
Yusnia sangat marah mendengar apa yang dikatakn oleh lira kepadanya, dan dia merasa bahwa lira telah menghina dan juga melecehkannya serta meremehkan dia.
"Dengar ya lira jangan merasa berbangga hati kamu setelah mendapatkan perhatian dari liyon, apa kamu tau kehidupan di luar negeri hubungan antara wanita dan pria sangatlah wajar walau mereka bersama tanpa ikatan apa pun."
"Dan kami adalah seorang sekretaris dan hanya sekretaris rendahan yang.tak punya apa apa untuk dibanggakan."
Ledek yusnia pada lira dengan nada sangat tinggi dan amarah yang memuncak, sehingga semua orang yang ada disekitar jadi memperhatikan mereka berdua.
"Ada apa sih? Apa sedang bertengkar."
"Iya iya sepertinya begitu."
"Benar pertengkaran wanita, pasti sedang merebutkan pria."
"Menggelikan sekali, hanya seorang pria saja sampai sampai dipertengkarkan samapai seperti itu."
"Sstt, hangat keras keras nanti mereka bisa dengar."
"Ayo ayo aku tak mau terlibat dengan pertengkaran wanita."
Bisik - bisik dari beberapa pengunjung yang juga memakai kamar mandi itu, dan mereka ada yang menghindari untuk tak mau ikut campur dan terlibat, dan sebagian lagi ada yang ingin tau dan sangat menikmati pertengkaran itu.
"Apa sudah selesai kamu bicara?" tanya lira dengan tenang.
"Memangnya kenapa? Kenapa kalau aku masih belum selesai bicara kamu mau mengadukan aku begitu.!" teriak yusnia lagi dan lira hanya diam melihat saja.
"Kenapa? Kenapa kamu jadi diam, apa kamu sudah sadar diri sekarang dengam setatus mu yang rendahan itu." ejek yusnia lagi.
"Haaah," lira menghela nafas dalam.
Brak
Lira memukul tempat tisu yang ada di samping yusnia dengan keras hingga tempat tisu yang dipasang di dinding itu hancur berantakan, seketika itu membuat yusnia dan sebagian orang yang ada di kamar mandi itu merasa terkejud.
"Kamu harus ingat 1 hal yusnia bahwa aku adalah seorang pengawal bukan wanita yang datang ingin berebut pria dengan mu, dan kamu juga harus ingat ini, jika kamu ingin bertengkar dengan ku jangan gunakan mulut tapi gunakan tenaga karena aku paling tak suka dengan wanita yang hanya bisa berteriak serta merasa tertindas."
"Wanita seperti itu menunjukkan kalau dia adalah orang lemah yang hanya bisa berlindung dibelakang orang lain dan hanya menonjolkan hartanya saja, namun tak memiliki kemampuan apa pun."
"Jadi, jika nanti kamu bertemu dengan aku lagi atau ingin melanjutkam pertengkaran ini sebaiknya kamu bawalah pengawal mu agar bisa berkelahi dengan ku, kau paham?!"
Lira berkata dengan terus berjalan maju mendekati yusnia yang terus melangkah mundur tanpa dia sadari karena dia merasa takut dengan aura lira yang tiba tiba keluar seolah ingin membunuh orang.
"Oh, ternyata dia seorang pengawal. Tapi siapa wanita itu kenapa dia bisa berurusan dengan seorang pengawal.?"
"Pasti prianya yang tertarik dengan pengawal itu, memalukan sekali sih dia. Harusnya menjaga pengawalnya jangan menyalahkan pengawalnya."
"Pasti dia wanita ya g membosankan makanya pria tak menginginkan dia."
"Iya kamu benar pasti begitu, lihat saja dia seperti wanita manja begitu"
__ADS_1
Bisik - bisik beberapa orang lagi ya g memperhatikan merek dan memojokkan yusnia serta menyalahkannya.
