Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Kepergian lira


__ADS_3

Malam itu di rumah liyon lagi banyak orang, teman - temannya kumpul bersama karena kejadian liyon yang mabuk dan tak bisa mengatasi dirinya sendiri dia jadi sering merasa pusing, sehingga Bagas terpaksa selalu ke rumah liyon setiap pulang dari rumah sakit. Sementara Brayen yang khawatir degan keadaan liyon jadi ikutan sering datang ke rumah liyon.


Malam Brayen berencana bermalam disitu sekalian menjaga liyon dan membantu Bagas barang kali saja butuh bantuannya saat merawat liyon. Disaat liyon yang masih bekerja Farid pun sudah datang, dan langsung masuk ke ruang kerja liyon dengan cepat dan belum sempat menyapa Bagas dan juga Brayen yang sedang duduk santai di ruang tengah rumah liyon.


"Wah lihatlah anak itu tak sopan banget, begitu datang langsung menemui ayahnya tak menyapa dulu pada mamanya yang sedang duduk dan beberapa hari ini mengkhawatirkan dirinya" keluh Brayen dengan kesal melihat Farid.


"Liyon keluar kamu, dimana kamu sembunyikan kakakku.!" teriak satria dari luar rumah yang datang dengan keadaan marah besar sama liyon.


"Liyon.!" teriak satria lagi dengan melangkah masuk kedalam rumah setelah dibukain pintu oleh Bi Min.


"Eh, Sat ada apa? Kenapa kau terlihat begitu marah?" tegur Bagas


"Dimana baj*ngan itu?!" kesal Satria.


"Tunggu dulu apa yang terjadi sebenarnya?" Brayen menahan Satria.


"Menyingkirlah dia telah menyembunyikan kakakku." jawab satria dengan tak sabar.


"Kakak, maksud mu Lira? Mana mungkin dari tadi dia bersama dengan kami dan tak kemana - mana" jelas Brayen.


"Ini pasti akal - akalan dia." geram satria "menyingkirlah kalian aku ingin ketemu baj*ngan itu." ucap satria dengan marah.


"Kenapa kau berteriak di rumah ku." liyon keluar dari ruang kerja dan berkata dengan dingin pada satria.


"Kau masih bisa santai? Cepat katakan kau sembunyikan dimana kakakku?!" satria melangkah mendekati liyon, "aku sudah pernah bilang agar kau melepaskannya dan jangan mengusiknya, kenapa sekarang kau malah menculik dan menyembunyikannya hah?!" satria menarik kerah baju liyon dengan sangat marah.


"Sebenarnya apa yang terjadi ini?" Farid bertanya dengan bingung.


Liyon memegang tangan satria yang mencekram krah bajunya dan menariknya dengan paksa, "kau jangan konyol." liyon mendorong satria mundur.


"Jangan kau pikir karena ini adalah rumahmu aku tak akan berani bertindak ya!?" satria maju lagi, namun Brayen sudah lebih dulu mencegah satria dengan cara memeluk satria dari belakang, sedangkan Bagas menahan dari depan.


"Sat tenangkan dirimu dulu, aku yakin liyon tak akan memaksakan kehendaknya, jika Lira sudah memilih akan menikah dengan mu maka liyon pasti akan mundur." jelas Bagas


"Benar yang dikatakan oleh Bagas, jadi kau tenang dulu dan bicaralah dengan tenang juga." Brayen menimpali.


Farid, liyon dan juga Satria jadi terdiam bingung dengan maksud dari perkataan kedua orang yang saat ini berusaha untuk menahan Satria. Emosi satria seketika memuncak mendengarkan perkataan dari 2 orang yang dia kenal sebagai teman itu, begitu juga dengan emosi liyon.


"Sial.!" ucap satria dan liyon bersamaan


Bag


Bug


Plak


Gdubrak


Satria dan liyon bekerja sama menghajar kedua temannya itu (Brayen dan Bagas), mereka bagai pasangan duet maut yang luar biasa untuk menghancurkan orang.


