Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Terungkapnya 2 hubungan


__ADS_3

Pagi itu lira ijin tak masuk kerja karena mendadak Yuniar menghubunginya dan butuh bantuan darinya. Dari suara Yuniar yang seperti sedang menahan rasa sakit membuat lira khawatir karena Yuniar tinggal sendiri setelah kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan.


"Yuni ya ampun apa yang terjadi?" lira terkejud mendapati Yuniar bersimbah darah begitu lira memasuki rumahnya.


"Lira tolong sakit banget." rintih Yuniar dengan sangat lemas.


Dengan panik lira menghubungi orang yang bisa dihubungi dan dimintai bantuan. Lira memanggil taksi online untuk bisa membawah Yuniar ke rumah sakit karena satria tak bisa dihubungi.


"Sakit banget Lir." keluh Yuniar sambil menangis menahan rasa sakit.


Lira ingin sekali bertanya apa yang sedang terjadi pada Yuniar, namun dia mengurungkan pertanyaan itu karena yang lebih penting adalah keselamatan Yuniar. Sesampainya di rumah sakit Yuniar langsung ditangani dan masuk kedalam ruang tindakan


"Apa anda keluarga dari pasien?" tanya seorang perawat pada lira.


"Iya saya sahabatnya, ada apa dengan dia sebenarnya?" tanya lira sangat panik dan juga takut.


"Dimana suaminya? Dokter ingin ketemu sama suaminya karena ini akan dilakukan tindakan kuretase sebab teman anda telah mengalami keguguran." jelas perawat itu pada lira.


"Apa? B*r*ngs*k, dasar pria b*j*ngan.!" kesal lira dalam hati menyumpahi Denis yang telah membuat susah sahabatnya namun masih selingkuh.


"Tunggu sebentar suster." ucap lira dan dia berusaha untuk menghubungi Denis, tapi nomor Denis juga tak bisa dihubungi.


"Bagaimana Bu? Ini harus dilakukan dengan cepat agar pasien tidak kehabisan banyak darah." tanya perawat itu lagi.


"Saya yang akan menanda tangani, tolong selamatkan sahabat saya." jawab lira dengan gemetar.


"Baik kalau begitu mari ikuti saya untuk mengisi formulirnya agar bisa segera dilakukan proses kuretase-nya." perawat itu berjalan dan diikuti oleh lira dibelakangnya.


Sekitar 1 jam lamanya akhirnya tindakan yang dilakukan terhadap Yuniar pun selesai dan Yuniar telah dipindahkan ke ruang rawat inap.


Disisi lain satria yang baru saja kembali kemeja kerjanya dan mendapati panggilan telepon dari kakaknya sebayak 15 kali merasa aneh karena lira tidak pernah menghubungi dirinya sebanyak itu.


Saat satria menghubungi balik nomor lira tak bisa ditelepon karena baterainya habis, dan lira sedang menunggui Yuniar yang masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat biusnya.


Lira kira 1 jam kemudian Yunir telah sadar dan dia mendapati lira yang tidur di kursi dengan menyandarkan kepalanya disamping bad.


Yuniar menatap lira dan ada rasa bersalah serta takut pada lira karena ulahnya yang membuat lira jadi susah. Yuniar mengingat lagi kejadian sebelum dia menghubungi lira pagi itu.


Kejadian saat di rumah Yuniar.


"Apa yang kau lakukan Denis, apa kau sudah gila hah?!" teriak yuniar dengan sangat marah


"Kenapa? Aku tak mau pisah dengan mu dan juga tak mau kehilangan kamu, jadi jika kita memiliki anak kita maka kita akan bisa bersama." jawab Denis dengan sangat marah juga.


"Aku tak mau, apa kau sudah tak punya akal. Bukankah kau sebentar lagi akan menikah, aku tak mau jadi wanita kedua." jawab Yuniar namun Denis seolah sedang gelap mata, dia tak peduli dan tak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Yuniar.


"Denis hentikan.!" teriak yuniar lagi, dan karena kesal Denis pun mengikat tangan Yuniar dan menutup mulut Yuniar.


"Kau bukan manusia Denis aku benci pada mu, aku sangat benci pada mu." Yuniar terisak saat Denis telah memaksanya untuk berhubungan.

__ADS_1


"Pergi aku tak mau melihat mu lagi, aku jijik dengan mu." usir Yuniar yang masih menangis.


"Maafkan aku Yuni, aku benar benar khilaf, aku sangat kesal dan juga marah tadi." ucap Denis namun itu sudah tak bisa membuat luka di hati Yuniar yang telah tergores dalam bisa disembuhkan.


Kembali kepada saat ini.


Yuniar menangis dengan perlahan dia turun dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi, didalam kamar mandi Yuniar menangis dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


"Kenapa, kenapa jadi seperti ini. Bukankah dulu dia sangat baik kenapa sekarang dia jadi begitu kasar dan juga kejam." Isak Yuniar semakin keras dan terdengar pilu.


"Aku masih bisa menerima sentuhan satria walau aku tau aku tak menyukainya tapi dia masih lembut dan tak menyakiti, entah kenapa aku lebih bisa menerima perlakuan satria dari pada Denis yang sudah aku kenal sejak lama."


"Aku benci dengan mu, aku jijik dengan mu. Aaaaah.!"


Yuniar berteriak didalam kamar mandi hingga membangunkan lira. Mendengar teriakan Yuniar lira langsung bangun dan membuka pintu kamar mandi dan mendapati Yuniar pingsan didalam.


Dengan panik lira memanggil dokter dan perawat, setelah Yuniar dipindahkan ke tempat tidurnya lagi dan diganti infusnya lira semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi.


