
Malam itu liyon hanya tidur dengan memeluk lira tanpa bisa melakukan apa pun karena lira sedang dalam masa menerima tamu bulanannya.
"Lira berhentilah jangan menyentuh sana sini, apa kau benar - benar ingin menyiksa ku malam ini?" gumam liyon sambil menutup matanya.
"Aku masih belum ngantuk." jawab lira
"Iya tau, tapi cobalah untuk menutup mata mu dan nanti rasa ngantuk akan segera datang menghampiri mu." ucap liyon seolah sedang membujuk anak kecil yang sedang susah untuk tidur.
"Tapi liyon aku bukan anak kecil yang bisa dibujuk dengan kata - kata mu itu." jawab lira lagi
Liyon menghela nafas dalam dan menatap lira yang ada disampingnya tepat didada liyon sedang mendongak menatap liyon.
"Ya ampun kenapa dia begitu mengemaskan sih. Ini adalah cobaan mu liyon." suara hati liyon lalu dia mengecup kening lira dalam dan memeluknya lagi, menenggelamkan wajah lira di dadanya.
Tak lama kemudian nafas lira mulai terasa sangat lembut dengan irama yang stabil tanda bahwa lira telah terlelap dalam dekapan liyon.
Akhir pekan yang membuat orang malas untuk bergerak termasuk lira, dia masih terlelap dalam tidurnya dan menggosok wajahnya pada dada liyon mencari tempat ternyaman di sana untuk mengarungi mimpi lebih lama lagi.
Liyon yang dapat merasakan pergerakan lira semakin menenggelamkan dirinya pada tubuhnya membuat liyon tersenyum walau dalam keadaan masih menutup mata, dan liyon langsung berbalik menghadap lira lalu memeluk tubuh lira dengan erat.
Pagi itu liyon dan lira masih terbuai dalam alam mimpi mereka, entah mimpi indah mereka saling terhubung atau tidak yang jelas mereka sangat nyaman dengan posisi mereka dan tak berpindah Hinga terdengar suara ketukan pintu dari luar yang mengusik dan membuyarkan mimpi mereka berdua.
Liyon beranjak membuka pintu, namun belum sempat liyon bersiap orang itu pun sudah menerobos masuk kedalam kamar liyon, dan betapa terkejutnya orang itu melihat seorang wanita yang bergelayut dalam selimut di ranjang liyon.
"Wah serius ini jadi kamu normal dan tak kelainan?" tanya Saputra dengan riang menatap liyon.
"Sial, siapa yang menyuruh mu masuk keluar.!" liyon menyeret Saputra keluar dari dalam kamarnya.
"Hai semuanya ternyata kalian benar dia tak kelainan dan dia pria dewasa yang normal, aku melihat ada seorang wanita ditempat tidurnya barusan." teriak Saputra memberi tau yang lain yang sedang duduk di ruang tengah.
"Siapa yang datang?" tanya lira yang merasa terusik.
"Bukan siapa - siapa hanya orang - orang usil dan berisik, kakak lanjut lagi tidurnya aku akan keluar menemui mereka setelah mandi." ucap liyon mengecup kening lira.
"Mau mandi bareng Li?" tanya lira dengan suara serak yang terdengar menggoda bagi liyon.
"Tidak. Aku mandi sendiri." teriak liyon langsung masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
"Sial, aku pasti akan membalas mu nanti kak. Akan ku balas 3, tidak 6 kali lipat dari ini. Berani sekali dia terus menggoda ku." gerutu liyon kesal pada lira yang terus saja memprovokasi hormon steroid gonad dalam dirinya.
__ADS_1
Sekitar 30 menit liyon pun keluar dari dalam kamar mandi dan dia sangat terkejud mendapati lira yang sedang berdiri diambang pintu dengan pertunjukan yang sangat menakjubkan dan menggetarkan jiwa.
"Kak apa yang kau lakukan?!" teriak liyon histeris melihat penampilan lira. Dan untungnya kamar liyon ini kedap suara jadi sekeras dan sekencang apa pun dia berteriak tak akan terdengar dari luar, kecuali kalau jendela kamar dibuka
"Kenapa kamu histeris sih, aku mau mandi juga tau." jawab lira santai dan melenggang masuk kedalam kamar mandi.
"Sabar liyon sabar, kuat ya adek kecil jangan berontak dan jangan membuat masalah. Nanti kita akan balas dendam padanya jika waktunya sudah tiba, sekarang kuatkan diri mu." gumam liyon menghela nafas dalam berkali - kali saat dia melihat penampilan lira yang hanya menggunakan handuk yang dililitkan ditubuhnya, serta masih memperlihatkan semua lekuk tubuh serta kulit mulus lira.
"Kenapa kalian semua ke sini dan mengganggu tidur orang." kesal liyon pada teman - temannya yang tiba - tiba saja datang bersamaan.
"Ah, tidak aku hanya ingin tau apa yang dikatakan oleh Brayen dan Bagas itu benar atau tidak, karena mereka bilang kalau kamu sedang tidur dengan seorang wanita waktu kamu terkena pengaruh obat, dan sama sekali tak memerlukan obat dari Bagas." jawab Saputra sambil nyengir kuda.
