
Liyon sudah mengerti dan tak kaget dengan reaksi dari satria, tapi lira yang melihat adegan satria dan Yuniar yang saling peluk dan menangis bersama semakin bingung. Lira tak menyangka kalau kedua orang tersayangnya menjalin hubungan dibelakang dia.
"Ini apa yang terjadi sebenarnya? Sat..." kalimat lira tertahan oleh tangan liyon yang menutup bibir lira agar tak mengatakan sesuatu dan mengganggu mereka berdua.
"Ayo kita tinggalkan mereka berdua, biar mereka mengatasi masalah mereka sendiri. Biarkan mereka berdua bisa bicara lebih leluasa lagi, mereka lagi butuh waktu berdua saja." liyon menarik lira keluar dari ruang rawat inap Yuniar.
Dengan bingung lira mengikuti liyon, segala pertanyaan menari mari memenuhi isi kepala lira. Lira benar benar tak tau apa apa dan tak bisa menerka semuanya, dua orang terdekatnya saling berhubungan dan sejak kapan lira juga mempertanyakan itu semuanya.
"Ya, wanita ini malah bengong dan mengikuti saja ditarik kesana kemari." batin liyon yang melihat lira dengan bengong mengikuti kemana langkah kaki liyon melangkah.
Suasana didalam kamar rawat inap Yuniar yang menangis terseduh seduh mulai menyadari kalau dirinya sebenarnya telah menempatkan satria didalam hatinya menggantikan Denis yang telah mengkhianati dia dengan menerima perjodohan dari orang tuanya dan juga telah meniduri wanita yang dijodohkan.
Yuniar merasakan kenyamanan setiap kali dia berhubungan dengan satria dan juga dia merasa tak harus jadi orang lain jika bersama dengan satria.
Yuniar menyesal telah menerima dan mencobak percaya lagi pada Denis yang akhirnya dia mengetahui kalau Denis sebenarnya sangat kasar, bahkan tak memiliki rasa ubah hingga membuat Yuniar kehilangan janinnya yang belum dia ketahui keberadaannya.
"Tolong maafkan aku, aku tak tau kalau anak kita ada di sana. Aku telah membuat dia pergi meninggalkan kita." ucap Yuniar dan terus menangis dalam pelukan satria.
Sakit dan pedih terasa didalam dada satria seolah ada bara api yang berkobar disana sehingga membuat dada terasa panas dan nyeri serta perih tanpa ada luka yang tampak, itulah yang dirasakan oleh satria saat ini.
"Aku akan membunuhnya sekarang juga.!" marah satria melepaskan pelukannya dari Yuniar dan mau beranjak pergi.
"Jangan.! Jangan lakukan." cegah Yuniar dengan menggenggam lengan satria.
"Apa maksud kakak, kakak masih mau membelahnya? Dia telah membunuh anak ku, anak yang bahkan belum sempat aku lihat."
"Aku membiarkan kakak kembali padanya walau aku tau aku sangat menyukai kakak, karena aku tak ingin melihat bahagia. Dan sekarang kakak bilang bahwa dia telah membuat kakak kehilangan anak ku, apa aku harus diam saja?"
"Katakan dengan jelas, kakak bilang bahwa itu adalah yang pertama dengan ku lalu bagaimana kakak bisa melakukannya dengan dia juga.?!"
Satria muntap dan marah besar, dia tak bisa menyalahkan Yuniar atas tindakannya namun dia juga menyesal karena tak menghalangi Yuniar kembali pada Denis.
"Ini adalah yang terbaik karena aku juga tak menginginkan anak itu." ucap Yuniar dan itu membuat satria semakin memanas.
"Dia benar anak ku? Jadi kakak tak menginginkan anak itu dan bersyukur dia tak lahir ke dunia karena dia adalah anak ku?" tanya satria dengan amarah yang ditahan.
"Tidak, aku bersyukur karena dia tak terlahir dengan campuran dari kotoran Denis. Aku bersyukur karena dia memilih meninggalkan rahimku setelah Denis menyentuhku. Aku benci dengan dia, aku sangat membencinya.!" Yuniar mulai histeris lagi karena mengingat perlakuan Denis pada dirinya.
"Jadi dia tak menginginkan anak itu bukan karena dia anak ku, tapi karena dia menganggap bahwa benih ku telah dikotori oleh Denis." suara hati satria, dan dia menarik Yuniar kedalam pelukannya lagi.
