
Didalam ruangan dokter suasananya sangat sepi dan juga mendebarkan, karena Liyon dan yang lainnya akan mendengarkan kabar mengenai keluarga mereka yang terluka. Liyon dan yang lain sudah menyiapkan hati mereka dengan sebaik mungkin sejak dari mereka menanda tangani persetujuan dilakukannya tindakan.
Bagas menarik nafas dalam sebelum dia membacakan dan menyampaikan hasil dari operasi yang telah dilakukan untuk para istri dan anak Liyon juga yang lainnya. "Bayi Yuniar mengalami asfiksi dan infeksi karena pendarahan dan sudah pecahnya air ketuban. Kondisinya masih belum dipastikan dia mampu atau tidak untuk bertahan, dan kondisi Yuniar sendiri dia masih belum sadar dari pengaruh obat bius."
"Sedangkan Lira, dia,,, harus mengalami tindakan ekstrim dengan pengangkatan rahim, akibat dari benturan benda keras atau lainnya dia terpaksa harus merelakan rahimnya untuk diangkat karena mengalami robekan." air mata Bagas mulai keluar dan dia menyapu kasar wajahnya.
"Bayinya masih dalam penanganan, karena kondisi mereka sangat rawan, detak jantung mereka serta pernafasannya masih belum stabil, tim medis sudah berusaha keras untuk melakukan yang terbaik pada bayi - bayi kecil yang lahir prematur itu." jawab Bagas dan air matanya semakin deras keluar.
Liyon langsung histeris lagi mendengar itu semua, dia tak sanggup mendengar lebih lanjut apa yang akan dikatakan oleh Bagas mengenai kondisi putranya yang juga sedang berjuang melawan maut dalam ruang operasi. Liyon melangkah keluar dari ruangan itu dan memilih menyendiri di sudut rumah sakit.
Bagas menatap kepergian Liyon dengan sedih, "Ferdi masih dalam tahap observasi dan masuk dalam keadaan koma karena benturan di kepalanya mengalami pendarahan otak."
"Sementara Meli dia masih belum bisa dipindahkan ke ruang perawatan, setelah dia mengalami keguguran sekarang penanganan infeksi pada luka di sekujur tubuhnya dia masih harus melewati operasi untuk pemotongan kaki kirinya yang sudah tak bisa diperbaiki karena telah hancur, jadi dia masih harus di rawat di ruang steril."
"Maaf, aku dan semua tim ku sudah berusaha keras untuk yang terbaik, sekarang kita hanya bisa berharap apa keajaiban untuk semuanya yang telah berjuang."
Bagas menatap semuanya dengan tatapan sulit karena yang tergambar diwajah mereka hanya sebuah kesedihan, orang - orang yang biasanya dilihat Bagas dengan ketangguhan kini mereka semua terlihat bagai tanaman layu yang akan segerah mati. Tak ada semangat atau senyuman di wajah mereka.
Farid pun melangkah dengan lunglai kembali keruangan putrinya dengan hati yang hancur juga karena Meli harus diamputasi sebab pergelangan kakinya hancur karena terjepit oleh senjata rahasia untuk menangkap hewan, dan juga mengalami infeksi pada luka - lukanya.
Dan Satria berdiri dengan lunglai disamping tempat tidur Yuniar yang masih belum sadarkan diri, dan Satria juga menatap kosong dari balik kaca melihat bayi kecilnya yang sedang tak berdaya. Satria sangat terpukul dengan kabar yang telah disampaikan oleh Bagas untuk dirinya.
"Haruskah kamu juga pergi meninggalkan aku sendiri lagi seperti kakak - kakak mu yang tak mau melihatku dan memberiku kesempatan menjadikan aku sebagai papanya. Ku mohon bertahan dan berjuanglah aku ingin melihat dan menggendong mu." gumam Satria mengusap kaca yang menghalangi dirinya dan bayinya yang sedang dalam perawatan intensif.
__ADS_1
1 Minggu telah berlalu kondisi Lira dan yang lain sedikit demi sedikit telah berangsur membaik dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Namun kesedihan diwajah para suami mereka masih juga tak berubah karena beban mereka masih ada.
