
Sore itu Farid pergi mengantarkan meli periksa kehamilan, karena usia kehamilannya semakin besar jadwal periksa-nya juga jadi lebih sering menjadi setiap seminggu sekali.
"Duduklah di sini aku akan menebus obatnya dulu." Farid membantu Meli duduk disebuah kursi.
"Ayo, pelan - pelan." Farid membantu Meli lagi saat berjalan dan mau masuk kedalam mobilnya.
"Boleh tidak nanti aku beli es krim? Karena aku ingin makan es krim." tanya Meli sedikit ragu pada Farid.
"Dia tak menjawab, berarti tak boleh ya." gumam Meli dalam hati melirik Farid yang serius menyetir.
"Mau rasa apa biar ku belikan." tanya Farid dengan nada datar saat mereka sampai disebuah supermarket didekat rumah mereka.
"Rasa coklat sama moccha." jawab Meli dengan mata berbinar.
"Tunggu di sini." Farid tersenyum sekilas dan turun untuk membelikan es krim Meli.
"Jangan langsung dihabiskan nanti kepalanya pusing, simpan sebagian dimakan besok." ucap Farid menyerahkan sekantong plastik yang berisikan beberapa es krim dengan berbagai varian rasa.
"Terima kasih." ucap Meli dan memakan dengan lahap es krimnya.
"Mandilah aku buatkan makan malam." ucap Farid saat mereka sampai di rumah. Karena selama Meli hamil Farid selalu masak untuk Meli.
Setelah selesai makan malam, Farid menyerahkan vitamin dan juga susu pada Meli lalu mengantar Meli istirahat didalam kamarnya.
"Bolehkah aku menyentuhnya?" tanya Farid menunjuk pada perut Meli yang membuncit besar, dan Meli mengangguk.
Farid jongkok disamping ranjang dan menghadap perut Meli. "Halo sayang, selamat malam. Apa kamu sudah kenyang? Sudah tidur ya sayang." ucap Farid menanyakan sesuatu pada bayi yang ada didalam perut Meli.
"Au," Meli mengeluh saat merasakan tiba - tiba saja bayi dalam perutnya menendang dengan keras.
"Sakit ya?" tanya Farid pada Meli dengan tatapan yang sangat lembut.
"Sedikit nyeri." jawab Meli senyum sekilas.
__ADS_1
Farid tersenyum menatap perut Meli dan membuka baju Meli untuk melihat pergerakan bayinya dalam perut Meli. Farid mengelus lembut bagian perut Meli yang terlihat sedikit menonjol dan Farid merasa itu adalah bayinya yang menendang.
"Sayang jangan nakal ya, sudah malam kamu harus istirahat kasian mama sudah capek dan ngantuk." ucap Farid mengusap bagian perut Meli yang menonjol dengan sangat lembut hingga datar lagi.
"Papa sangat menyayangimu sayang, dan tak sabar ingin segerah bertemu degan mu. Sehat - sehat ya di sana ya sayangku, putri kecilku." bisik Farid lagi didepan perut Meli
"Deg." jantung Meli bergetar dan dia ingin menangis mendengar kata - kata Farid pada bayinya.
"Selamat malam sayang, anak papa tidur ya sudah malam." ucap Farid dan tanpa sadar Farid mengecup cukup lama perut Meli. Itu membuat Meli jadi semakin salah tingkah, dan debaran jantungnya jadi semakin keras.
"Terima kasih, kamu juga istirahatlah sudah malam. Aku tak mengunci pintu kamar ku, jika merasakan sesuatu yang tak enak bangunkan aku." ucap Farid mengusap kepala Meli dan melangkah keluar dari kamar Meli.
"Pak, Bu kini usia kehamilannya sudah memasuki bulan kedelapan dan biar bisa mempercepat kelahiran normal sebaiknya digunakan untuk berhubungan suami-istri agar proses persalinannya bisa secara alami." tegas dokter saat melakukan pemeriksaan kehamilan.
Dan kalimat yang diucapkan oleh dokter itu masih terngiang ditelinga Meli, wajah Meli jadi memerah saat dia teringat akan ucap dari dokter saat periksa tadi dan juga saat dia membayangkan wajah Farid yang sangat tampan dengan tatapan lembut pada dirinya.
"Meli apa yang kau bayangkan!!" Meli menepuk pipinya saat dia teringat dan membayangkan bibir Farid yang menyentuh kulit perutnya.
"Selamat pagi nyonya saya adalah Surti yang sekarang akan bekerja dan juga menemani nyonya karena tuan Farid khawatir jika nyonya sendirinya di rumah. Jadi kalau nyonya butuh apa - apa silakan panggil saya saja." ucap Surti yang mulai hari itu bekerja di rumah Farid sesuai permintaan Liyon dan Farid.
"Saya adalah pekerja di rumah tuan muda Liyon, dan kemaren tuan Farid meminta saya untuk ke sini menemani nyonya." jawab Surti dengan senyuman ramah pada Meli.
