Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Peringatan


__ADS_3

Lira berhasil mengalahkan semua orang dan Yuniar mengikat mereka semua, hanya pimpinan mereka yang dibiarkan tanpa diikat namun dia telah babak belur dan tak bisa menggerakkan kakinya. Semua orang melihat Lira dengan takut karena mereka tak menyangka kalau orang yang mereka culik sebulan lalu adalah petarung hebat.


"Gila, dia adalah iblis." ucap pimpinan itu menunjuk Lira.


"Kenapa kau takut pada ku? Dimana keberanian mu waktu itu, yang mengatakan akan bermain dengan ku disaat aku sedang hamil besar, hah?" ledek Lira dengan senyuman mengejek sambil duduk diatas meja.


"Aku tak akan mengalah, aku akan meminta bantuan." ucap pimpinan itu dan berusaha menghubungi temannya.


Terdengar suara gemuruh di luar dan para preman itu merasa senang, mereka tertawa terbahak karena bala bantuan telah datang dan akan memberikan hukuman pada Lira.


"Hahaha,,, kau berfikir akan menang melawa ku walau sudah ada bantuan datang?" Lira tertawa "Aku akan mematahkan kaki dan tangan kalian semuanya." ucap Lira dengan tatapan tajam.


"Jangan sombong kau akan menyesal." hardik pimpinan preman itu.


"Apa yang terjadi di sini?! Kenapa semuanya berantakan?!" teriak menggelegar dari seseorang yang masuk kedalam gudang itu.


"Bo-bos." ucap pimpinan preman itu dengan wajah senang karena bos-nya dan para anak buahnya datang.


"Lira." Yuniar mendekat dan berbisik pada Lira.


"Aku hanya ingin menghukum mereka yang bersalah, tapi jika mereka ikut campur terpaksa aku harus meladeni semuanya." bisik Lira balik.


"Siapa penyusup ini, berani sekali masuk kedalam markas ku dan membuat onar." ucap bos mereka.


"Serahkan 4 orang yang ada dibelakang anda, aku hanya berurusan sama mereka dan tak punya niat untuk merusak tempat anda." ucap Lira berdiri menghadap bos mereka.


"Gadis kecil, berani sekali kau. Aku suka dengan orang yang punya nyali seperti mu ini, tapi maaf mereka adalah anak buah ku." ucap bos mereka tersenyum pada Lira.


Bos itu berjalan mendekati Lira dan Yuniar, "Jika kau bisa keluar dari sini dengan selamat maka aku akan menyerahkan mereka pada mu, jadi jangan macam - macam dengan ku." ucap bos itu dengan tatapan marah.


"Tangkap mereka berdua dan jangan biarkan lolos." perintah bos itu dan langsung beberapa orang maju menyerang Lira.


"Yuni mundur lah." Lira mendorong Yuniar dan mulai berkelahi dengan beberapa orang.


"Ho, dia wanita yang tangguh. Dia benar - benar seorang petarung dan aku ingin dia bergabung dengan ku di arena tarung." ucap bos itu dengan senyum menyaksikan pertarungan Lira melawan anak buahnya.


"Siapa wanita itu sebenarnya?" tanya bos itu pada anak buahnya yang merupakan pimpinan dari preman yang telah dilumpuhkan oleh Lira kakinya.


"Namanya adalah Lira Anggraini, dia adalah orang yang punya urusan dengan non Niyang bersama temannya, dan sebulan lalu kami menculiknya. Tak sangka kalau dia adalah seorang petarung dan akan datang untuk balas dendam." jelas pimpinan preman pada bos-nya.


"Dan dia adalah,,," kalimat pimpinan preman itu terhenti


"Katakan." perintah dari sang bos.


"Dia adalah nyonya Liyon." sambung pimpinan preman itu.

__ADS_1


"Apa? Berani sekali dia menerobos masuk ke tempat ku." gumam bos itu.


