Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Bukan wanita sembarangan


__ADS_3

Acara kumpul - kumpul para ibu - ibu itu memakan waktu sekitar 5 jam, tepat pada pukul 3 sore semuanya telah bubar dan pulang masing - masing tinggal nyonya Li dan nyonya Nilam yang masih lanjut bicara dan menuju ke sebuah restoran Cina.


"Bagaimana kalo menurut mu? Apakah kamu juga setuju atas pengaturan itu? Kalo iya kita bisa membicarakannya lebih lanjut lagi." ucap nyonya Nilam pada nyonya Li.


"Wah kalo bisa seperti itu aku juga senang, tapi kamu tau sendiri seperti apa sikap Wei dulu saja karna aku memaksanya dia pergi meninggalkan rumah sampai bertahun - tahun, dan ini dia baru mau balik setelah papanya memaksa dia untuk menangani perusahaan, aku juga tak tau kenapa dia tiba - tiba saja setuju dan mau balik ke sini." jelas nyonya Li dengan raut wajah sedihnya.


Lira yang berdiri dibelakang 2 ibu - ibu tak tau apa yang mereka bahas dan siapa orang yang mereka bicarakan.


"Ayo duduk, apa kamu pesan seperti biasanya?" tanya nyonya Nilam yang sepertinya sangat tau kebiasaan dari nyonya Li.


"Ya seperti biasanya saja." nyonya Li menjawab denga riang.


"Nah lira kamu mau pesan apa? Ayo duduk." tawar nyonya Nilam pada lira yang dari tadi diam mengikuti.


"Biar saya pesan sendiri, dan saya akan duduk di.meja sebelah saja." ucap lira dan pergi ke meja disamping meja nyonya Li dan nyonya Nilam.


Saat kedua ibu itu lagi asyik ngobrol tiba - tiba saja ada seorang pria yang datang menerobos dan dengan langkah lebar mengacungkan senjata tajam pada kedua ibu itu.


Greb


Trang


Melihat itu lira dengan sogan langsung menangkap pria itu dan memelintir tangan pria itu kebelakang punggungnya dan menjatuhkan senjata tajam yang tadi dibawahnya.


Walo pria itu terlihat berwibawah namun bagi lira jika itu mengancam keselamatan majikannya maka dia tak akan pandang bulu.


"Aaaaah! ah ah ah, sakit, sakit." pria itu mengeluh atas apa yang dilakukan oleh lira.


"Eh, lira dia adalah keponakan ku." ucap nyonya Nilam terkejud melihat lira yang dengan cepat menangkap keponakannya dan membuatnya tumbang dengan sekali puntiran.


"Ah, maaf." ucap lira setelah melepaskan tangan pria itu dan kembali berdiri tegak.


"Aduh sakit sekali, dia ini siapa? Kenapa tiba - tiba saja memelintir tangan ku, sakit banget." tanya lean dan memegangi tangannya yang dipelintir oleh lira.


"Kamu juga ngapain bawah - bawah pisau hah?! Dia adalah lira bodyguard nyonya Li." jelas nyonya Nilam sambil memarahinya.


"Apa?" lean terkejud dan menatap lira seksama.


"Gila siapa yang akan mengira kalo dia adalah bodyguard? wajah cantik dan tubuh seksi, benar - benar luar biasa." lean bergumam dalam hati dan memperhatikan lira dari atas sampai bawah.


"Oh, halo saya lean." ucap lean mengulurkan tangan dihadapan lira.


"Iya, lira." lira pun menyambut uluran tangan dari lean.


"Apa benar dia ini seorang bodyguard? Tangannya lembut banget." gumam lean lagi dalam hati dan memegang tangannya yang baru saja berjabat tangan degan lira.


"Tante dengar kamu menanda tangani kerja sama dengan liyon beberapa waktu lalu." tanya nyonya Li pada lean.

__ADS_1


"Iya kami bertemu di Singapura waktu itu." jawab lean dan bergabung dengan 2 nyonya itu, sementara lira kembali ke kursinya.


...🍂🍂🍂...


Sementara di kantor liyon sangat gusar karna dia tak melihat lira seharian dan juga tak bisa menghubungi lira Karan hanpon lira dinonaktifkan.


"Bos tolong maafkan saya atas kejadian kemaren, karna saya tak sengaja dan juga terus kepikiran akan kejadian itu." ucap yusnia pada liyon saat semua orang sudah pada pulang.


"Maksud kamu apa?" liyon bertanya dengan menunjukkan senyum dinginnya.


"Iya, kejadian yang waktu saya tak sengaja jatuh menimpa Bos." jawab yusnia dengan wajah bersemu merah dan dibuat malu - malu untuk menarik perhatian liyon.


"Ooo" ucap liyon dan fokus lagi pada layar komputernya.


"Apa? Hanya O. Apa dia tak tertarik pada ku? Sebenarnya wanita seperti apa yang bisa menarik dan memikat dia." gumam yusnia dalam hati memperhatikan liyon yang fokus pada komputernya.


"Bos tak pulang? Mau saya temani di sini Bos? Karna ini sudah jam 6 petang." tanya yusnia berharap kalo liyon akan menjawab pertanyaannya dengan setujuh ditemani olehnya.