"Tolong jangan bertengkar dengannya aku gak mau kehilangan kamu juga." ucap yuniar dalam pelukan satria.
"Kenapa kakak takut kehilangan aku? Bukan kah waktu itu kakak tak ingin bersama ku dan memilih kembali pada Denis?" satria bertanya dan menatap Yuniar.
"Tidak, aku baru sadar saat aku bersama dengan Denis, dan karena aku tak mau berhubungan dengannya dia jadi memaksa aku."
"Aku memutuskan untuk putus secara resmi dengan Denis karena aku tak ingin ada masalah dengan dia, namun Denis tak terima dan dia bilang jika aku hamil anaknya maka dia bisa mempertahankan hubungan kami."
"Aku tak mau dan dia memaksa untuk menyentuhku, aku tak tau kalau aku sedang hamil. Denis telah memp*rk*sa aku, tolong maafkan aku Sat."
__ADS_1
Yuniar menjelaskan pada satria kejadian yang telah menimpanya dengan terisak dan tatapan memohon pada satria. Tubuh Yuniar bergetar hebat, mungkin karena dia takut kalau nanti satria juga akan pergi meninggalkan dirinya.
"Apa kakak ingin bersama dengan ku?" tanya satria dan Yuniar mengangguk.
"Kakak mau memulai semuanya dari awal dengan ku? Aku tak memiliki apa apa dan bukan orang kaya." sambung satria untuk memastikannya lagi
"Iya aku mau." jawab Yuniar.
"Berjanjilah bahwa kakak tak akan meninggalkan aku dan akan selalu bersama ku selamanya." pinta satria, karena satria tak ingin kehilangan cintanya lagi.
"Aku janji tak akan meninggalkan mu, aku akan selalu bersama mu. Aku menyukai mu Satria." jawab Yuniar.
Cup
Satria meraup bibir Yuniar yang pucat dengan lembut dan membelai yunia penuh dengan rasa sayang.
Disisi lain liyon dan lira berhenti dan duduk di di bangku taman rumah sakit. Dengan tenang lira duduk sambil melamun karena dia tak menyangka kalau ternyata Yuniar dan adiknya satria punya hubungan intim.
"Jadi siapa diantara mereka yang berselingkuh? Apa kah Yuniar atau kah Denis? Tapi menurut Yuniar Denis telah dijodohkan oleh keluarganya, lalu sejak kapan satria dan Yuniar jadi dekat dan memiliki hubungan yang lebih dari sekedar kakak dan adik." lira terus bergumam bingung dengan pertanyaan didalam kepalanya.
"Bagaimana Bos, apa nona Lira tak apa? Sakit apa sebenarnya?" tanya Farid pada liyon lewat panggilan telepon.
"Tidak dia baik baik saja, yang sakit sahabatnya. Dia hanya sedang bingung dan kaget atas terkuaknya hubungan adiknya bersama dengan sahabatnya." jelas liyon
"Apa keadaan di kantor baik? Tak ada masalah di sana?" sambung pertanyaan liyon pada Farid yang tiba tiba meninggalkan rapat saat rapat mau dimulai 5 menit lagi.
"Tidak ada masalah semuanya berjalan lancar dan baik. Apakah aku perlu menyusul ke rumah sakit sekarang?" tanya Farid setelah menjelaskan hasil rapat yang ditinggalkan liyon.
Kruuuucuuk
"Aduh lapar." gumam lira setelah dia sadar kalau dia belum makan dari pagi.
Liyon tersenyum menatap lira, "Ayo kita makan dulu, memangnya kakak belum makan dari kapan, Hem?" tanya liyon pada lira.
"Em, dari pagi kayaknya karena aku langsung ke rumah sakit begitu mendapati Yuniar bersimbah darah, terus menanti dia dan tak meninggalkannya karena takut dia kenapa napa, dan tak terasa sudah sore." jelas lira sambil memegangi perutnya yang terasa lapar dan perih.
"Baiklah, ayo ikut aku." liyon menarik tangan lira menuju parkiran.
Didalam mobil perut lira terus saja berbunyi tanpa henti, dan itu membuat liyon jadi ikut tak tenang sehingga liyon menepikan mobilnya mencari makanan ringan untuk lira.
"Kenapa menepi?" tanya lira bingung
"Tunggu di sini sebentar." liyon keluar dari mobil dan berjalan mendekat pada tukang jualan cilok.
