Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Bermalam dikantor


__ADS_3

"Ah..! Ngantuk dan lelah sekali karna terkurung dan kelaparan." berjalan kearah meja kerjanya setelah menyalakan lampu ruangan.


"Ah, untung tasku masih di sini. Banyak banget panggilan masuk dan juga pesan yang ku terima." duduk dan membuka ponselnya.


"Aduh, batrenya tinggal 10 persen. Aku Chad dimana ya? Apa diruangan bos saja, toh dia gak ada dan pasti lebih nyaman tidur di sofa dari pada dikursi begini." beranjak masuk kedalam ruangan liyon, setelah menyambungkan telponnya dengan stop kontak lira berjalan mendekati sofa dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman.


Dan diparkiran ternyata liyon masih berada didalam mobilnya, tertidur dengan posisi duduk dikursi kemudi.


"Ugh. Leherku sakit." liyon memegang dan memijat belakang lehernya yang terasa kaku.


"Sial, akhirnya aku menggunakan obat terlarang ini lagi setelah sekian lama. Semua gara - gara sekretaris itu yang berusaha untuk membangkitkan naluriku." menatap bungkus obat penenang yang tadi dia minum.


Liyon tersenyum mengingat kejadian selama 2 setengah tahun dia mengkonsumsi obat penenang untuk mengendalikan hasratnya terhadap seorang wanita hanya karna dia tertarik dan jatuh cinta pada wanita yang baru dia temui sekali di Indonesia.


"Lira Anggraini kau benar - benar harus menerima hukuman dari ku atas apa yang terjadi hari ini. Jika kau tak menghilang maka aku tak akan meminum obat ini." gumam liyon memunculkan seringainya.


"Sebaiknya aku kembali dan tidur didalam kantor saja." liyon berjalan masuk lagi kedalam kantornya.


"Hem, kenapa lampunya menyala dan kenapa pintu ruanganku terbuka apa ada orang lain selain aku di sini?" bergumam sambil terus berjalan masuk keruangannya.


Deg


Jantung liyon berdebar saat dia mendapati lira meringkuk di sofa seperti anak kucing yang kedinginan.


"Lira?" berjalan mendekat dan melihat wajah lira yang terlelap dengan tenang.


"Ku pikir aku harus menunggu lama untuk memberimu hukuman, ternyata kamu datang sendiri. Ayo ku ajari kau agar tak nakal dan pergi meninggalkan aku sendiri dalam rasa putus asah." liyon mengangkat pelan tubuh lira dan membawahnya keruang istirahat yang ada dibalik rak buku didalam ruangannya.


Dengan pelan liyon meletakkan tubuh lira diatas tempat tidur dan dia melepas semua baju atasnya lalu membangunkan lira dengan menc*um bibir lira dalam dan membuka pelan serta menjelajahi rongga mulut lira.


Mendapat perlakuan itu sontak lira langsung membuka matanya dengan bulat.


"Ehm...Emmm." lira yang terbangun terkejud melihat liyon yang sudah berada diatas tubuhnya dengan bertelanjang dada.


"Aaah... Aissss." d*sahan lira keluar saat liyon berpindah kelehernya


"Ini adalah hukuman karna kakak menghilang dari siang." bisik liyon yang masih aktif menikmati leher lira.


"Tu - tunggu, tunggu dulu. Aaaaah" ucap lira bercampur dengan d*sahan.


Mendengar itu liyon semakin aktif lagi, karna suara merdu lira telah menyentuh pendengarannya dan membangkitkan fungsi otaknya untuk menginfokan kejantanannya harus beraksi.


"Maaf kak aku udah tak tahan lagi, aku sudah menahannya dari tadi." liyon langsung melepas paksa baju lira dan juga melepas sisa bajunya.


Kini mereka telah tanpa busana satu sama lain dan kulit mereka telah bersentuhan dan saling menggesek membuat sensasi liar liyon bangkit dengan sempurna.


"Ku mulai ya kak?" tanya liyon yang sudah tak sanggup lagi menahan b*rah*nya yang sudah menguasai diri sepenuhnya.

__ADS_1


"Ehm, Li Yon." panggil lira dengan suara terputus karna sudah tak sanggup menahan semua serangan dari liyon.


Selama 2 jam liyon menguasai dan menikmati tubuh lira yang berada dibawah tubuhnya.


Cup


Liyon mengecup kening lira dan menyelimuti tubuh mereka berdua setelah liyon puas mendapatkan pelepasan hingga 4 kali dalam permainannya.


"Kita dimana ini?" tanya lira dengan lemas dalam pelukan liyon.


"Kita sedang bermalam dikantor kak." jawab liyon memeluk tubuh lira dengan erat.


"Katakan pada ku, kemana kakak dari siang menghilang meninggalkan ku, dan itu membuat ku tersiksa hampir 5 jam lamanya karna menahan rindu pada kakak." tanya liyon pada lira yang berada dalam dekapannya.


"Hem? Aku terkurung dalam gudang, aku kelaparan, kehausan dan juga kedinginan di sana selama 10 jam lamanya." jawab lira dengan mata yang mulai sayu sayu tertutup.


"Gudang? Hem, maaf aku lupa kalo aku menyuruh sekretaris yusnia kegudang. Jadi dia mengajak kakak ke sana juga rupanya" liyon berkata dan sudah tak mendengar jawaban lira karna dia telah tertidur, nafas lira mulai setabil yang menandakan dia telah terlelap.


Cup


Liyon tersenyum dan mengecup kening lira lagi lalu dia juga ikut menutup mata dan terlelap juga dengan posisi memeluk lira.


Sekitar 1 jam liyon tertidur dan itu sudah cukup bagi liyon karna dia merasa sangat segar, apa lagi dia tidur dengan mendekap wanita yang dia inginkan dan dia cintai.


