
"Aduh sakit, kenapa tubuhku lemas dan juga sakit semua begini ya?" gumam Meli saat dia terbangun dari tidurnya yang sudah sangat siang dan mata hari sudah berada diatas rumah dengan sangat terik.
"Eh, tunggu ini kamar ku?" Meli melihat sekeliling
"Kemaren itu apa? Apakah itu mimpi? Tapi tidak mungkin karena aku bisa ingat betul semalam aku merobek surat cerai ku dan,,," Meli mengingat apa yang terjadi semalam.
"Berhasil, aku berhasil. Tak ku sangka aku telah berhasil, tapi dia menganggap aku mabuk itu tak masalah."
"Hah, iya aku ingat aku mengatakan itu dalam hatiku saat aku melihat tuan membalikku dan menatapku dengan tatapan lembutnya, setelah itu,,," Meli berusaha mengingat lagi kejadian semalam.
"Kau yang mulai dan kau juga yang memancing ku. Selama ini aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahannya. Sekarang jangan menyesal dan jangan menyalahkan diriku yang telah kau bangkitkan."
"Setelah malam ini kau adalah wanitaku, dan tak akan pernah ku lepaskan apa pun yang akan terjadi."
"Kau masih tetap sama sayang, lembut dan sangat nyaman."
"Apa kau tau, aku sangat menyukaimu. Bahkan disaat aku belum mengenal siapa dirimu, aku sudah tertarik padamu istriku. Bisakah aku memanggilmu dengan nama itu?"
"Emm, kau sangat tak sabaran ya sayang." Farid tersenyum setelah mengurai c*umannya karena Meli menariknya.
"Kita mulai sayangku." ucap Farid dan mulai mengarahkan pejantan kearah V Meli.
"Aaaaah.!" Meli teriak saat dia telah memutar ulang semua ingatannya semalam bersama dengan Farid, terlebih lagi dia sendiri yang selalu membuat Farid bangkit berkali - kali hingga dirinya sendiri yang merasakan sakit serta lemas sekujur tubuhnya begini.
"Nyonya ada apa? Apa nyonya tak apa?" tanya Surti yang merasa kaget mendengar tiba - tiba saja Meli teriak setelah seharian hening.
"Eh, ada mbak Surti?" Gumam Meli, dikira dia sendirian seperti biasanya di rumah saat siang hari.
"Tidak, tidak apa - apa. Aku mandi dulu mbak, nanti letakkan Arlin di kamar aku mau menyusui dia." teriak Meli dari dalam kamar, dan berjalan dengan terhuyung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Ini semua?" Meli meraba gunung kembarnya yang rata dengan tanda merah yang ditinggalkan oleh Farid.
Meli tersenyum melihat pantulan dirinya dari cermin yang memiliki beberapa tanda merah kehitaman disetiap bagian tubuhnya, dan saat meli berputar dia melihat bagian belakang dia juga rata dengan tanda merah, Meli tersenyum lagi karena Farid memberinya tanda dengan sangat rata dan hampir di sekujur tubuh Meli tercap dengan stempel alami dari suaminya.
"Dia adalah milikku dan aku miliknya, mulai sekarang kami saling memiliki." gumam Meli malu - malu menutup wajahnya.
"Eghmmmmm." Meli menggeleng - gelengkan kepalanya mengusir ingatan tentang tubuh dan juga permainan Farid semalam.
Setelah Meli merasa kuat dan juga tak lemas lagi Meli pun keluar dari dalam kamar untuk membantu Surti masak dan menyiapkan makan malam untuk Farid.
"Nyonya sudah baikan? Apa perlu saya belikan obat urut nyonya? Katanya tubuhnya sakit semua dan lemas." tanya Surti yang melihat Meli keluar dan membantunya.
__ADS_1
"Tidak usah mbak, oh iya tolong jaga Arlin dikamar saya ya mbak, takut nanti dia terguling dan jatuh. Biar saya yang menyiapkan makanannya." ucap Meli dengan wajah penuh dengan senyuman.
"Iya saya lihat non Arlin." jawab Surti dan pergi ke kamar Meli menjaga Arlin yang sedang tertidur pulas.
