
Farid sangat marah pada Liyon dan juga Satria yang melakukan rencana tanpa sepengetahuannya. Farid merasa kalau dia tak lagi dibutuhkan oleh Liyon yang selama ini telah dia ikuti sangat lama, bahkan telah dianggapnya sebagai satu - satunya keluarga dan merupakan tumpuhan hidupnya.
"Apa - apa'an kalian. Anak dan istriku masih baik dibanding dengan anak dan istri kalian, tapi kalian membuat rencana tanpa aku. Kalian benar - benar kelewatan, apa kau sudah tak butuh dengan aku Liyon?" tanya Farid dengan raut wajah sedih.
"Aku mau ikut, dan aku datang ke sini karena aku ingin memberi tau siapa dalang dibalik semua kejadian penculikan tempo hari karena akhirnya Meli mau buka suara dan menceritakan semuanya." jelas Farid dengan tak sabar dan juga kesal pada kedua temannya itu, apa lagi Liyon yang sudah dianggapnya sebagai saudara.
"Apa. Benarkah, siapa dia?" tanya Satria dan juga Liyon bersamaan.
"Ajak aku dalam perburuan akan ku kasih tau siapa orangnya." jawab Farid, dan Liyon sama Satria saling lihat yang akhirnya Farid pun bergabung.
Setelah itu Farid menceritakan semua yang dia dengar dari Meli, dan bagaimana cara mereka menyiksa semuanya hingga terjadi insiden yang tak mengenakkan seperti saat ini. Liyon dan Satria mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan oleh Farid. Dan dari cerita Farid Liyon bisa menebak siapa orangnya walau tak disebutkan siapa namanya karena Meli tak tau namanya.
Setelah tau siapa orangnya mereka bertiga pun melakukan perundingan dan membuat rencana untuk membalas semuanya sesuai dengan apa yang akan mereka dapatkan nanti. Rencana mereka bertiga tak melibatkan orang lain selain ke tiganya dan bintang utamanya adalah Liyon sendiri karena kejadian penculikan itu bisa sampai terjadi semua karena disebabkan oleh rasa kecemburuan terhadap Liyon.
...🍂🍂🍂...
"Sayang anak - anak mama, kalian harus kuat dan cepatlah keluar dari tabung kaca ini." ucap Lira mengelus inkubator bayi yang tertutup rapat dengan bayi mungil didalamnya.
"Lira, kau di sini. Tunggu mereka kuat dan biarkan berat mereka setidaknya mencapai 2000 gram biar mereka kuat dengan kehidupan diluar inkubator ini." ucap Bagas yang datang ingin mengecek kesehatan bayi - bayi Lira.
"Apakah mereka sehat?" tanya Lira dengan tatapan yang sendu.
"Tentu saja mereka sehat, apa kau tak lihat sekarang mereka sudah tak bergantung dengan alat, hanya karena berat mereka belum mencukupi Liyon meminta agar mereka di sini dulu sampai benar - benar siap." jawab Bagas dan Lira tersenyum mendengar penjelasan itu.
"Baiklah, biarkan mereka istirahat. Sekarang ayo aku temani kamu ke ruangan Ferdi karena aku juga ingin mengecek keadaannya siapa tau ada keajaiban untuk jagoan mu itu." ajak Bagas pada Lira untuk ke ruang rawat Ferdi yang masih terbaring koma.
"Katakan apa yang terjadi pada Ferdi, tak ada masalahkan dengan dia? Apa dia akan bangun? Kapan dia bangun ini sudah 1 bulan lebih kenapa dia masih juga belum mau bangun." Lira bertanya begitu banyak pertanyaan tanpa henti dan itu membuat Bagas spontan memeluk tubuh Lira.
Dalam pelukan Bagas Lira menangis karena dia takut dengan kabar yang tak akan sanggup dia dengar tentang putra pertamanya yang selama ini selalu menemani dia dalam keadaan sulit. "Buat dia bangun Bagas, ku mohon buat dia bangun." suara Lira bergetar takut dan tubuhnya juga ikut bergetar.
