Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Permintaan sang nyonya


__ADS_3

Setelah 1 Minggu dirawat di rumah sakit lira pun sudah diperbolehkan untuk pulang, dan dengan dijemput oleh Satria sama Yuniar lira pulang dan tinggal bersama dengan mereka selama pemulihan karena tangan kiri lira retak akibat menabrak dinding pagar saat kecelakaan.


Liyon : "Sat bagaimana keadaan lira?"


Satria : "Kakakku baik - baik saja dan ada urusan apa kamu menghubungi ku? Hanya tanya soal kakakku saja? Aku ucapkan terima kasih atas perhatianmu pada kakakku, dan aku butuh ketemu dengan mu Liyon."


Liyon : "Ya baiklah kapan kita akan bertemu."


Satria : "Akhir pekan besok."


Liyon : "Ok, di tempat mu atau di tempat ku?"


Satria : "Tidak, kita ketemu di kafe saja."


Liyon : "Baiklah, hubungi aku jika sudah kau tentukan tempatnya."


Tut (sambungan telepon terputus)


"Hah, aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Apakah harus aku bongkar sekarang?" gumam liyon didalam ruang kerjanya di rumah.


"Lira, aku sangat merindukan mu kak. Aku tak peduli apa yang harus aku lakukan, walau itu harus memaksa Satria aku akan lakukan jika dia menghalangiku." liyon menatap foto lira dalam hanponnya.


...🍂🍂🍂...


Didalam rumah lira, Yuniar dengan sangat telaten membantu lira melakukan segala aktifitas sehari - hari mulai dari ganti baju dan mandi, karena lira masih membutuhkan bantuan untuk melepas bajunya dan menggunakannya lagi.


"Lira kamu tak apa?" tanya Yuniar saat dia membantu lira membersihkan tubuhnya dan rambutnya karena tangan kiri lira tak bisa digunakan.


"Aku tak apa, oh iya aku dengar katanya Denis ingin balikan sama kamu lagi?" tanya lira mengalihkan pembicaraan atas dirinya.


"Iya, tapi aku sudah menolaknya dan aku tak mau lagi dengan dia, karena aku telah jatuh cinta dengan Satria. Aku tak mau berurusan dengan orang kejam dan keji seperti Denis lagi. Karena dia ternyata hanya pencitraan saja sikap lembutnya itu selama ini." jelas Yuniar dengan geram dan kesal.


"Aku juga akan menjual rumah ku dan pindah agar dia tak tau dan tak menggangguku lagi." sambung Yuniar sambil mengeringkan rambut lira.


"Jika kalian mau tinggal bersama maka tinggal lah di rumah ku ini, kamu bisa menjual rumah mu dengan segerah, tanpa harus memikirkan tepat tinggal baru. Karena aku akan balik ke kampung dan tinggal bersama dengan kedua orang tua ku." jawab lira dan itu membuat Yuniar kaget.


"Apa maksud mu. Kamu mau melepaskan liyon begitu saja?" tanya Yuniar dan tak ada jawaban dari lira.


"Lira?!" Yuniar menggoyang tubuh lira untuk menyadarkan lira dari lamunannya.

__ADS_1


"Ah, dingin aku mau pakai baju." jawab lira dan yuniar langsung membantu lira ganti baju.


"Lira tolong jangan ada yang kamu tutupi dari aku, katakan apa yang sebenarnya terjadi pada mu?" Yuniar bertanya dengan mengibah setelah membawah lira kedalam kamarnya.


"Yuniar, sebenarnya sebelum kecelakaan ini terjadi aku ketemu sama nyonya Li (mama Liyon) sebelum aku ke kantor tuan Haris, dan nyonya Li meminta sesuatu pada ku. Karena aku sudah berjanji padanya sebelumnya jadi aku menerima semua permintaannya." jawab lira menceritakan pada Yuniar sahabatnya yang akan menjadi iparnya itu.


"Maksud mu?" Yuniar menatap lira dalam


"Memangnya apa yang diminta oleh nyonya Li pada mu?" tanya Yuniar setelahnya.


Lira menghela nafas dalam sebelum dia menceritakan apa yang diminta oleh nyonya Li pada dirinya, dan apa yang dijanjikan oleh nyonya Li, serta pilihan yang ditawarkan.


Kejadian 1 minggu sebelumnya.


"Lira kamu dimana sekarang? Bisakah kita bertemu dan bicara sebentar?" tanya nyonya Li lewat panggilan telepon saat lira mau berangkat ke kantor tuan Haris.


"Iya nyonya bisa, saya sedang dijalan mau menyerahkan berkas ke kantor mitra Bos Liyon dijalan SS." jawab lira dengan tenang ajakan nyonya Li.


Setelah itu lira menerima pesan singkat dari nyonya Li tempat untuk mereka bertemu, dan lira langsung mengirimkan pesan singkat pada sekretaris tuan Haris kalau dia akan datang telat karena ada urusan sebentar.


"Pak bisakah kita ke restoran Cina didekat kantor tuan Haris sebentar? Karena ada yang mau saya urus." tanya lira pada supir kantor yang mengantarnya.


"Iya baik pak, terima kasih." jawab lira dengan sopan dan supir itu tersenyum pada lira.


"Lira." sapa nyonya Li saat sudah sampai di restoran Cina dan melihat lira sudah duduk dengan tenang disalah satu meja tamu dengan es lemon tea didepannya.


"Nyonya selamat datang, maaf merepotkan nyonya." balas lira dengan sopan menyambut kedatangan nyonya Li.


"Iya duduklah lira." ucap nyonya Li dan keduanya pun duduk.


