
Keesokan paginya Yusnia terbangun didalam sebuah kamar dengan seorang pria yang tak dia kenali, dengan terkejud Yusnia melihat sekeliling dan berusaha untuk mencobak mengingat akan kejadian semalam.
"Kenapa kau sangat terkejud sayang." suara serak dari seorang pria yang ada disamping Yusnia.
"Siapa kau? Dan kenapa kau ada di sini, apa kau tak tau kalau aku sedang hamil sekarang hah?!" kesal Yusnia dengan sangat marah pada pria itu.
"Kenapa? Walau sedang hamil namu kau sangat lincah semalam dan aku sangat menyukainya." ucap pria itu bangkit dari tempat tidur dan mengenakan bajunya.
"Niyang, kenapa aku tak ingat apa - apa." Yusnia mengacak rambutnya karena dia tak bisa mengingat apa pun semalam.
"Baiklah, terima kasih atas pelayanannya semalam aku sangat puas." ucap pria itu dan pergi meninggalkan sebuah cek untuk yusnia.
...🍂🍂🍂...
Nafas Lira tersengal - sengal dengan keringat bercucuran saling berlarian ditubuh Lira. Sudah sering sekali Lira terkilir dan kseleo akibat latihan yang dia lakukan saat ini, namun Lira tak memperdulikan itu semua karena Lira ingin cepat bisa mahir dengan bakat baru yang ingin didalaminya agar dia punya alasan masuk dan bergabung dengan sebuah klub malam sebagai wanita penari untuk mencari pelaku yang telah menghancurkan semuanya.
"Lira, kenapa kamu tak ingin meminta tolong pada suami mu saja. Aku yakin Liyon bisa melakukannya dengan cepat dengan kekuatannya." ucap Rian pada Lira
"Kak Rian, aku ingin bisa membalas mereka semua tanpa bantuan Liyon. Aku ingin melakukannya dengan kemampuan ku sendiri baru aku merasa lega." jawab Lira yang selalu tersenyum pada Rian.
"Maaf aku tak ada disisi mu pada saat itu." ucap Rian menggenggam tangan Rian.
"Tak apa, bukankan sekarang kalian ada disisi ku. Aku sangat nyaman dengan kalian, mungkin karena kalian selalu ada untuk ku disetiap titik terlemah ku." ucap Lira menatap Rian dan Rihana kakak angkat Rian yang saat ini telah menjadi istri Rian.
"Kau memang wanita yang kuat dan juga tegar Lira, aku suka dengan mu. Sejak ketemu dengan mu aku sudah yakin kalau kita akan cocok." ucap Rihana tersenyum menepuk bahu Lira.
"Terima kasih kak." Lira membalas senyuman Rihana dan menggenggam tangan Rihana yang ada dibahu Lira.
"Jangan lakukan kegilaan yang merusak." ucap Rian menatap tajam pada Rihana.
"Cih, kau baru berani menatapku tajam setelah menjadi suami dari kakak mu hah." ucap Rihana menatap balik Rian.
"Jangan macam - macam, karena aku adalah suami mu sekarang dan aku tak akan membiarkan kamu melakukan kegilaan di negara ini. Apa yang akan dikatakan oleh semua pegawai mu jika mereka tau kalau bos mereka ternyata sangat liar." ucap Rian menyentil kening Rihana.
"Aku senang melihat kalian berdua, akhirnya kalian bersatu setelah sekian lama." ucap Lira tersenyum melihat kedekatan antara Rian dan Rihana.
"Jangan bilang kalau suami kalian tak tau dengan rencana kalian ini." Rian balik menatap Lira dan Yuniar yang datang mendekat setelah latihan.
"Aku ingin jadi wanita tangguh seperti Lira, dan sudah dari sejak dulu aku ingin bisa melakukannya sendiri tanpa Satria." jawab Yuniar yang duduk disebelah Lira dengan bermandikan keringat.
"Hahaha,,, tak ku sangka ternyata aku adalah guru yang hebat karena memiliki 2 murid yang sungguh luar biasa." Rihana tertawa terbahak merasa sangat senang.