Nafas Lira sudah mulai ngos - ngosan karena berkelahi melawan banyak orang sendirian, sementara Yuniar juga ikut membantu walau tak seberapa mahir dalam berkelahi.


"Dia benar - benar luar biasa." ucap bos itu yang merasa kagum meyaksikan Lira dan ingin mengalahkan Lira dengan tangannya sendiri.


Lira terus saja bertahan dan mulai menjatuhkan beberapa orang. "Aku tak mau membuat masalah, aku hanya ingin 4 orang itu." teriak Lira setelah menumbangkan semua orang yang melawannya tadi.


"Lancang, berani sekali kau berteriak ke arah ku.!" teriak bos itu pada Lira.


"Lira..." teriak Yuniar yang telah dikalahkan


"Yuni, apa yang kau lakukan?!" teriak Lira marah.


"Hahaha,,, aku suka dengan mu. Kau mirip dengan singa betina yang sedang marah. Tapi sayangnya setelah aku tau jelas siapa identitas mu, aku jadi ingin membinasakan mu di sini." ucap bos itu dengan sangat emosi.


"Hancurkan dia.!" teriak bos itu lagi pada anak buahnya.


Lira pun melawan beberapa orang lagi dan mereka mulai menggunakan senjata. Sehebat apa pun Lira dia tetap memiliki batasnya, beberapa kali mendapatkan tendangan dan pukulan di daerah perut membuat Lira mulai merasakan rasa sakit pada luka bekas operasinya.


"Lira.!" teriak Yuniar saat mendapati Lira jatuh.


Nafas Lira mulai putus - putus karena lelah, namun Lira tetap harus bertahan untuk bisa keluar dari tempat itu. Entah sudah berapa banyak yang telah dilawan oleh Lira, kini Lira sudah sampai pada batasnya. Dengan menahan rasa sakit diperutnya Lira berusaha mempertahankan kesadarannya.


"Lira tidak.!" Yuniar teriak takut.


Brak


1 tendangan tepat mengenai orang yang akan mencelakai Lira, dan orag itu langsung tumbang tak berkutik.


"Berani sekali kau. Tangan ini yang mau kau gunakan untuk mencelakainya ya?!" suara seseorang menggemah di seluruh ruangan itu dan langsung mematahkan tangan orang itu.


"Aaaaarg." teriak orang yang akan mencelakai Lira menahan rasa sakit.


"Kau?" bos preman itu kaget melihat siapa yang datang membantu, "Dari mana kau bisa masuk?!" bos itu menatap tajam kearah orang - orang yang sudah memenuhi ruangan dan membereskan semua anak buahnya serta membebaskan Yuniar.


Lira yang telah tersungkur dilantai dengan nafas putus - putus dan keningnya yang berdarah menatap tersenyum pada seseorang yang saat ini berdiri tepat didepannya dengan sangat gagah. "Liyon." suara Lira yang sudah lemas.


30 menit sebelumnya.


"Kenapa belum ada kabar, padahal sudah lewat dari 1 jam." Meli bergumam dengan khawatir menatap layar teleponnya.


"Mas, mas Farid" teriak Meli yang terdengar takut dan panik.


"Iya kenapa sayang, apa ada yang tak nyaman?" Farid langsung lari ke kamar Meli begitu mendengar suara Meli yang terdengar panik.

__ADS_1


"Aku rasa mbak Lira dan mbak Yuni sekarang dalam masalah." ucap Meli panik menunjukkan hanponnya pada Farid.


"Apa maksudmu sayang, tolong jelaskan pelan - pelan." Farid menggenggam tangan Meli dan menatapnya dalam.


"Sebenarnya waktu itu mbak Lira datang karena,,," Meli menceritakan pada Farid kalau Lira bilang bahwa dia akan mencari dan menghukum semua orang yang terlibat dalam penculikan dan meminta Meli untuk jadi orang penting yang akan mengirimkan bantuan jika sampai 1 jam masih belum ada kabar dari dirinya dan juga Yuniar.