"Lira aku mau mengatakan sesuatu pada mu, bukankah waktu itu kamu sudah berjanji pada ku bahwa kamu tak akan menjadi gangguan bagi liyon dan yusnia." ucap nyonya Li pada lira dan menatap lira yang terlihat sangat tenang.


"Iya nyonya, silakan katakan apa yang ingin nyonya minta pada saya." jawab lira dengan nada bicara yang sangat tenang.


"Lira aku tau mungkin ini akan tak adil bagi kamu, oleh karena itu aku menawarkan 2 hal pada mu, aku akan mengenalkan kamu dengan orang yang tepat dan pas untuk kamu jika kamu tak suka dengan Rian maka aku bisa Carikan kamu orang lain dan yang kedua aku juga akan membukakan usaha untuk pekerjaan baru kamu sebagai ganti dari pekerjaan mu yang sekarang." jelas nyonya Li.


"Maaf nyonya saya belum kepikiran untuk semuanya dan saya juga tak berfikir kalau saya dan tuan Rian akan cocok, dan untuk pekerjaan nyonya tak perlu repot karena saya bisa mencari sendiri pekerjaan saya nanti." jawab lira dengan senyuman.


Nyonya Li : "Tapi Rian sangat menyukai kamu, dan sepertinya hubungan mu dengan liyon sudah terjalin sejak kamu bertemu dengan Rian kan, karena Rian menceritakan kalau liyon menjemput mu saat kalian berjalan - jalan bersama."

__ADS_1


Lira : "..." (tak ada jawab dari lira)


Nyonya Li : "Lira aku tau kamu sudah berusaha untuk menghindari liyon, namun liyon selalu saja mendekati kamu. Jadi aku ingin meminta pada mu untuk pergi meninggal liyon dan jangan muncul untuk waktu yang lama sampai liyon dan yusnia menikah. Karena aku sangat tau sifat anak ku itu, jika dia menyukai sesuatu maka dia tak akan melepaskannya jika benda itu tak hilang dari hadapannya, maka dari itu aku meminta pada mu untuk meninggalkan liyon lebih dulu agar dia terbiasa tanpa adanya dirimu, aku mohon pada mu lira." (menggenggam tangan lira)


Lira : "..." (tak ada kata - kata yang keluar dari lira)


Nyonya Li : "Lira kamu bisa kan melakukannya untuk liyon? Sebagai mamanya aku ingin melihat anak ku bahagia dan hidup dengan makmur. Perjodohan antara liyon dan yusnia adalah jalan terbaik untuk perusahaan, kamu mengerti kan maksud ku lira?"


Lira : "Iya nyonya saya mengerti apa maksud dari nyonya."


Nyonya Li : "Terima kasih lira, aku tau kamu orang yang baik dan pengertian. Ini ada sedikit dari ku mungkin nanti bisa kamu jadikan tambahan dalam hidup kamu atau buka usaha baru, dan anggap saja ini sebagai biaya kompensasi atas waktu mu yang banyak terbuang selama bersama dengan liyon." (menyerahkan sebuah cek pada lira)


Lira : "Tidak usah nyonya, saya tidak apa. Saya janji pada nyonya saya akan pergi meninggalkan liyon dan tak akan pernah muncul lagi dihadapan liyon."


Nyonya Li : "Terima kasih ya lira, maaf aku tak bermaksud kamu tak cocok dengan liyon, aku cuma ingin agar liyon mendapatkan yang lebih pas dan juga bermanfaat saja demi kelangsungan bisnisnya."


Lira : "Iya tak apa nyonya, semoga saja semuanya berjalan dengan lancar." (mengembalikan cek yang diberikan)


Nyonya Li : "Kamu bawah saja lira, siapa tau nanti kamu membutuhkannya, jika kamu menolak maka aku akan merasa sangat bersalah pada mu." (menyerahkan kembali cek-nya pada lira)


Lira : "..." (tak ada kalimat lagi dari lira)


Nyonya Li : "Kalau begitu aku pergi dulu lira, kamu selesaikan tugas kamu. Semoga kamu juga bahagia." (berdiri meninggalkan lira)


Lira : (tersenyum dan mengangguk)


Kembali ke 1 minggu kemudian.


"Jadi kamu setuju untuk meninggalkan login? Apakah kamu sudah bertanya dan berdiskusi tentang pendapat liyon Lira? Ini adalah hubungan kalian, kamu tak bisa memutuskannya hanya sebelah pihak saja." jelas Yuniar pada lira dengan tak sabar.


"Maaf, tapi itu adalah keputusan ku dan sudah dari awal aku memang menyiapkan semua perasaan ku untuk hari ini." jawab lira dengan tersenyum menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.


"Lira." Yuniar memeluk lira dengan erat sambil menangis dan lira pun jadi ikut menangis karena air mata yang dia tahan tumpah.


"Aku akan mendukung apa pun keputusan dan pilihan mu." ucap Yuniar yang masih memeluk lira.


"Tapi lira bagaimana kamu bisa kembali ke kampung halaman mu? Liyon pasti bisa menemukan mu dengan mudah." ucap Yuniar setelah mengurai pelukannya dan menghapus air matanya.


"Aku yakin dia tak akan menahan diri lagi setelah kamu pergi, bukankah selama ini tindakannya hanya tertahan oleh mu saja." jelas Yuniar mengingatkan lira.

__ADS_1


"Lira, aku tau seperti apa liyon karena saat aku pertama kali bertemu dengan dia yang menjemput kamu waktu mabuk dia adalah orang yang sangat dingin dan juga menakutkan, tapi sekarang aku melihat dia lebih lembut walau tatapannya sangat tajam, aku yakin dia melakukan itu semua karena kamu dan dia berusaha untuk menahan dirinya." tutur Yuniar pada lira saat dia menilai tentang sosok liyon.


__ADS_2