"Darimana kalian punya pikiran buruk seperti itu hah?!" teriak liyon kesal.


"Kau menilai kakakku begitu rendah." teriak satria yang melampiaskan rasa kesalnya pada Bagas dan Brayen.


"Tunggu, tunggu dulu." Bagas menahan pukulan liyon dan satria sambil meringkuk dilantai, begitu juga dengan Brayen.


"Benar - benar jangan asal pukul, aduh wajah ku." keluh Brayen yang mendapatkan tonjokan dari satria.


"Katakan." ucap satria dan liyon bersamaan dengan melipat tangan mereka didepan dada.


"Duh, ya ampun mereka seperti kembar." gumam Brayen dalam hati sambil mengusap darah dari sudut bibirnya.


"Bukankah waktu itu kalian bertemu di cafe ku karena membahas soal Lira kan? Dan kamu juga bilang akan menikahi wanita mu, sementara kalian sama - sama menyukai wanita yang 5 tahun diatas kalian, Itu Lira kan." jelas Brayen sambil berusaha bangun dan berdiri.


"Benar - benar aku juga ada di sana waktu itu, kalian benar - benar keterlaluan, aduh sakit sekali." keluh Bagas yang memegang lengannya yang memar akibat pukulan liyon.


"Kalian?!" geram satria dan liyon bersamaan.

__ADS_1


"Kenapa lagi? Memangnya aku salah?" tanya Brayen yang lari sembunyi di belakang Farid.


"Dia adalah kakakku bodoh!!" teriak satria dengan kesal.


"Darimana kalian dengar rumor seperti itu?" liyon memegang keningnya dengan tangan kanannya dan menghela nafas panjang.


Melihat reaksi Liyon dan Satria, Bagas dan Brayen bingung. Mereka saling tatap dan memperhatikan liyon serta serta Satria dengan seksama.


"Kalian salah paham, non Lira adalah kakak dari Satria dan wanita dari Bos Liyon." jelas Farid yang membantu Bagas juga Brayen duduk lagi di sofa.


"Hah?" Bagas dan Brayen terkejud


"Jadi bukan karena perebutan dari satu wanita ya?" tanya Brayen


"Tentu saja bukan." jawab Farid tersenyum.


"Tadi kau bilang Lira hilang, kapan hilangnya?" tanya liyon dan menyerahkan amplop yang selama ini Liyon bawah namun tak dibuka.


"Seminggu yang lalu dia mengajukan pengunduran diri dan pergi meninggalkan ku." sambung liyon duduk di kursi depan Bagas dan Brayen.


"Apa?" satria membuka amplop yang terlihat berantakan itu.


"Aku menepati janji ku pada mu, jika dia yang minta maka aku tak akan menolak, tapi aku pasti akan mencarinya dan mendapatkannya lagi nanti." sambung liyon dengan percaya diri.


Satria juga duduk di kursi samping sofa Bagas dan membaca surat yang berikan oleh liyon.


"Lalu dia kemana?" gumam satria dengan bingung.


"Ceritakan, kapan dan bagaimana dia hilang?" liyon menatap satria, "jangan cemas aku akan mencarinya sampai ketemu jika memang dia diusik oleh seseorang." jawab liyon dengan nada yang terdengar sangat menakutkan.


"Tadi ibuku bilang kalau Lira tak bisa dihubungi setelah dia menghubungi ibu sekitar 1 jam yang lalu. Seharusnya dia sudah sampai rumah saat ini namun sampai sekarang dia belum juga sampai dan ponselnya juga tak aktif." jelas satria.


"Seminggu yang lalu dia pulang kampung dan tinggal di sana, dia bilang katanya dia lagi cuti kerja karena ingin jiarah ke makam ibunya." sambung satria.


Kejadian seminggu yang lalu


"Halo Ibu, putrimu pulang." sapa lira pada sang ibu yang sedang asyik bercocok tanam disamping rumah.


