Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Kabar yang menyakitkan


__ADS_3

Bersusah paya Lira merangkak mendekati Ferdi yang telah tergeletak tak berdaya serta banyak darah yang keluar darinya dengan Arlin disampingnya menangis sambil menggenggam tangan Ferdi kuat - kuat.


"Fer-di, sa-yang." Lira pun jatuh pingsan disebelah Ferdi dan itu membuat Arlin semakin keras menangis.


Sementara Meli yang lari menyusuri hutan untuk mencari bantuan tak memperdulikan berapa kali dia jatuh dan terluka, serta berapa sakit tubuhnya. Jalan hutan yang gelap tak bisa menentukan arah dengan pasti dan juga tak dapat melihat jalan dengan benar.


"Tolong...!" teriak Meli sambil terus berlari, terjatuh dan bangun lagi.


Begitu banyak luka ditubuh Meli akibat terjatuh, namun Meli tak menghiraukannya. Meli terus saja bangun dan berlari lagi. Berharap ada keajaiban yang bisa membuat dia menyelamatkan Lira dan yang lainnya.


"Aaaaah,,, ugh." Meli terjatuh dan memegangi perutnya yang terasa nyeri.


"Aku mohon, tolong selamatkan mereka. Aku mohon." Meli terus saja bergumam dan berdiri sekuat tenaga lalu berlari lagi dengan berteriak minta tolong lagi.


"Tuan, kami menemukan sebuah gelang dengan alat pelacak di dekat tebing." ucap anak buah Farid yang menghubungi Farid lewat panggilan telepon.


"Baik, berjaga di sana kami akan kesana." ucap Farid lalu dia mempercepat laju mobilnya dan mendahului Liyon, serta membanting setir untuk berputar balik.


"Farid." gumam Liyon yang melihat Farid berputar balik setelah Farid mendahului, dan Liyon pun ikut berputar dan mengikuti laju mobil Farid, begitu juga dengan Satria.


"Tunjukkan." ucap Farid setelah dia sampai ditempat anak buahnya menemukan jam tangan dengan alat pelacak.


"Apa yang kau temukan?" tanya Liyon mendekati Farid.


"Ferdi." gumam Liyon setelah melihat jam tangan itu.


"Menyebar, temukan disetiap sudut." perintah Liyon pada semua anak buahnya.


"Toloooooong.!" teriak Meli disisa suara terakhirnya karena dia terjebak oleh senjata rahasia dan mengunci pergelangan kakinya.


"Ada suara teriakan, masuk kedalam hutan semua menyebar." ucap Liyon dan dia langsung menerobos masuk kedalaman hutan yang gelap itu.


"Nyonya Meli, tuan nyonya Meli di sini." teriak anak buah Liyon dan mereka langsung menuju ke tempat Meli ditemukan.


"Meli.!" Farid mendekati Meli yang sudah jatuh tak berdaya.


"Tolong, mereka se-mua ter-luka." ucap Meli lalu pingsan.

__ADS_1


Semua orang menyebar mencari keberadaan Lira dan yang lainnya, begitu juga dengan Liyon dan Satria, semakin masuk kedalam hutan degan cahaya seadanya hingga mereka mendengarkan samar - samar suara tangisan anak kecil yang berasal dari Arlin.


Brak (Liyon menendang pintu gudang itu)


"Lira.!" teriak Liyon yang melihat Lira tak sadarkan diri disamping putranya yang juga tak sadarkan diri.


"Yuniar, sayang. Bertahanlah aku mohon bertahanlah." Satria dengan panik mengangkat tubuh Yuniar yang sudah terlihat lemas dengan wajah pucat.


Liyon melarikan Lira dan juga Ferdi ke ruang sakit, dan Farid sudah lebih dulu ke rumah sakit itu karena kondisi Meli yang terluka sangat parah. Mobil yang membawah Lira dan Ferdi melaju dengan kecepatan penuh, Liyon seolah sedang berburu dengan nyawa dari semua anggota keluarganya.


Semua petugas rumah sakit mulai dari dokter dan perawatnya sibuk setelah mendapatkan pasien yang datang dengan gawat darurat semua. Liyon mengepalkan tangannya kuat - kuat, didalam hati Liyon bertekad akan menghancurkan semua orang yang telah membuat nyawa istri, putra dan juga calon bayinya dalam bahaya.


"Siapkan ruang operasi segerah." ucap seorang dokter kandungan yang terlihat panik.


"Siapkan ruang bedah sekarang juga dan bawah pasien segerah kedalam ruang bedah." ucap dokter bedah pada perawat dan dia langsung menuju ke dalam ruang operasi bedah.


"Dokter ruang untuk kuret sudah siap." ucap seorang perawat pada dokter yang menangani Meli.


"Baik, kita akan melakukan kuret dulu sebelum operasi tulangnya, hentikan sumber pendarahan yang lebih besar dulu." jawab dokter itu dan para perawat membawah Meli masuk kedalam ruang kuret.


"Liyon apa yang terjadi?" tanya mama Li yang datang ke rumah sakit bersama dengan papa Li.


Liyon dan yang lain mengikuti perawat itu begitu juga dengan mama dan papa Li yang ikut serta mengikuti perawat itu masuk kedalam sebuah ruangan.


"Pak tolong tanda tangani di sini, dan maaf kami harus melakukan semua penanganan dengan segara untuk menyelamatkan pasien karena semuanya sedang dalam keadaan darurat." ucap perawat itu dan menyerahkan berkas kepada Liyon dan yang lain dengan menyebut nama pasien satu persatu.


