
"Bagaimana bisa dia sampai seperti ini?" Satria menatap Lira
"Aku tak tau, aku menemukan dia sudah dalam keadaan mabuk begitu." jawab Lira dan dia mulai menjelaskan bagaimana dia menemukan sampai membawah Liyon kemari.
"Tidak mungkin kalau dia sendirian, karena malam ini dia menghadiri pesta perusahaan baru yang berdiri dibilang perhotelan dari Singapura." ucap Satria menatap Liyon yang masih saja tak sadarkan diri.
"Apa? Jadi dia hadir di pesta malam ini?" tanya Lira kaget karena dia dari awal tak melihat Liyon sama sekali.
"Iya, makanya aku bilang tak mungkin kalau dia sendirian." jawab Satria.
"Baiklah aku akan menghubungi Farid." Satria langsung menelepon Farid dan mengatakan kalau Liyon ada bersamanya serta mengirimkan alamat untuk menjemput Liyon yang tak sadarkan diri.
"Dia adalah Papaku tapi dia berani menindas Mamaku." gumam Ferdi menatap Liyon yang sedang tak sadar dengan tajam, hingga muncul ide nakal untuk membalas Liyon.
Disaat Yuniar bernostalgia sama Lira dan Satria yang menunggu kedatangan Farid diluar rumah secara diam - diam Ferdi menyelipkan sebuah kertas yang dari tadi dia corat coret, dia juga mencoret wajah Liyon.
"Silakan diminum dulu mbak Ani dan mbak Yuni." ucap Meli membuatkan sebuah jus untuk Lira dan juga Yuniar
"Terima kasih ya Mel." ucap Lira tersenyum manis.
"Oh iya apa kamu tau dia ini siapa?" tanya Yuniar pada Lira sambil menunjuk pada Meli yang duduk di kursi depan Lira dan Yuniar.
"Maksud kamu apa Yun?" tanya Lira balik karena merasa bingung dengan pertanyaan dari sahabatnya yang sekarang telah menjadi iparnya itu.
"Dia adalah putri pak Hendra kepala sekretaris di perusahaan Liyon." jelas Yuniar, dan Lira terkejud mendengar itu, karena dia berfikir pasti ada nama yang sama dan tak berfikir kalau nama itu adalah 1 orang yang sama yang dia kenal.
"Ugh." Liyon merasa terusik dan menggeliat dalam tidurnya karena Ferdi menggambar kumis dan juga jenggot pada Liyon.
"Ya ampun Ferdi apa yang kamu lakukan?!" teriak Lira dengan suara kecil yang sedikit ditekan saat dia tau kalau putranya sedang menjahili Liyon yang sedang tertidur karena mabuk berat.
"Hihihi,,dia lucu Ma. Siapa suruh dia berbuat jahat sama Mama tadi." ucap Ferdi tertawa karena dia merasa puas dengan pembalasannya karena Liyon berani mengusik Mamanya.
"Ya ampun mbak ini permanen." pekik Meli saat melihat kalau spidol yang digunakan oleh Ferdi itu ternyata permanen.
__ADS_1
"Eh, apa?" lira kaget dan melihat juga tulisan spidol itu.
Yuniar tersenyum melihat tampilan Liyon yang lucu dengan kumis dan jenggot yang berantakan, lalu dia mengambil gambarnya.
"Satria.!" Farid sampai dan turun dari taksi dengan panik
"Santai saja, sudah kayak orang kehilangan anak saja." ledek Satria saat dia melihat Farid panik.
"Dia didalam, cepat bawah dia pulang dan jangan katakan apa pun padanya." ucap Satria dan membawah Farid masuk kedalam rumah Lira.
"Non Lira?!" Farid menyebutkan nama Lira saat dia melihat Lira diantara orang yang menunggu Liyon.
"Senang bertemu dengan mu lagi asisten Farid." sapa Lira dengan tersenyum.
"Iya, terima kasih dan maaf merepotkan." ucap Farid dan dia langsung mengangkat Liyon dengan dibantuin sama Satria.
Diantara semua orang yang merasa bingung hanyalah Meli seorang karena dia tak tau apa hubungan antara Lira dan bos Papanya itu, apa lagi melihat Farid yang begitu sopan memanggil nama Lira semakin membuat Meli penasaran. Jiwa penasaran Meli semakin memuncak dengan kejadian hari ini, mulai dari pertemuannya dengan Satria, ciuman yang diberikan oleh Liyon dan panggilan sopan Farid pada Lira, semua membuat Meli sangat ingin tau.
...🍂🍂🍂...
"Tidak tau, saya menemukan dia sudah seperti ini." jawab Farid
"Waduh tuan Farid ini sepertinya permanen tidak bisa dihapus dengan air." ucap bi Min yang berusaha membersihkan wajah Liyon.
"Hem, siapa yang melakukan ini pada Liyon ya?" Farid menatap Liyon dan berusaha mengingat yang akhirnya dia ingat kalau di rumah Lira tadi ada anak kecil yang tersenyum saat dirinya dan Satria mengangkat Liyon.
