Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Kemenangan semu


__ADS_3

Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Lira soal para penculik itu membuat Liyon merasa khawatir, tapi Liyon sangat kenal dan juga paham dengan Lira yang telah lama menemaninya itu. Setiap kali Lira mengambil sebuah keputusan maka Lira pasti akan melakukannya, sama seperti saat Lira mengambil keputusan saat dia pergi meninggalkan Liyon.


"Sayang, kamu baru saja sembuh dan belum pulih sepenuhnya, jangan berfikir terlalu keras." ucap Liyon menggenggam tangan Lira berusaha untuk menenangkan Lira.


"Mereka telah membangunkan singa yang sedang tidur, dan sekarang singa ini tak akan membiarkan mereka tidur dengan tenang." Lira berkata dengan penuh tekat yang sangat kuat.


Liyon bernafas dalam dan menatap Lira, "Baiklah, sesuai dengan permintaan mu sayang. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, dan aku akan melakukan apa yang akan ku lakukan." ucap Liyon memeluk Lira dan mengecup puncak kepala Lira.


"Aku juga tak akan melepaskan orang yang telah membuat kalian jadi seperti sekarang ini, dia harus membalasnya 2 bahkan 10 kali lipat dari apa yang kau alami." gumam Liyon dalam hati sambil memeluk Lira.


...🍂🍂🍂...


Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit Arlin dan Meli pun bisa dibawah pulang ke rumah, dan Farid selalu merawat kedua wanita kesayangannya itu dengan sangat baik. Farid tak pernah meninggalkan istri dan putrinya jauh dari jarak pandangnya.


"Meli, ayo makan sayang." Farid berusaha terlihat tenang dan selalu tersenyum didepan Meli yang selalu bengong dan murung karena telah mendapati kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan bagi dirinya. Bahwa dia telah kehilangan bayinya dan juga kakinya.


"Nanti saja mas, dimana Arlin apa dia baik? Aku ingin melihatnya." tolak Meli menatap Farid dengan senyum yang dipaksakan dari bibirnya.


"Dia baik dan sekarang sedang tidur ditemani oleh Warti." jawab Farid lalu memeluk Meli.


"Bagaimana dengan mbak Lira dan juga mbak Yuniar mas?" tanya Meli menatap Farid yang selalu saja menghindari pertanyaan Meli soal Lira dan Yuniar.


"Mas, katakan bagaimana dengan mereka berdua?" tanya Meli lagi memaksa Farid untuk menjelaskan.


"Aku baik Mel." jawab Lira yang sudah berdiri diambang pintu kamar Meli.


Farid kaget melihat Lira datang ke rumahnya dengan tatapan mata yang tajam dan juga terlihat biasa saja serta sedikit berbeda dengan Lira yang biasanya dia lihat.


"Ah, non." Farid berdiri menatap Lira.


"Aku ingin bicara dengan Meli, bisakah tinggalkan kami berdua saja." ucap Lira melangkah masuk kedalam kamar Meli.


"Keluarlah mas." Meli mendorong tangan Farid.

__ADS_1


"Baik, silakan non." Farid keluar dan menutup pintu kamar itu.


Setelah 30 menit lamanya akhirnya Lira keluar dari kamar Meli dan pamit pada Farid untuk kembali pulang, dan sebelum Lira keluar dari rumah Farid Lira melihat dan memeluk Arlin yang duduk di kursi bayinya dengan tangan kirinya dipasang gips.


"Sayang, putri ibu." Lira mengusap wajah polos Arlin dan mengecup kening Arlin.


"Ibu." ucap Arlin dan Lira tersenyum lalu pergi meninggalkan rumah Farid.


"Hati - hati non." ucap Farid yang mengantar Lira keluar rumah.


...🍂🍂🍂...


"Apa yang kau katakan? Ulangi sekali lagi siapa dia?" tanya Liyon pada anak buahnya yang menghubungi dia lewat panggilan telepon.


"Baik, aku mengerti. Awasi terus." perintah Liyon lalu memutuskan sambungan teleponnya.


"Berani sekali mereka, akan ku pastikan kalian menerima balasan yang sama." Liyon mengepalkan tangannya dan sangat marah.


"Baik, akan ku lakukan dengan cepat." jawab Farid dan mematikan sambungan telepon dari Liyon.


"Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa semua masalah jadi datang bergantian begini." gumam Liyon menatap layar ponselnya.


Liyon berjalan keluar dari kamarnya dan turu kebawah "Bi dimana Lira?" Liyon bertanya karena sudah 3 hari Lira menghilang dan setiap pagi dan saat Liyon datang Lira sudah tidur.


