
Setelah selesai makan malam liyon membantu lira membersihkan dan mencuci piring, setelah itu liyon memberikan baju pada lira dan menyuruh lira untuk mandi.
"Biar aku yang keringkan rambut kakak, karena aku suka melakukannya." pinta liyon yang sudah menunggu lira dari tadi.
"Terima kasih sudah menyiapkan makanan dan kejutan untuk ku." ucap lira duduk dengan patuh saat liyon mengeringkan rambutnya.
"Hem, aku senang jika kakak suka." liyon masih sibuk mengeringkan rambut lira dengan sesekali menyisirnya agar cepat kering.
"Tunggu aku akan pakaikan krim rambut dulu." liyon terlihat sibuk membuka sesuatu.
"Semoga kakak suka dan aku ingin kakak terus memakainya." ucap liyon memasangkan sesuatu dileher lira.
"Apa ini?" lira memegangnya dan melihatnya dari pantulan cermin, kalung itu terlihat sederhana namun cincin yang terpasang dikalungi itu berbeda, cincin itu bertuliskan nama liyon dan terpasang berlian di cincin itu.
"Apa ap eum." kalimat lira tenggelam karena liyon meraup bibir lira.
"Jangan berkomentar ucapkan saja kalau kakak sangat menyukainya." busik liyon setelahnya.
"Iya aku suka, tapi jangan lakukan ini pada ku, nanti aku bisa kebiasaan diperlakukan dengan baik oleh mu jadi bergantung padau. Baiklah sekarang kembalilah ke kamar mu aku mau tidur." usir lira pada liyon.
"Eh, kok gitu sih kak. Apa tak ada balasan untuk ku? Seperti pelukan atau kecupan gitu" liyon bertanya dengan wajah terlihat mengharapkan sesuatu.
"Tidak ada, kamu sudah mengambilnya batusan. Jadi sekarang kembalilah ke kamar kamu." lira mendorong liyon keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
"Lira." panggil liyon dan lira tak menyahut.
"Ya, dikunci. Kamu kejam sekali pada ku." liyon terlihat sedih dan berjalan dengan lesu masuk kedalam kamarnya sendiri.
"Ya, dihari jadi yang ke 3 bulan aku tak dapat apa apa bahkan sebuah pelukan saja tidak kenapa kamu begitu kejam pada ku Lira." keluh liyon dan menggerutu didalam kamarnya.
"Liyon, nasib mu sungguh buruk. Disaat ada kekasih mu didekat mu tapi kamu tak bisa menyentuhnya, bahkan tidur sendiri bertemankan bantal dan guling." liyon terus saja menggerutu hingga pada akhirnya dia tertidur juga.
Saat pagi datang liyon langsung melompat keluar kamar dan melihat kedalam kamar yang ditempati oleh lira, pintu kamar itu sudah bisa dibuka namun isinya kosong lira tak ada di situ.
"Bi, dimana non Lira?" tanya liyon berteriak dari lantai 2.
"Non Lira sudah berangkat dari pagi tadi, katanya jangan bangunkan tuan." jawab Bi min yang juga berteriak.
"Hah, dia menghilang lagi." gumam liyon kembali masuk kedalam kamarnya dan menghubungi lira.
"Kamu dimana? Apa sudah di kantor? Kenapa tak menunggu ku atau membangunkan aku? Begitu tidak sukanya dengan ku hingga pergi tanpa pamit pada ku?" tanya liyon begitu lira mengangkat teleponnya.
Klik
"Halo kak, kakak. Halo.!" lira mematikan sambungan teleponnya.
"Ya Ampun dimatikan, rupanya dia sudah mulai berani mematikan telepon dari ku seenaknya sendiri ya. Aku harus menghukumnya kalau ketemu nanti." gerutu liyon dan dia langsung mandi untuk pergi ke kantor, bertemu dengan lira dan memberinya hukuman.
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
Sesampainya di kantor liyon tak mendapati lira di sana, dan liyon lupa kalau lira ada tugas keluar bersama dengan Yanuar untuk meninjau lokasi pembangunan bakal mol baru yang akan berdiri ditengah pusat kota.