"Apa mungkin anak itu ya." gumam Farid dan dia tersenyum mengingat wajah dan juga senyuman dari anak kecil yang sembunyi dibelakang Lira.
"Aaaaaarrh!" teriak Liyon menggelegar diseluru rumah saat dia terbangun dipagi hari dan mendapati dirinya penuh dengan coretan diwajahnya dalam pantulan cermin.
"Farid.?!" teriak Liyon lagi memanggil Farid.
"Apa - apa an ini, kenapa wajah ku jadi seperti ini.!?" tanya Liyon dengan kesal saat Farid datang dan masuk kedalam kamarnya Liyon.
__ADS_1
"Kau yang melakukannya bagaimana aku bisa mencegah." jawab Farid santai dan Liyon semakin kesal.
"Farid ini permanen tak bisa dihapus aku butuh aseton, lagian mana mungkin aku yang lakukan ini sendiri kau jangan mengada - ada." Liyon marah menatap Farid, tapi Farid tak bergeming dan dia biasa saja tak ada rasa bersalah.
"Beneran bukan kau?" tanya Liyon lagi dengan nada suara renda.
"Kau pikir aku kurang kerjaan." jawab Farid ketus dan Liyon menghela nafas dalam.
Dengan bersusah payah dan butuh waktu Berjam - jam bagi Liyon untuk menghapus serta membersihkan wajahnya dari noda spidol itu. Liyon sudah hampir tak sabar dengan semuanya karena dia sudah merasa capek serta bosan menghapus sambil bercermin didalam kamar mandi.
...🍂🍂🍂...
"Lian bagaimana dengan adik mu? Dia tak mau bicara sama Mama dan juga tak mau menikah. Tolong kamu bicara sama dia untuk berumah tangga usianya kan sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga." ucap Mama Li pada putra pertamanya yang datang berkunjung ke Indonesia karena ada pekerjaan di Indonesia.
"Ma, Lian tak bisa memaksa Liyon, karena sebenarnya Liyon sudah memiliki orang yang dia pilih sejak dulu." Lian pun menceritakan semuanya pada sang Mama seperti apa perjalanan Liyon mempertahankan dirinya dan cintanya demi seorang gadis yang belum pernah dia kenal dan dia ketahui siapa dirinya karena batu bertemu sekali dengan tidak sengaja, hingga kesabarannya berbuah hasil, namun semua kembali lagi ketitik awal dengan kabar kepergian dan menghilangnya gadis itu.
Mama Li yang mendengarkan cerita dari anak pertamanya dari awal hingga akhir dia mulai menyesali perbuatannya, karena kepergian Lira adalah atas perintahnya. Disaat Mama Li mendengarkan cerita dari Lian tiba - tiba saja hanponnya bergetar dan ada kiriman video dari orang yang disuruhnya mengawasi Liyon secara diam - diam.
"Liyon putraku, maafkan Mama sayang." ucap Mama Li menangis melihat dan menyaksikan video itu, karena dari gambar itu menunjukkan Liyon yang sedang melihat Lira dan Rian sedang menjemput seorang anak kecil serta terlihat sangat bahagia.
"Mama menyuruh orang diam - diam untuk mengawasinya?" tanya Lian kaget karena ada kiriman video dari seseorang pada Mamanya.
"Jangan membuat kesalahan yang lebih besar lagi Ma, hentikan semua jika Liyon tau Mama mengawasi dia maka dia bisa semakin marah sama Mama." ucap Lian mengingatkan Mama.
"Maafkan Mama Lian, tolong maafkan Mama. Semua adalah salah Mama." Mama Li mulai menamgis.
"Sebenarnya dulu yang mengenalkan Rian sama Lira adalah Mama dan Mama berniat mau menjodohkan mereka." ucap Mama Li yang terlihat sangat menyesali semua perbuatannya.
"Liyon maafkan Mama, rasa sakitmu adalah rasa sakit ku nak." Mama Li memegang bingkai foto Liyon dengan sangat erat.
"Andai dulu Mama tak mengenalkan mereka dan meminta Lira untuk menghilang mungkin semua tidak akan jadi seperti ini." Mama Li mulai meracauh dengan memeluk erat bingkai foto Liyon.
"Ma, semua sudah terjadi kita tak bisa memutar ulang apa yang sudah terjadi. Dan percuma menyesalinya, kita lakukan yang terbaik untuk Liyon saja, karena sekarang yang terpenting adalah Liyon." Lian menasehati dan menjelaskan pada Mamanya.
__ADS_1
"Mama mau ketemu sama Liyon, Mama mau minta maaf atas semuanya tolong bantu Mama Lian, Yuki. Tolong kalian bantu Mama, Mama benar - benar memyesal." Mama Li memohon kepada putra dan juga menantunya dengan sangat agar mereka mau membantu dirinya berbicara sama Liyon.