"Hah?" liyon mengerutkan alisnya menatap semua temannya satu persatu dengan tatapan kesal.
"Bukan aku yang mulai, tapi Bagas yang cerita duluan, jadi aku hanya melanjutkannya saja." jelas Brayen karena takut disalahkan oleh liyon.
"Ya dia bertanya jadi aku jawab lah." Bagas membela diri dengan menunjuk Saputra.
"Tapi liyon dimana wanita mu? Kenapa dia tak turun dari tadi, kamu gak berniat untuk menyembunyikannya dari kami kan?" tanya Brayen dan Bagas sama Saputra mengangguk setuju.
"Entah lah saat aku keluar dia sudah bangun kok." jawab liyon cuek.
"Hei tak bisakah kau bermain adil?!" kesal gali pada Suryo.
"Yang namanya perkelahian tak ada yang adil dan tak adil, penyerangan bisa datang dari arah mana saja dan cara apa saja. Kau saja yang terlalu lemah." ledek Suryo pada gali.
"Kalian jangan beradu mulut saja, kalau mau latihan ya latihan yang benar." sela Farid yang gemas pada 2 orang yang selalu saja bercekcok kalau ketemu.
"Ya Rid dia main curang." adu gali pada Farid.
"Kalau begitu lakukan dengan penyerangan yang curang juga, kalau seperti itu kan adil." sela lira yang baru datang dengan melompat dari jendela lantai 2 kamar liyon.
"Wah lira kamu juga di sini? Ayo latihan bersama dengan ku." ajak gali pada lira.
"Hei kau melawan aku saja kalah mau melawan lira, selesaikan dulu pertandingan kita." kesal Suryo pada gali.
"Baiklah ayo, awas aku akan membalas mu." gali bertekad.
"Kenapa di belakang sangat ramai?" tanya liyon pada bi min yang baru saja masuk.
__ADS_1
"Oh, mereka semua sedang latihan tuan. Non Lira juga di sana." jawab Bi min
"Lah dia keluar lewat mana?" liyon bangun dan mau ke halaman belakang rumah, teman - temannya yang lain mengikuti dibelakang liyon.
"Gila, aku baru tau kalau dibelakang ada tempat seperti ini." celetuk Saputra yang merasa kagum dengan tempat fitness yang dilengkapi dengan arena tanding.
Liyon mengedarkan pandangan yang akhirnya dia menemukan sosok yang dia cari, lira sedang olah raga dan dia sedang treadmill tak jauh dari arena tanding.
"Hah hah hah."
Nafas gali dan Suryo terengah engah setelah mereka selesai bertanding dan farid menjadi juri sambil mengerjakan sebuah laporan.
"Wah, kau akhir pekan masih bekerja juga Rid." tegur Bagas yang datang mendekati Farid yang sedang fokus pada laptopnya.
"Oh, kalian datang." Farid bangun dan menyambut Bagas dan yang lainnya.
"Bos." sapa Suryo dan Gali saat mereka melihat liyon, atasannya yang tak pernah memperkerjakan mereka kalau tak ada keadaan darurat.
"Kalian selalu berlatih rupanya." liyon tersenyum pada 2 anak buahnya itu yang sudah dari 1 minggu lalu memilih untuk pindah ke rumahnya dan tinggal bersama dengan Farid serta membantu pekerjaan Farid dalam menyelidiki seseorang.
"Hei siapa gadis itu? Apa dia juga pengawal mu liyon.?" tanya Saputra yang melihat lira meregangkan tubuhnya setelah treadmill.
"Iya tuan Putra dia adalah pengawal yang hebat." jawab gali atas pertanyaan Saputra.
"Boleh aku melawan mu nona.!" teriak liyon dari atas ring.
Lira yang mendengar menoleh dan tersenyum, lalu lira berjala mendekati ring dan naik tanpa ragu.
"Gila dia beneran seorang pengawal?" tanya Saputra lagi yang merasa tak percaya karena tubuh lira yang bisa dibilang langsing serta mulus dan juga senyuman yang manis itu adalah mesin pembunuh.
"Ya, semakin bagus kualitas dan tampilan yang menipu maka akan semakin mematikan." jawab Farid yang tau kalau Saputra tak percaya jika lira bisa berkelahi dan lebih hebat dari pada Gali dan Suryo.
"Bisa aku mulai sekarang?" tanya liyon dengan tersenyum menatap lira setelah dia melakukan peregangan otot.
"Tentu, silakan." jawab lira dalam posisi bersiap.
"Ok, ijinkan aku untuk memulainya. Dan 1 syarat jika aku menang maka kau harus melakukan apa yang aku inginkan tanpa bisa menolak." ucap liyon dengan seringai di bibirnya.
"Jangan terlalu percaya diri dulu." jawab lira.
__ADS_1
Mereka pun memulai pertandingannya dengan sangat cepat dan cekatan, mereka berdua saling beradu tinju, tendangan dan juga gerakan yang saling menghindari dan bertahan dari serangan, semua itu membuat yang melihat terpukau.