Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Permohonan maaf mama Li


__ADS_3

Setelah meledek Yuniar Satria langsung masuk kedalam kamar mandi menghindari pukulan dari Yuniar.


"Satria.!" kesal Yuniar didepan kamar mandi dan langsung membuka pintu kamar mandi.


"Aaah." trial Yuniar yang ditarik oleh Satria masuk.


"Apa yang mau kau, hei?!" kalimat Yuniar hilang karena Satria telah merobek baju yang dikenakan oleh Yuniar.


"Mandi barengan dan sekalian manjakan dia ok." ucap Satria dan mengarahkan tangan Yuniar menyentuh juniornya yang sudah tegak berdiri.


"Bagaimana aku tak menggunakan baju yang bolong kalau kau selalu merobek bajuku dengan paksa begini!!" kesal Yuniar dan satria hanya tersenyum.


"Jangan senyum seperti itu." Yuniar melotot menatap Satria dan senyuman genit Satria. Pada akhirnya mereka pun melakukanya dikamar mandi.


...🍂🍂🍂...


"Ferdi nanti makanannya dimakan bareng sama teman - teman ya karena mama sudah siapkan lebih untuk bekal." ucap Lira pada Ferdi saat dia mengantarkan Ferdi ke TK.


"Iya Mama, sudah ya Ferdi masuk dulu." ucap Ferdi dan mengecup pipi Lira lalu lari masuk kedalam kelasnya.


"Tak terasa anak ku itu sudah semakin dewasa saja." gumam Lira melihat Ferdi yang lari masuk kedalam kelasnya.


"Lira, 3 hari ini kamu dimana? aku mencarimu ke rumah tak ada." tegur Rian yang tiba - tiba saja berdiri dibelakang Lira.


"Rian, darimana kamu. Dan kenapa ada di sini?" tanya lira berbalik menghadap Rian.


"Aku sengaja kemari karena kerumah mu kamu selalu tak ada di rumah." tegas Rian.


"Jadi, kamu belum jawab kamu kemana selama 3 hari ini?" tanya Rian lagi memaksa Lira untuk segerah menjawabnya.


"Aku...." Lira tak bisa menjawab dan juga tak mau memberitahu Rian kalau dia dan Liyon sebenarnya sudah menikah walau nikah siri


Aku sudah rindu lincah manja sikapmu


Aku sangat rindu kasih sayang darimu


Semoga kita dapat bertemu lagi seperti dahulu


Supaya kita dapat bercinta lagi seperti dahulu


Gelisah, hati gelisah, sejak kepergian mu


Tak sabar, hati tak sabar, menanti kedatangan mu (suara nada panggilan dari hanpon Lira)


"Lira, hanpon mu berbunyi dari tadi" Rian menyadarkan Lira dari lamunannya.

__ADS_1


"Oh iya, maaf Rian hanpon ku bunyi aku jawab dulu." Lira mengulangi kalimat Rian dan melangkah menjauh dari Rian setelah sadar dari lamunannya.


"Maaf Rian aku harus ke hotel sekarang karena pak Sugeng tadi menghubungi aku kalau siang ini akan ada rapat dengan pimpinan baru." jelas Lira pada Rian setelah dia menerima dan menjawab panggilan teleponnya.


"Aku antar." tawar Rian.


"Tidak, tidak terima kasih aku bawah mobil sendiri." tolak Lira dan dia berjalan ke arah mobil yang disuruh Liyon pakai tadi tagi.


"McLaren, mobil itu tidak murah, itu adalah mobil edisi terbatas. Lira dapat mobil itu dari mana? Apa jangan - jangan dia bersama dengan Liyon lagi." gumam Rian bertanya dalam hatinya mengawasi Lira pergi.


...🍂🍂🍂...


"Meli kau kenapa?" Farid panik saat dia melihat tiba - tiba saja Meli mengeluh sakit perut.


"Perutku sakit." Meli menangis sambil memegangi perutnya.


Dengan cepat Farid mengangkat tubuh Meli dan membawanya kedalam mobil untuk dianter ke rumah sakit. "Tenanglah, sabar sedikit bentar lagi sampai." Farid sangat panik dan juga tegang.


"Suster tolong, tolong istri saya perutnya sakit dia sedang hamil." Farid menunggu diluar ruang periksa dengan cemas.


"Liyon Meli sakit aku sedang di rumah sakit sekarang. Baik aku akan mengatasinya nanti." Farid duduk dengan cemas menunggu hasil pemeriksaan Meli setelah dia menghubungi Liyon kalau dia akan datang telat ke kantor.


"Bagaimana dengan istri saya dan juga anak saya?" tanya Farid dengan cemas saat dia melihat ada seorang perawat yang keluar dari ruang periksa Meli.


"Tidak apa pak, sebaiknya bapak masuk saja biar dokter yang menjelaskan." ucap perawat itu pada Farid.


"Terima kasih dok." ucap Farid


"Iya saya akan memberikan obat dan juga vitamin buat istri bapak, nanti bapak tebus di apotik. Dan usahakan lebih banyak istirahat." ucap dokter itu dan Farid membawah Meli keluar dari ruang dokter untuk menebus obatnya.


"Aku sudah tak apa, aku ingin kembali ke kampus sekarang." ucap Meli pada Farid saat mereka sudah masuk kedalam mobil.


"Apa kamu tak dengar apa kata dokter tadi? Kamu harus banyak istirahat dan gak boleh terlalu capek. Jadi kamu ijin saja dulu istirahat di rumah besok baru ke kampus." ucap Farid dan membawah Meli pulang untuk istirahat.


...🍂🍂🍂...


"Haaah, untung saja ada Bu Ani dan cepat kemari jadi bisa segera teratasi."


