
"Ya, ya kau akan mengerti nanti rasanya jadi seorang ayah dari seorang anak gadis. Karena saat Arlin nanti beranjak dewasa kau pasti akan bingung dan takut melepaskan putrimu pada pria yang salah, sampai akhirnya kau akan jadi posesif pada putrimu sendiri seperti aku dulu." pak Hendra menunjuk pada Farid, "Tapi aku bersyukur sekarang aku telah memilihkan putri ku jodoh yang bagus seperti dirimu ini." sambung pak Hendra dan ambruk diatas meja.
"Hei, bukan papa yang memilih tapi aku yang memilihnya. Duh kenapa sudah ambruk sih, aku belum selesai bicara." Farid menggoyang pak Hendra.
"Harus dipindahkan biar gak kedinginan." gumam Farid dan mengangkat pak Hendra untuk dibawah masuk kedalam.
"Aduh berat juga ni orang." Farid bersusah paya membawah tubuh pak Hendra masuk kedalam sampai akhirnya mereka ambruk di tempat tidur yang ada di ruang tengah.
"Eh, kenapa tuan dan papa tidur di sini bersama?" Meli yang kebangun karena haus pun melihat papanya dan Farid tidur di satu ranjang bersama.
"Wah, apa kah mereka mabuk bersama - sama malam ini? Tercium bau alkohol dari mereka." gumam Meli yang mendekat dan merasakan aroma alkohol dari nafas Farid dan juga papanya.
Greb
Farid tiba - tiba saja menarik tangan Meli dan tersenyum polos seperti anak kecil. "Kamu, cantik sekali." ucap Farid dan bangun dengan sempoyongan.
"Eh, tuan hati - hati." Meli menangkap tubuh Farid dengan kedua tangannya takut Farid jatuh.
"Aku sudah menyukaimu sejak dari dulu. Dan bukan dia yang memilihku, tapi aku yang memilihmu. Lalu dia menjebak ku, tapi aku suka." gumam Farid yang tak dimengerti oleh Meli, lalu Farid ambruk lagi dan tertidur disebelah pak Hendra.
"Ya sudah biarkan saja mereka tidur begitu." ucap Meli dan meninggalkan papanya sama Farid yang sudah tertidur pulas.
"Aduh kepalaku." pak Hendra memegangi kepalanya, "Wei?!" pak Hendra terkejud karena Farid memeluknya dengan erat.
"Aduh, kenapa berisik." Farid menggeliat dan pak Hendra tak berani bergerak karena Farid mengeratkan pelukannya dan kakinya juga sudah diatas paha pak Hendra.
"Ya ampun apa pak Farid seperti ini sama putri ku? Hihihi,,, ternyata dia adalah orang yang seperti ini walau di luar dia adalah orang yang dingin dan tegas." batin pak Hendra terkikik melihat kelakuan Farid yang saat tidur suka memeluk.
"Kenapa tubuhmu jadi kasar sih sayang." gumam Farid yang masih tertutup matanya dan tangannya menyentuh lengan pak Hendra.
"Apa masih belum puas?" bisik pak Hendra dan Farid langsung terbelalak.
"Ah, papa. Kenapa papa ada di sini?" Farid bertanya dengan bingung dengan posisi langsung duduk.
"Kau pikir kenapa?" pak Hendra balik bertanya dan duduk juga.
"Akek, apah." suara Arlin yang memanggil dengan berjalan sama langkah kecilnya.
"Oh, sayang cucu kakek." ucap pak Hendra bangun dan mendekati Arlin.
"Kendalikan dirimu saat tidur, kalau tidak putri ku bisa remuk karena mu." ucap pak Hendra menatap Farid dan Farid hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah bangun? Papa mandilah dulu Meli sudah buat sarapan." Meli menatap pak Hendra, "Arlin kesini sayang, sudah berhasil ya bangunin papa sama kakek?" tanya Meli pada putri kecilnya yang sudah mulai pandai bicara dan berjalan.
"Apah,,," ucap Arlin lagi saat dia melihat Farid berjalan mendekatinya dan mamanya.
"Mandilah dulu tuan setelah itu sarapan, jangan sampai bau alkohol mempengaruhi Arlin." ucap Meli tanpa melihat Farid.
__ADS_1
"Iya, baiklah." jawab Farid lalu berbalik untuk mandi.
...🍂🍂🍂...
"Sayang apa hari ini mau periksa kehamilan? Aku anterin ya." ucap Satria pada Yuniar yang hari ini adalah jadwal dia untuk periksa kehamilan.
"Boleh, tapi aku mau makan rujak ya nanti? Kalau gak boleh, aku berangkat sama mbak Sulasih." ucap Yuniar yang selalu saja dilarang Satria untuk makan rujak.
"Kenapa harus rujak sih sayang, yang lain kan bisa." ucap Satria yang merasa aneh karena Yuniar selalu saja ingin makan rujak, yang dianggap Satria kurang bersih.
"Duh kau ini, Lira saja makan batu bata boleh kenapa aku gak boleh makan rujak yang lebih bersih dari pada batu bata." ucap Yuniar dengan kesal pada Satria.
"Ya ampun kenapa ya si Liyon mengijinkan kakak makan batu bata, aku juga gak habis pikir untuk itu." gumam Satria mengacak rambutnya.
"Itu artinya Liyon sangat mencintai dan menyayangi Lira dengan sebenarnya, gak kayak seseorang yang bisanya hanya melarang - larang bikin kesal saja." jawab Yuniar bangun dan keluar dari kamarnya.
"Eh, sayang aku juga sangat mencintai dan menyayangimu loh." jawab Satria mengikuti Yuniar keluar kamar.
"Hanya dibibir gak tulus." jawab Yuniar dengan menatap sewot pada Satria.
