Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Surat pengunduran diri


__ADS_3

"Terima kasih." ucap lira dan langsung lari keluar dari mobil liyon.


Liyon hanya bisa diam menatap lira yang keluar dari mobilnya tanpa bisa berbuat apa apa.


"Gila, tadi itu menyeramkan sekali. Aku belum pernah melihat dia semarah itu, apakah aku salah berucap? Aku hanya tak mau melakukan itu lagi." lira meringkuk didalam kamarnya dengan tubuh yang masih gemetaran.


"Apa yang harus aku lakukan besok pagi, haruskah aku ambil cuti atau keluar dari perusahaan? Aku harus bagaimana?" lira terus bergumam


"Kak, kakak kenapa?" satria yang dari tadi memanggil lira tak didengar dan melihat tubuh lira bergetar dia merasa khawatir lalu mendekap tubuh kecil lira.


"Sa satria" lira membalas pelukan satria dengan erat.


"Kenapa kak, ada apa? Kenapa kakak sampai gemetar kayak gini?" satria bertanya dengan khawatir.


"Ti - tidak ada aku mau mandi dulu." lira menghindari pertanyaan satria.


"Kenapa, apa yang terjadi sebenarnya. tidak mungkin hal yang sederhana, kakak yang bisa bela diri sampai ketakutan begitu." satria bergumam dalam hati memikirkan lira.


"Kak ayo makan dulu." satria masuk kedalam kamar lira lagi untuk mengajak lira makan malam.


"Tidak Sat kakak masih kenyang, kakak capek ingin tidur lebih awal." lira masuk kedalam selimut dan menutup matanya.


Satria tak ingin mengganggu kakaknya, karna Satria berfikir kakaknya pasti masih belum Isa cerita pada dirinya, jadi satria memberi waktu pada lira untuk menenangkan diri.


...🍂🍂🍂...


Didalam rumah liyon tepatnya dalam kamarnya liyon termenung memikirkan lira yang terlihat takut pada dirinya.


Liyon menatap langit langit kamarnya dengan tatapan kosong, seolah tak tubuh tanpa jiwa.


"Haaaah." liyon menghela nafas dalam.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku melakukan semuanya, bagaimana bisa aku melepasnya. Di rumah ini semua jejaknya tertinggal, aku tak bisa melepasnya tidak akan bisa." liyon memegangi kepalanya yang merasa pusing.


"Kak aku sangat menyukai mu, sangat mencintai mu bagaimana bisa aku melepasmu. Tolong katakan apa yang harus aku lakukan?" liyon mulai menitikkan air matanya merasa bingung dan kacau dengan isi kepalanya.


"Jika aku katakan akan kah kakak menerima perasaan ku? Tapi jika semakin terbebani dan akan semakin menjauhi ku bagaimana?"


Liyon merasa dilema dengan perasaannya terhadap lira, dan juga penyesalannya yang tak bisa mengontrol dirinya saat berhadapan dengan lira.


...🍂🍂🍂...


Pagi itu semua orang di kantor pada sibuk begitu juga dengan lira, karena sedang menyiapkan proposal untuk rapat dadakan nanti siang.


Dan tepat pada pukul 12 siang rapat pun dimulai yang dihadiri oleh beberapa perwakilan dari deviasi perencanaan, pemasaran dan juga pihak dari tuan Haris yang melakukan kerja sama.


Selama dalam rapat liyon tak banyak bicara dia hanya mengomentari beberapa saja saat pihak perencana menjelaskan dan membukakan pendapatnya, selebihnya liyon hanya diam dan menyerahkan semua pada pihak tuan Haris.


"Nona Lira senang bertemu dengan anda lagi." sapa tuan Haris setelah rapat selesai.


"Oh iya nona lira nanti kalo ada darma wisata ikutlah, dari perusahaan kami akan mengadakan darma wisata dan orang orang yang ikut dalam tim kerja sama ini akan kami ikut sertakan." jelas tuan Haris dengan sangat senang.


"Saya tidak janji, tapi semoga kerja sama ini berhasil dan berjalan dengan lancar." jawab lira yang terdengar oleh liyon bagai mensyiratkan sesuatu.