"Baiklah kak tera.kasih atas semuanya, kami pamit dulu." ucap Lira dan Yuniar pada Rihana lalu mereka pergi ke rumah sakit untuk melihat perkembangan anak - anak mereka.
...🍂🍂🍂...
Putra Yuniar telah stabil dan akan pulang 3 hari lagi, begitu juga dengan putra - putra Lira berat mereka telah bertambah, namun mereka masih arus dirawat untuk beberapa hari kedepan hanya saja alat yang sebelumnya menempel pada mereka berdua telah dicabut semua. Hanay Ferdi yang masih belum menunjukkan tanda - tanda akan segera sadar dari komanya.
__ADS_1
"Ferdi sayang, cepatlah bangun nak mama tak sanggup kalau harus tanpa mu. Kamu adalah belahan jiwa mama, penguat mama dan kehidupan mama. Mama mohon bangun lah." Lira menggenggam erat tangan Ferdi dan menangis disamping Ferdi.
"Nyonya Lira, stok asi untuk si kecil tinggal sedikit." ucap seorang perawat yang masuk ke ruang rawat Ferdi dan memberi tau Lira.
"Iya suster nanti saya ke ruangan asi." jawab Lira tersenyum.
"Sayang mama melihat adik - adik mu dulu ya dan mau memberi mereka makan biar mereka bisa kuat seperti mu." ucap Lira dan mengecup kening Ferdi.
Sepeninggal Lira ada respon dijari - jari Ferdi seolah dia mengerti dan ingin segera bangun dan melihat adik - adiknya, namun pergerakan itu tak ada yang melihat dan tak ada yang tau.
Setelah Lira memompa ASI-nya dia pergi meninggalkan rumah sakit bersama dengan Yuniar, namun mereka tak kembali ke rumah mereka melainkan kesebuah klab malam.
...🍂🍂🍂...
Lira seolah sedang berburu sesuatu yang ingin dia buru. Selama beberapa hari Lira dan Yuniar mendatangi semua klab malam hanya demi menemukan pelaku penculikan atas diri mereka, hingga akhirnya sampailah Lira di sebuah klab malam yang selalu ramai pengunjung dari kalangan hitam atau orang - orang yang banyak membuat masalah.
Didalam klab malam itu Lira dan Yuniar memulai aksi mereka mendaftar sebagai penari di klab malam itu demi mencari siapa pelaku yang telah membuat mereka dalam kesulitan, karena tak tau siapa nama mereka dan hanya mengenali wajah mereka saja, maka Lira dan Yuniar terpaksa melakukan hal yang sungguh bertolak dengan diri mereka demi menemukan orang - orang itu.
Kemeriahan malam itu sungguh sangat luar biasa dan semua pengunjung klab sangat bersemangat karena mereka sengaja datang sebab ada pertunjukan tari disetiap hati itu. Ada sekitar 10 wanita penari termasuk Lira dan Yuniar yang sedang beraksi diatas meja menampilkan keseksian mereka semua.
"Wao,,, sungguh luar biasa." teriak semua orang bersamaan dengan alunan musik yang menggema.
"Dapat." gumam Lira saat dia mengenali satu orang yang menculiknya.
Lira melompat turun dan mendekati orang itu meliuk menggoda hingga membuat semua pengunjung bersorak dengan seru melihat aksi Lira yang melewati batas aturan dengan mendatangi langsung targetnya.
"Bawah aku, karena aku biasa bermain dengan lebih dari 10 orang." bisik Lira menggoda.
"Tak seru jika sendirian, aku akan bergabung juga." goda Yuniar dengan memegang lengan orang itu.
"Kalian harus melayani aku dulu." ucap pria itu dan membawah Lira juga Yuniar pergi.
Didala mobil Lira dan Yuniar bertingkah seperti wanita penghibur dengan terus menggoda pria itu tanpa henti. Sehingga membuat pria itu tak tahan lagi dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai di markasnya.
"Oh sayang hentikanlah aku sudah tak sanggup lagi ini dan ingin segerah memakan kalian berdua." ucap pria itu berjalan masuk markas dengan memeluk Lira dan juga Yuniar.
"Hem, kau nakal sayang." ucap Lira dengan suara menggoda.
"Kau harus membuat kami berdua puas ya." sambung Yuniar tak kalah menggodanya.
