
Brrrt
"Hem, katakan." jawab Liyon saat Farid menghubungi.
"Dompet mu mau ku,,,"
"Terserah saja, aku tak peduli mau kau apakan dompet itu. Sudah jangan ganggu aku dengan hal tak guna karena aku sedang sibuk." jawab Liyon dan mematikan sambungan teleponnya dengan Farid.
"Sayang,,," Liyon mendekati Lira yang lagi masak setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Farid.
"Menjauh lah jangan ganggu aku.!" ucap Lira dengan kesal.
"Maafkan aku sayang, aku mohon maafkan aku. Jangan menghukum aku seperti ini aku sangat merindukanmu istriku tersayang." ucap Liyon memeluk Lira dan mengecup leher Lira.
"Liyon menjauh lah. Aku tak suka." Lira berontak dari pelukan Liyon.
"Hem, biarkan aku mencium aroma tubuh mu sayang ku. Aku sangat merindukanmu." Liyon terus saja mengecup leher Lira dan dengan pelan menggigit serta menghisapnya sedikit kuat.
"Li-yon,,, kamu." suara Lira yang mulai terdengar berat membuat Liyon tersenyum.
"Hem, iya sayang." Liyon memutar tubuh Lira menatapnya dalam dan wajah Lira sudah bersemu merah.
"Ayo, aku sudah tak tahan lagi." bisik Liyon memeluk Lira dan mematikan kompor lalu mengangkat tubuh Lira untuk membawahnya dan meletakkan disisi meja dapur sebelahnya.
Liyon menelan salifanya menatap bibir Lira yang basah berwarna merah muda dan sangat menggoda baginya. Liyon dengan cepat menyambar dan melahap bibir seksi milik istrinya itu, mulai dari permainan yang lembut telah berubah jadi sangat agresif serta dalam seakan menuntut sesuatu dari diri Lira.
"Emm, Liyon,,, ah. Tung-gu du-lu." kalimat Lira terputus - putus karena Liyon menahan suara Lira dengan terus melum-mat bibir Lira dan juga mulai melepaskan pengait dari pengaman dada Lira.
"Hei." Lira mendorong tubuh Liyon kuat saat dirasa Liyon mau melakukan hal itu ditempat terbuka
"Kenapa sayang, apa kamu tak suka dengan permainanku?" tanya Liyon bingung.
"Tidak, tapi ini di dapur apa yang mau kamu lakukan di sini." ucap Lira berusaha membenarkan kancing kemejanya yang telah dibuka oleh Liyon.
"Oh, ku pikir apa." ucap Liyon mendekat lagi, "Tak apa sayang karena aku memang ingin melakukannya disetiap sudut rumah ini. Dan tak akan ada orang yang bisa masuk kedalam karena aku sudah memasang kunci ganda otomatis dari dalam, jadi tak akan ada yang bisa membukanya kalau kita tak membukakan." jawab Liyon dan mulai memeluk serta menarik kemeja yang dikenakan Lira hingga semua kancingnya lepas berserakan entah lompat kemana saja.
"Liyoooo,,,!" teriak Lira menutupi dadanya yang sudah terbuka dengan bebas.
__ADS_1
"Kenapa harus ditutupi sayang, aku kan ingin melihat dan melahapnya sekarang." ucap Liyon merentangkan tangan Lira dan langsung saja melahap dengan sangat bersemangat sehingga membuat Lira tak berdaya hanya bisa menerima saja perlakuan yang diperbuat oleh suaminya itu.
"Dasar berondong, selalu bersemangat untuk ini." gumam Lira dalam hati menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Liyon.
Dan benar saja, Liyon melakukannya disetiap sudut rumah itu, seakan - akan dia ingin membuat kenangan dan menghiasi seluruh sudut rumah itu dengan suara seksi Lira saat dia telah berhasil membuat istrinya itu puas dan menikmati permainannya.
"Gila, apa karena dia masih muda ya? Tenaganya sangat kuat dan staminanya sungguh sangat luar biasa." gumam Lira dalam hati yang terus mendapatkan serangan dari Liyon yang bertubi - tubi tanpa henti.
"Apa kamu sudah puas sayang ku? Suka dengan pelayanan ku?" tanya Liyon berbisik ditelinga Lira saat mereka telah berada didalam kamar mandi mereka.
"Hem." jawab Lira yang merasa malu kalau harus menjawab sangat puas dan menikmatinya.
"Hem, lakukan sekali lagi sayang buka kaki mu." Bisik Liyon yang melakukannya lagi dengan tubuh Lira berpegangan pada wastafel kamar mandi, Liyon menangkap dan memainkan kedua daging kenyal milik Lira yang bergoyang seiring dengan hentakan darinya.
"Aku apa sudah dimaafkan sayang ku?" tanya Liyon pada Lira yang masuk kedalam bathtub bersama.
"Aku,,," Lira ragu mau menjawab.
"Jangan khawatir sayang, aku siap membuat kamu menikmatinya lagi jika memang kamu masih belum puas." jawab Liyon menatap Lira dengan tersenyum manis.
"Tentu saja, karena aku adalah suamimu dan pria milik mu. Jadi aku akan melakukan apa pun untuk membuat dirimu senang sayang ku, selalu." jawab Liyon menarik Lira dan mengecup kening Lira sangat lama.
...🍂🍂🍂...
"Niyang, apa yang mau kau rencanakan hah?!" teriak Santo saat dia mendengar kalau adiknya berencana ingin menghancurkan Liyon beserta keluarganya.
