Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Anak orang baik


__ADS_3

Setelah asik bermain dan bercanda Lira memasak buat makan malam di rumah Liyon, dan melihat itu Liyon sangat bahagia dia seolah kembali kemasa lalu saat - saat masih bersama dengan Lira yang selalu ada didalam dekapannya setiap malam.


Malam itu setelah selesai makan malam Lira menginap di rumah Liyon karena Ferdi gak mau pulang dan ingin tidur di rumah papanya.


"Dia sudah tidur?" bisik Liyon ditelinga Lira saat dia telah selesai dalam pekerjaannya.


"Hem." lira menjawab dengan hanya bergumam pelan.


Cup


Liyon mengecup sekilas pipi Lira lalu berlalu masuk kedalam kamar mandi, dan setelah keluar dari dalam kamar mandi Liyon melihat Lira sudah pulas dalam tidurnya, "Nyenyak banget tidurnya." gumam Liyon melihat Lira yang terlelap.


"Geser dikit ya sayang." ucap Liyon menggeser tubuh Ferdi kesamping dan memberinya penghalang tempat tidur yang sudah Liyon siapkan sejak awal Ferdi datang.


"Ugh, sesak dan berat." gumam Lira yang merasakan sulit untuk bergerak dan bernafas.


"Eh." Lira kaget saat dia melihat Liyon menjadikannya guling dan memeluk tubuh Lira dengan sangat erat.


"Apa - apa an dia, berat." gumam Lira dan berusaha menurunkan kaki Liyon yang bertengger di pahanya.


"Deg." Lira langsung menarik tangannya keatas saat dia tanpa sengaja menyentuh sesuatu dibawah dekat pahanya.


"Tidak bangunkan, tidak bangun." gumam Lira pelan namun dia salah karena yang dibawah sana sudah bangun dan juga sudah On.


"Kau melakukan kesalahan sayang, dia telah meronta - ronta minta masuk." bisik Liyon ditelinga Lira dengan suara orang bangun tidur.


"Bukan salahku kenapa kau ada di sini?!" kesal Lira dan membelakangi Liyon.


"Benarkah itu salah ku? Akan ku buat itu juga salah mu." ucap Liyon membalikkan tubuh Lira jadi terlentang dan dengan cepat jemarinya menyusup dibalik penutup tempat senjata Liyon dimanjakan.


"Li kau...Emm" Liyon membungkam bibir Lira agar tak banyak bicara biar tak membangunkan Ferdi.


"Sudah basah saya sudah siap untuk dimasuki." bisik Liyon lagi setelah dia merasakan tubuh Lira bergetar dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kau." Lira sudah tak mampu melawan Liyon lagi dan hanya pasrah dengan jantung yang berdebar hebat karena ada Ferdi disampingnya.


"Tenanglah dan manutlah maka si kecil tak akan bangun." bisik Liyon membalikkan tubuh Lira membelakangi dirinya dan dengan pelan Liyon membimbing senjatanya memasuki sarung ternyamannya.


"Sakit." gumam Lira


"Ssst, akan ku lakukan dengan pelan." bisik Liyon dan membimbing lagi hingga posisinya benar dan senjatanya masuk sepenuhnya.


Liyon tak bisa bergerak dengan leluasa karena ada Ferdi, Liyon bergerak dengan pelan dan hati - hati sambil menikmati permainan yang menegangkan, Liyon memeluk erat tubuh Lira agar guncangannya tak terlalu keras. Liyon terus bergerak pelan dan meninggalkan jejaknya di leher belakang dan juga punggung Lira hingga dia mendapatkan pelepasannya.


"Kau sangat nakal." bisik Lira saat Liyon telah mencabut senjatanya.


"Jika tak nakal maka aku bukan brondong nakal mu kak." ucap Liyon menc*um bibir Lira dan beranjak ke kamar mandi.


"Pagi papa." ucap Ferdi yang sudah bertengger di atas perut Lira dan memeluk Lira dengan kepala didada Lira.


"Pagi sayang, ayo mandi nanti telat ke sekolah." ucap Liyon mengangkat tubuh Ferdi dan tersenyum pada Lira.


Setelah selesai menyiapkan sarapan Lira mandi dikamar mandi bawah dan mereka pun sarapan bersama, dan setelah mengantar Ferdi Liyon mengantar Lira lalu dia pergi ke kantornya.


"Selamat pagi Bos." sapa Satria di lobby saat melihat Liyon.


"Kenapa? Apa kau menang lotre, ceria banget." tanya Satria saat mereka berada dalam lif.


