
Malam itu mama liyon terlihat sangat dekat dengan yusnia dan mereka seperti sedang membicarakan sesuatu, liyon tak perduli dengan kedekatan mereka berdua karena liyon merasa tak perlu mengungkap siapa yusnia jika itu tak mengganggunya.
"Li dari tadi kamu hanya duduk diam di sini ayo temani kakak minum." Yuki mendekati liyon bermaksud ingin mengorek tentang lira.
"Jangan mengganggu ku jika itu urusannya dengan wanita itu karena aku tak tertarik." ucap liyon tanpa basa basi.
Yuki : "Jadi kau tak suka dengan wanita pilihan mama? Apa ku sudah mengatakan pada mama soal itu.? Dan apakah ada orang lain yang kamu sukai?"
Liyon : "Sudah dan mama tak peduli, aku akan diam jika mereka tak berulah. Namun jika mereka sampai berbuat masalah aku tak akan sungkan lagi. Dan soal wanita yang ku suka, aku akan memberi tahu kakak nanti jika dia sudah siap."
Yuki : "Hem baiklah, ku dengar dulu dia sekretaris mu"
Liyon : "Iya dulu, namun kami menemukan kalo dia adalah p*lac*r di kantor dan aku tak suka dengan bekas orang."
Yuki : "Lalu bagaimana dengan sekretaris lira?"
Liyon : "Maksud kakak apa?"
"Tuan silakan minumannya." seorang peramu saji membawakan liyon minuman dan liyon langsung meminumnya sampai habis.
"Katakan apa maksud kakak tadi?" tanya liyon setelah dia menghabiskan minumannya.
"Tidak bukan apa apa." jawab Yuki dengan tersenyum
"Liyon sayang tolong kamu antarkan Yusni pulang karena ini sudah malam." pinta mama liyon dan itu membuat liyon kesal.
"Apa dia tak ada supir? Biarkan dia pulang dengan supirnya." ucap liyon dingin.
"Liyon, mama tak pernah mengajari kamu kurang ajar pada wanita. Papanya masih di sini dan supirnya kasian kalo harus bolak balik, cepat antarkan sana." perintah mama liyon dan liyon pun tak bisa menolak lagi.
Didalam perjalanan mengantar yusnia pulang tiba tiba saja liyon merasakan tubuhnya ada yang salah, dia merasa pening dan juga panas.
"Liyon apa kamu tak apa?" tanya Yusnita dengan memegang paha liyon.
"Sial, apa yang mau dilakukan oleh wanita ini?" gumam liyon dalam hati
"Aku tak apa, singkirkan tangan mu." liyon menepis tangan yusnia dari tubuhnya.
"Heh, apa kamu akan bisa bertahan liyon? Dosis yang ku masukkan lebih dari yang dulu aku pakai, karena aku sudah tau dulu kamu masih bisa sadar. Tapi sekarang kamu tak akan mampu bertahan." suara hati yusnia dengan senyum tipis dibibirnya.
Setengah perjalanan liyon sudah tak tahan lagi, gejolak dalam dirinya sangat besar dan hasratnya mulai memuncak. Liyon yang berusaha untuk menahannya membuat tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
"Liyon kamu kenapa? Apa ada yang tidak nyaman?" yusnia melancarkan aksinya dengan terus menempel pada liyon setelah liyon menepikan mobilnya.
"Aku ingin." gumam liyon tanpa sadar dan itu menjadi angin sejuk bagi yusnia.
"Sayang jangan terlalu ditahan nanti kamu sakit." bisik yusnia dan itu membuat liyon tersadar dengan perbuatannya.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak liyon dan mendorong tubuh yusnia hingga membentur pintu.
"Liyon aku akan membantu, bukankah kita akan segerah menikah apa salahnya. Aku sangat menyukai mu liyon." ucap yusnia tak mau menyerah karena dia sudah melihat liyon bercucuran keringat.
"Heh, sepertinya kau meremehkan aku. Dengar cintaku yang kuat ini tak akan bisa kau taklukkan walau dirimu menari telanjang didepan mataku sekali pun aku tak akan tertarik untuk menyentuh mu.!" teriak liyon kesal.
"Apa yang bisa kamu lakukan dengan keadaan mu yang sekarang ini? Pikirkan ini untuk kebaikan mu, dan soal perjanjian kita kamu bisa memikirkannya lagi nanti." rayu yusnia dan terus berusaha memberikan rangsangan pada liyon.
"Ugh, per - perjanjian yang kamu ajukan itu juga tak membuat ku tertarik sedikit pun, jadi aku tak ikut didalamnya."
__ADS_1
"Keluar, cepat keluar.!" bentak liyon yang sudah berada diambang batas.
"Liyon dengarkan aku dulu, keadaanmu saat ini hanya aku yang bisa menolong mu." desak yusnia yang tak mau menyerah.
"Aku bilang keluar!" liyon berteriak sambil memukul setir mobilnya.
"Tapi liyon?" yusnia masih berusaha keras dan liyon langsung keluar dari dalam mobil serta menyeret yusnia keluar.
"Satu lagi jangan pernah menemui aku atau menyuruh aku menemui mu dengan bantuan mama ku." ucap liyon langsung masuk lagi kedalam mobil dengan tertatih.
Setelah mengatakan semua itu liyon langsung meninggalkan yusnia seorang diri ditepi jalan. Dan yusnia merasa kesal karena rencananya gagal dan juga obat yang katanya sangat kuat itu tak berpengaruh pada liyon sedikit pun karena liyon masih bisa mempertahankan kesadarannya.
Liyon melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat cepat dan juga dia selalu berusaha membuat dirinya tetap tersadar dengan menyakiti dirinya dengan cara memukul dan menampar dirinya sendiri.