"Baiklah, aku akan menunggu saat liburan nanti. Dan kerja sama ini pasti berjalan dengan lancar." tuan Haris agi lagi berkata dengan sangat senang.


"Sampai jumpa tuan Liyon, Farid dan tentunya anda nona Lira." ucap tuan Haris saat dia sampai pada depan perusahaan dan mau masuk kedalam mobilnya.


Setelah itu lira pergi ke ruang sekretaris untuk menyatukan rangkumannya, dan dia pergi lagi ke bagian perencanaan serta pemasaran untuk menyerahkan hasil rapat yang tadi sudah dia ringkas bersama dengan Safitri dan juga Endang.


Setelah itu lira menghilang hingga menjelang jam pulang kerja, lira tak menampakkan dirinya sama sekali. Tak ada yang curiga karena mereka tau kalo lira sangat sibuk, sebab dia yang menangani kerja sama dengan tuan Haris ini.


Liyon yang tak melihat lira setelah rapat siang itu tak berani bertanya karna dia takut itu akan membebani lira lagi, jadi liyon hanya bisa diam dan menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaan.

__ADS_1


Sementara di ruang HRD lira sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya dan menyerahkan semua proposal kerja sama dengan tuan Haris pada sekretaris yang di situ sudah tertulis akan dialihkan ke Endang.


"Lira apa kamu mau bekerja di tempat lain sampai mengundurkan diri, apa bos sudah tau soal ini?" tanya pihak HRD pada lira.


Dengan rasa was was dan juga rasa takut serta khawatir "sudah Bu bos sudah tau soal surat itu." bohong lira pada orang HRD itu kalo liyon sudah tau soal surat pengunduran dirinya.


Orang HRD itu mengawasi gerak-gerik lira dengan curiga, namun dia tak mau mempermasalahkan semuanya. "Baiklah aku terima surat pengunduran diri kamu, tapi semuanya tetap kembali lagi pada bos akan menanda tangani dan menyetujui pengunduran diri mu atau tidak." jelas orang HRD itu pada lira dan dijawab anggukan oleh lira.


"Baiklah aku akan memproses surat kamu, untuk sekarang semua tak ada masalah." jawab orang HRD itu pada lira.


"Baik, terima kasih bu. Kalo begitu saya permisi." lira pergi meninggalkan ruang HRD dan tak kembali lagi ke ruangannya karena dia pagi tadi sengaja datang tak membawah tas hanya dompet hanpon saja.


"Ada yang aneh dengan sekretaris lira, apa mungkin dia capek karena harus bekerja 2 pekerjaan dengan mengawal nyonya bos besar ya. Tapi itu urusan dia sih." gumam orang HRD itu sepeninggal lira.


"Apa caraku ini salah atau benar ya?"


"Tapi aku sudah memutuskan kalo aku akan berhenti dan akan menghindari dan tak akan berhubungan dengan dia lagi (liyon)."


"Terus bagaimana cara ku mengatakan pada nyonya Li kalo aku juga akan berhenti ya? Tapi aku akan kerja apa jika aku berdiam diri di rumah."


"Apa aku minta bantuan pada Yuniar untuk mencarikan kerjaan ya."


Lira terus bergumam dan berfikir sepanjang perjalanan pulang, dan waktu dalam bis dihabiskan sama lira untuk melamun dan berfikir dalam mencari pekerjaan baru.


Sementara di kantor liyon masih belum tau apa apa dan dia masih kepikiran soal bagaimana dia akan menghadapi lira saat pulang nanti, karena dia berniat ingin meminta maaf pada lira.


"Bos sudah saatnya pulang tapi saya masih belum melihat nona lira, dan sepertinya dia sudah pulang awal tadi karena tak ada orang yang tau." jelas Farid pada liyon yang masih bertahan untuk menunggu lira agar bisa pulang bersama dengan lira.


"Hem, apa nomornya tak bisa dihubungi?" tanya liyon pada Farid yang membuat Farid memiringkan kepalanya bingung.


"Jangan melihatku dengan ekspresi itu, apa kamu mau aku potong gajimu." kesal liyon yang ditatap bingung oleh Farid.

__ADS_1


__ADS_2