"Dan ini sudah lebih dari 1 jam dari sejak mereka mengirimkan pesan masih juga belum ada pemberitahuan lagi, jadi aku rasa mereka pasti dapat masalah. Tolong selamatkan mereka mas." ucap Meli dan Farid terkejud mendengar penjelasan dari Meli.


"Ah, sial.! Surti jaga mereka untuk ku." ucap Farid langsung menuju ke rumah Liyon dan dalam perjalanan dia menghubungi Satria.


"Liyon,,,," Farid berlari menuju ruang kerja Liyon.


"Non Lira dalam bahaya sekarang, aku sudah menghubungi Satria." ucap Farid dengan panik.


"Sudah dimulai ya, hubungi semua anak buah mu ikuti aku." ucap Liyon santai melangkah keluar dan melajukan mobilnya setelah mengaktifkan pelacak yang dipasang pada cincin Lira.


"Blok semuanya dan buka jalan untuk ku." perintah Liyon pada anak buahnya dan dengan cepat semua anak buah Liyon yang sudah profesional langsung memboikot dan membuka jalan untuk Liyon masuk hingga dia melihat istrinya tumbang karena kelelahan melawan lebih dari 50 orang sendirian.


30 menit kemudian.


"Bangunlah, sekarang giliran ku. Aku membiarkan kamu melakukan sesuka mu hanya sampai di sini saja, sekarang serahkan semuanya pada ku. Putra kita membutuhkan mu, ayo kita pulang." ucap Liyon membantu Lira bangun dan menyerahkan Lira pada Farid.


"Kau pikir kau bisa membawahnya pergi?!" teriak bos itu dan mau mengejar Farid.


"Aku di sini, aku yang akan melawan mu. Dan tak akan ku biarkan kau menyentuh istriku, Barto." Liyon menghadang orang itu.


"Jadi ini sebabnya kau meninggalkan putriku dan juga putrinya, gara - gara wanita ****** itu." ucap tuan Barto dengan kesal.


Liyon langsung memukul tuan Barto dengan sangat kuat hingga tuan Barto teejatuh. "Jangan pernah kau sebut istriku dengan mulutmu itu, karena dia lebih mulia dari segalanya." Liyon berkata dengan marah.


"Dan harusnya kau masih ingat dengan apa yang pernah aku katakan dulu, kalau aku tak suka menyentuh wanita bekas orang." ucap Liyon menekankan kata wanita bekas.


"Istriku adalah wanita suci dan bersih, dan yang jelas hanya aku saja orang yang menyentuhnya serta membuatnya hamil. Jadi jangan pernah samakan dia dengan putrimu yang kotor itu." Liyon jongkok dan menekan rahang tuan Barto dengan kuat.


"Ingat ini, jangan bikin masalah dengan ku atau menyentuh orang - orang ku karena aku akan menghancurkan mu sampai habis kali ini." ancam Liyon lalu berdiri meninggalkan tuan Barto.


"Tangkap semuanya tanpa tersisa." perintah Liyon untuk menangkap semua orang yang diikat oleh Lira dan Yuniar termasuk 4 orang yang dari tadi diminta oleh Lira.


"Oh iya, aku akan membalas semuanya yang terlibat tanpa terkecuali, jika sampai ku temukan orang mu terlibat maka tunggu saja kehancuran mu." ucap Liyon pada tuan Barto sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu.


"Sial, kenapa aku masih saja kalah cepat darinya." tuan Barto memukul lantai dengan kesal.


"Dia adalah anak kecil, namun kekuatannya sungguh luar biasa. Dan dia lebih ganas dari kakaknya." gumam tuan Barto bangun dengan tertatih.


Liyon membawah Lira ke rumah sakit untuk mengobati luka - lukanya dan mengembalikan tenaganya yang sudah terkuras habis dalam perkelahian.

__ADS_1


__ADS_2