"Lira sayang." Bu Yulia mengusap kepala Lira dengan penuh rasa sayang.
"Ibu, maafkan Lira." ucap Lira lirih dan mulai menangis.
"Jangan menangis putri ibu, kamu adalah putri ibu yang paling kuat. Ibu yakin semua akan baik - baik saja." ucap Bu Yulia menguatkan hati Lira.
"Ferdi, dia sudah 1 minggu kenapa masih juga belum bangun Bu" ucap Lira menggenggam tangan Ferdi.
"Sabar ya sayang, kamu harus kuat agar Ferdi juga kuat." Bu Yulia memeluk Lira dengan erat.
"Jaga istrimu, ibu mau melihat Satria." ucap Bu Yulia saat melihat Liyon masuk ke ruangan Ferdi.
"Anak ku, maafkan Mama karena membuat kalian dalam masalah." gumam Lira menangis melihat dibalik ruang kaca yang menunjukkan bayi kecil mungil dalam sebuah box bayi dengan segala peralatan yang menempel ditubuhnya.
"Sabarlah sayang, ke tiga putra kita memiliki kekuatan dari dirimu. Mereka pasti bisa berjuang untuk keluar dari bahaya, aku yakin itu, karena mereka telah berjuang bersama dengan mu dalam melawan ketidak adilan." Liyon memeluk Lira dan mengecup kepala Lira berusaha untuk kuat didepan Lira, padahal setiap hari Liyon selalu menangis seorang diri meratapi segala kesedihannya.
"Mereka akan kembali kepada ku kan?" tanya Lira dengan hati yang sangat sakit.
"Iya, mereka semua akan kembali kepada kita, mereka pasti ingin bertemu dengan mamanya yang sangat hebat dan luar biasa, mereka pasti ingin bertemu dengan mu, pasti." jawab Liyon dan mulai menangis karena tak sanggup untuk menahan kesedihan yang mendalam didalam dirinya.
"Liyon." Lira berbalik dan memeluk Liyon dengan erat serta menangis dengan sangat dalam.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku yang datang terlambat." ucap Liyon memeluk balik Lira dengan erat.
"Ayo kita kembali ke ruangan Ferdi." ucap Lira berjalan dengan lemas.
"Tolong kabulkan satu permintaanku." Lira meminta sesuatu pada Liyon dengan tatapan mata penuh dengan tekat begitu mereka sampai didalam ruangan Ferdi
"Katakan sayang, apa pun yang kau inginkan akan ku kabulkan." jawab Liyon mengusap pipi Lira.
"Ijinkan aku menghukum orang - orang itu sendiri dengan tanganku." ucap Lira dan itu membuat Liyon kaget.
Liyon menatap Lira dengan sulit dan berkali kali Liyon menelan salifanya, karena Liyon melihat seorang wanita yang sangat kuat bukan lagi istrinya yang selalu manja dan lembut.
"Sayang,,," Liyon menatap Lira dengan sulit.
"Aku hanya ingin menunjukkan pada preman itu kalau seorang wanita bukan makhluk lema yang bisa mereka remehkan dan rendahkan seenak hati mereka." ucap Lira menggertakkan giginya.
"Aku akan menghukum mereka semua yang telah membuat anak - anak ku berkubang dengan maut. Aku tak akan memaafkan mereka semua, tak akan pernah." sambung Lira lagi dengan penuh tekat.
"Sayang, kamu baru saja sembuh dan belum pulih sepenuhnya." ucap Liyon menggenggam tangan Lira.
"Mereka telah membangunkan singa yang sedang tidur, dan sekarang singa ini tak akan membiarkan mereka tidur dengan tenang." Lira berkata dengan penuh tekat yang sangat kuat.
"Baiklah, sesuai dengan permintaan mu sayang. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, dan aku akan melakukan apa yang akan ku lakukan." ucap Liyon memeluk Lira dan mengecup puncak kepala Lira.
__ADS_1