
Kegiatan baru lira adalah pulang pergi ke kantor bareng dengan liyon yang alasannya adalah balas Budi dengan merawat liyon karena liyon terluka demi menolong dirinya, dan semua teman kantornya tau seperti itu karena Yanuar yang memberi tau semua orang.
"Duh lira kamu pasti capek banget ya sudah seharian ketemu sama bos saat pulang masih merawatnya, apa bos bukan orang yang sulit untuk ditangani? Dia terlihat sangat dingin di kantor apa lagi saat rapat, wiiiiiih, serem." bisik Endang pada lira yang baru saja datang bareng liyon.
"Iya benar dia orangnya sangat merepotkan dan suka menindas orang, untung saja dia seorang bos kalau tidak aku sudah menghajarnya." balas lira dengan berbisik juga.
"Apa yang sedang kalian bicarakan Serua banget kelihatannya." Safitri ikut nimbrung
"Lagi bicarain bos." jawab Endang berbisik.
"Emang kenapa dengan bos?" Safitri makin penasaran, orang merupakan pekerja paling tekun dan teliti seperti Safitri masih bisa penasaran juga dan suka bergosip juga.
Mereka bertiga pun bicara sambil berbisik dan tertawa bersama yang tentunya tawa yang sedikit ditahan biar gak ketahuan sama orang yang lagi dibicarakan bersama.
Sementara lira yang sibuk dengan pekerjaannya merawat liyon, begitu juga dengan satria yang juga sibuk merawat Yuniar yang semakin hari jadi semakin banyak tingkah dan juga memusingkan.
"Kak tolong lah apa yang kakak lakukan sebenarnya dan kenapa ini semua ada di sini kan jadi berantakan semuanya." keluh Satria yang melihat banyak alat masak di sembarang tempat dan berserakan.
"Memangnya kenapa? Nanti juga akan ku bereskan, setiap hari juga begitu." jawab Yuniar dengan ketus yang lagi asyik memasak dengan menonton acara kesukaannya Indonesia multitalent.
"Ya setidaknya rapikan yang tak dipakai, masak mau jalan saja susah." balas satria sambil memunguti alat masak itu dan belum ganti baju sepulang kerja.
"Iya iya aku yang salah, sini biar aku bereskan sekarang." Yuniar mengambil paksa apa yang dipegang satria dan langsung membawahnya ke dapur.
"Ya Ampun salah lagi aku, kenapa jadi seperti ini sih hubunganku Daan kenapa dia jadi begitu memusingkan, di omongin sedot nangis, ditanya dan dikasih tau juga nangis, ditinggal tidur diluar apa lagi." satria mengacak rambutnya merasa capek dan tak tau harus berbuat apa pada wanita yang selalu menangis.
"lama kelamaan dia malah menjadi wanita yang memusingkan, sakit kepala ku." gumam satria yang pergi ke kamarnya dan mandi.
"Tunggu, ada yang aku lupakan. Liyon bukan kah waktu di rumah sakit waktu itu dia bilang kalau kakak ku adalah kekasihnya? Jadi sekarang kakak ada bersama liyon?"
"Ah, sial kenapa aku baru sadar sekarang."
__ADS_1
Satria keluar kamar mandi dan meraih hanponnya untuk menghubungi liyon menanyakan soal kakaknya dan mau memberinya peringatan agar tak macam - macan dengan kakaknya.
"Sat. Eh?" Yuniar tertegun melihat satria yang berdiri didepan almari dengan memegang hanpon tanpa busana sama sekali.
"Halo liyon dimana kakak ku sekarang? awas ya kamu jangan macam uhg...Apa yang kau ah...Lakukan?" kalimat satria jadi terdengar aneh bagi liyon karena tiba tiba saja Yuniar bertengger dibawah satria dan memainkan ekor satria dengan lidahnya.
"Hei sebelum memarahi aku sebaiknya selesaikan dulu urusan mu di sana." ejek liyon dan langsung mematikan sambungan telponnya.
"Kak, ah. Yuniar apa yang sedang kau lakukan ini?" satria menahan pergerakan kepala Yuniar.
"Habisnya kamu berdiri tanpa apa apa jadi aku tergoda." jawab Yuniar mendongak melihat satria.
"Iya tapi jangan lakukan, karena kamu baruh saja pulih. Aku tak mau menyakiti mu." satria membawah Yuniar bangun
"Tapi nanggung dia sudah bangun dan berdiri dengan tegak." ucap Yuniar sambil menoel ekor satria.
"Ugh, Yun hentikan dia bisa tidur lagi nanti, tapi kali kau terus mengganggu aku akan tak akan menahannya lagi." ucap satria mengeratkan pegangan tangannya di bahu Yuniar.