"Waduh pak tak ada kembaliannya karena saya baru saja buka dan bapak adalah pelanggan pertama." ucap penjual cilok itu pada liyon.
"Tidak apa, tak usah kembalian. Saya cuma butuh cilok buat istri saya yang tak bisa menahan rasa laparnya." jawab liyon dengan senyuman ramah
"Wah istri bapak sedang hamil ya? Kalau begitu saya tambahin ya pak, dan soga anak yang dikandungnya sehat serta dilancarkan persalinannya nanti ya pak." ucap penjual cilok itu memberi do'a pada liyon.
__ADS_1
"Iya, terima kasih." liyon menerima cilok itu dan berjalan ke mobilnya lagi.
"Ya Allah orang kaya ya, beli cilok 10 ribu uang 100 ribu dan tak kembali. Benar benar orang baik, semoga mereka langgeng dan selalu bahagia hingga akhir nanti. Sayang banget sama istrinya." penjual cilok itu terus saja ngomongin liyon dan memberinya do'a berkali kali.
"Makan lah untuk mengganjal perut kakak." ucap liyon menyerahkan sebungkus cilok pada lira.
"Eh, terima kasih." jawab lira dan dengan senang hati memakan cilok itu hingga habis.
"Ini bukan jalan pulang ke rumah ku." ucap lira saat dia sadar jalan yang dilewati bukan jalan ke arah rumahnya.
"Memang, kita akan ke rumah ku aku akan memasakkan makanan untuk kakak. Kita ke mansion ku" jawab liyon tanpa melihat lira.
...🍂🍂🍂...
Saat tiba di rumah liyon suasana sudah petang namun keadaan rumah sangat gelap, lampu jalan belum dinyalakan dan juga suasana sangat sepi, tak ada satu pun orang yang melintas semuanya tak kelihatan.
"Sepi banget, kemana semua orang?" tanya lira dan liyon hanya tersenyum.
"Mungkin ini tidak tepat, tapi aku sangat ingin melakukan ini pada kakak. Ayo masuk." ajak liyon setelah mengucapkan kata kata yang membuat lira bingung.
"Ini, nyalakan lampu mansion ini sesuai urutan." liyon memberikan daftar ruangan mana saja yang harus lira nyalakan.
"Kenapa aku?" lira bertanya dengan bingung.
"Lakukan saja nanti kakak akan tau." jawab liyon dan berdiri dibelakang lira.
Lira mulai menyalakan lampu disetiap ruangan sesuai dengan daftar yang dituliskan oleh liyon, yang dimulai dengan lampu Tan, jalan, ruang tamu dan terus sampai di taman samping lalu area kolam renang.
Duar.!
"Aaaaah.!" teriak lira karena kaget dengan suara balon yang tiba tiba meledak saat dia menyalakan lampu.
"Apa ini?" lira sangat kagum dengan dekor dan juga hiasan dari taman kolam renang itu dan diujung dekat bunga mawar ada meja kursi serta lilin dan juga makanan diatas meja itu.
"Selamat hari jadi kita yang 3 bulan kak." ucap liyon yang ternyata sudah ganti baju dengan baju santai yang membuat dia terlihat menawan.
"Kamu menyiapkan semua ini untuk ku?" lira berjalan kearah liyon yang berdiri disisi lain pintu kolam.
"Bagaimana balon ini bisa meledak saat aku menyalakan lampu?" lira melihat tempat balon yang meledak tadi.
"Itu karena ada jarum di ujung talinya dan saat Kakak menyalakan saklar-nya talinya akan tertarik dan jarumnya menancap pada balon." jelas liyon ikut berdiri disamping lira.
"Ayo makan dulu, kakak belum makan dari pagi kan." liyon berjalan kearah meja.
"Aku sudah makan cilok tadi." jawab lira mengikuti liyon.
"Iya, tapi untuk memakan cilok milik ku kakak harus punya tenaga." bisik liyon ditelinga lira.
"Jangan macam macam." bentak lira dan langsung duduk di kursi untuk menikmati makanan yang sudah terhidang diatas meja.
__ADS_1
Lira dan liyon menikmati makan malam sederhana mereka dengan tenang. Liyon terlihat bahagia karena lira mau merespon dirinya dan bicara secara normal tak bicara formal seperti biasanya setelah ketemu dan bercekcok dengan yusnia.