Seharian lira dan Yanuar mengamati pembangunan serta meneliti bahan bahan yang digunakan, setelah itu lira mencatat semua bahan yang kurang atau yang sudah habis.
Sementara di kantor liyon yang tak bisa tenang karena membiarkan lira pergi ke pusat pembangunan bersama dengan Yanuar merasa gelisah dan tak tenang, pada akhirnya liyon memutuskan untuk ikut pergi ke lokasi demi bisa bertemu dengan lira.
"Wah Bos datang sendiri ke sini untuk mengamati kerja kita Bos? Sekretaris Lira dan juga sekretaris Yanuar sudah ada di sini Bos dari pagi." ucap mandor dari proyek itu menyambut kedatangan liyon.
"Dimana mereka? Apa semuanya lancar tak ada kendala?" tanya liyon sambil berjalan mengikuti mandor itu ke lokasi lira.
"Awas nona.!" teriak dari seorang pekerja yang tiba tiba saja berteriak dan liyon langsung lari mendekati lira.
Bruk... Piyaaarr...
Sebuah lampu gantung yang mau dipasang tiba tiba saja talinya putus dan jatuh tepat diatas lira.
"Liyon?!" lira teriak saat liyon jatuh menimpah-nya.
"Kamu tak apa?" tanya liyon setelah dia bangun dan membantu lira bangun.
"Lira, Bos kalian tak apa?" tanya Yanuar yang mendekati lira.
"Darah, liyon kamu berdarah? Ayo cepat ke rumah sakit." lira terlihat sangat panik begitu juga dengan Yanuar dan para pekerja.
Karena rasa panik, takut dan sedih bercampur jadi satu, membuat lira tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh liyon. Hingga liyon memeluk dan mendekap tubuh lira dalam pelukannya.
"Kamu harus ke rumah sakit." ucap lira yang bersuara didalam pelukan liyon.
"Iya aku akan ke rumah sakit tapi kamu tenang dulu, jangan panik ok." ucap liyon lalu melepas pelukannya.
Saat liyon menghubungi Farid menceritakan kejadian yang menimpah-nya lira tak meninggalkan liyon, lira terus berada disamping liyon dengan menekan luka liyon dengan kain agar darahnya tak banyak keluar.
15 menit kemudian Farid tiba di lokasi dan pergi mengantarkan liyon ke rumah sakit dengan didampingi oleh lira. Sesampainya di rumah sakit ternyata luka liyon cukup dalam dan mendapatkan jahitan sekitar 12 jahitan dibahu kiri. dan luka lecet di punggung.
"Apakah sakit?" dengan cemas lira bertanya dan melihat perban dibahu kiri liyon
"Iya lumayan sakit karena jahitannya banya dan dalam, terus masih banyak yang lecet juga." jawab liyon menjelaskan dengan wajah menahan rasa sakit.
"Aku ucapkan terima kasih dan juga maaf, gara gara aku kamu jadi terluka. Harusnya aku yang mengalami ciderah itu." lira berkata dengan nada sangat menyesal dan permohonan maaf yang sangat tulus
"Kalau kamu merasa bersalah maka tinggallah rawat aku dan jaga aku selama aku sakit." liyon berkata memohon pada lira dan lira mengangguk karena dia merasa bersalah pada liyon.
...🍂🍂🍂...
Sesampainya di rumah lira menjaga dan merawat liyon dengan sangat sabar dan juga telaten, setiap waktu lira mengoleskan obat diluka luka lecet liyon yang ada dipunggung dengan sangat hati-hati.
"Kak tolong lepaskan baju ku, aku mau mandi gerah." liyon meminta pada lira untuk membantunya melepas baju.
__ADS_1
"Tapi kata dokter lukamu gak boleh terkena air selama 3 hari, kenapa kamu malah minta mandi. Bagaimana kalau lukanya terkena air dan jadi makin parah." jelas lira pada liyon dengan khawatir.