"Lebih dari lotre, aku telah mengisi daya full, dengan tegangan yang sangat luar biasa." jawab Liyon yang terdengar aneh bagi Satria.


"Pagi bos, maaf ini adalah surat pengajuan cuti dini dari pak Hendra yang diserahkan kemaren sore." ucap Endang menyodorkan sebuah map, dan setelah Liyon melihat serta membacanya dia langsung menandantangani surat itu.


"Serahkan ke pihak HRD biar mereka mengurusnya." ucap Liyon menyerahkan map itu pada Endang.


"Sat siapkan untuk rapat hari ini, dan berikan ini pada Farid lalu perintahkan dia untuk menemani Safitri keluar melihat dan mensurvei ke gudang bangunan." perintah Liyon dan Satria langsung mengerjakannya.


"Selamat siang Bos." ucap pak Hendra yang menghadap pada Liyon siang itu.

__ADS_1


"Iya pak Hendra aku sudah menyetujui surat mengajuan anda dan juga sudah ku serahkan ke HRD, pak Hendra tinggal menemui mereka saja sudah akan diproses." jelas Liyon saat dia melihat pak Hendra ada dihadapannya.


"Iya terima kasih Bos, tapi ada sedikit permintaan yang sedikit bersifat pribadi." ucap pak Hendra dengan ragu - ragu.


"Katakan saja tak perlu sungkan." jawab Liyon menatap pak Hendra dan menghentikan kegiatannya.


"Anu, itu Bos saya mau meminta tuan Farid kalau diijinkan." ucap pak Hendra ragu.


"Farid, apa pak Hendra butuh pengawalan dari Farid? Apa ada masalah dengan usaha properti yang pak Hendra jalankan?" tanya Liyon menatap pak Hendra.


"Tidak - tidak Bos bukan begitu, tak ada masalah dengan semuanya. Hanya masalah dengan putri saya, dia sekarang dalam keadaan sulit dan sudah beberapa kali mencobak untuk mengakhiri dirinya." ucap pak Hendra yang mulai terlihat takut.


"Terus pak Hendra mau apa dengan Farid? Apakah mau menyuruh Farid untuk menangani putri pak Hendra? Tapi Farid bukan orang yang sabar." Liyon semakin bingung dengan pak Hendra yang terlihat Anek bagi Liyon.


"Bukan Bos, saya meminta untuk tuan Farid menolong dan menyelamatkan putri saya karena sekarang Meli putri saya sedang mengandung anak dari tuan Farid." jelas pak Hendra lagi dengan tubuh yang sudah bergetar hebat dan nada suara gemetar yang terlihat serta terdengar dengan sangat jelas.


"Apa?!" Liyon kaget mendengar pernyataan dari pak Hendra.


Setelah itu pak Hendra menjelaskan dan menceritakan semuanya pada Liyon mulai dari awal hingga sampai putrinya sekarang mulai berusaha menyakiti dirinya karena dikira hamil anak dari orang - orang yang waktu itu menyekapnya.


"Jadi semuanya terjadi karena permintaan dari pak Hendra sendiri?" tanya Liyon yang merasa aneh dan juga heran pada pak Hendra.


"Benar Bos, tadinya saya tak berfikir kearah sana karena saya hanya berfikir kalau putri saya selamat saja. Dan saya juga lupa untuk memberikan obat kontrasepsi pada putri saya." jelas pak Hendra.


"Bapak pulanglah aku akan mengatakannya pada Farid dan akan ku pastikan kalau Farid akan datang malam ini ke rumah pak Hendra " ucap Liyon dan pak Hendra pun pulang.


Sepulangnya pak Hendra Liyon menghubungi Farid dan memintanya untuk datang ke rumah utama nanti malam. Dan Liyon setelah menjemput Ferdi dan Lira, Liyon membawah mereka kemansionnya.


"Kenapa sepi Pa, yang lain mana?" tanya Ferdi yang tak melihat satupun orang dirumah utama, karena mereka selalu mengosongkan rumah jika Liyon pulang bersama dengan Lira.


"Iya ini sudah malam sayang, sana pergi mandi sama mama ya, papa ada kerjaan" ucap liyon dengan sabar pada Ferdi.


Dan setelah menanyakan semua pada Farid serta tau dan mendengar pernyataan Farid sendiri Liyon menyuruh Farid untuk bertanggung jawab atas kehamilan dari putri pak Hendra

__ADS_1


"Baik aku akan kesana dan menjelaskan pada mereka, karena aku memang akan bertanggung jawab jika terjadi apa - apa padanya." ucap Farid dan dia langsung pergi meninggalkan rumah liyon dan menuju ke rumah pak Hendra.


__ADS_2