"Egh." lira bergerak dan menyentuh batang tongkat liyon yang tak seharusnya disentuh.


"Kak kenapa kau selalu membuatku bangkit walo hanya dengan sentuhan sesaat. Kau benar - benar setrum dengan tegangan tinggi untuk ku." bisik liyon ditelinga lira.


"Bukan aku, tapi kau saja yang memang mesum. Minggir kalo gak mau ku hajar." ucap lira dengan tegas yang sudah bangun saat dia merasakan tongkat pusaka liyon bangkit dan menusuk bagian tubuh bawahnya.


"Hahahah, tapi kau harus tanggung jawab dulu kak untuk menidurkannya. Karna kalo sudah bangun dia akan susah tidur." ucap liyon yang langsung mengunci tubuh lira dan menaikkan tangan lira ke atas kepala dengan mengikatnya sama dasi.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya lira kaget karna liyon mengikat kedua tangannya diatas kepalanya.


"Bermain, tapi aku tau kakak akan menghajarku jika aku tak mengamankan kakak dengan cara yang benar." jawab liyon yang langsung membuka kedua kaki lira dan memainkan tongkatnya di sana.


"Kau benar - benar ya?! Aaaaah." lira menatap dengan tajam pada liyon dan mend*sah saat batang liyon telah menerobos masuk, namun tatapan lira yang tajam tak membuat liyon takut, dia malah makin asyik bermain dengan sangat bersemangat.


"Lepaskan tangan ku sakit." ucap lira saat mereka telah selesai dan mendapatkan puncaknya bersamaan.


"Kakak mandilah dulu, aku akan menyuruh Farid untuk mengirim baju kemari." liyon bangun dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Farid.


Tak lama setelah liyon menghubungi Farid dalam waktu 30 menit Farid sudah datang dengan membawah setelan baju yang dia beli dibutik langganan liyon.


"Katakan pada agung untuk datang mengambil mobil, karna mobilku sudah waktunya diservis." perintah liyon pada farid setelah dia mengambil bungkusan baju untuk dirinya dan juga lira.


"Baik, saya akan meninggalkan mobil yang satunya dan akan membawah mobil bos untuk dibengkelkan oleh agung." jawab Farid dan langsung undur diri dari hadapan liyon.

__ADS_1


"Sudah selesai? Ini bajunya, kakak bisa ganti dengan baju itu dan simpan baju lama." ucap liyon menyerahkan kantong baju pada lira.


"Tidak usaha aku pakek baju lamaku saja." tolak lira


"Apa kakak ingin mendengar rumor bahwah kakak bermalam dikantor bersama dengan ku? Aku tak masalah dengan rumor itu karna aku tak akan rugi." ucap liyon mendekatkan wajahnya pada lira dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Tidak akan, aku tidak mau." jawab lira langsung dan mendorong tubuh liyon.


"Hahahaha" liyon terbahak dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Ceklek


Liyon keluar dari kamar mandi dan berjalan melenggang dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Bajunya cocok dengan kakak" ucap liyon memperhatikan lira


"Bagaimana kamu bisa membelikan baju yang selalu pas untuk ku.?" lira bertanya dengan bingung karna liyon selalu memberinya baju dengan ukuran yang pas ditubuhnya.


"Apa maksud kakak? Aku kan sudah mengukur dan mengetahui setiap inci diameter tubuh kakak, tentu saja aku tau ukuran yang pas untuk kakak." jawab liyon santai dengan mengenakan bajunya.


"Dasar mesum." ucap lira dan berjalan keluar dari kamar itu.


"Tunggu aku, kita sarapan bersama.!" teriak liyon pada lira yang berjalan keluar.


"Ah, sekretaris Lira?" sapa farid dengan nada bertanya karna dia sudah menduga kalo bosnya akan ada bersama dengan lira jika menyuruhnya membeli baju untuk wanita.


"Em, se - selamat pagi." sapa lira dengan terbata dan malu pada farid.


"Kau sudah sampai." liyon berkata dengan santai keluar dari ruang istirahat.


"Iya, dan ini sarapan yang tadi bos mau." Farid menyerahkan bungkusan makanan yang tadi diminta liyon lewat pesan singkat.


"Iya, apa kau sudah sarapan?" tanya liyon dan dijawab anggukan oleh Farid.


"Kak ayo kita makan dulu." ajak liyon pada lira tanpa rasa malu dan menutupi hubungan mereka padahal di situ masih ada Farid.


"Kak?" panggil liyon lagi pada lira yang masih berdiri tegak ditempatnya karna merasa malu pada farid.


"Kenapa? Bukankah Farid sudah pernah melihat kita berc*uman." ucap liyon lagi dengan santai.


"Uhuk uhuk." lira terbatuk karna terkejud dengan ucapan liyon, dan Farid terdiam dengan menahan rasa malu karna dia merasa bagai obat nyamuk untuk mereka berdua.


"Kemarilah, atau mau aku suapin? Terserah kakak mau ku suapain dengan sendok atau dengan mulutku langsung." liyon berkata dengan senyuman menggoda lira.


"Diam lah.! Aku akan makan sendiri." bentak lira dan langsung duduk di sofa serta memakan sarapannya.


"Hahahaha...Makan pelan - pelan saja, Farid kau keluar dan siapkan ruang rapat untuk pagi ini karna dia malu." ucap liyon yang tau kalo lira malu pada farid.

__ADS_1


"Baik bos." Farid berbalik dan keluar serat pergi menyiapkan ruang rapat dan juga mengambil berkas yang ada di ruangannya yang akan dibahas dalam rapat kali ini.


__ADS_2