Sekitar 1 setengah jam Meli kembali masuk kedalam kamarnya dan memberi tau pada Surti untuk menyiapkan makanan di meja makan karena sudah siap semua.
"Mbak semuanya sudah siap. Tolong mbak Surti siapkan dan tata diatas meja makan ya, aku mau nyusuin Arlin lagi. Dan tidak perlu memanggil aku, karena aku sudah makan tadi." ucap meli pada Surti setelah selesai masak.
"Iya nyonya." jawab Surti dengan tersenyum keluar dari kamar Meli.
"Hari ini nyonya sangat aneh, biasanya dia tak peduli aku mau masak apa. Tapi kenapa tiba - tiba hari ini berinisiatif untuk masak dan juga beralasan takut non Arlin jatuh dan menyuruh aku menjaganya. Menyiapkan masakan untuk makan malam buat tuan Farid sendiri? Apakah hubungan nyonya dan tuan Farid sudah membaik?" gumam Surti bertanya - tanya dalam hatinya sambil berjalan ke dapur.
"Arlin sayang, kenapa sayang? Arlin suka dengan tanda merah yang diberikan oleh papa pada Mama? Apa Arlin tau, masih banyak lagi tanda seperti ini dibagian tubuh Mama yang lain." gumam Meli tersenyum dan mengecup kening putrinya yang sedang asyik menyusu dan menepuk - nepuk serta mencoel - coel tanda merah Meli disekitar pay*daranya.
...🍂🍂🍂...
Ditempat lain disebuah rumah kecil dalam waktu yang bersamaan juga ada seseorang yang sedang menghukum istrinya dan tak memberinya ampun karena mengetahui istrinya sedang berjalan dengan pria lain dengan sengaja dan terlihat bahagia. Orang itu tak memberikan ampun pada istrinya dan dia tak peduli tempat dimana dia memberikan hukuman itu, hingga membuat sang istri tak mampu lagi mengimbangi permainannya yang semakin lama jadi semakin menuntut.
"Li-liyon,,," Suara Lira melemah.
"Hem" Liyon masih bersemangat dan menggigit leher Lira dengan lembut.
"Benarkah? Baiklah." Liyon mengangkat kaki Lira dan menggendongnya tanpa melepaskan penyatuannya, lalu meletakkan tubuh Lira di atas meja makan.
"Aku sangat merindukanmu kak, kau telah mengabaikan dan membiarkan aku selama 4 bulan hanya untuk mengatasi masalah dengan Santo. Dan berani sekali kakak berjalan dengan mesrah sama Rian saat ada didepan ku tadi siang." bisik Liyon dan dia mempercepat gerakannya.
"Liyon sakit.!" Lira menahan tubuh Liyon agar tak bergerak dengan cepat. Namun Liyon jadi semakin liar dan memburu karena dia mau mencapai puncaknya.
Tubuh Lira dibuat lemas oleh Liyon, dan tenaganya seolah diserap habis. Karena saat Lira sudah tak bertanah lagi Liyon justru sangat berstamina dan juga terlihat sangat segar.
"Apa yang mau kau lakukan?!" teriak Lira saat dia sudah selesai mandi, dan Liyon masuk kedalam kamarnya hanya menggunakan boxer saja.
Liyon memunculkan seringainya dan berjalan mendekati Lira. "Kau pikir apa yang mau aku lakukan jika berdua saja dengan mu seperti saat ini, hem?" jawab Liyon yang berjalan semakin dekat.
"Jangan macam - macam, aku akan menghajar mu." ucap Lira memasang kuda - kuda.
"Jangan lupa dalam surat perjanjian kita, poin 12 Di sana tertulis kalau pihak B harus mau melakukan semua hak serta kewajiban dalam hubungan suami istri selama menjadi pasangan suami istri dengan pihak A."
"Dan itu termasuk melayaniku. Mau ku hukum lebih lagi jika kakak tak mau melakukannya? Aku suka menghukum kakak." Liyon tersenyum menatap Lira yang mulai berjalan mundur menghindari Liyon.