"Jangan salahkan aku, kau yang memulai." satria mulai tak mampu untuk bertahan dan memilih menumbangkan Yuniar.
Yuniar tertawa lepas melihat itu dan dia terlihat sangat menikmati setiap sentuhan dan permainan dari satria yang sangat lembut dan penuh kehati hatian.
"Terima kasih kak, kau sangat luar biasa dan aku sangat menyukai mu. Jangan tinggalkan aku lagi." bisik satria setelah mereka menyelesaikan permainan mereka.
"Iya aku juga tak menyangka kalau aku sangat menyukaimu, dulu aku melihat mu sebagai seorang adik tapi entah kenapa setelah malam itu aku jadi selalu berdebar tiap kali ingat dirimu." jelas Yuniar yang berbunyi didada satria.
"Hem benarkah? Tapi kamu menolak ku dan memilih kembali pada mantan mu." satria berkata dengan menatap Yuniar.
"Aku berfikir itu hanya karena hubungan malam yang tak sengaja kita, namun saat aku bersama dengan Denis dan saat dia ingin menyentuhku aku jadi teringat akan dirimu dan aku jadi jijik dengan Denis. Dan disaat itulah aku mulai sadar kalau aku menyukai mu dan melihat mu sebagai seorang pria bukan lagi seorang adik." Yuniar tersenyum menatap satria.
"Terima kasih sudah mau mencintai ku, dan aku sudah mencintai kamu sejak lama sekali, waktu aku masih duduk di bangku kelas 3 sekolah menengah atas." jawab satria dan mengeratkan pelukannya pada Yuniar.
__ADS_1
Yuniar tertawa, "benarkah? Dari sejak itu kamu menyukai aku, itu sangat lama sekali." Yuniar terharu karena satria menyukai dirinya dari sejak lama.
Kebahagiaan seolah berpihak pada Yuniar dan satria yang sedang dimabuk cinta, dan saling mengungkapkan perasaan masing masing.
Disisi ini ada satria dan Yuniar disisi lain ada liyon dan lira, mereka sedang cekcok masalah pengobatan pada luka liyon yang sudah dibuka dan butuh diberi salep secara rutin agar cepat kering.
"Tak bisakah kamu diam?!" kesal lira pada liyon yang terus saja bergerak saat lira sedang mengoleskan salep pada lukanya.
"Tapi aku ingin kak? Ayo dong kak berikan? sekali saja aku janji cuma sekali ya?" dengan wajah memelas liyon menatap lira.
"Tidak, sekali tidak ya tidak." bentak lira dengan tegas.
"Ya...Tapi aku benar - benar pengin kak, aku mohon ya? 1 ronde aku janji cuma 1 ronde. Tubuh ku sudah kaku semua ini kak, butuh peregangan." liyon masih saja merengek pada lira.
"Liyon lukamu baru saja sembuh dan jahitannya juga baru saja diambil, jangan sok jago kamu. Sebaiknya istirahat tidur yang benar." kesal lira pada liyon yang dianggap tak bisa menyayangi tubuhnya sendiri.
"Duh, dia benar - benar wanita yang memusingkan dan sulit dirayu, kalau sudah kemauannya maka tak bisa dilanggar atau ditawar." gumam liyon yang melihat lira berjalan menjauh.
"Lagian kamu aneh - aneh saja, baru juga tadi siang diangkat jahitan sekarang sudah minta yang aneh - aneh." ucap farid dan meninggalkan liyon di ruang kerjanya seorang diri.
"Hai kau jangan ikut - ikutan ya, memangnya kau tau apa.?" kesal liyon pada yang meledek dirinya dan membela lira.
Liyon semakin bingung dan pusing membujuk lira setiap hari selalu saja bikin liyon pusing karena lira sangat mematuhi perintah dari dokter, "Duh kenapa punya wanita yang tak mempan dengan bujuk dan rayuan sih bikin pusing saja." gumam liyon dengan kesal.
"Dia dulu bisa menerima ku dan mau jadi kekasihku ku apain ya? Masak iya sekarang aku juga harus bersimpuh didepannya dan memohon."
"Lira.! Lira lira hah." liyon menghela nafas dalam
"Sudah sepi, apa semuanya sudah istirahat?" liyon melangkah keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke kamar lira.
"Hehe coba lihat itu dia tetap saja suka tidur sembarangan." liyon masuk dan membetulkan posisi tidur lira yang berantakan.
__ADS_1
"Malas balik ke kamar tidur di sini juga saja, jangan nakal ya sayang...Sekarang tidur dulu, besok ku pikirkan caranya merayu mu." liyon berbaring disebelah lira dan tertidur dengan memeluk lira.