"Hei, apa yang kau lakukan dengan membawah wanita - wanita itu?" tanya dari teman pria itu.
"Aku membawakan mainan untuk kalian semuanya, namun akuningin menikmatinya lebih dulu." ucap pria itu dan langsung membawah Lira dan Yuniar masuk kedalam kamar.
"Ayo sayang aku sudah tak tahan." ucap pria itu.
Bruk
__ADS_1
"Uhg, kalian menyerang dengan begitu ganas." ucap pria itu lalu tertawa terbahak.
"Gila dia bermain dengan 2 wanita sekaligus." ucap teman pria itu diluar kamar
"Ya dia memang selalu begitu. Tapi sepertinya permainan mereka sungguh seru." sambung dari teman yang lainnya.
"Kalian siapa sebenarnya?" tanya pria itu yang sudah tak bisa berkutik karena Lira telah menghajarnya dan mengikatnya.
"Kau akan tau siapa kami setelah ini." ucap Lira tersenyum.
"Eh, sudah keluar." ucap teman pria dalam kamar.
"Ya karena aku belum puas, katakan pada ku ada berapa kalian semuanya? Karena aku sanggup bermain dengan lebih dari 10 orang sekaligus." ucap Lira berjalan ketengah ruangan yang lebih mirip dengan gudang besar yang ada kamar - kamarnya.
"Gila, kami semua lebih dari 15 orang nona." ucap salah seorang pria di gudang itu dengan terbahak.
"Ok, kemarilah semuanya." ucap Lira tidur diatas meja billiard dengan sangat menggoda.
Semua pria - pria itu tanpa sadar mendekati Lira dan dengan seketika Lira menghajar mereka semuanya tanpa ampun. Tak seorang pun dapat lolos dari amukan Lira.
"Di-dia adalah wanita yang kita culik waktu itu." ucap teman mereka yang habis dihajar oleh Lira.
Plak (Yuniar menampar dan memukul orang itu dengan sangat keras.)
"Apa?!" semua orang terkejud.
"Katakan dimana pimpinan kalian, jangan harap kalian bisa lolos kali ini karena aku akan menghukum kalian semuanya." ucap Lira dengan pandangan yang terlihat sangat tajam.
Malam itu dalam markas para preman itu Lira telah memberikan hukuman pada semua orang yang telah menyakiti dirinya dan juga anaknya. Tak seorang pun dapat lolos dari amukan seorang Lira dan Yuniar termasuk pimpinan mereka yang juga sudah babak belur.
"Aku memang tak bisa melawan mu saat aku hamil, namun tidak untuk saat ini. Karena aku pasti akan menghabisi kalian semua." ucap Lira dan menghajar lagi pimpinan mereka.
"Mereka bukan manusia, mereka bekerja sama dengan sangat bagus, pisahkan mereka agar kita bisa menghabisi mereka, karena kalau mereka terus berdekatan maka kita tak akan bisa mengalahkan mereka." ucap dari pimpinan semua preman itu.
Namun saat Lira dan Yuniar dipisahkan mereka masih saja tak bisa mengalahkan Lira dan selalu saja Lira punya cara membebaskan Yuniar.
"Gila, dia adalah iblis." ucap pimpinan itu menunjuk Lira.
"Kenapa kau ikut pada ku? Dimana keberanian mu waktu itu, yang mengatakan akan bermain dengan ku yang sedang hamil, hah?" ledek Lira dengan senyuman mengejek sambil duduk diatas meja.
"Aku tak akan mengalah, aku akan meminta bantuan." ucap pimpinan itu dan berusaha menghubungi temannya.
Terdengar suara gemuruh di luar dan para preman itu merasa senang, mereka tertawa terbahak karena bala bantuan telah datang dan akan memberikan hukuman pada Lira.
"Hahaha,,, kau berfikir akan menang melawa ku walau sudah ada bantuan datang?" Lira tertawa "Aku akan mematahkan kaki dan tangan kalian semuanya." ucap Lira dengan tatapan tajam.
"Ini adalah hukuman kalian." ucap Lira lagi melihat semua preman itu terikat dan hanya pimpinan mereka saja yang dibiarkan bebas.
__ADS_1