"Apa yang terjadi? Katakan apa yang terjadi?" tanya Liyon dengan takut menatap perawat itu, begitu juga dengan Farid dan Satria, setelah mereka menandantangani berkas itu tanpa melihat isinya, karena disana juga ada Bagas selaku dokter pribadi Liyon.


"Apakah ada masalah dengan kehamilannya? Apa bayiku baik - baik saja?" tanya Liyon lagi dan itu mewakili pertanyaan Satria


"Maaf pak masih belum dipastikan apakah janinnya baik atau tidak yang jelas harus diselamatkan dulu baru kami akan mengetahui keadaan dan kondisi janin, dan yang jelas sekarang kondisinya sedang tak baik untuk keduanya. Baik janin dan ibunya karena mengalami pendarahan dan juga untuk nyonya Lira yang mengalami benturan dengan benda keras serta kelahiran yang prematur." jawab perawat itu menjelaskan.


"Kami harus menyelamatkan semua nyawa dengan segerah, karena kalau terlambat maka akan mengancam kedua nyawa baik ibu atau janinnya. Dan juga untuk nyonya Meli dia telah mengalami keguguran jadi harus segera dilakukan kuret agar tak kehabisan banyak darah." perawat itu menjelaskan lagi


Liyon menelan salifaslnya dan tubuhnya bergetar "Putraku." tanya Liyon menatap perawat itu.


"Putra anda, dia mengalami benturan di kepala jadi masih belum pasti kondisinya, dan sekarang masih menjalani operasi." jawab perawat itu.

__ADS_1


Liyon terjatuh dengan lemas, "Haaaaaaah, tidak.!" teriak Liyon menyayat hati begitu juga dengan Farid dan Satria yang terlihat sangat sedih dan rapuh.


"Liyon." mama Li memeluk Liyon.


Liyon menangis histeris dengan tersungkur lunglai di lantai, berkali - kali memukul - mukulkan tangannya di lantai tanpa peduli luka yang didapat akibat terus memukul lantai.


"Liyon, hentikan jangan menyakiti dirimu sendiri" mama Li memeluk kuat Liyon dengan isak tangisnya.


"Liyon kamu harus kuat demi anak dan istrimu, mereka telah berjuang keras untuk bertahan selama mereka disandera oleh orang - orang yang menculiknya. Kamu harus memberikan dukungan pada mereka apa kamu mengerti." ucap papa Li pada Liyon


"Dan kalian berdua juga sama, harus kuat mendengar apa pun kabarnya yang keluar dari dokter nanti." papa Li juga menguatkan Farid dan Satria.


Liyon, Farid dan juga Satria menunggu sangat lama dengan kecemasan dalam hati mereka karena masih belum juga ada kabar tentang para istri mereka dan juga anak - anak mereka.


Farid menemani si kecil Arlin dengan kesedihan karena telah mendapatkan patah tulang di lengannya akibat digantung dengan 1 lengan ditarik, wajah polos Arlin yang tertidur dengan sangat damai tak tau apa yang sedang terjadi pada mamanya dan apa yang sedang dirasakan oleh papanya.


"Sayang." Farid membelai Arlin dengan kasih sayang dan air mata yang tak kunjung surut.


"Tuan dokter sudah selesai dengan operasinya dan sekarang sedang ada di ruangannya bersama dengan tuan Bagas." ucap Warti pada Farid.


"Kau jaga Arlin." ucap Farid dan keluar dari ruangan Arlin.


"Bagas, katakan." ucap Liyon menatap Bagas dengan pandangan sendu, begitu juga dengan Farid dan Satria.


"Haaaa,,," Bagas menghela nafas dalam menatap ke tiga temannya itu.


"Aku tak tau harus memulai dari mana, tapi ku harap kalian semua bisa menerima kabar ini. Dan harus tetap kuat untuk menghadapi semuanya." ucap Bagas yang mulai menitikkan air mata.


"Bayi Yuniar mengalami asfiksi dan infeksi karena pendarahan dan sudah pecahnya air ketuban. Kondisinya masih belum dipastikan dia mampu atau tidak untuk bertahan." Bagas tak sanggup menatap Satria, dan Satria mengepalkan tangan sangat kuat.


"Sedangkan Lira, dia,,, harus mengangkat rahimnya karena mengalami robekan akibat benturan benda keras." Bagas menangis semakin sedih dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bayinya" tanya Liyon dengan nada bergetar.


"Masih dalam penanganan, karena mereka lahir prematur dan nafas serta jantungnya tak stabil." jawab Bagas dan air matanya semakin deras keluar.


Liyon langsung histeris lagi mendengar itu semua, dia tak sanggup mendengar lebih lanjut apa yang akan dikatakan oleh Bagas mengenai kondisi putranya yang juga sedang berjuang melawan maut dalam ruang operasi. Liyon keluar dari ruangan dan duduk dikursi depan ruangan dokter dengan sangat sedih.

__ADS_1


Terlihat sangat jelas ada luka yang sangat dalam di hati Liyon. Berkali - kali Liyon memukul kepalanya dan mengacak rambutnya, Liyon seakan ingin sekali mengeluarkan beban di hatinya dan menghancurkannya hingga berkeping - keping.


Dan Farid kembali keruangan putrinya dengan hati yang hancur juga karena kaki Meli harus diamputasi sebab pergelangan kakinya hancur karena terjepit oleh senjata rahasia untuk menangkap hewan, dan juga mengalami infeksi pada luka di sekujur tubuhnya yang mengalami luka - luka dan terkontaminasi saat Meli berusaha untuk lari mencari pertolongan.


__ADS_2