"Ya ampun anak nakal ini akhirnya kamu tau jalan pulang juga." sahut sang ibu dengan kesal pada lira.


"Hahaha, maafkan aku ibu. Dimana ayah?" tanya lira sambil memeluk sang ibu.


"Ayahmu ada di sanggar." jawab Bu Yuliatin (ibu tiri lira).


Ya nyonya Yuliatin adalah ibu tiri lira yang merawat lira sejak usia lira 3 tahun, dan beliau melahirkan satria lalu membesarkan lira dengan penuh kasih sayang yang sama dengan satria putra kandungnya. Tak ada perbedaan antara satria dan lira bagi nyonya Yuliatin, karena bagi dia keduanya adalah anak - anak dari suaminya.


"Ayah putrimu pulang!" teriak lira dan menabrak sang ayah untuk memeluknya.


"Ya Ampun siapa kah ini?" canda tuan Bambang dan menyambut kedatangan lira dengan sangat hangat.


Lira sangat bahagia karena memiliki keluarga yang saling menyayangi dan mendukung satu sama lain. Selama tinggal bersama dengan orang tuanya lira lebih menghabiskan waktunya bermanja - manja sama sang ibu, karena nyonya Yuliatin memang lebih memanjakan lira dari pada satria.


"Kamu sudah 4 hari di rumah, ayo besok ke makam ibu kamu, jenguk dia dan ibu akan mengantar mu." ajak ibu Yulia pada lira.


"Baiklah." jawab lira.


Dan esoknya lira sama ibu Yulia pergi kemakam untuk jiarah makam, lira membawah buket bunga tulip kesukaan dirinya dan juga sang ibu. Karena sang ayah pernah cerita kalau lira sangat mirip dengan alm. ibunya mulai dari paras dan semua kesukaannya.


"Ibu apa kabar, hari ini lira datang mengunjungi ibu. Ibu jangan khawatir lira sangat bahagia dan semoga ibu juga bahagia di sana ya." ucap lira didepan makam sang ibu dengan bersimpuh dan membelai batu nisan ibunya.


"Kakak jangan khawatir, aku pasti akan selalu menjaga dan merawat bocah nakal ini. Apa Kakak tau dia sudah hampir 2 tahun ini tak pulang, dan sekarang pulang juga cuma sebentar karena dia akan kembali lagi besok untuk bekerja." adu Bu Yulia pada alm. ibu lira.


"Kak Kinja, sebentar lagi satria juga akan menikah. Dia sudah mengenalkan kekasihnya pada kami tapi cuma lewat video call saja, nanti kalau mereka datang aku akan menyuruh mereka untuk menemui kakak ya."


"Wanita pilihannya adalah sahabat Lira, mereka terlihat sangat bahagia. Kakak pasti juga akan suka dengan orangnya, dia gadis yang baik kak."


Bu Yulia selalu menyertakan ibu Kinja dalam setiap urusan keluarganya dan dia juga selalu datang untuk berbincang serta menceritakan semuanya karena Kinjaya dan Yuliatin adalah sahabat sejak mereka masih kecil, dan diakhir hayatnya Ibu Kinja meminta sahabatnya Yulia untuk menjaga putrinya yang masih kecil dan baru berumur 3 tahun, yang akhirnya dinikahi oleh ayah lira dan menjadi ibu sambung bagi lira.

__ADS_1


"Ibu, ayah Lira balik dulu ya karena lira harus bekerja lagi." pamit lira pada ibu dan ayahnya setelah tinggal dan bermanja dengan mereka selama 1 minggu.


"Sering - seringlah pulang, atau gak hubungi kami lewat panggilan telepon." pinta bu Yulia pada lira.


"Iya pasti, tapi jika nanti aku hubungi ibu jangan berikan nomorku pada yang lain ya? Ayah dan Satria juga tidak boleh." jawab lira dengan tersenyum manis.