"Tidak perlu, kamu pulang saja karna saya sudah ada Farid yang menemani." jawab liyon dan detik berikutnya Farid masuk kedalam ruangan liyon.


"Baiklah, kalo begitu saya permisi tuan dan saya sudah buatkan minuman untuk tuan, silakan tuan meminumnya." ucap yusnia dan dia pun keluar dari ruangan liyon.


"Apa masih belum? Kemana mereka pergi?" tanya liyon pada Farid yang berusaha mencarik tau kemana mamanya membawah lira.


"Belum, tapi katanya yang menguliti adalah pak Yunus." ucap Farid memberi tau.


"Aku pastikan saat Bos meminum itu dia akan langsung...Hihihi" yusnia tertawa memikirnya apa yang akan terjadi saat liyon meminum kopi yang dia buatkan.


"Katanya mereka sebentar lagi akan selesai dan akan langsung pulang." ucap Farid menjelaskan pada liyon isi percakapannya dengan pak Yunus.


"Kemana katanya mereka?" tanya liyon sambil meminum kopi yang ada di atas mejanya.


"Nyonya ketemu sama nyonya Nilam dan juga lean di sebuah cafe." jawab Farid


"Lean? Dia ke sini lagi ada apa?" gumam liyon yang merasa heran.


"Entahlah, mungkin dia ada urusan bisnis lain." Farid berkata menebak.


"Baiklah ayo pulang." ajak liyon pada farid dan mereka pun berjalan ke arah parkiran.


Brrrt brrt


"Eh, ngapain dia menghubungi ku?" gumam liyon melihat nama lean dilayar ponselnya.


"Halo, ada apa?" jawab liyon


"Hai sobat cobak tebak aku lagi dimana dan dengan siapa?" ucap lean memberi pertanyaan pada liyon.

__ADS_1


"Apa kau gila, bagaimana aku bisa tau kau diman...Ugh.!" kalimat liyon belum selesai namun dia sudah terhuyung dan hampir jatuh dalam lif.


"Bos kenapa?" Farid bertanya dengan panik.


"Eh, kau kanpa sakit?" lean pun bertanya dengan khawatir karna liyon tiba - tiba mengeluh.


"Tidak sepertinya ada yang salah dengan ku, apa jangan - jangan kopi yang ku, ugh kepalaku sakit." keluh liyon lagi dan langsung mamatika sambungan telponnya.


"Bos tak papa?" Farid memapah liyon keluar dari lif dan menuju ke mobilnya.


"Sial, dia ingin memberiku obat. Langsung ke rumah dan kau Taukan apa yang harus kau lakukan? cari dan bawah dia kerumah." ucap liyon yang berusaha menahan gejolak dalam dirinya.


Farid langsung melajukan mobinya dengan kecepatan yang lumayan cepat, dan setelah berusaha membantu liyon istirahat didalam kamarnya Farid langsung ke rumah utama liyon untuk mencarik lira.


Dalam perjalanan Farid terus menghubungi lira yang hanponnya masih saja belum aktif.


"Aaaaah sial.! Semoga saja mereka sudah sampai di rumah." gumam Farid yang melakukan mobinya dengan kecepata yang cepat.


"Sekretaris yusnia, dia benar - benar bukan wanita sembarangan, berani sekali dia memasukkan obat pada minuman bos Liyon"


"Entah apa yang terjadi pada dirinya besok pagai."


Dalam mobil Farid terus bergumam akan perbuatan yusnia yang begitu berani memberikan obat pada liyon yang sangat tidak tau ampun untuk kesalah seseorang yang berani mengusik dirinya.


...🍂🍂🍂...


"Baiklah lira sudah malam biar pak Yunus yang mengantar kamu pulang" ucap nyonya Li pada lira.


"Ah, terima kasih nyonya tapi saya bisa pulang sendiri ini masih jam 10 masih ada bis terakhir." tolak lira dengan sopan.


Cekiiiiit


Farid mengerem mobilnya sampai berbunyi karna terlalu cepat mengemudi dan hampir manabrak pagar.


"Ya Ampun siapa itu?" nyonya Li melihat dengan terkejud.


"Lira.! hah hah, selamat malam nyonya maaf saya harus membawah lira sekarang." ucap Farid dan langsung menyeret lira pergi dari hadapan nyonya Li dan juga pak Yunus.


"Kenapa dengannya?" nyonya Li bergumam dan masuk kedalam rumah, sementara pak Yunus masih mengawasi dengan heran dan bertanya.


"Apa terjadi sesuatu pada Li...Ah maksud mu bos?" tanya lira menebak.


"Iya kita harus cepat." Farid langsung mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh bagai seorang pembalap, dan jarak yang harusnya ditempuh 2 jam ditempuh farid dalam 1 jam.


"Apa dia tidak apa - apa?" lira bertanya lagi pada Farid yang menggiring lira untuk masuk kedalam rumah liyon.


"Sebaiknya kamu temuai dia sendiri, dia sedang ada didalam kamarnya di lantai 2." jelas Farid pada lira.

__ADS_1


"Haaaah, kalian benar - benar 2 wanita yang luar biasa. Ya, bukan wanita sembarangan. Yang satu memberi racun yang satunya mengobati." gumam Farid dan dia menuju paviliun untuk istirahat karna merasa capek.


__ADS_2