"Lira jangan pergi dulu aku belum selesai bicara.!" teriak yusnia yang menahan bahu lira yang sudah keluar dari kamar mandi.
Sulap
Kaki lira tepat ada dihadapan muka yusnia dengan tatapan mata lira yang sudah terlihat sangat kesal dan marah
"Wah dia keren banget, sepertinya dia memang benar - benar seorang pengawal, gerakannya sangat cepat dan juga tepat. Sedikit saja pasti wajah wanita itu sudah babak belur ditendang kakinya." ucap pengunjung yang melihat aksi lira.
"Aku sedang menahan diri, jangan membuat aku tak sungkan lagi pada mu." ucap lira dan menurunkan kakinya.
"Lira, awas kau ya. Aku pasti akan membalas mu pasti." geram yusnia dalam hati dengan tangan yang mengepal dan tatapan benci serta malu karena diolok oleh banyak orang yang melihatnya.
"Sudah selesai? Ayo kita pergi karena urusan di sini juga sudah selesai." ucap liyon yang begitu melihat lira berjalan kearahnya setelah dari kamar mandi.
Tanpa bicara apa pun lira langsung mengambil tasnya dan berjalan mengikuti liyon dari belakang dengan tatapan cuek dan tak acuh.
"Tunggu dulu, tahan wanita itu.!" teriak yusnia pada seorang pria berpakaian rapi yang berdiri diambang pintu keluar restoran itu.
"Nona tunggu." orang itu menahan bahu lira namun lira dengan cepat membalas dengan berbalik dan menahan tangan orang itu dibelakang tubuh dari pria itu.
"Lira kamu berani merehkan aku jangan harap bisa bebas.!" teriak yusnia lagi, sehingga membuat beberapa dari teman orang yang mungkin adalah pengawal yusnia maju dan ingin menghajar lira, namun dengan cepat lira mengalahkan pria - pria itu dengan sangat mudah.
"Heh, dia memang wanita ku." ucap liyon yang ikut maju menghajar beberapa pria lainnya begitu juga dengan farid.
Aksi mereka bertiga (Liyon, Lira dan Farid) menjadi tontonan menarik bagi para pengunjung restoran yang lainnya.
*
"Berhenti semuanya.!" teriak tuan Bagaskara dan seketika membuat semua pengawalnya berhenti.
"Yusnia apa yang kau lakukan ini, kenapa kamu menyerang mereka hah?!" teriak tuan Bagas pada yusnia.
"Aku tidak sedang menyerang mereka aku hanya memintak mereka untuk menghentikan wanita j*l*Ng itu saja.!" teriak yusnia dengan kesal.
Mendengar kata j*l*ng yang menyatakan menghina lira liyon langsung membara, namun lira menghentikan langkah liyon. Dan lira teringat akan kata - kata perintah yang diucapkan oleh liyon sebelum mereka pergi meninggalkan kantor.
Kejadian saat di kantor.
"Kak, bajunya aku letakkan didalam kamar." ucap liyon begitu melihat lira masuk kedalam ruangannya.
"Tunggu kak," liyon menghentikan langkah lira tepat saat lira berdiri didepannya.
"Dengarkan aku, jika nanti kakak ingin marah atau mau melampiaskan semua rasa kesal dan marah lakukan saja tak perlu ditahan, lakukan semau kakak aku akan bertanggung jawab atas semuanya."
"Dan jika nanti kakak mendengarkan atau melihat sesuatu yang bisa membuat kakak marah dan kesal tolong tetaplah kakak bertahan disisi ku. Karena apa pun yang terjadi aku akan selalu ada untuk kakak dan hanya akan menjadi milik kakak seorang."
"Aku janji akan menjelaskan semuanya nanti saat kita kembali dan semuanya sudah selesai, kakak mau kan bertahan sebentar saja.?"
