
Setelah selesai semua dan para pemegang saham itu bubar lira kembali ke ruangannya bareng Yanuar. Dengan cepat lira menyalin semua hasil rangkuman yang telah dia catat tadi selama rapat.
"Lira, serahkan tugas mu pada Endang dan kamu ikut aku sama Farid untuk menemui tuan Bagaskara." perintah liyon dengan tegas pada lira.
"Baik Bos. Apa saya perlu membawakan sesuatu untuk tuan Bagas nanti?" tanya lira pada liyon dan itu membuat liyon mengerutkan alisnya karena dia merasa bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh lira.
"Tidak usah, tak perlu membawa apa pun bawah diri mu saja." jawab liyon dengan kesal lalu berjalan masuk kedalam ruangannya dengan cepat.
"Lira apa yang kamu katakan? Apakah kamu tak tau kalo bos tak suka dengan orang itu, apa kamu tau siapa dia?" bisik Endang pada lira setelah menarik tangan lira hingga lira duduk di kursinya.
"Aku tau kalo dia adalah orang yang ingin menjali kerja sama dan ingin menjodohkan putrinya dengan bos." jawab lira santai.
"Haaaah, putrinya adalah Yusnia dan dulu dia dikeluarkan dari sini karena berusaha untuk mendekati bos dan juga terlibat banyak sekandal." jelas Endang dengan serius.
"Tau, dulu kan kamu yang ngasih tau aku, karena waktu itu aku sedang tak ditempat karena mengawal nyonya Li." jawab lira lagi, walau didalam hati yang sebenarnya lira merasa ada sedikit luka gores, namun dia masih menggunakan logikanya sehingga dia menganggap hubungannya dengan liyon memang tak akan bisa bertahan.
"Lira ayo berangkat sekarang, dan sebelum berangkat sebaiknya kamu ganti bajumu karena kemungkinan nanti bos ingin kamu ikut bukan sebagai sekretaris namun sebagai pengawal pribadinya, masuklah bajumu didalam dan Bos menunggumu untuk menjelaskan semuanya." ucap Farid dan lira langsung berdiri dan masuk kedalam ruangan liyon untuk mengambil baju yang dikatakan oleh Farid dan mendengar penjelasan liyon.
Setelah liyon memberikan bajunya kepada lira, menjelaskan apa yang harus dilakukan dan menyuru lira ganti baju, liyon keluar menunggu lira didepan lif bersama Farid. 10 menit kemudian lira keluar sudah dengan stelan baju baru.
Seperti itulah setelan baju yang dibelikan oleh liyon.
"Sudah." ucap liyon dan langsung masuk kedalam lif Farid dan Lira mengikuti dari belakang.
Selama perjalanan liyon hanya diam tak bersuara begitu juga dengan lira dan Farid yang juga ikutan diem sampai tiba tujuan.
...🍂🍂🍂...
"Liyon di sini, wah aku tak nyangka kalau kamu orangnya selalu tepat waktu. Untung saja ini tadi yusnia mengajak berangkat lebih awal, dia masih keluar sebentar." ucap tuan Bagaskara menyambut kedatangan liyon.
__ADS_1
"Silakan tuan kita langsung saja pada pokok utama pertemuan kita, papa sudah bilang pada saya sepenuhnya dan menurut saya semua yang tuan Bagas ajukan tidak ada satu pun dari perjanjian itu yang membuat saya merasa tertarik untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan anda." ucap liyon secara langsung tanpa basa basi dan menunjukkan rasa tak sukanya.
"Ehem," tuan Bagas merasa gugup
"Sial, ternyata bocah ini sulit untuk dihadapi aku harus mengatasi bocah ini dengan benar, dia lebih sulit dihadapi dari pada papanya." suara hati tuan Bagas.
"Liyon, kamu bisa menentukan isi dari perjanjiannya atau mau ditambahkan juga boleh yang mungkin bisa kamu anggap itu menguntungkan bagi kamu." jawab tuan Bagas dengan tersenyum yang terlihat dipaksakan.
"Saya tak ada permintaan yang lebih pasti, tapi akan saya pikirkan nanti dan saya harap tuan Bagas bisa menepatinya saat saya mengajukan permintaan pada saatnya nanti." jawab liyon dengan santai.
"Gila, bocah ini melakukan permintaan yang menjebak, sama dengan aku dulu." suara hati lira menatap kedua orang yang duduk berhadapan itu.
"Papa." panggil yusnia yang datang entah dari mana.
"Liyon kamu sudah datang, maaf aku tadi habis telepon Tante Li jadi tidak ikut menyambut waktu kamu datang." ucap yusnia dengan suara lembut.
"Wanita ini benar benar bermuka tebal, dan sangat percaya diri. Entah apa jadinya dia nanti kalau Liyon sudah mulai bertindak dan mengungkapkan siapa dirinya." Farid menatap sambil bergumam dalam hati dan tersenyum tipis.
