Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Tak ada hari tanpa dirimu


__ADS_3

Malam itu mereka bertiga tidur bersama dengan damai, dan kedua pria kesayangan Lira itu menjadikan dirinya sebagai guling. Liyon memeluk pinggang Lira dengan erat dan meletakkan 1 kakinya diatas paha Lira, sementara Ferdi memeluk dada Lira dan meletakkan satu kakinya diatas perut Lira. Mereka terlihat sangat menggemaskan seolah hari sangat damai dan tenang.


Keseharian Lira setelah 2 bulan dia tinggal bersama dengan Liyon adalah membangunkan kedua jagoannya yang sering sulit dibangunkan dan juga sering telat berangkat ke kantor juga ke sekolah. Karena jika malam Liyon dan Ferdi selalu bersama berolah raga dan berlatih hingga larut, sampai kadang mereka tertidur diruang olah raga bersama.


"Ayo bangun sudah pagi." Lira menarik selimut yang menutupi tubuh Ferdi dan Liyon.


"Mama biarkan aku tidur sebentar lagi." ucap Ferdi meringkuk.


"Iya sayang 5 menit lagi." sambung Liyon dan mereka berdua pun saling peluk.


"Kalian,,,!" suara Lira yang ditekan membuat Ferdi dan Liyon bergidik sehingga mereka berdua langsung bangun dan duduk dengan patuh.


"Bagus, sudah bangun ayo cepat mandi." ucap Lira kemudian sambil tersenyum.


"Oke." jawab Liyon dan Ferdi bersamaan dan beranjak ke kamar mandi.


"Mama jadi sering marah - marah dan menakutkan." gerutu Ferdi saat dia mandi bersama dengan Liyon.


"Hem benarkah?" Liyon berfikir sejenak, "Benar juga, mama mu jadi ganas saat di ranjang." sambung Liyon.


"Memang mama ngapain papa? Apa mama memukul papa?" tanya Ferdi bingung.


"Tidak, tapi mama mu memakan papa bahkan dia menggigit papa." jawab Liyon santai sambil memandikan Ferdi.


"Papa sangat nakal mungkin, Ferdi kalau nakal kadang juga dipukul sama mama tapi tidak pernah digigit" jawab Ferdi polos.


"Hahaha, ok, kalau papa gak nakal nanti Ferdi gak punya adik." jawab Liyon terbahak.


"Kalau begitu Ferdi juga ikutan nakal biar cepet dapat adik." seru Ferdi dengan semangat.


"Ya ampun, aku salah berkata." gumam Liyon dalam hati menghela nafas panjang.


Setelah selesai mandi dan sarapan Liyon mengantar Ferdi ke sekolah dan Lira ke hotel. Sekarang Lira telah menjadi istri pemilik hotel tempatnya bekerja, namun karena Lira gak mau dipindahkan posisi kerjanya jadi bagaimana pun Lira masih saja tetap dianggap oleh semua pegawai di situ adalah bos mereka.


"Rian, tumben datang ada apa. Apa ada yang bisa aku bantu? Atau ada yang penting mungkin." Lira tersenyum dan bertanya saat Rian datang ke kantornya.

__ADS_1


"Aku akan kembali ke Beijing nanti malam" ucap Rian berjalan dan duduk dikursi depan meja kerja Lira.


"Kenapa tiba - tiba?" tanya Lira yang merasa kabar dari Rian ini begitu mendadak.


"Ya karena perusahaan di sini juga sudah stabil dan tak ada masalah. Jadi aku akan kembali ke sana dan yang di sini akan dipegang oleh kakak ku." jelas Rian dengan tersenyum.


"Kamu akan berangkat jam berapa nanti malam?" tanya Lira karena dia ingin mengantarkan Rian.


"Mungkin sekitar jam 8 malam, kamu tak usah mengantarku karena aku gak mau nanti ada orang yang cemburu. Itu sebabnya aku berpamitan sekarang." ucap Rian dan Lira tak bisa menjawab, karena Liyon selalu sensitif jika dirinya dekat dengan Rian.


"Kalau begitu berhati - hatilah dan selalu kabari aku." ucap Lira pada Liyon.


"Untuk apa? Apa kamu menyesal dan berat untuk ku tinggalkan." Rian tersenyum melihat Lira yang kaget, "Aku bercanda, aku akan selalu mengabari kamu karena aku masih berharap dan menunggumu." jawab Rian berdiri dan berjalan kearah Lira lalu menarik Lira dalam pelukannya dan mencium kening Lira dengan sangat lama.


"Bisakah kau melepaskan istri orang!!" ucap Liyon dengan kesal yang sudah berdiri diambang pintu entah sejak kapan.


