
Dengan susah paya Gali berusaha menghubungi Liyon dan Sulasih membantu Suryo dan Warti yang jatuh pingsan untuk membawah mereka ketepi jalan, dan juga Surti sama Gali yang sedang terluka.
"Ugh, sayang bertahanlah nak. Kita harus bisa mengejar dan menyelamatkan semua keluarga kita." ucap Lira mengusuk perutnya yang terasa nyeri.
"Mereka mau kemana sebenarnya, kenapa semakin lama jalannya semakin gelap dan juga masuk kehutan." gumam Lira yang terus mengikuti mobil itu.
"Ayo cepat keluar semuanya." ucap orang yang menculik kepada Yuniar dan Meli.
"Kalian akan mendapatkan balasan dari mama ku." teriak Ferdi dengan lantang.
"Berhenti.!" teriak Lira setelah berhasil menyusul dan mendapati orang - orang itu menggiring keluar semuanya dari dalam mobil.
"Oh, sudah sampai rupanya." jawab penculik dengan tersenyum.
"Sial, jika tidak hamil aku akan patahkan kaki dan tangan kalian." gumam Lira dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
Lira berjalan mendekati mereka dengan segala kesiapan yang mungkin akan terjadi, "Katakan siapa yang menyuruh kalian melakukan hal ini pada kami, karena aku yakin yang sebenarnya kalian inginkan adalah aku, benar begitu?" pertanyaan yang keluar dari mulut Lira sangat tepat pada sasaran, dan melihat semua penculik itu diam sudah membuat Lira tau dengan pasti kalau apa yang dikatakannya adalah benar.
Buk
"Aah." keluh salah seorang yang tiba - tiba saja mendapat pukulan tepat diperutnya oleh Lira karena berusaha untuk menyerang Lira dari belakang.
"Oh, jadi dia masih tangguh juga serta sangat waspada ya. Sungguh menarik, aku suka wanita yang kuat sepertinya." pimpinan penculik yang berhasil menyusul itu berkata dengan sangat senang. Pimpinan itu berjalan mendekati Lira dengan seringai lalu dia mengangkat tangannya "Lumpuhkan dia untuk ku." ucap pimpinan itu mengarahkan tangannya pada Lira, dan dengan cepat beberapa orang menyerang Lira.
"Sial, aku tak bisa mengatasi semuanya dalam keadaan ini." Lira yang sudah tak sanggup melawan lagi karena kehamilannya membuat dia lemah dan gerakannya penuh dengan kehati - hatian.
...🍂🍂🍂...
Disisi lain setelah 30 menit akhirnya Liyon telah menyelesaikan rapatnya dengan sempurna, namun Liyon terlihat sangat marah dia mengepalkan tangannya dan pandangannya seolah ingin menghancurkan segalanya, setelah dia kembali ke ruangannya dan membuka hanponnya serta menerima pesan dari Gali dan membaca isi pesan itu.
30 sebelumnya.
"Tuan kenapa tak mengangkat panggilan ku, apa tuan sedang sibuk? Sebaiknya aku kirim pesan saja sebelum kesadaran ku bilang." gumam Gali dengan bersusah paya menuliskan pesan dan menceritakan apa yang terjadi pada Lira, lalu dia pun jatuh pingsan.
Pada saat ini Liyon merasa sangat menyesal karena dia lupa tak membawah hanponnya saat rapat tadi. "Sial kenapa aku tak membawahnya tadi.!" Liyon menghantam meja hingga pecah kacanya.
"Farid amankan semua jalan karena ada yang ingin cari mati." perintah Liyon pada Farid melalui panggilan telepon.
"Apa yang terjadi?" tanya Farid bingung karena dalam hatinya dia juga merasa khawatir yang tak menentu.
"Lakukan sekarang dan jangan banyak tanya.!" teriak Liyon dengan kesal lalu mematikan panggilan.
"Alat yang aku pasang menunjukkan mereka membawahnya kearah yang berlawanan dengan tujuan Lira berlibur." gumam Liyon yang mengaktifkan alat pelacak yang dia pasang pada jam tangan Ferdi dan liontin Lira
Dengan cepat Farid dan anak buahnya langsung mengamankan seluruh jalan dan membuat Liyon melaju dengan kecepatan tinggi melewati jalanan itu tanpa hambatan dengan diikuti Farid dan juga Satria dibelakang mobil Liyon dengan mobil mereka sendiri, Sementara anak buahnya yang diseber telah membuka jalan untuk bosnya dan ke 2 orang kepercayaan bosnya melewati rute jalan tanpa adanya hambatan.
