Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Pernyataan perang


__ADS_3

Setelah membaca isi dari perjanjian yang telah diperbarui oleh Liyon, Lira merasa semua isi perjanjiannya adalah semua hal yang banyak menguntungkan Liyon. Terlihat Liyon sedang senyum - senyum menatap Lira seksama yang sedang membaca isi dari perjanjian nikahnya.


"Tunggu Liyon ini yang poin 13 bagaimana bisa dilakukan kalau kita tak tinggal bersama? Jangan membuat perjanjian yang aneh begini ya." Lira bertanya dengan bingung.


"Kalau begitu muda, tinggallah bersama dengan ku." jawab Liyon santai.


"Dan ini lagi, apa maksudnya dari isi poin 7 ini?! Pihak A dan Pihak B Masing - masing tetap harus tinggal di rumah sendiri - sendiri selama di Jakarta, namun pihak B tak boleh menolak saat pihak A datang dan ingin bermalam. Terus mana arti kata yang tinggal masing - masing?" tanya Lira kesal.


"Kenapa kamu begitu emosi. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Apa kamu tak baca di poin 12 kalau pihak B harus mau melakukan semua hak serta kewajiban dalam hubungan suami istri selama menjadi pasangan suami istri dengan pihak A. Itu artinya kamu harus melakukan kewajiban mu sebagai seorang istri kepadaku, dan semua anggota keluarga kita sebagai saksinya kalau perjanjian adalah perjanjian yang sah." jawab Liyon menunjuk pada isi perjanjiannya dan juga tersenyum menatap Lira.


"Liyon, apa kamu mau mengajak ribut?" Lira bertanya dengan menahan rasa kesal ya pada Liyon yang melibatkn semu keluarganya dalam urusan dia.


"Aku hanya ingin kepastian bahwa kakak tak akan pergi mrninggalkan ku lagi. Dan aku juga butuh sebuah kepastian saja, apakah itu salah. Kalau aku ingin memastikan bahwa istriku tak akan pergi dari sisiku dan akan terus menemaniku selamanya?" tanya Liyon balik menatap Lira dengan tatapan sedih.


"Aku tak mau tanda tangan." Lira mengembalikan surat perjanjian itu.


"Lira ibu juga ingin kamu bahagia dan menjalin hubungan keluarga yang sebenarnya, dan juga putramu harus memiliki keluarga yang utuh dan sebenarnya. Karena bagaimana pun hubungan ayah dan anak biologis pasti akan berpengaruh pada perkembangan putramu." jelas Bu Yulia pada Lira.


Lira mendapatkan masukan dan juga nasehat dari banyak orang mulai dari ibunya, ayahnya, adiknya, sahabatnya, neneknya bahkan dari nyonya Li mama Liyon. Dan Lira merasa terpojok dengan semua pendapat semua orang yang membenarkan pendapat Liyon.


"Ok, ok..Aku akan tanda tangan apa kalian semua puas?!" kesal Lira menatap Liyon yang hanya duduk diam menatapnya seolah sedang bicara, aku menang.


"Apa kau sudah puas sekarang?" Lira menyodorkan surat perjanjian itu pada Liyon lagi setelah dia menanda tanganinya.


Liyon tersenyum manis dan mengangguk. "Sangat puas sayangku." jawab Liyon dengan penuh kemenangan.


"Ingatlah mulai sekarang tak ada yang namanya pil kontrasepsi jenis apa pun. Jika sampai aku melihatnya maka bersiaplah menerima hukumannya." ucap Liyon dan ikut menandatangani perjanjian itu juga.


"Simpan perjanjian ini dengan benar." perintah Liyon pada Farid.


"Baiklah terima kasih semuanya karena sudah bersedia datang ke sini sebagai saksi dari perjanjian kami. Ibu, Ayah dan Nenek silakan bermalam di sini karena banyak kamar di sini." ucap Liyon pada orang tua dan juga nenek Lira.


Liyon berjalan mendekati mamanya, berdiri tepat didepannya dan menatap dalam. "Terim kasih sudah merestui hubunganku dengan Lira dan berusaha untuk menahan Lira agar tetap berada disis ku." ucap Liyon pada mamanya dan memeluknya.

__ADS_1


"Mama yang makaih kerena kamu mau memaafkan kesalahan mama dan juga maaf atas segalanya karena mama tak tau apa pun tentang kamu dan Lira." ucap mama Li dengan air matanya dalam pelukan putranya yang sudah 6 tahun tak mau dipeluknya.


Disaat dalam keluarga Liyon sedang ada pertemuan keluarga dan juga pembahasan mengenai hubungan Lira dan Liyon di tempat lain sedang ada pertemuan juga antara Meli dan orang yang disukainya.


...🍂🍂🍂...


"Meli, akhirnya kamu di sini. Apakah papa mu tau kalau kamu ke sini?" tanya seorang pria pada Meli yang datang menemui dia dan Meli terlihat sangat senang bertemu dengan pria itu.


"Tidak, papa hanya tau kalau aku pergi ke kampus. Karena aku kalau keluar selain ke kampus ya ke rumah Mbak Ani untuk mengantar jemput Ferdi sekolah." jelas Meli pada orang itu.


"Aku tak menyangka kalau kamu bisa menyukai aku." pria itu menggenggam tangan Meli dengan lembut, "Kau dibandingkan dengan Desi sungguh sangat jauh berbeda. Kau sangat cantik, muda dan juga kulitmu sangat mulus." rayu Denis yang menyentuh pipi Meli dengan tatapan penuh rasa sayang.