"Tapi aku seharian gak mandi ini sangat gak nyaman, bagaimana aku bisa tidur dengan tubuh yang gerah dan penuh dengan keringat seperti ini?" liyon mengeluh karena dia sudah seharian gak terkena air dan juga berkeringat.
Lira menatap bingung pada liyon dan dia tak tau harus berbuat apa, "Aku...Bagaimana kalau aku nyalakan ac-nya jadi lebih dingin lagi biar kamu gak gerah.". ucap lira setelah berfikir sebentar.
"Aku ingin tubuh ku terkena air buka AC yang dingin, jika aku tak boleh mandi bantu aku untuk menyeka tubuh ku saja, aku terluka demi menyelamatkan kamu loh." ucap liyon mendekati lira dan mengingatkan lira kalau dirinya terluka demi lira.
"Siapa suruh kamu begitu, padahal aku masih bisa menghindar. Tapi kamu malah menerjang." jawab lira ketus.
"Jahat banget, ya sudah aku mau minta tolong pada mereka saja untuk membantuku melepas baju dan mandi." liyon beranjak dan berjalan menuju pintu.
"Tidak, tidak boleh." cegah lira karena dia gak mau para art liyon melihat dan menyentuh tubuh liyon.
"Kenapa, tak rela kalua milik mu dilihat dan disentuh orang lain? Kalau begitu bantu aku." liyon berkata sambil menggoda lira.
"Baiklah." dengan terpaksa lira membantu liyon melepaskan bajunya dan juga celana panjangnya.
Liyon tersenyum melihat lira yang wajahnya bersemu merah karena malu menatap tubuh liyon, "Bukankah kamu sudah sering melihat dan menyentuhnya, kenapa masih saja malu malu begitu." bisik liyon ditelinga lira saat mereka berada didalam kamar mandi.
"Aku tidak malu." lira berkata dengan berusaha menguatkan hatinya.
"Lalu kenapa wajah mu bersemu merah? Atau kamu pingin? Aku masih bisa kok melayani mu di sini." ucap liyon lagi menggoda lira.
"Auw sakit." teriak liyon saat lira sedikit menekan pada luka jahitan dibahunya.
"Makanya jangan macam - macam." lira berkata dengan kesal.
"Aku berkata jujur, apa salahnya? Lagian kita belum pernah melakukannya dengan posisi duduk kan." liyon berkata dengan tersenyum menatap lira yang semakin memerah wajahnya.
"Lakukan sendiri aku keluar." lira marah dan meninggalkan liyon.
Liyon tertawa melihat lira yang kesal dan marah padanya, "Kamu sangat lucu lira, aku jadi suka menggoda mu seperti itu. Tapi aku memang belum pernah melakukannya dengan posisi duduk, akan ku lakukan nanti." gumam liyon dan dia membersihkan tubuhnya sendiri sampai selesai.
"Lira kemarilah tidur disebelah ku." pinta liyon pada lira yang ingin tidur di sofa.
"Tidak nanti terkena luka mu, aku tidur di sini saja." tolak lira dan dia memasang selimutnya.
"Auw sakit banget." pekik liyon tiba - tiba sehingga lira terkejud dan mendekatinya.
"Aaahh." lira teriak kaget karena liyon menariknya dengan tangan kanan.
"Ugh." liyon menahan sakit saat lira tanpa sengaja memeluk dan mengenai luka dibahu kirinya.
"Sakit? Sudah ku bilang jangan macam - macam kan." lira merasa bersalah dan menyentuh dengan lembut luka liyon.
"Aku cuma ingin tidur dengan memeluk mu saja" ucap liyon dengan sedih.
"Baiklah, ayo." lira berbaring disebelah liyon dan liyon memeluk lira dengan erat.
__ADS_1
Adegan itu terjadi setiap hari selama 3 hari, dan selama itu pula liyon selalu menjahili lira sehingga membuat lira kesal tapi tak bisa berbuat apa apa karena luka liyon didapat karena menolong dirinya.