Pembicaraan antara tuan Bagaskara dan liyon pun berjalan sedikit sulit dan alot pasalnya liyon tak setuju dengan semua rencana yang diajukan dan rencana yang diutarakan oleh tuan Bagaskara.
"Wah lira aku tak menyangka kalau sekarang untuk melakukan pertemuan diluar kamu yang menemani liyon, bukankah biasanya adalah Safitri." ucap yusnia pada lira saat mereka sudah masuk kedalam kamar mandi bersama.
"Maaf saya hanya mengawal Bos saja, karena saat keluar dan Bos butuh pengawalan maka aku akan ditugaskan disisinya jadi nona yusnia jangan salah paham." jawab lira yang sudah tau setatus yusnia karena pagi tadi saat baru sampai di kantor dia sudah dikasih tau oleh pak hendra mengenai masalah yusnia yang akan dijodohkan dengan liyon sebagai tali pengerat 2 perusahaan.
Kejadian di pagi hari saat lira baru sampai kantor dan bertemu dengan pak Hendra di lobby kantor.
"Selamat pagi pak Hendra." sapa lira dengan riang pada pak Hendra yang terlihat baru saja datang.
"Iya selamat pagi lira. Kamu terlihat sangat lelah pagi ini." balas pak Hendra.
Lira tertawa sambil berjalan bersama pak Hendra kearah lif, bagaimana tak lelah semalam liyon mengerjainya bahkan pada pagi hari masih bermain 3 ronde lagi. Namun anehnya liyon justru terlihat sangat fresh dan juga segar tak nampak kelelahan sedikit pun, dan itu membuat lira kesal.
__ADS_1
Sehingga lira sengaja minta diturunkan di persimpangan jalan oleh liyon dengan alasan ingin datang ke kantor dari pintu depan serta menyapa banyak orang.
"Lira apa kamu tau kabar berita terkini soal Bos kita?" ucap pak Hendra dan lira menggeleng.
"Yusnia ternyata putri tunggal dari orang besar dan juga katanya dia akan dijodohkan dengan Bos kita untuk mempererat perusahaannya dengan perusahaan ini." jelas pak Hendra
Deg
Jantung lira seolah berhenti mendengar informasi itu dari pak Hendra, tapi lira cepat mengatasi rasa terkejudnya dan menguasai hatinya lagi.
"Benarkah pak? Saya baru dengar, ternyata pak Hendra adalah informasi berjalan yang sangat luar biasa." ucap lira dengan senyum yang dipaksakan.
"Ya ku dengar begitu, tapi masih belum pasti juga karena ku dengar Bos kita masih belum memberi keputusan." jelas pak Hendra lagi.
Setelah mendengar itu lira merenung lama didalam kamar mandi, lira terus berusaha untuk mengatasi hatinya karena dari awal lira sudah tau kalau hal itu pasti akan terjadi, namun lira tak menyangka kalau hal itu datang lebih cepat dari perkiraannya.
"Ayo lira kamu harus sadar kalau semua itu memang tak bisa kamu gapai, nikmati saja apa yang ada saat ini." gumam lira liri dalam kamar mandi dan sempat meneteskan air mata.
"Semangat lira, kamu pasti bisa bukankah ini bukan hal yang pertama lagi bagi mu." lira menghapus air matanya dan bertekat.
Kembali pada saat sekarang.
"Benarkah kamu hanya seorang pengawal saja? Tapi ku harap apa yang kamu katakan itu memang benar kamu jangan menjadi wanita kedua dalam hubungan kami.
"Apa nona Yusnia tak memiliki keyakinan pada perasaan anda sendiri?" tanya lira pada yusnia dan itu membuat yusnia kesal.
"Dengar ya lira kamu jangan sok, dan jangan pernah mempunyai pikiran untuk mendekati liyon karena kalian tak selevel." ledek yusnia dan lira hanya tersenyum.
"Yusnia aku sudah pernah melihat orang dengan sifat seperti mu ini, dan aku rasa aku tak perlu menghormati mu lagi karena kamu sepertinya tak bisa untuk dihormati."
"Kalau kamu memang memiliki perasaan pada liyon dan kalian memang memiliki perasaan yang sama harusnya kamu tak merasa terancam oleh orang lain yang seperti ku yang katamu tadi tak selevel."
__ADS_1
"Dan ingat 1 hal lagi, bahwa cinta itu tak bisa dipaksakan. Walau kamu memiliki segalanya tapi jika cinta tak berpihak padamu maka kamu juga tak akan pernah bisa memilikinya untuk selamanya."
Lira berkata dengan nada santai dan juga menekan pada yusnia, karena dia sudah pernah mengalami hal itu, saat kekasihnya direbut oleh sahabatnya sendiri, jadi lira bisa menghadapi yusnia dengan lebih kalem karena dia sudah mempunyai pengalaman disakiti.