
Didalam ruang pertemuan itu ada sekitar 12 orang dari pihak tuan Haris, karena diadakan rapatnya di perusahaan tuan Haris dan dipilih pada akhir pekan karena sekalian liyon sedang berkunjung ke cabang kantornya yang berada di wilayah tuan Haris.
"Ya, katakan pelan pelan kak, karena aku sedang rapat dan besok akan pulang." jawab liyon tersenyum mendengar suara lira yang sangat bersemangat.
"Tidak bisa aku harus bilang sekarang juga karena aku sudah tak bisa lagi menunggunya lebih lama. Aku mau bilang kalo aku suka sama kamu dan aku mau jadi pacar kamu?!" teriak lira yang dibarengi suara kendaraan yang lewat dari balik panggilan lira, namun liyon masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh lira dengan sangat jelas.
Deg
Liyon terkejud mendengar kata kata dari lira yang tak pernah dia duga sebelumnya dan hatinya terasa hampir meledak karena sangat senang dengan pernyataan cinta dari lari, terlebih lagi cintanya telah bersambut yang artinya lira tidak lagi marah pada dirinya dan juga tak takut lagi.
"Apa? Apa yang kakak katakan, aku tak bisa mendengar apa yang baru saja kakak ucapkan. Bisakah kakak mengulanginya lagi." pinta liyon dengan senyum yang mengembang dan membuat panggilan itu agar bisa didengar oleh semua orang yang ada didalam ruangan itu dengan menekan tombol pengeras suara.
"Ah, kamu tak mendengarnya ya? Baiklah, ku katakan lagi kalo aku mau jadi pacar kamu. Karena aku menyukaimu." ucap lira lagi mengulang kata katanya tadi.
"Ehem." liyon tak bisa menyembunyikan senyumannya dan semua orang dalam ruang pertemuan itu bisa mendengar ucapan apa yang diteriakkan oleh lira dari balik telponnya karena liyon sengaja membuat panggilan telponnya diperbesar dan bisa didengar semua orang dengan mengloudspeaker panggilan itu agar tuan Haris yang ingin mendekati lira tau kalo lira adalah miliknya dan orang yang disukai oleh lira adalah dirinya bukan orang lain.
"Baiklah aku bersedia untuk mengabdikan diriku jadi kekasih kakak, jadi jangan ditarik lagi apa yang sudah kakak katakan hari ini, karena aku tak menerima pembatalan." jawab liyon dengan tersenyum lebar.
"Iya, iya aku tak akan menariknya lagi." jawab lira langsung dengan nada yang terdengar sangat bersemangat.
"Katakan sekarang kakak lagi ada dimana? Kenapa terdengar banyak sekali suara kendaraan, jangan membuat ku khawatir. Sekarang kakak harus pulang dulu dan jangan membuat aku khawatir karena aku sangat menyukai dan juga merindukan kakak. Ok Baby." ucap liyon dengan suara sangat bahagia.
"Baiklah baiklah aku akan segerah pulang sekarang, dan aku ada di taman dekat jalan raya. Oya besok jika kamu sudah pulang tolong hubungi aku ya? Karena aku ingin bertemu dengan mu." ucap lira sebelum dia mematikan sambungan telponnya.
"Ok, siap baby. Aku akan langsung menemui kakak begitu aku sampai besok." jawab liyon dan akhirnya mematikan sambungan telponnya.
"Maaf pembicaraan kita jadi terhenti karena aku. Tapi aku minta pada kalian semua yang ada di sini untuk pura pura tidak tau ya dengan semua yang tadi ku bicarakan, karena kekasihku ini orangnya sangat pemalu dan dia juga tak suka jika hubungan kami dipublikasikan." jelas liyon pada semua orang yang ada didalam ruangan itu.
"Huh, dirahasiakan tapi dirinya malah mengeraskan suara panggilan telponnya, narsis sekali dia bikin kesel saja." gumam tuan Haris dalam hati dan menatap liyon dengan tatapan yang terlihat menyindir.
"Dia adalah sekretaris ku yang nanti pasti akan sering bertemu dengan kalian, karena dia adalah orang yang menangani proyek kerja sama ini." sambung liyon lagi dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
"Maksud tuan Li, dia adalah sekretaris Lira?" tanya salah satu anak buah tuan Haris.
"Ya, dia orangnya. Baiklah ayo kita lanjutkan sampai mana kita tadi, karena aku ingin cepat selesai agar bisa segerah pulang untuk menemuinya." ucap liyon dan langsung melanjutkan pembicaraannya.
__ADS_1
"Apa dia orangnya?" tuan Haris terkejud dan liyon bisa melihatnya dengan jelas.
Setelah itu pembicaraan dilanjutkan lagi sampai selesai, dan terlihat jelas kalo tuan Haris ingin sekali segerah diakhiri pertemuan ini dan bertanya pada liyon soal kebenaran ucapannya tadi.
"Cih, kau terlihat begitu senang." celetuk tuan Haris pada liyon saat mereka telah selesai dalam obrolan dan pbahasam kerja sama mereka.
"Dari awal dia memang milik ku. Kau saja yang tiba tiba menempel saat selesai bertemu dia di pesta Lean." jawab liyon dengan sedikit menyindir, sambil berjalan menuju ke parkiran.
