
Ditempat kejadian ada sekitar 12 orang yang tergeletak dijalanan tak bisa berdiri. Mereka semua mengalami luka yang sama yaitu terkilir dan lemah otot kaki. Dan semuanya terikat dengan ikat pinggang mereka.
"Kenapa mereka semua? Ini tempat kejadiannya kan?" Farid kaget karena ada begitu banyak orang dengan luka yang sama dan juga terikat ditangan mereka semua.
"Sepertinya kakak yang melakukannya, karena tadi dia menghubungi aku." ucap Satria.
"Amankan mereka semua dan geledah ada apa saja yang mereka bawah, bawah ke gudang semuanya." perintah Farid pada anak buahnya.
"Dimana Liyon?" tanya Farid mendekati Satria yang sedang menggeledah salah satu tubuh pelaku.
"Mungkin sudah dibawah ke rumah sakit." jawab Satria.
"Pak saya temukan sesuatu didalam mobil mereka." teriak anak buah Farid, dan Satria sama Farid bergegas mendekat.
"Apa ini? Banyak sekali botol - botol ini dan jarum. Ini obat apa sebenarnya?" Satria melihat semua barang yang dibawah oleh mereka.
"Ayo bawah ini pada Bagas saja. Bawah sekalian sama mobilnya ke gudang dan hubungi Bagas." perintah Farid lagi dan anak buahnya langsung bergegas.
"Pak kami sudah memasukkan mereka semua kedalam mobil." ucap anak buah Farid yang lain.
"Baik, langsung ke gudang. Ayo Sat." ucap Farid dan masuk kedalam mobilnya begitu juga dengan Satria masuk ke mobilnya sendiri.
Ditengah perjalanan tiba - tiba saja Satria memutar laju mobilnya kearah lain, dan Farid yang melihat dari spion merasa heran, dia menghentikan mobilnya dan ikut memutar balik mengikuti kemana arah Satria menuju.
"Kau mau kemana?" tanya Farid pada Satria melalui Sabungan telepon.
"Barusan kakak bilang dia sedang di rumah sakit, Ferdi dan Liyon dalam bahaya mereka keracunan. Aku hubungi Bagas dulu." jelas Satria dan memutuskan sabungan telepon dengan Farid.
"Sial, apa yang terjadi sebenarnya." Farid terlihat frustasi.
30 menit akhirnya Satria dan Farid sampai pada rumah sakit dimana Liyon dan Ferdi ditangani. Satria bergegas mencari keberadaan kakaknya, karena dari suara kakaknya ditelepon terdengar sangat panik juga ketakutan.
"Kak." tegur Satria saat menemukan kakaknya yang mondar mandir didepan pintu tindakan.
"Satria." Lira langsung menghambur kedalam pelukan Satria dan menumpahkan tangisnya.
Satria yang merasakan tubuh kakaknya bergetar langsung mendekapnya dengan erat, Satria tau kalau kakaknya sedang berusaha sekuat tenaga untuk kuat dari tadi.
"Tenanglah semua akan baik - baik saja mereka pasti bertahan tenanglah." Satria berusaha untuk menenangkan kakaknya.
"Bagaimana pelakunya?" Lira bertanya setelah mengurai pelukannya.
"Mereka semua sudah diamankan dan kami akan mengintrogasi mereka nanti." jawab satria dan membawah kakaknya masuk kedalam pelukannya lagi.
"Satria, Farid. Dimana Liyon?" tanya Bagas yang baru datang dengan panik.
"Didalam." Lira menunjuk pada ruang tindakan.
Bagas langsung menerobos masuk kedalam dan terdengar suara Bagas yang sangat keras seolah sedang memarahi mereka. 15 menit kemudian pintu ruang tindakan terbuka dan Liyon sama Ferdi didorong keluar mau dipindahkan ke ruang rawat.
"Bagaimana dengan mereka?" Lira lari dan bertanya pada perawat yang sedang mendorong Liyon juga Ferdi.
__ADS_1
"Mereka sudah lewat masa kritis, mereka keracunan dan terlalu banyak menghirup gas beracun. Untuk Liyon harus diobservasi lebih lanjut karena dia juga terkena obat pelemah jantung." jelas Bagas keluar dari ruang tindakan.
"Panggil kepala rumah sakit ini, aku tunggu di ruang rawat." ucap Bagas pada salah satu perawat yang ada di sana.
"Ferdi sayang cepat bangun nak, mama mohon bangunlah." Lira menangis sambil menggenggam tangan Ferdi dan menciuminya.
"Liyon!" nyonya Li dan suaminya juga ikut datang setelah mendengar kabar dari Gali.
"Maafkan Mama, bangunlah sayangku. Mama mohon." Lira tak menghiraukan kedatangan nyonya Li karena Lira sedang fokus pada putranya.
"Liyon, bagaimana bisa seperti ini?" nyonya Li melihat ada beberapa bagian tubuh Liyon yang dibalut dengan perban, dan juga terlihat pucat serta lemas.
"Tante, Om." Bagas masuk kedalam ruang rawat Liyon dan juga Ferdi setelah berbicara dengan kepala rumah sakit.
"Bagas apa yang terjadi dengan Liyon? Kenapa dia terlihat begitu pucat dan seolah tak ada tenaga." tanya tuan Li yang menyentuh tangan Liyon sangat dingin.