"Liyon, kenapa datang?" Lira bertanya dengan kaget melihat Liyon datang.


"Iya sayang aku datang karena aku gak mau nanti ada orang yang mengambil kesempatan saat aku tak ada." jawab Liyon menarik Lira kedalam pelukannya dan ikut mencium kening Lira yang seakan ingin menghapus jejak Rian.


"Kenapa? Saat dia melakukannya kamu diam saja, lalu kenapa kau menolak ku. Apa yang ku lakukan masih kurang atau kamu masih marah karena tadi pagi aku tak memuaskan mu?" tanya Liyon tanpa bersalah dan tak menganggap Rian ada.


"C*h, ingin pamer kemesraan didepanku? Jaga dia hati - hati karena jika kamu lengah aku akan merebutnya dari tanganmu." bisik Rian pada Liyon.


"Jangan harap, karena aku tak akan memberimu kesempatan." jawab Liyon dengan nada mengancam.


"Baiklah Lira aku pergi dulu, jaga dirimu." ucap Rian meninggalkan ruangan Lira.


"Tak perlu kau cemaskan istriku." teriak Liyon kesal.


"Hati - hati Rian dan jangan lupa untuk selal,,, emm." Lira tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Liyon melahap bibirnya.


"Login kau gila ya." Lira marah pada Liyon dan memukul Liyon.


"Katakan kenapa kamu kemari? Bukannya pekerjaanmu sangat banyak hari ini." tanya Lira berjalan duduk di kursinya.

__ADS_1


"Tentunsaja karena aku kangen." jawab Liyon santai berdiri disamping kursi Lira.


"Kau ini janagn mengada - ada ya." jawab Lira cuek.


"Aku tak mengada ada, karena dalam hatiku selalu ada dirimu seorang. bagiku tak ada hari tanpa dirimu." jawab Liyon menyentu dagu Lira dan mengarahkannya keras untuk bisa mengecup bibir Lira.


"Liyon hentikan atau ku tendang kau keluar." ucap Lira dengan kesal dan menepis tangan Liyon.


"Jahat banget, tak sadar siapa semalam yang begitu agresif sampai mendesah hingga pagi hari." bisik Liyon di telinga Lira dan seketika wajah Lira memerah karena malu.


"Kau mau pergi atau beneran ku hajar nanti." ucap Lira semakin kesal.


"Ok, ok sayang. Nanti aku ada kerjaan di luar dan akan pulang larut, jadi kamu tak perlu menungguku. Ferdi nanti dijemput oleh Suryo." ucap Liyon menjelaskan.


"Kamu datang hanya untuk bilang ini? Kenapa gak telepon saja?" Lira bertanya dengan bingung.


"Tidak, aku ingin bilang langsung dan melihatmu. Bukankah sudah ku bilang kalau aku kangen." ucap Liyon menarik Lira dan memeluknya.


"Apa kau gila pelukan?" tanya Lira dalam pelukan Liyon.


"Aku selalu gila kamu mengenai dirimu sayang." jawab Liyon menatap Lira dalam.


"Benarkah? Kalau begitu cepat pulang aku akan menunggumu dengan baju tidur yang kamu belikan kemaren." bisik Lira ditelinga Liyon, dan sontak Liyon jadi sangat bersemangat.


"Emm,,," Lira memukul bahu Liyon karena sudah kehabisan oksigen karena ciuman Liyon.


"Aku pasti akan pulang, tunggu diri ku yang sayang." ucap Liyon dan memeluk Lira lagi dengan sangat erat.


"Aku berangkat ya sayang, bekerja jangan terlalu lelah." ucap Liyon mengecup pipi Lira dan berangkat bersama dengan Satria. Sementara Farid yang mengatur di sini.


Malam itu Ferdi minta dianter ke rumah neneknya karena besok adalah hari libur dan dia ingin pergi bersama dengan kakeknya untuk memancing. Keadaan rumah jadi sepi tanpa Ferdi Lira hanya seorang diri menikmati acara kesukaannya di televisi sambil membalas chat dengan Yuniar yang juga sedang sendirian di rumah menunggu kedatangan Satria.


Hari semakin larut dan orang yang ditunggu tak ada kabar, bahkan pesan pun juga tak datang. Lira sudah mulai ngantuk dan tak sabar karena dia menunggu Liyon hingga menjelang pagi. Lira yang duduk sari jam 9 sampai jam 2 pagi sudah tak peduli lagi Liyon mau pulang atau tidak. Lira mengganti bajunya dan tidur dengan mengunci pintu kamarnya.


Berkunjung lah juga pada karya baru yang baru menetas,,, karena ingin melewati batas dengan cerita yang berbeda, semoga kalian suka. Dan berikan juga dukungannya...😘

__ADS_1



__ADS_2