"Kau harus menjaganya dengan baik, jika tidak maka aku akan merebutnya dari mu." tegas tuan Haris dan liyon hanya menanggapi semuanya dengan senyuman.
"Hah, syukurlah nona lira akhirnya menerima dia. Jadi dia tak akan jadi orang linglung lagi jika di rumah." suara hati Farid yang melihat liyon selalu tersenyum.
"Entah peristiwa apa lagi yang akan terjadi di rumah nanti." gumam liri Farid yang mengikuti liyon berjalan dibelakang liyon
Setelah sampai diparkiran liyon dan tuan Haris berpisah, dan liyon bersama dengan Farid langsung menuju ke hotel untuk istirahat.
...🍂🍂🍂...
"Hem sudah jam 11 malam pasti kakak sudah tidur, besok aku mau pulang lebih cepat karena aku ingin segerah ketemu sama kakak." gumam liyon didalam kamar hotelnya.
"Liyon kau telah jadi kekasihnya kakak, kau adalah miliknya Lira Anggraini. Dan mulai sekarang kau harus selalu bersama dengannya." ucap liyon pada dirinya sendiri.
"Ya Ampun Liyon apakah boleh kebahagian ini menjadi milik mu?"
"Ya tentu saja boleh, kau telah menjadi miliknya dan akan selalu menjadi miliknya, hanya milik lira seorang."
"Keputusan ku sangat tepat dengan membatalkan Vasektomi waktu itu, dan sekarang sudah lewat satu setengah bulan jadi kondisi ku telah pulih seutuhnya.
Liyon terus saja berbicara sendiri seperti orang gila karena merasa bahagia, dan itu semua membuat dia tak merasakan ngantuk sama sekali.
Keesokan paginya liyon langsung chek out dari hotel subuh subuh agar sampai lebih cepat dan bisa bertemu dengan lira lebih cepat.
Tepat pukul 5 pagi liyon telah keluar dari hotel itu dan dia sendiri yang menyetir karena dia ingin cepat sampai dan ketemu sama lira.
"Duh bos pelan pelan saja, caramu membawah mobil bikin aku ngeri" keluh Farid yang sedang duduk disampingnya.
__ADS_1
"Kamu diam saja jangan banyak cerewet." jawab liyon tanpa melihat Farid yang ketakitan dan berpegangan dengan erat serta meringkuk ditempat duduknya.
Tepat pukul 7 pagi liyon telah sampai di Jakarta, perjalanan dari Bandung yang memakan waktu 2 jam membuat liyon sangat tak sabar.
"Farid, turun dan naiklah taksi aku akan membawah mobilnya, aku ingin ketemu sama kakak langsung." perintah liyon pada farid begitu dia hampir sampai di dekat daerah rumah lira.
"Ok, hati hati lah." farid keluar dari dalam mobil dengan bernafas lega.
Brrrrt
"Kak aku sudah sampai. Sekarang aku ada didekat rumah kakak." ucap liyon begitu sambungan telponnya tersambung dengan lira.
"Baik, aku akan keluar ke taman." Lira langsung bergegas keluar rumah dan berjalan menuju taman dipinggiran jalan dan mematikan sambungan telponnya, lira menunggu dan duduk disebuah ayunan dengan hati yang berdebar hebat.
"Kak.!" teriak liyon dari kejauhan dan berjalan menghampiri lira.
"Ya Ampun cowok keren dan tampan itu sekarang adalah kekasih ku, ingin rasanya aku berteriak dan bilang pada orang orang yang ada di sini semuanya kalo dia itu adalah milik ku." suara hati lira yang berdiri menatap liyon yang sedang berjalan mendekati dirinya dengan senyuman yang sangat manis dan menambah ketampanannya.
"Kakak sudah menunggu lama di sini?" tanya liyon pada lira saat dia sampai dihadapan lira.
"Aku sangat merindukan mu kak." ucap liyon yang langsung menarik tubuh lira dan memeluknya dengan sangat erat, seolah dia tak bertemu selama berabad abad.
"Katakan padaku, kita telah resmi berpacaran sekarang?" tanya liyon setelah dia mengurai pelukannya pada lira.
"Iya kita resmi pacaran, kamu adalah milik ku seorang." jawab lira dan itu terlihat menggemaskan bagi liyon, dia ingin sekali menc*um lira tapi tak berani karena belum minta ijin pada lira. Jadi diganti liyon dengan pelukan lagi yang lebih erat lagi dari yang tadi.
"Kau adalah kekasihku dan kau adalah milik ku, aku sangat bahagia sekali. Rasanya seperti mimpi saking bahagianya." ucap liyon yang masih memeluk tubuh lira sangat erat.
"Li - Yon, sesak aku tak bisa bernafas." ucap lira terputus karena pelukan liyon yang sangat kuat.
"Maafkan aku, aku tak bisa mengontrol diri karena saking bahagianya." liyon menatap lira dan mengusap pipi lira lembut.
"Ayo kita mencari sarapan, kakak belum sarapan kan?" liyon bertanya dengan tersenyum yang sangat manis bagi lira.
Liyon dan Lira pun pergi mencari sarapan, setelah itu mereka menghabiskan waktu bersama dengan berjalan jalan di tugu monas dengan bergandengan tangan dan berbaur dengan banyak orang seperti pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1