Dan seharian di rumah Meli ditemani Surti, dan Meli sangat senang karena ada teman ngobrol tidak lagi sendirian didalam rumah yang besar itu.
"Selamat malam tuan Farid." ucap Surti menyambut kedatangan Farid di rumah.
"Malam, apa kamu betah tinggal di sini yang rumahnya lebih sempit dari di mansion?" tanya Farid dengan senyuman pada Surti.
"Hahaha, tuan Farid bisa saja. Ini masih bisa dibilang sangat dan amat besar tuan dari pada rumah Surti yang hanya seluas ruang tamu rumah ini" jawab Surti tertawa sambil membawahkan tas kerja Farid dan membawahnya masuk kedalam ruang kerja Farid.
"Kenapa mereka terlihat sangat akrab ya, dan itu ruang kerjanya aku bahkan belum pernah masuk sekali pun untuk melihatnya." gumam Meli yang melihat keakraban Surti dan juga Farid.
"Oh iya tuan, itu ruang olah raga apa saya boleh memakainya? Karena kalau cuma berdiam diri rasanya tubuh kaku semua." tanya Surti pada Farid dengan hati - hati saat Farid keluar dari kamarnya dan sudah terlihat segar karena habis mandi.
__ADS_1
"Iya pakai saja karena aku hanya memakainya kalau hari libur saja, itu pun kalau aku tak ada kerjaan." jawab Farid berjalan kearah Meli yang duduk di meja makan.
"Sudah makan?" tanya Farid pada Meli dan menyentuh perut Meli.
"Sudah, tadi ak,,," kalimat Meli tertahan karena begitu Farid mendengar kata sudah Farid langsung berbalik dan masuk kedalam ruang kerjanya.
"Tuan tidak makan?" tanya Surti.
"Tadi sudah makan." jawab Farid dan menghilang dibalik pintu ruang kerjanya.
Meli yang melihat itu langsung bangun dan masuk kedalam kamarnya juga, namun dia tak tidur melainkan menangis karena Farid tak memperhatikan dia dan juga tak melihat kalau dirinya sedang berdandan dan ingin memperlihatkannya pada Farid saat Farid pulang kerja.
"Kenap aku jadi sedih dan juga kesal begini, harusnya aku senang karena dia tak lagi mengusik hidupku dan juga mengatur aku. Tapi kenapa sepertinya ada yang hilang dan juga kosong dalam diriku, kenapa!!" teriak Meli dengan kesal.
"Apa dalam dirinya yang penting hanya bayi ini saja? Apa dia tak pernah memperhatikan aku? Aku adalah ibu dari bayi ini, aku yang sudah susah paya dan merasakan berat membawah bayi ini. Lalu kenapa dia tak perhatian padaku, dia hanya peduli dengan bayinya, hiks." Meli menangis karena Farid sudah tak lagi mengusik hidupnya lagi.
Cukup lama Meli menangis hingga dia Lela dan tertidur dalam posisi duduk dan menyandarkan kepalanya pada meja rias dengan bertumpukan tangannya.
Ceklek
Farid masuk kedalam kamar Meli untuk mengecek Meli yang selalu dilakukan tiap malam oleh Farid. Dan Farid menghela nafas dalam saat dia melihat Meli tidur dengan posisi duduk dan menekan perutnya.
"Apa dia tak bisa tidur dengan benar." gumam Farid mengangkat Meli pelan - pelan dan menidurkannya ditempat tidur.
"Apa dia habis menangis? Apakah ada masalah dengan hubungannya sama Denis? Kenapa aku penasaran, mereka pasti sedang bertengkar lagi." gumam Farid lagi yang beberapa hari lalu mendengar Meli bertengkar dengan Denis.
"Sayang kamu baik - baik ya disana, jangan nakal dan jaga Mama." bisik Farid didekat perut Meli yang terlihat sangat buncit karena usia kehamilannya masuk bulan ke-9.
Dengan pelan Farid melangkah keluar dan menutup pintu kamar Meli dengan pelan juga agar tak membangunkan Meli yang sedang tidur.
"Apa kamu hanya menginginkan bayi ini? Apa kamu tak bisa melihatku sedikit saja?" gumam Meli dan bertanya pada angin karena Farid sudah keluar.
Dengan memegang perutnya Meli menangis lagi, karena sebenarnya dia sudah bangun saat Farid membawahnya ketempat tidur dan saat Farid salah paham karena mengira dirinya menangis karena bertengkar sama Denis.
__ADS_1
"Apa ini, perasaan yang kosong ini apa? Kenapa aku merasa sedih saat dia tak memperhatikan aku, dan kenapa aku merasa sedih saat hari kelahiran sudah mulai dekat. Jika aku sudah melahirkan anak ini, maka dia akan menceraikan aku." Meli semakin sedih dan menjadi tangisnya, "Apa dia tak menginginkan aku, tak bisakah dia menahan ku demi anak ini? Karena ini juga anak ku." gumam Meli dan terus menangis sepanjang malam.