"Iya, aku tak tau kenapa jadi begitu banyak orang - orang yang mengganggu hotel ini sejak pimpinannya diganti."


"Iya, sepertinya itu adalah orang - orang yang tak suka dengan bos kita itu, cobak saja lihat ada yang meniru hotel Sanken kita ini yang katanya dari luar negeri dan pemimpinnya juga orang yang sama dengan pimpinan kita dari Beijing."


Semua pegawai sedang berkasak kusuk membahas persoalan yang tadi pagi menimpah hotel dengan adanya orang yang membuat keributan.


"Apa di sini Lira bekerja? Dimana ruangannya." tanya seorang nyonya pada pegawai resepsionis.

__ADS_1


"Maaf, tapi di sini tidak ada nama yang anda sebutkan tadi nyonya." jawab resepsionis dengan sopan.


"Dia biasa dipanggil dengan nama Ani, apa dia sudah tidak bekerja di sini?" tanya nyonya itu lagi.


"Maaf, apa yang anda maksud adalah Bu Anggraini? Kalau yang anda maksud adalah Bu Anggraini ada dilantai tiga di bagian belakang nyonya." jawab resepsionis lagi.


"Terima kasih." ucap nyonya itu dan dia pergi ke tempat yang dikatakan tadi.


Tok tok tok


"Iya masuk." ucap Lira dari dalam.


"Lira, lama tak ketemu." ucap nyonya itu saat dia membuka pintu ruangan Lira dan berjalan masuk.


"Deg." jantung Lira berdebar dengan kencang karena dia tak menyangka kalau nyonya Li ada datang untuk menemui dia.


"Nyo-nyonya." ucap Lira dengan terbata.


"Ikut aku ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." ucap nyonya Li lalu berbalik dan keluar, Lira dengan patuh mengikutinya.


"Masuklah." ucap nyonya Li saat mereka berada didepan mobil yang disupiri sendiri oleh nyonya Li.


Didalam mobil itu baik lira atau pun nyonya Li tak ada yang bicara. Lira merasa pening karena dia terlalu tegang dan juga takut hingga dia tak sadar ke arah mana nyonya Li membawah mobilnya, karena Lira merasa tak tenang dan juga takut akan ketahuan kalau dia melahirkan Ferdi dan juga sudah menikah siri dengan Liyon.


"Keluarlah, ayo masuk dan kita bicara dengan tenang. Kamu pasti tak asing dengan tempat dan juga rumah ini kan?" nyonya Li membawah Lira ke mansion Liyon.


Semua orang yang ada di rumah itu merasa aneh dengan pemandangan itu, karena dia melihat Lira tak seperti biasanya. Dan Bi Min menghubungi Liyon menceritakan semuanya apa yang dia lihat dan mengatakan kalau nyonya besarnya datang ke rumah.


"Papa kenapa buru - buru? Apa ada masalah Pa?" tanya Ferdi yang baru saja dijeput oleh Liyon pulang sekolah.


"Iya saya ada sedikit masalah di rumah jadi kita harus cepat - cepat pulang ke rumah, nanti saja ya beli es krimnya kali sudah selesai urusan papa, tak apa kan sayang." ucap Liyon meminta pengertian pada putranya.


"Tidak apa papa, Ferdi tak akan memaksa kok. Kita selesaikan urusan papa dulu." jawab Ferdi, dan Liyon tersenyum mengusap kepala putranya itu. Serta dalam hati dia bersyukur juga berterima kasih pada Lira, karena telah melahirkan dan merawat putra yang hebat untuk dirinya.


"Jadi begitulah Lira, kamu mengerti kan?" tanya nyonya Li pada Lira.


"Tapi nyonya..." kalimat Lira tertahan


"Aku mohon lira, tolong maafkan lah segala kesalahan ku yang dulu. Aku telah melakukan banyak kesalahan untuk mu, harusnya aku tau bagaimana dirimu. Tapi aku justru malah dibutakan oleh keinginan ku sendiri tanpa memikirkan kebahagiaannya." nyonya Li menggenggam tangan Lira


"Andai saja dulu aku tak terpengaruh dan menganggap bahwa segala kekayaan ini tiada artinya dihadapan kebahagiaan aku mungkin tak akan melakukan kesalahan yang begitu besar."


"Apa kamu tau Lira, selama 6 tahun aku tak bisa memasuki rumah ini dan selalu dijaga didepan gerbang masuk, aku tau kalau penjaga itu tak akan bisa menolak jika aku datang bersama dengan mu. Dan ternyata benar."


"Aku mohon maafkan aku Lira, maafkanlah segala kesalahan ku selama ini, tolong terimalah permintaan maaf ku ini. Aku tau kamu telah melahirkan cucuku, aku rela melakukan apa pun asal kamu mau memaafkan aku dan mau meresmikan hubunganmu dengan putraku. Tolong Lira jadilah memantuku yang sah, lbalilam senyum dan juga kebahagiaan Liyon."

__ADS_1


Nyonya Li terus memohon maaf dan juga meminta agar Lira mau menjadi istri Liyon dan juga menantunya yang sah serta mengumumkan hubungan mereka ke publik.


"Maafkan saya nyonya, saya tak mau menerima dan tak mau mempublikasikan bukan karena perjanjian ku dengan nyonya, tapi aku tak mau terikat dengan semua ini terlalu dalam nyonya. Aku hanya ingin memiliki kehidupan yang biasa saja, aku ingin hidup seperti orang biasa sama Ferdi." jawab lira dan tanpa sadar kata - kata yang diucapkan oleh Lira itu didengar oleh Liyon yang baru datang dan berdiri mematung didepan pintu.


__ADS_2