"Didalam darah Liyon ditemukan senyawa potasium klorida yang biasanya digunakan untuk menghentikan detak jantung, untung saja dosis yang dimasukkan sedikit dan dia juga cepat dibawah ke rumah sakit, jika tidak maka semuanya akan terlambat. Sepertinya Liyon berusaha untuk bertahan saat dia menghirup gas beracun, mungkin itu sebabnya mereka menyuntikkan obat itu pada tubuh Liyon dengan sembarangan." jelas Bagas yang membuat nyonya dan tuan Li kaget.
"Deg." jantung Lira bergetar mendengar penjelasan dari Bagas.
"Bagaimana mungkin ada orang yang tega dan sekejam itu." nyonya Li menangis menggenggam tangan Liyon yang terbaring lemah.
"Semua sudah tak apa Tante, untung saja mereka tak menyuntikkan obat itu pada pembuluh darah Liyon. Jika sampai itu terjadi maka Liyon akan meninggal ditempat." sambung penjelasan Bagas.
"Dimana para pelakunya?" tanya tuan Li dengan geram.
"Mereka ada di gudang, Satria dan Farid sedang mengintrogasi mereka sekarang." jawab Bagas yang memeriksa keadaan Ferdi.
"Pergilah dengan ku." ucap tuan Li pada Lira.
"Kau harus bangun, jika tidak. Aku yang akan menghabisi mu saat aku kembali." ucap Lira menggenggam tangan Liyon.
"Mama." gumam Ferdi yang sudah sadarkan diri.
"Sayang." Lira memeluk Ferdi. "Tunggu mama kembali, jaga papamu ok, anak kuat." ucap Lira dan mengecup kening Ferdi.
"Sayang cucu nenek." nyonya Li mendekati Ferdi.
...🍂🍂🍂...
Selama perjalanan ke arah gudang baik Lira atau tuan Li tak ada yang bersuara hingga mereka sampai pada tempat tujuan disebuah bangunan megah yang ternyata adalah sebuah gudang mewah.
"Satria." panggil Lira saat dia melihat Satria yang sedang berusaha mengintrogasi pelakunya.
"Kak, kenapa kakak kemari?" tanya satria yang merasa bingung.
"Dimana barang - barang yang mereka bawah." tanya Lira berjalan mendekati Satria.
"Nona Lira semua barang mereka masih didalam mobil ini." ucap Farid menunjukkan mobil disebelahnya.
"Obat, dimana obatnya. Yang mana yang mereka gunakan." Lira mengacak isi mobil itu sampai dia menemukan sebuah botol kecil dan alat suntik.
__ADS_1
"Hentikan Sat." ucap Lira berjalan mendekati pelaku dengan sebuah suntikan yang ada ditangannya dan sudah diisi dengan sebuah obat.
"Katakan siapa dalang dibalik semua ini?!" tanya Lira dengan sangat emosi.
"Aku tak tau." jawab orang itu.
"Benarkah?" Lira melepaskan ikatan orang itu.
Bug
Kratak
"Aaaaah.!" teriak orang itu saat mendapatkan serangan dari Lira karena dia berusaha untuk menyerang Lira.
"Tanganku, apa yang mau kau lakukan dengan benda itu!" orang itu ketakutan dengan memegangi tangannya yang dibuat cidera oleh Lira.
"Kau tau kan ini apa? Jika aku menyuntikkan ini tepat di pembuluh darah mu apa yang akan terjadi kau tau pasti. Jadi katakan siapa dia jika kau ingin selamat." ucap Lira mengarahkan jarum suntik itu pada orang yang telah dibuat Lira tak berkutik.
"Sat apa benar dia adalah kakakmu?" bisik Brayen pada Satria.
"Entahlah aku juga lupa, dia kakakku atau bukan. Dia seperti orang lain, yang ku tau kakakku sangat lemah lembut dan penyayang dulu." jawab Satria yang juga kaget melihat cara Lira mengatasi orang - orang itu.
"Aku rasa dia adalah predator, tak ada orang yang bisa melumpuhkan begitu banyak orang sendirian." bisik Saputra yang juga ikut mengawasi.
"Tunggu. Aku katakan, aku katakan. Dia adalah seorang wanita aku tak tau dia siapa, dia hanya bilang kalau dia mau balas dendam pada target. Bagaimana pun caranya kami harus bisa membunuhnya dan mengantarkan mayatnya pada dia." jelas orang itu.
"Benar - benar ada fotonya dalam handphone ku, aku mengambil gambarnya diam - diam." sambung teman dari orang itu.
"Wao, dia wanita yang cantik." ucap Brayen yang sudah membuka galeri dan melihat foto itu.
"Tunggu bukankah dia adalah Mey Niyang." Farid mengerutkan keningnya saat melihat foto wanita itu.
"Siapa dia dan ada urusan apa?" tanya Lira.
"Dia adalah wanita yang mengejar Liyon, dulu dia mengaku bahwa dia hamil dan melahirkan anak Liyon. Tapi karena dari pemeriksaan Liyon tak terlibat, keluarganya jadi menaruh permusuhan dengan kami." jelas tuan Li.
"Rupanya Santo menarik adiknya kemari." sambung tuan Li.
"Santo. Jadi dia terlibat." gumam Lira.
"Rupanya mereka ingin menuntut balas sampai kesini." gumam Farid.
Brrrt
"Ya halo, kenapa Gas?" jawab Farid pada telepon Bagas.
"Liyon sudah sadar." ucap Bagas dari sebrang telepon.
"Baik. Kita ke Liyon." ucap Farid dan semuanya keluar dari gudang itu.
"Tahan mereka dan jangan sampai ada yang lolos. Bawah ketahanan semuanya." perintah Saputra pada para polisi yang datang bersama dengan dia.
__ADS_1