"Sulasih." panggil Liyon setelah dia sampai ditempat kejadian dan melihat anak buahnya tergelatak tak berdaya.
"Tuan maafkan kami karena gagal melindungi Nina Lira dan yang lainnya." ucap Warti, Suryo dan Sulasih.
__ADS_1
"Bawah mereka ke rumah sakit, yang lain ikut aku." ucap Liyon dan melajukan lagi mobilnya dengan cepat.
...🍂🍂🍂...
Setelah Lira dikalahkan para pereman yang menculiknya membawah mereka semua kesebuah gudang ditengah hutan untuk bertemu dengan orang yang telah meyuruh mereka dan untuk mendapatkan bayarannya.
"Nyonya kami telah membawahnya." ucap pimpinan itu pada seorang wanita dengan mengikat para tawanan dan termasuk Lira dan yang lainnya.
"Oh,,, bagus sekali. Halo Lira." ucap wanita itu dengan tersemyum puas menatap Lira yang tak berdaya.
"Yusnia, kau?" Lira terkejut mendapati kalau orang dibalik penculikannya adalah Yusnia.
"Iya ini aku, kenapa, kau kaget?" Yunsia berjalan mendekati lira, "Dasar perebut suami orang.!" teriak Yusnia dengan kesal.
"Aku bukan perebut, aku sudah pergi meninggalkannya, kenapa kau tak memanfaatkannya dengan baik." ucap Lira pada Yusnia.
Plak (Yusnia menampar Lira dengan sangat keras)
"Jangan sakiti mamaku." Ferdi teriak dan berusaha untuk berontak.
"Hah, anak setan." hina Yusnia lalu menahan dagu Lira dengan kuat. "Dan kau, jangan sombong. Lalu bilang kenapa aku tak memenfaatkannya?" Yusnia mencekram dagu Lira semakin kuat.
"Aah." keluh Lira yang merasakan sakit.
"Bagaimana bisa aku melakukanya kalau didalam hatinya hanya ada diri mu saja, dasar wanita ******.!" teriak Yusnia dengan kesal dan lagi - lagi menampar pipi Lira.
"Jika kau tak bisa mendapatkannya kenapa kau menyalahkan aku." jawab Lira yang sudah mengeluarkan darah dari sudut kedua bibirnya karena tamparan Yusnia.
"Ho,,, masih begitu sombong. Kalau tak bisa melawan mereka semua karena melindungi kehamilan mu ini ya?" Yunsia memegang perut Lira yang buncit.
"Singkirkan tangan mu.!" teriak Lira kesal.
Yisnia tersenyum melihat Lira yang tak berdaya dengan tubuh terikat di tiang dengan posisi berdiri, Yusnia masih tetap mengusap perut buncit Lira dengan menghoreskan kukunya pada kulit perut Lira.
"Aaah." Lira mengeluh karena merasa sakit atas goresan kuku Yusnia.
"Mbak Lira." panggil Meli yang merasa kasian pada Lira.
"Harusnya aku yang mengandung anak Liyon, tapi kenapa. Kenapa kamu yang datang dengan membawah anak haram ini masih saja begitu diperhatikan dan diterima dengan baik oleh Liyon." ucap Yusnia yang masih menatap dan mengusap perut Lira, "Kenapa, Liyon tak bisa menerima ku. Harusnya posisi mu ini adalah milik ku, dan aku tak harus mengandung anak dari pria ber*ngsek Denis. Harusnya akulah yang mengandung anak Liyon, kenapa?! Kenapa bukan aku!?" teriak Yusnia dengan kesal.
"Wanita ******, kau benar - benar membuat aku muak sekarang, kau harus mati.!" Yusnia marah dan ingin memukulkan papan kayu kearah perut Lira, namun ditahan oleh seseorang.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya orang yang menahan papan kayu itu. "Jangan mengotori tangan mu, jika dia adalah wanita ******, maka lakukanlah dengan cara ******." ucap orang itu dengan seringai yang mengerikan.