"Tadi keluar pagi - pagi sekali tuan muda." jawab Bi Min pada Liyon dengan sopan.


Ya Lira suka sekali menghilang entah kemana dan sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu bersama dengan Yuniar. Liyon yang sudah berjanji tak mempermasalahkan apa yang akan dilakukan oleh Lira karena Liyon sudah siap bertindak jika sampai ada yang mau mencelakai Lira lagi.


...🍂🍂🍂...


"Hahaha,,, aku puas sekali dan sangat puas. Walau tak mati tapi aku yakin dengan keadaan saat ini dia pasti akan mengalami pukulan yang sangat berat." yusnia tertawa dan sedang mengadakan pesta disebuah bar.


"Kau sangat kejam Yusnia, bukankah dulu kau dan dia adalah rekan kerja." tanya teman Yusnia yang tak lain adalah Niyang.

__ADS_1


"Teman kerja, ya dulu aku dan Lira adalah rekan kerja. Namun dia selalu saja berhasil menggagalkan rencana ku untuk mendapatkan Liyon, dan sialnya justru Liyon malah menghabiskan malamnya denah si ****** itu." Yusnia berkata dengan sangat marah dan juga kesal.


"Gara - gara Lira aku jadi hamil anak si bajingan Denis." dengan emosi Yusnia berkata dengan sangat kesal.


"Dasar, apa kau pikir aku membantu mu. Aku membantu diriku sendiri, dengan meminjam tangan mu makan aku akan bisa mendapatkan Liyon ku kembali." gimana Niyang dalam hati menatap lucu pada Yusnia yang saat ini sedang mabuk dan memaki Lira juga Denis yang telah membuat dirinya hamil.


Dalam kesenangan pesta Yusnia dan Niyang mereka tak tau kalau mereka sedang diawasi oleh seseorang yang menatap mereka dengan marah dan kesal, kedua sorot mata itu sangat tajam seolah ingin langsung menikam mereka berdua. Amarah yang memuncak terlihat dengan sangat jelas dari sorot pandang mata dari orang itu.


"Kalian boleh bersenang - senang sekarang, namun setelah ini kalian akan membalaskan semuanya tanpa tersisa."


"Yusni jangan minum lagi kamu sudah banyak minum dan mulai mabuk, ingatlah kalau kamu sedang hamil sekarang." Niyang mencegah Yusnia agar tak minum lagi.


"Dia terlihat sangat senang dan berpesta, namun dia tak sadar kalau kalau kemenangannya ini hanyalah kemenangan semua saja. Karena aku tak akan melepaskan Liyon untuk dirinya. Lagi pula Liyon tak akan mau menerima wanita kotor seperti dia." gumam Niyang dalam hati menatap Yusnia yang sedang mabuk.


"Niyang apa kau tak merasa kalau kita sepetinya ada yang mengawasi dari tadi?" tanya Yusnia yang merasakan curiga dengan seseorang yang dari tadi melihat kearah mereka.


"Itu hanya perasaanmu saja, ayo pulang kau sudah mabuk." Niyang mengangkat tubuh Yusnia untuk berdiri dari tempat duduknya.


Dengan bersusah payah akhirnya Yusnia berdiri, namun Niyang tak membawahnya pulang ke rumah tapi menyerahkan yusnia pada seseorang dan membawahnya kedalam sebuah kamar di hotel.


"Wanita ******, atasi dengan cara ******." Niyang meninggalkan Yusnia dengan tersenyym.


...🍂🍂🍂...


"Apanyang kau bilang?! Liyon sudah tau dan berencana mau mengakuisisi perusahan dalam waktu 3 hari?" Santo terkejud saat dia mendapatkan info dari anak buahnya soal Liyon yang mau mengakuisisi perusahaannya.


"Liyon, kenapa dia selalu saja punyak cara untuk mengetahui semua rencana ku." Santo sangat marah besar.


Dengan raut wajah yang merah padam karena emosi Santo keluar dari ruang kerjanya dan sedang mencari adiknya, namun Niyang tak ada di rumah malam itu karena sedang berpesta dengan Yusnia untuk merayakan kehancuran Lira.


"Dimana Niyang?" Santo bertanya dengan nada emosi yang sudah meluap, sehingga membuat pembantunya takut untuk menatapnya.


"No-non Niyang ke-keluar dengan temannya tuan Santo." jawab pembantu Santo dengan kata yang terputus - putus karena takut.

__ADS_1


__ADS_2