beril sudah menutup mulut mama Beril dengan tangannya.


"Dia adalah atasan ditempat kerja ku Ma." bisik papa Beril pada istrinya.


"Apa? Jadi dia adalah atasan papa?" tanya mama Beril menatap lira yang berdiri menghadap mereka dan menatap tajam.


"Iya, dan dia adalah orang yang tak bisa disinggung." bisik papa Beril lagi.


"Ayo kita minta maaf lagi, kalau sampai gara - gara ini papa dikeluarkan semua adalah salah mama." ucap papa Beril berbisik lagi dengan kesal


"Anu, itu, aku minta maaf tolong jangan pecat suamiku dari pekerjaannya." ucap mama Beril pada lira.


"Minta maaf karena takut suami anda dipecat? Permintaan maaf yang tidak tulus, tapi tak masalah. Tolong jangan ulangi lagi dan jangan lagi mengajarkan hal - hal yang tak berguna dan tak bermanfaat pada anak anda." ucap lira dan berputar menggendong Ferdi.


"Terima kasih Bu Ani." ucap papa Beril pada lira yang sudah berlalu pergi.


"Mama Ferdi tolong maafkan kami, karena kami tadi tak tau menahu kalau anak - anak sedang berkelahi." ucap guru Ferdi pada lira.


"Tak apa Bu, perkelahian anak - anak. Saya cuma tak suka jika ada yang memfitnah anak saya apa lagi mengatai kalau dia anak haram." ucap lira dengan sedih.


"Iya, tolong sekali lagi maafkan kami." ucap guru itu dan lira tersenyum meninggalkan sekolah.


"Mama maafkan aku, aku tak memukulnya" ucap Ferdi dalam pelukan lira.


"Tak apa sayang Mama tau kamu tak salah, mama yang harusnya minta maaf karena tak mau kamu bertemu dengan papamu." jawab lira dan meli hanya diam mengikuti serta menyimak percakapan ibu dan anak yang dia ikuti.


Selama perjalanan pulang lira terus saja memeluk Ferdi dalam dekapannya dan membelai Ferdi penuh saya. "Tolong ke rumah sakit ya Mel, aku ingi memeriksakan luka lebb Ferdi." ucap lira membelai lebab ditnagan Ferdi.


"Ferdi tak apa ma, sudah tak sakit lagi." jawab Ferdi dengan tersenyum menatap lira.


"Maafkan Mama sayang." ucap lira mencium dan memeluk Ferdi dengan sangat erat dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2