"Terima kasih, tapi aku masih takut sama mbak Desi. Bagaimana kalau dia tau tentang hubungan kita ini?" tanya Meli polos pada Denis.


Ya, ternyata orang yang disukai oleh Meli adalah Denis, mereka bertemu 2 bulan yang lalu saat Denis datang sebagai wakil dari yayasan yang dikembangkan oleh keluarga Desi di acara pembukaan ajaran baru.


Dari pertemuan pertama sampai pertemuan - pertemuan sederhana yang mereka lakukan hingga Denis menyatakan rasa sukanya pada Meli. Perasaan disayangi dan dicintai lawan jenis untuk pertama kalinya bagi Meli membuat dia sangat menyukainya.


"Meli?" gumam Farid yang melihat istrinya sedang diluar dan sedang bertemu dengan seseorang langsung turun dari mobil dan menghampirinya.


"Tuan Farid ada apa ke sini, bukankah urusan anda sangat banyak dan juga anda sangat sibuk?" tanya Denis dengan tersenyum menatap Farid yang berdiri dibelakang Meli, "Dan apakah anda mengenal pacar saya?" sambung pertanyaan Denis.


Farid menatap Denis dengan santai dan juga tenang walau didalam hatinya sedang berperang antara amarah dan juga rasa cemburunya, karena melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau wanita yang 1 bulan lalu dinikahinya dan telah bersetatus sebagai istrinya sedang duduk berdua dengan pria lain saling bermesraan apa lagi pria itu adalah pria yang ditandai Liyon sebagai pria yang dibenci oleh Liyon.


"Aku bertanya kepada anda, kenapa anda malah diam saja? Aku tau tentang anda karena anda sangat terkenal dengan cara kerja anda yang sangat kompeten." jelas Denis lagi.


"Apakah tuan Farid tau, kalau aku sangat kagum dengan cara kerja anda itu." Denis terus saja bicara.


Farid menarik kursi yang ada disamping Meli dan duduk dengan tenang di sana, "Aku juga sangat kagum pada anda tuan Denis. Bukankah anda sudah bertunangan dan akan segerah me ulah dengan nona Desi yang sudah anda pacari lebih dari 11 tahun lamanya. Kali kenapa anda ada di sini dan bilang kalau nona Meli adalah kekasih anda?" tanya Farid menahan rasa kesalnya.


"Oh, itu karena aku memang sangat mencintai Meli, dan soal Desi sebenarnya aku hanya melakukannya karena urusan bisnis." jawab Denis dengan santai dan menggenggam lagi tangan Meli.


"Oh, orang ini sedang membuat pernyataan perang ya!!" gumam Farid menatap tangan mereka yang sedang bergandengan tangan diatas meja didepan mata Farid.

__ADS_1


"Benarkah? Jadi anda tak pernah mencintai nona Desi selama ini?" tanya Farid dan melingkarkan tangannya ke pinggang Meli yang tak bisa dilihat oleh Denis.


"Ya begitulah. Karena kami hanya melakukannya demi urusan bisnis." jawab Denis tertunduk seolah terlihat sedih dan tertekan. "Tapi sejak ketemu sama Meli aku jadi sangat bahagia." Denis tersenyum menatap Meli dan mengeratkan genggamannya dengan tangan Meli.


"Apa kamu baik - baik saja dengan itu?" tanya Farid pada Meli dan mengusap perut Meli yang sedang mengandung anaknya namun masih terlihat datar perutnya karena masih 3 bulanan.


"Maaf Denis aku harus pulang sekarang." Ucap Meli dengan tiba - tiba dan berdiri dengan cepat.


"Kamu sudah mau pulang?" tanya Denis yang terlihat sedih.


"I-iya maaf, nanti papa ku akan mencari aku." Meli membuat alasan.


"Aku antar pulang."nucap Farid ikut berdiri.


"Eh, maaf tuan Farid. Jangan mengantarnya." cegah Denis pada Farid yang mau melangkah.


"Kenapa? Apa anda yang mau mengantar dia?" Farid bertanya dan menoleh pada Denis.


"Tidak, tapi tuan Hendra tak suka jika putrinya dekat dengan seorang pria, tuan Hendra orangnya sedikit kolot. Aku tak mau kalau nanti kekasihku jadi kena masalah." jelas Denis dengan tatapan khawatir.


"Kekasihku - kekasihku. Dia sembarangan menyebut istriku sebagai kekasihku." suara hati Farid yang sudah ingin mencekik Denis.


"Terkena masalah?" Farid bertanya dengan sok begok.


"Benar." jawab Denis singkat.


"Lalu apa anda yang mau mengantarnya?" tanya Farid dengan menggerakkan alisnya bertanya pada Denis.


"Tidak, aku akan mengawasi dia dari jauh." jawab Denis.


"Seorang wanita sendirian Daik bus, bagaimana jika didalam bus dia mendapatkan pelecehan, anda tak akan tau jika hanya mengikutinya saja dari jauh." jelas Farid.


Meli yang tak pernah melihat Farid banyak bicara dia jadi takut dan tak berani bersuara hanya berdiri membisu disebelah Farid dengan mematung.

__ADS_1


"Jangan takut, aku bukan orang ber*ngsek jadi tak akan ada masalah dengan dirinya. Dan tuan Denis tak perlu khawatir soal keselamatan kekasih anda selama dia dalam pengawasan saya." jelas Farid dan menarik Meli keluar menuju ke mobilnya.


__ADS_2