"Apakah kamu gak mau minta ijin dulu, kamu kan habis sakit dan muntah - minta terus." Bu Yulia khawatir dengan lira


"Aku tak apa, hanya masuk angin karena latihan sama ayah sampai pagi." jawab lira menghilangkan rasa khawatir ibunya.


"Baiklah, nanti sering - sering hubungi ibu selama perjalanan ya." pinta bu Yulia.


"Lira jaga kesehatan ya nak, jangan bikin ayah dan ibu mu khawatir." ucap ayah Bambang pada lira.


"Pasti ayah, Lira akan selalu jaga kesehatan Lira. Ayah dan ibu jangan khawatirnya. Sudah ya Lira masuk dulu nanti ketinggalan kereta." ucap lira dan dia melambaikan tangannya memasuki gerbong kereta.


Kembali kesaat ini.


"Maksudmu Lira hilang saat berpisah dengan orang tuamu?" tanya liyon.


"Tidak, 1 jam yang lalu ibuku menghubungi aku dan tanya soal kakak ku karena dia tak bisa dihubungi dan monernya tak aktif." jawab satria


"Dia menghilang saat kembali ke sini?!" liyon bertanya dengan tak sabar.


"Iya, sekitar 1 jam yang lalu." jawab satria dan liyon langsung masuk kedalam ruang kerjanya mengambil ponselnya.


"Posisi radarnya masih ada dan berjarak sekitar 30 kilo meter dari sini, dimana motor mu Sat." liyon lari keluar rumah dan dia pergi menaiki motor satria dengan satria, sementara Gali dan Farid mengejarnya dengan mobil.


Liyon melajukan motornya Satria dengan kecepatan penuh dan dia menyalip kanan kiri pada kendaraan yang berlalu lalang.


"Tunggu Liyon, ini jalan kerumah nenekku." teriak satria.


"Apa?!" jawab liyon


"Rumah nenekku.!" teriak satria lagi.


"Ok." liyon mempercepat laju motornya.


...🍂🍂🍂...


"Nenek dimana kakak?" satria langsung turun dari motor dan bertanya tentang lira pada neneknya.


"Kakakmu tidak kesini. Eh, siapa dia Sat?" tanya nenek satria saat dia melihat liyon langsung masuk rumah tanpa permisi.


"Tidak apa dia teman ku." jawab satria dan mengikuti liyon.


"Buka pintunya.!" teriak liyon mengetuk sebuah pintu kamar.


"Tenanglah biar aku." cegah satria.


"Mbak bisa tolong buka pintunya ini satria." panggil satria dan pintu itu terbuka.


"Mas Satria." gumam Sriyani saat melihat satria didepan pintu kamarnya.


"Dimana Lira.?" tanya liyon saat dia melihat hanponnya dan mendapati kalau keberadaan lira ada dikamar itu.


"Mbak, apa mbak Sri ketemu sama kakak belum lama ini? Karena kakak tak bisa dihubungi." tanya satria.


"Iya, tadi aku ketemu sama mbak Lira disetasiun." jawab Sri


"Apakah kak Lira memberikan sesuatu atau mengatakan sesuatu?" tanya satria lagi.


"Memberikan sesuatu." Sri berfikir sejenak, "ah iya ada sesuatu yang ditipkan tadi." Sri membuka laci dan mengbil sebuah kota kecil. "Tadi mbak Lira bilang untuk mengembalikan ini pada Bos-nya." Sri menyerahkan kotak itu pada satria.


"Sial.!" liyon memukulkan tangannya Kedinding saat dia tau apa yang dipegang satria.


"Dia tidak sedang diculik, tapi dia berusaha untuk sembunyi." gumam liyon dengan sangat marah.

__ADS_1


"Aku akan mencarinya dan pasti akan menemukannya." sambung liyon dan melangkah keluar dari rumah neneknya Satria setelah mengambil cincin yang dulu dia berikan pada lira.


__ADS_2