__ADS_1
Liyon menjelaskan sesuatu dengan nada yang terdengar sedikit takut dan juga khawatir, serta menggenggam tangan lira dengan erat. Dan beberapa detik setelah liyon mengatakan apa yang ingin dia katakan suasana jadi hening sesaat.
"Tak masalah, kamu tak usah khawatir dengan semua itu." jawab lira kemudian dengan mendongak menatap liyon, lalu melangkah melewati liyon masuk kedalam kamar istirahat untuk ganti baju.
Liyon yang mendengarkan kata kata lira merasa sesak di dadanya, dia memejamkan mata dan mengepalkan tangan dengan kuat dan keluar dari ruangan. Dan karena itulah liyon selalu diam selama dalam perjalanan
Kembali ke saat ini
Lira melangkah mendekati yusnia yang sedang berdiri dengan tuan Bagaskara disampingnya, lira terlihat sangat tenang mendekati yusnia dan semakin dekat lagi.
"Kau mau apa?" yusnia bertanya dengan kesal menatap lira.
Plak
Lira menampar yusnia dengan sangat kuat hingga nampak memar di pipi yusnia.
"Kau?!" tuan Bagas menatap lira.
"Tuan Bagas." panggil liyon dengan santai dan tatapan mata yang tajam.
"Lira.! Kau berani menampar ku.?" yusnia menatap lira dengan geram.
"Kenapa? Kau mengatai aku j*l*ng atas dasar apa.? Aku tak seperti seseorang yang menggunakan obat demi bisa naik keatas ranjang orang itu, kalo seperti itu siapa yang pantas disebut sebagai j*l*ng aku atau kamu?" ucap lira mengejek yusnia.
"Kau?!" yusnia mengangkat tangannya hendak memukul lira tapi sudah ditahan oleh lira.
"Jangan sampai aku menyebarkan video yang ku dapatkan dan merekam dirimu yang sedang memberikan obat pada suatu minuman." ucap lira mengancam yusnia.
"Ayahku selalu bilang, jika orang tuanya baik maka anaknya tentu akan baik, namun jika anaknya berbuat jahat maka orang tuanya berhak untuk mengajari anaknya kejalan yang baik, jadi tuan Bagas ajari putri anda agar dia tak membuat masalah dan mempermalukan keluarga anda nantinya." jelas lira menatap yusnia dan tuan Bagas bergantian.
"Dan untuk mu yusnia, walau kamu memiliki segalanya aku tak pernah perduli dengan itu, karena aku cukup punya harga diri saja. Jadi aku tak perlu menggunakan obat untuk bisa naik keatas ranjang seorang pria." lira berkata sambil tersenyum menghina yusnia.
"Keren, aku tak pernah melihat sisi nona lira yang satu ini." gumam Farid yang bisa didengarkan oleh liyon.
"Tentu saja dia adalah kekasih ku, dan itu sebabnya aku menyukainya." jawab liyon tersenyum menatap lira.
"Apa kamu pikir setelah kejadian ini dia masih akan peduli pada mu?" tanya Farid dan liyon diam tak bisa menjawab.
"Satria jemput aku sekarang, ku tunggu jangan sampai lama." lira menghubungi satria karena daerah restoran itu dekat dengan tempat kerja satria.
"Ayo kita kembali kak." ajak liyon tersenyum menatap lira.
"Tak perlu Bos saya bisa pulang sendiri, sebentar lagi adik saya satria akan menjemput saya." tolak lira.
"Oh iya saya belum bilang kalau saya punya seorang adik dan dia juga teman anda namanya satria."
"Saya duluan tuan Farid."
Lira berjalan melewati liyon dan juga Farid, menuju kejalan raya dan memilih memilih duduk di kursi halte bus untuk menunggu satria menjemputnya.
__ADS_1
"Sial, harusnya aku sudah sadar sejak tadi sebelum berangkat kalo lira sudah cuek dengan masalah yang aku utarakan." gumam liyon yang duduk didalam mobil menatap lira dari jauh.