"Haaa, benar." Yusnia menatap Lira, "Benar apa yang kau katakan Niyang, wanita jalan harus diselesaikan dengan cara ****** juga, karena pasti dia akan sangat menyukainya." Yusnia tersenyum menepuk - nepuk pipi Lira.
"Lira, kau harus menanggung semua perbuatanmu." bisik Yusnia dan tersenyum lagi.
"Dengarkan aku, kalian telah mendapatkan uangnya. Dan juga akan mendapatkan bonus, kalian semua belum pernah bermain dengan wanita hamil bukan?" ucap Yusnia dan itu membuat mata Lira, Yuniar dan Meli membelalak lebar.
__ADS_1
"Aku tau kau sangat menginginkan dia, dan kau boleh melakukan apa saja padanya terserah mau seperti apa. Yang jelas aku ingin dengar berita kalau mereka semuanya habis." ucap Yusnia pada pimpinan pereman itu.
"Selamat bersenang - senang semuanya." ucap Yusnia tersenyum dan meninggalkan gudang itu bersama dengan Niyang.
"Wah, ini benar - benar jekpot." ucap orang - orang yang penculik Lira itu dengan senang.
"Tidak, lepaskan mereka. Jangan sentuh mereka." teriak Lira berusaha untuk melepaskan diri melihat para pria - pria itu ingin menodai Yuniar dan Meli.
"Kenapa kau masih saja memikirkan mereka sayang, ayo bersenang - senang dengan ku saja." ucap pimpinan pereman pada Lira.
"Lepaskan aku jika kau berani." Lira menantang orang itu.
"Whahaha,,, dengan senang hati sayangku." dan ikatan Lira pun dilepaskan.
"Tidak lepaskan, apa yang mau kalian lakukan." ucap Meli yang didekati 3 orang.
"Tidak, jangan sakiti bayiku, menjauh kalian." Yuniar pun memohon pada 3 orang pria yang ingin menjamahnya.
Bag
Bug
Lira menghajar pimpinan preman itu dengan dengan sangat marah, "Jika sendirian aku masih bisa menghabisi mu." ucap Lira sambil memegangi perutnya.
"Dasar wanita sialan." pimpinan itu merasa marah dan ingin menghajar Lira balik namun Ferdi sudah menerjang dari belakang. Dan orang - orang yang ingin menjamah Meli sama Yuniar pun hilang waspadanya pada mereka berdua sehingga Meli dan Yuniar bisa melawan.
"Hei. Kau ingin putrimu jatuh dari ketinggian?!" teriak seseorang yang menggantung Arlin dari ketinggian.
"Tidak Arlin.!" teriak Meli
"Hahaha, bagus kawan." ucap orang - orang yang dibawah dan mereka mau kembali lagi dengan aktifitas mereka, namun tiba - tiba saja perut Yuniar yang mendapatkan tekanan mengeluarkan darah dari *********** dan Yuniar mengerang kesakitan.
"Tidak, dia keguguran. Sial sekali aku belum sempat menikmatinya." ucap orang yang ingin menjamah Yuniar.
Dan Lira melawan lagi, sehingga terjadi perkelahian lagi, namun kesadaran Lira hampir hilang saat dia mendapatkan pukulan dibagian perutnya.
"Anak sialan." teriak pereman yang ada diatas karena mendapat serangan dari Ferdi untuk menyelamatkan Arlin.
"Tidak Ferdi.!" teriak Lira saat dia melihat Ferdi didorong dari ketinggian dengan dan terjatuh dengan posisi Arlin l diatas perut Ferdi dan Ferdi mengalami pendarahan dati kepalanya.
"Aaah.! Lira berteriak saat perutnya membentur meja dan juga mengalami pendarahan.
"Bos bagaimana ini?" tanya anak buah pereman itu yang merasa panik dengan keadaan Yuniar dan Lira yang mengerang kesakitan.
"Tinggalkan, biarkan mereka mati dengan sendirinya." ucap pimpinan itu dan mereka semua pergi meninggalkan gudang itu.
"Tidak,,, tidak,,, mbak Yuni, mbak Lira, Ferdi apa yang harus aku lakukan?!" Meli terlihat sangat putus asah.
"Arlin sayang, jaga kakak dan para ibu mu ya, mama akan pergi mencari bantuan, jangan berhenti menangis saya teruslah menangis." ucap Meli lalu pergi keluar dari gudang itu dan berlari masuk hutan untuk mencari bantuan.
__ADS_1