"Kenapa, aku datang memang untuk itu dan aku sudah menunggu lama." jawab Niyang dengan kesal.
"Dengar, sudah aku bilang jangan macam - macam selama kau ada di sini dan aku tampung." ucap Santo mengancam adiknya.
"Jangan mengancam Ku, atau jangan - jangan kau sudah tertarik dan menyukai wanita itu? Jika kau memang menyukainya maka rebut lah dia dan tunjukkan kalau kau punya kemampuan." ledek Niyang pada Santo kakaknya.
"Itu bukan urusan mu, yang jelas jika sampai terjadi lagi maka aku tak akan melindungi mu." ucap Santo dan pergi keluar dari kamar Niyang.
"Heh, aku tak butuh perlindungan dari mu yang tak kompeten." Niyang mencibir Santo.
"Jika aku tak bisa menghancurkan Liyon secara langsung maka aku akan melakukannya melalui orang terpentingnya." gumam Niyang yang sudah membulatkan niatnya untuk menghancurkan Liyon.
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
"Oh, ya ampun sudah malam saja gak terasa tadi bekerja sampai semalam ini. Ya, siapa suruh jadi banyak pengunjung ke hotel ini. Apa karena masa liburan ya?" Lira bergumam sendiri dan meregangkan tubuhnya setelah bekerja sampai malam hari.
"Haaah, Gali belum menjemput apa dia terjebak macet ya karena lagi masa - masa liburan, pasti jalanan padat merayap. Aku tunggu sambil berjalan sebentar saja." Lira keluar hotel dan berjalan ke arah halte.
Grep
"Ah, Lira ini aku.!" teriak Denis yang hampir saja dipatahkan tangannya oleh Lira.
"Kau, kenapa mengagetkan aku?" tanya Lira yang merasa sedikit bingung tiba - tiba saja Denis menemuinya.
"Aku sudah menunggu lama, akhirnya aku melihatmu sendirian dan memberanikan diri untuk mendekatimu." ucap Denis dengan menggosok pergelangan tangannya yang merasa sakit karena dipelintir oleh Lira.
"Apa, jadi kau menguntit aku? Tapi untuk apa? Aku rasa diantara kita tak ada urusan yang harus diselesaikan atau diomongin bersama, aku permisi karena sudah malam mau pulang dulu." ucap Lira dan berjalan meninggalkan Denis.
"Lira tunggu" Denis mencegah dengan menahan tangan Lira.
"Lira, sebenarnya aku selama ini sangat merindukanmu dan aku juga sadar setelah kehilangan mu, kalau aku sangat mencintaimu Lira. Aku sungguh sangat mencintaimu Lira, tolong kembalilah kepadaku dan kita mulai lagi semuanya dari awal dengan baik." ucap Denis pada Lira.
"Dengan baik? Dengan baik dari mananya?! Terus bagaimana dengan Desi, kau akan meninggalkan dia demi diriku?" tanya Lira pada Denis yang menurut Lira terasa aneh.
"Desi, sebenarnya aku tak ada getaran lagi sama dia, setiap kali aku bersentuhan dengan dia aku merasa biasa saja seperti aku menyentuh adik ku sendiri. Dan aku sudah tak tahan dengan semua perlakuannya padaku, terlebih lagi aku juga lelah selalu dimanfaatkan oleh sepupunya yaitu Yusnia untuk selalu memuaskan dia dengan berbagai fantasi yang ada pada dirinya. Aku hanya orientasi *** bagi mereka berdua, dan aku sudah bosan serta jenuh dengan semua permainan mereka berdua Lira." jelas Denis pada Lira dengan sangat sedih.
"Gila, bagaimana dulu aku bisa menyukai orang sampah seperti dia ya." gumam Lira dalam hati menatap Denis.
"Maaf itu bukan urusan ku dan aku tak peduli kamu jadi apa dan dijadikan apa oleh mereka." ucap Lira menepis tangan Denis.
"Lira tolong jangan seperti itu. Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu lagi, aku yakin jika dengan kamu maka semua akan baik dan kita akan menjadi pasangan sehat dengan sangat baik Lira. Aku yakin aku akan bisa menjadi pasangan terbaik untuk mu dari pada Liyon yang penuh dengan banyak musuh serta masalah dalam hidupnya." ucap Denis yang sedikit memaksa Lira.
"Apa yang kau katakan barusan. Menjadi pasangan sehat dengan istri orang lain? Apa kau tak bisa melihat kalau dia sekarang adalah wanita milik orang lain dan juga sudah menjalani hubungan dan kehidupan yang amat sangat sehat bahkan sangat aktif setiap hari." ucap Liyon mendekati Denis dan Lira serta bicara dengan kesal menatap Denis.
"Dan, dilihat dari sisi mana kalau kau jauh lebih baik dari ku dalam kehidupannya." Liyon menatap Denis, "Dimana kau saat dia membutuhkan dirimu, dimana kau saat banyak orang yang menghinanya dan dimana kau saat dia sangat terpuruk dalam hidupnya? Jika kau tak bisa menjawab maka jangan pernah bilang kalau kau jauh lebih baik dari ku." ucap Liyon menatap Denis tajam.
"Tuan Liyon, aku tau kau menikahinya hanya untuk kepuasan mu saja. Jadi lepaskan dia karena dia berhak untuk bebas dan hidup bahagia." ucap Denis dengan teriak lantang pada Liyon yang pergi meninggalkan dirinya membawah Lira.
"C*h, dasar pria tak guna." gumam Liyon mengabaikan Denis.
__ADS_1