"Tenangkan dirimu, jangan tunjukkan emosi yang kacau didepannya kamu harus tenang." Bagas menepuk - nepuk punggung Lira yang berada didalam pelukannya.
"Ayo kita masuk untuk melihatnya." Bagas mengurai pelukannya dan membuka pintu ruang rawat Ferdi.
Jantung Lira berdebar sangat kuat setiap kali melihat Ferdi yang terbaring dengan terpasang begitu banyak alat di tubunya yang kecil, dengan wajah yang pucat dan mata yang tertutup rapat dan nafas berhembus pelan.
"Eh, apa ini?" Bagas terkejud melihat monitor yang terhubung dengan gelombang otak Ferdi.
"Apa yang terjadi, katakan ada apa? Bagas?!" Lira kaget dan juga takut saat dia melihat reaksi Bagas yang terkejut saat memeriksa Ferdi.
__ADS_1
"Kemaren ada reaksi dari gelombang otak Ferdi, sepertinya kemaren dia merespon sesuatu tapi tak tau apa dan sepertinya juga ada pergerakan." ucap Bagas tersenyum pada Lira.
"Apa maksudnya itu? Apakah ada masalah dengan dia?" Lira bertanya dengan bingung karena tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bagas.
"Tidak, justru ini adalah kabar bagus. Dia bisa merespon setiap pembicaraan kita itu artinya kemungkinan tak akan lama lagi dia akan terbangun jika dia mendapatkan rangsangan positif." jelas Bagas dengan sangat senang.
"Apa, benarkah?" Lira sangat senang dia memeluk Bagas dan juga tertawa terbahak dan menangis bersamaan dengan tawanya.
Kabar kebahagiaan itu memenuhi relung dada Lira. Hingga Lira tak bisa mengontrol emosinya antara bahagia dan sedih semua bercampur aduk jadi satu. Lira tersenyum namun juga menangis tersedu - seduh.
"Semua akan baik - baik saja, tinggallah di sini aku akan berkeliling lagi." ucap Bagas menepuk bahu Lira.
"Iya, aku akan menemani putraku karena aku masih ingin bicara dengannya lebih lama lagi." jawab Lira tersenyum dengan air mata dikedua pipinya.
...🍂🍂🍂...
Disebuah bar mewah ada seorang pria yang sedang mabuk berat dengan ditemani oleh beberapa wanita, pria itu sangat menikmati pelayanan dari para wanita - wanita itu.
"Niyang kau benar - benar kurang ajar ya, kenapa kau membiarkan aku tidur dengan seorang pria?! Apa kau tak tau aku sedang hamil?!" kesal Yusnia pada Niyang yang meninggalkan dirinya yang sedang mabuk dengan seorang pria.
"Kenapa kau menyalahkan aku, bukankah kau sendiri yang meminta apa kau tak ingat?" tanya balik Niyang dengan sangat meyakinkan sehingga membuat Yusnia tak bisa membedakan mana yang benar dan bohong.
"Sudahlah lupakan." jawab Yusnia yang akhirnya tak melanjutkan protesnya dan beranjak pergi.
"Ya ampun tuan berjalanlah dengan benar." seorang wanita sedang membopong pria yang sedang mabuk berat dan berjalan ke arah luar bar.
"Eh, sepertinya aku kenal siapa pria itu. Tapi tidak mungkin." Niyang bergeleng karena tak mungkin apa yang dia pikirkan itu benar.
"Wah beruntung sekali ya Seli bisa menemani pria itu, aku yang kemaren saja masih ketagihan dan kurang. Andai saja dia Meu dilayani dengan orang yang sama pasti aku akan selalu menawarkan tubuhku untuk selalu dipermainkan olehnya hahaha," ucap seorang wanita nakal membahas pria yang tadi dibopong oleh temannya.
"Wah iya aku tak sabar menunggu giliran, dan melayani temannya juga sangat luar biasa." jawab dari teman wanita nakal itu.
Wanita nakal 1 : "Haaah, mereka bertiga sungguh sangat harum dan juga sungguh sangat kuat, apa lagi saat itu,,, wah aku tak bisa menghilangkan dari ingatan ku bagaimana dia membuat aku merasakan kepuasan yang sangat luar biasa."