"Kau sangat aneh, ini bukan hukuman lagi melainkan penyiksaan." celetuk Lira
__ADS_1
Liyon tersenyum, "Tentu ini adalah penyiksaan, karena kakak berani jalan dengan pria lagi." ucap Liyon mendekat. "Karena dipoin 11, tertulis pihak B tidak boleh dekat atau menjalin hubungan dengan pria lain. Sebagai pihak B harus bisa menjaga jarak dengan pria lain selain suaminya atau pihak A sendiri." kalimat liyon ditekankan.
"Dan,,, dipoin 13. Pihak B harus selalu memberikan morning kiss pada pihak A setiap pagi." Liyon berkata dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Kakak harusnya ingat semua poin itu." ucap Liyon mengingatkan pada Lira dan membacakan poin - poin terakhir dari isi perjanjiannya, hingga tanpa sadar Lira berjalan mundur sampai dia terduduk ditepi tempat tidur.
"Tapi apa yang kakak lakukan tadi siang? Kakak telah melanggar isi perjanjian poin 11 dengan membiarkan Rian menggandeng tangan kakak dan kalian berjalan bersama dengan bahagia." ucap Liyon mendekatkan wajahnya tepat 1 senti dari wajah Lira.
"Itu,,, itu kan aku tak mungkin menghindar karena antara aku dan dia ada cerita dimasa lalu yang harus aku jaga dengan baik." jawab Lira berpaling melihat ke arah lain.
"Benarkah? Kalau begitu ceritakan kisah dimasa lalu kalian pada ku." ucap Liyon menahan dagu Lira dan mengarahkannya agar menatap wajah Liyon.
"Si-singkirkan dulu dirimu agar aku bisa,,, aaaah! Emm." Liyon mendorong tubuh Lira jatuh ketempat tidur dan melahap bibir Lira dengan sangat dalam.
"Ceritakan sekarang." ucap Liyon setelah dia mengurai c*umannya.
"Aku dulu,,," Lira mulai menceritakan saat dia bertemu dengan Rian disetasiun.
"Lira, tak ku sangka kita akan bertemu di sini. Tapi kau mau kemana kok bawah - bawah koper begitu?" tanya Rian yang waktu itu melihat Lira bersiap mau pergi.
"Aku,,, mau pergi jauh." jawab Lira tertunduk.
"Kau mau pergi menghindari dia?" tanya Rian dan Lira mengangguk karena Lira tau yang dimaksud dengan dia oleh Rian adalah Liyon.
"Kalau begitu ikutlah dengan ku, jika kau masih di sini kemungkinan besar dia akan menemukan dirimu lagi." ajak Rian dan Lira memutuskan untuk menerima.
"Jadi waktu itu kakak tak ada rencana untuk pergi berdua dengan dia?" tanya Liyon yang berbaring disebelah Lira dengan memeluk tubuh Lira.
"Tidak, itu adalah pemikiran yang sepontan dari ku." jawab Lira dengan tatapan melihat langit - langit kamarnya.
"Lanjutkan" ucap Liyon sambil mengecup bahu mulus Lira.
"Apa maksudmu Lira, jadi kau hamil dan baru tau sekarang?" tanya Rian yang tau kalau Lira mengundurkan diri menjadi pengawal dari kakaknya.
"Iya dan aku tak mau membahayakan diriku dan juga kehamilanku, karena aku sudah hamil 3 bulan." jawab Lira.
8 bulan berlalu dan Lira telah menjadi seorang guru karate disebuah sanggar, Lira juga mempelajari dan mendalami ilmu wushu yang awalnya hanya untuk meningkatkan kesehatan saja setelah melahirkan, namun hal itu malah berlanjut ke arah pertahanan diri dengan mengenal titik lemah dari lawan.
Cerita yang diceritakan oleh Lira didengar dengan sangat seksama oleh Liyon dengan sesekali Liyon menyusup dan mengecup bahu serta leher Lira.
"Maafkan aku sayang, aku tak ada saat kamu mengandung Ferdi dan juga saat kamu berjuang keras dalam melahirkan serta merawat Ferdi seorang diri sampai dia menjadi anak yang begitu kuat dan juga cerdas." ucap Liyon dan mulai menc*umi Lira hingga mereka lagi - lagi melakukan penyatuannya.
__ADS_1