"Terima kasih dokter, suster." ucap lira setelah Yuniar selesai ditangani.


"Iya tolong jangan ditinggal sendirian, dia masih lemas karena baru saja menjalani kuret." ucap dokter dan lira mengangguk.


"Ah, hanpon ku pasti sudah penuh." lira mengaktifkan hanponnya setelah diisi daya.


"Halo Sat"


"Kakak ada apa?" satria langsung menghubungi begitu tau hanpon lira aktif karena pesan yang dikirim dibuka oleh lira.


"Rumah sakit mana?" tanya satria yang terdengar panik.


"Rumah sakit negeri utama." jawab lira dan satria langsung mematikan hanponnya.


"Ya, anak ini." lira kaget karena satria mematikan panggilannya begitu saja.


Brrrrt


"Halo Sat" jawab lira tanpa melihat nama dilayar hanponnya.


"Kakak dimana? Dan siapa Sat?" tanya liyon dengan nada bingung serta kesal.


"Eh, aku di rumah sakit negeri utama." jawab lira, klik


"Ya, dia juga mematikan panggilan begitu saja setelah mendengar kata nama rumah sakitnya, apa karena seumuran ya jadi sama sikap dan kelakuannya?" lira menatap bingung layar ponselnya.


"Lira" panggil Yuniar setelah dia sadar kembali.


"Ya Ampun kamu sudah sadar, tunggu aku panggilkan dokter dulu." lira lari keluar dan memanggil dokter.


Setelah diperiksa dan dinyatakan tak apa apa dokter pun kembali dan tinggallah lira berdua dengan Yuniar.

__ADS_1


"Yuni, syukurlah kamu tak apa tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" tanya lira pada Yuniar, dan Yuniar langsung menangis tersedu mendengar pertanyaan dari lira.


"Lira aku harus bagaimana?" Yuniar menangis dan mulai menceritakan semua yang terjadi pada dirinya 2 hari yang lalu sebelum dia mengalami insiden dan berakhir di rumah sakit.


"Bagaimana bisa Denis jadi se*****k itu.! Apa dia tak tau dengan kehamilan.ku dan rekan membahayakan bayinya." kesal lira dan itu membuat Yuniar kaget.


"Bayi, apa maksud mu?" tanya Yuniar dengan tubuh gemetar.


"Iya kamu sedang hamil dan baru saja kamu menjalani kuret karena kamu telah keguguran." jelas lira.


"Apa, keguguran?!" satria dan liyon berkata bareng serta membuka pintu dengan keras, membuat lira dan Yuniar kaget hingga tak jadi menangis.


"Apa yang terjadi, siapa yang keguguran? Apa itu anak ku?" lagi lagi mereka berkata dengan bareng dan serempak.


Setelah sadar dengan apa yang diucapkannya satria dan liyon saling pandang satu sama lain, lalu melihat ke arah lira dan Yuniar.


"Kakak tak apa? Apa ada yang sakit?" liyon mendekati lira dan bertanya dengan cemas. Yuniar dan satria mengerjapkan mata mereka melihat adegan dua orang dihadapannya.


"Kalian?" satria bertanya dengan bingung karena dia baru pertama kali melihat ekspresi liyon yang begitu lembut pada seorang wanita.


"Ah, Sat dia hanya mengkhawatirkan peg..." kaliamat lira tertahan karena diselah oleh liyon.


"Dia kekasih ku." jawab liyon dengan tegas.


"Hah?" satria seolah tak percaya.


"Ah, kenapa kalian kemari bersamaan kami tak membutuhkan kalian." ucap lira dan itu membuat liyon juga satria sadar dengan tujuan mereka datang ke rumah sakit.


"Apa yang terjadi?" lagi lagi satria dan liyon bersuara bareng.


"Kalian, tidak ada apa apa." jawab lira, dan Yuniar hanya menunduk tak bersuara.


"Aku dengar ada yang keguguran.?" tanya satria.


"Iya, sebenarnya ini adalah hubungan antara Yuniar dan kekasihnya, Denis terlalu kasar hingga Yuniar kehilangan bayinya." jelas lira.


"Deg" satria bergetar dan tanpa sengaja melangkah mundur, ada rasa ssesak yang sangat menyakitkan di lubuk hatinya yang paling dalam.


Liyon melihat satria menitikan Aira mata dan liyon menyadari kalau wanita yang disukai oleh satria adalah wanita yang saat ini sedang lemah dengan selang infus ditangan kirinya.


"Maaf, tolong maafkan aku. Aku tidak tau kalau aku sedang hamil." ucap Yuniar saat satria mau keluar dari kamar itu, dan lira bingung karena tiba tiba Yuniar meminta maaf.


"A - aku tak menyadarinya, aku juga tak melakukannya. Dia telah memaksa ku." sambung Yuniar dan tangisnya pun pecah.


"Tolong maafkan aku." suara Yuniar terdengar sangat pilu.


Satria berbalik dan menatap Yuniar yang menangis dan tertunduk, ekspresi Yuniar membuat satria semakin sakit hati. Rasa kesal, sedih, marah semua bercampur aduk jadi satu. Satria melangkah dengan cepat dan memeluk Yuniar.


"Huwaaa." tangis Yuniar pecah dalam pelukan satria dan itu membuat lira kaget melihat adiknya dan sahabatnya saling peluk dan menangis bersama, seolah sedang menangisi anak mereka yang hilang.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" lira bertanya dan semakin bingung dengan yang terjadi.


"Biarkan mereka berdua, ayo kita tinggalkan mereka biar mereka mengatasi masalah mereka sendiri." liyon menarik lira keluar dari ruang rawat inap Yuniar.


__ADS_2