Wanita nakal 3 : "Benar, pasti istri - istri mereka sangat puas setiap hari karena mereka sangat kuat dan juga gagah."
Wanita nakal 1 : "Ah rasanya aku ingin menikmati tubuh dia lagi."
Wanita nakal 2 : "Tunggulah giliran karena kita pasti akan bisa menikmati semuanya."
__ADS_1
Wanita nakal 1 : "Hem, aku justru malah tertarik bermain lagi dengan tuan Liyon karena dia memiliki stamina yang sangat luar biasa dan juga tenaganya sangat kuat, membuat aku selalu membayangkannya."
"Deg," Niyang terkejud dengan apa yang dikatakan oleh para wanita itu, "Apa yang kau katakan tadi, siapa? Ulangi siapa namanya." tanya Niyang dengan marah pada ketiga wanita yang sedang menikmati minuman dan juga obrolan mereka.
"Apa - apa'an wanita ini." jawab wanita nakal 1 dengan kesal.
"Cepat katakan?!" teriak Niyang dengan mencekram tangan wanita itu.
"Liyon, kenapa?! Apa kau kenal hah?! Tapi kau telat karena Seli sudah membawahnya pergi dan mungkin mereka sudah sampai di hotel sekarang." jawab wanita nakal 1 dengan menarik kasar tangannya yang dicekram oleh Niyang dengan kuat.
"Kemana mereka pergi, cepat katakan!!" Niyang sudah emosi besar.
"Hotel Sanken." jawab wanita nakal 3 dengan takut.
"Niyang ada apa, kenapa kau terlihat marah." yusnia yang baru kembali dari kamar mandi mendapati kalau Niyang sedang kesal.
"Aku ada urusan pergi dulu." Niyang meninggalkan Yusnia dan langsung pergi ke hotel Sanken tanpa berfikir panjang.
"Kenapa dengan dia?" yusnia bertanya - tanya dengan bingung.
"Dia ingin pergi ke hotel Sanken mengejar teman ku yang membawah pria, sok dia kenal." jawab wanita nakal 1 dengan sangat marah dengan memijat pergelangan tangannya yang terasa sakit.
"Siapa nama pria yang dibawah oleh teman kalian?" tanya Yusnia bingung.
"Tuan Liyon, kenapa kau juga kenal dengannya?" jawab wanita nakal 1 dengan mengejek.
"Apa, berani sekali Niyang menikam ku dari belakang." yusnia pun pergi dengan taksi menuju hotel Sanken dengan sangat marah.
...🍂🍂🍂...
"Nona mau tanya, apa tadi Liyon kesini? Dia ada dikamar nomor berapa?" tanya Niyang pada resepsionis dengan tak sabar.
"Maksud anda bos Liyon? Beliau tak kesini, mungkin di hotel baru beliau." jawab pegawai resepsionis itu.
"Niyang.!" teriak Yusnia yang berhasil menyusul Niyang ke hotel Sanken.
"Jangan banyak tanya kita harus mengambil Liyon dari wanita itu." ucap Niyang berjalan keluar.
"Mau kemana? Kamu jangan membohongi aku lagi." yusnia mengikuti Niyang dari belakang.
__ADS_1
Mereka berdua pun naik mobil Niyang dan menuju ke hotel Liyon yang lainnya lagi, di sana mereka bertanya dan mendapatkan nomor kamar hotel yang ditempati oleh Liyon dengan wanita itu. Dengan cepat Yusnia dan Niyang berjalan menuju kamar itu dan mereka berdua mendapati Liyon sedang bercumbu dengan seorang wanita.
Dengan cepat Niyang dan Yusnia menghentikan aktifitas Liyon dengan wanita itu dengan menerobos masuk kedalam kamar hotel yang ditempati oleh Liyon. Mendengar suara Niyang dan juga Yusnia yang berhasil menyusul dirinya, mata Liyon terbuka dengan senyuman terukir dibibirnya karena rencananya berhasil. Liyon dengan posisi masih memeluk wanita yang dia bawah mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh Niyang dan Yusnia.