"Hei, siapa bilang? Buktinya aku selalu menuruti kemauan mu yang ingin melakukannya di sana sini dan selalu bikin aku tegang itu." jawab Satria menunjukkan bukti sayangnya.
"Tentu saja karena kau juga menikmatinya." Yuniar semakin sewot pada Satria.
"Aduh sayang bukan begitu, iya deh nanti boleh makan rujak tapi gak boleh terlalu pedas ya? Dengan begitu sudah gak marah lagi kan?" ucap Satria memeluk Yuniar dari belakang.
"Iya, boleh sayang ku" jawab Satria tersenyum.
"Terima kasih ya, ayo kalau begitu berangkat sekarang." ucap Yuniar langsung menarik tangan Satria dengan wajah yang terlihat berbunga - bunga.
"Ya ampun gampang banget ya membuat bumil satu ini senang, hanya dengan menuruti kemauannya saja." gumam Satria dalam hati dengan tersenyum melihat istrinya sangat senang.
...🍂🍂🍂...
"Pa Meli balik dulu ya,,," ucap Meli berpamitan pada papanya.
"Iya hati - hati, sering - seringlah main kerumah papa." jawab pak Hendra.
"Iya, iya nanti akhir pekan Meli kesini lagi, sekarang Meli balik dulu ya." jawab Meli dengan memeluk papanya.
"Apah alik." ucap Arlin yang dalam gendongan Farid.
"Iya saya cucu kakek yang cantik, panggilnya kakek jangan apah, nanti kalau besar cari suami yang pendiam ya jangan yang tangan dan kakinya suka gentayangan kesana sini." ucap pak Hendra sambil mencubit pipi Arlin dan menc*umnya.
"Ohok, ehem." Farid langsung terbatuk mendengar itu.
"Awas jangan bikin anak ku remuk." ucap pak Hendra menatap Farid tajam
__ADS_1
"Tapi dia istriku sekarang, jadi terserah aku." jawab Farid santai.
Ya sejak semalam mabuk bareng dan saling bercerita antara pak Hendra dan Farid tak ada lagi rasa canggung antara mereka berdua. Seakan sudah tak ada lagi jarak antara mereka yang masih menganggap satu sama lain atasan dan bawahan.
"Duh, bocah ini ya. Baiklah hati - hati jaga putri dan cucuku." ucap pak Hendra dengan menatap tajam pada farid.
"Tentu, itu sudah pasti." jawab Farid dan langsung membawah Meli dan Arlin pulang ke rumah.
...🍂🍂🍂...
"Tuan Farid, Mbak Meli, sudah pulang ya, sini non Arlin biar sama saya." ucap Surti yang melihat Farid dan Meli sudah pulang malam itu.
"Iya mbak Surti tolong bawah Arlin kedalam saya mau nyiapin susu untuknya dulu." ucap Meli menyerahkan Arlin pada Surti.
"Sayang, Arlin sudah tak begitu aktif ya sekarang sama ini?" tanya Farid memeluk Meli dari belang dan menyentuh tepat didada Meli.
"Perhatikan kearah mana tangannya mendarat, mau aku pukul itu tangan yang tak tau sopan santun." ucap Meli yang sibuk bikin susu untuk Arlin
"Benarkah begini ini tak sopan? Bukankah yang begini ini yang bikin kamu selalu tak tahan." bisik Farid ditelinga Meli.
"Tuan.!" Meli berbalik dan memukul lengan Farid.
"Aduh, sakit." ucap Farid dengan wajah memelas.
"Tidak malu ada mbak Surti." ucap Meli menatap Farid dengan melotot.
"Kenapa malu, dia kan juga sudah punya suami dan anak. Lagian dia tau kita ini pasangan muda, siapa suruh aku punya istri yang masih muda dan juga sangat menawan seperti mu." ucap Farid memeluk Meli.
"Dasar mesum, awas." Meli menghindari Farid dengan wajah yang sudah bersemu merah.
"Hahaha, lucu banget istri ku." gumam Farid dan dia masuk kedalam kamar Arlin yang dulunya adalah kamar Meli.
"Surti kamu istirahat lah, Arlin sudah tidur kan?" ucap Farid yang melihat putri kecilnya sudah terlelap.
"Iya sudah tuan, kalau begitu saya pamit istirahat dulu." ucap Surti dan pergi ke kamarnya dibelakang.
"Oh, putri papa." Farid mengangkat tubuh Arlin dan membawahnya masuk kedalam kamarnya.
"Sudah tidur ya?" tanya Meli yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya sudah, aku pergi mandi dulu ya dan jangan tinggal aku tidur seperti waktu itu, ingat jangan tidur dulu ok istriku." ucap Farid mendekati Meli memeluknya dan memberinya kecupan di pipi Meli sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar aneh." gumam Meli dan tak memperdulikan ucapan Farid, Meli langsung saja merebahkan tubuhnya dan tidur.
Saat Farid keluar dari dalam kamar mandi dia lagi - lagi mendapati Meli sudah tertidur, Farid mendekati Meli "Jangan tidur dulu aku merindukanmu sayang." bisik Farid tepat ditelinga Meli dan mengecup telinga Meli, sontak itu membuat Meli terbangun dan menatap Farid.
"Ayo, sayang ku" ucap Farid dengan menatap Meli dalam dan Meli mulai mengerti tanda dari suaminya itu. Meli tersadar kalau Farid kemaren lusa juga berpamitan untuk mandi adalah untuk hal ini.
__ADS_1
"Kamu selalu tak pekah ya sayang, membuat aku tersiksa sendiri." ucap Farid mendekatkan wajahnya pada wajah Meli dengan senyuman yang menawan bagi Meli.