"Sial, jangan di sini aku mohon bertahanlah sebentar lagi." gumam liyon yang pandangannya semakin buram.
Brak
Liyon menabrakkan mobilnya pada pintu pagar rumahnya, dan semua orang yang ada didalam rumahnya keluar berlarian mendekati liyon.
"Ugh, tolong bawah aku kedalam" perintah liyon pada orang yang ada di rumahnya., dan pak Jung bersusah payah membopong liyon masuk dengan bersusah payah karena tak ada yang membantu, liyon meminta semua wanita menjauhinya.
"Bagaimana bi? Apa tuan baik baik saja?" tanya salah satu orang art liyon pada bi min.
"Entahlah karena pak Jung yang mengantar tuan muda masuk kedalam kamarnya." jawab Bi min
"Gila, tuan benar benar sangat mencintai wanita itu. Bahkan dalam keadaan seperti itu tuan berlari kerumah dengan sekuat tenaga lalu memeluk foto gadis itu." ucap pak Jung menceritakan pada para art
"Ini namanya kekuatan cinta." sambung pak Jung lagi.
"Nona lira memang sangat baik, aku juga suka dengannya." bu min menimpali kata kata pak Jung dan yang lain mengangguk setuju.
"Apa liyon sudah di rumah pak Jung? Apa dia tak papa? Aku lihat pagar depan rusak." tanya Farid yang baru saja pulang dengan rasa khawatir.
"Ya tuan Farid saya baru saja mau menghubungi anda karena tuan liyon sepertinya sedang terkena pengaruh obat." jelas pak Jung pada Farid dan dengan seketika Farid lari keatas ke kamar liyon namun kamar itu terkunci dari dalam.
Farid langsung menghubungi Bagas dan menceritakan keadaan liyon. Dan dengan panik Bagas melajukan mobilnya ke rumah liyon, diikuti oleh Brayen. Disana dia mendapati pagar rumah yang reyot karena ditabrak oleh liyon.
"Liyon buka pintunya ini aku, aku akan memberi mu obat bukalah pintu kamarmu dulu." teriak Bagas dengan panik.
"Eh, ada apa ini kenapa rumah liyon pagarnya rusak begini, apa dia kerampokan?" Lian dan Yuki bingung melihat pagar rumah liyon dan langsung melajukan mobil ke halaman rumah liyon
"Tapi banyak orang sayang dan ini sepertinya mobil liyon sendiri yang menabraknya lihat mobilnya hancur begini." jelas Yuki yang melihat mobil liyon diparkir dengan kondisi bamper depan samping kiri penyok.
"Jangan jangan ada apa apa dengan liyon." Lian langsung lari kedalam dan benar saja semua orang sudah ada di sana dan berusaha membujuk liyon untuk membuka pintu kamarnya.
"Apa yang terjadi?" Lian berteriak mendekati semuanya.
"Dia terkena pengaruh obat kata pak Jung ini kami sedang memaksa dia untuk keluar biar tau keadaannya." jelas bagas
"Farid apa obat itu masih ada dan masih dia konsumsi sampai sekarang?" tanya yuki dengan khawatir.
"Maaf kakak ipar sepertinya sudah tidak lagi." jelas Farid pada Yuki.
"Liyon Ini kakak buka pintunya." teriak Lian sambil mengetuk pintu kamar liyon berkali kali.
"Farid hubungi wanita itu, aku tau liyon ada hubungan dengan seorang wanita dia harus tau keadaan liyon seperti apa sekarang." Yuki memerintahkan pada Farid dan itu membuat yang lain menatap dengan bertanya pada Yuki dan juga Farid yang terlihat seolah mereka tau sesuatu soal liyon yang tak diketahui oleh yang lain.
__ADS_1
Mendengar itu Farid seolah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yuki, dia pun langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi lira, menceritakan semuanya soal liyon yang dia tau serta keadaan liyon pada saat ini.
"Bagaimana? Apa responnya?" tanya yuki menyelidiki setelah Farid menutup panggilan telponnya.
"Dia bilang akan segera datang ke sini." jawab Farid menunduk, karena dia tau liyon pasti akan marah padanya. Sebab liyon pernah berpesan agar tak melibatkan lira dalam hal apa pun.
30 menit kemudian lira sudah datang dengan terengah engah karena lari dari gerbang depan, "Farid.!" teriak lira begitu sampai dan itu membuat semua orang yang ada di situ langsung melihat kearah sumber suara.
"Nona Lira di sini." Farid berseru dan lira langsung naik ke atas.
"Dia bagaimana." tanya lira yang masih mengatur nafasnya.
"Dia didalam dan kami tak bis membujuk dia untuk keluar." jelas Farid, Sementara yang lain hanya memperhatikan.
Melihat itu semua yang ada di situ bingung dengan situasinya. Terutama Lian yang bingung siapa wanita itu dan ada hubungan apa dengan adiknya. Namun tidak dengan Yuki, dia akhirnya mengetahui pastinya kalo lira memang wanita yang berhubungan dekat dengan liyon, dan tak hanya sekedar sekretaris saja. Karena dia sudah melihat adegan login menc*um lira disamping gang toilet.
"Liyon, liyon ini aku. Buka pintunya atau ku dobrak.!" teriak lira setelah dia berhasil menguasai dirinya dan menormalkan nafasnya.
"Farid kita hancurkan pintunya sekarang." ucap lira dan Farid mengikuti lira dengan berdiri dibelakang lira dengan posisi bersiap.
"Hitungan ketiga kita dobrak." ucap lira dan Farid mengangguk.
"Satu, dua, sekarang.!" teriak lira dan meraka bergerak bersamaan dan dengan sekali tendang pintu kamar liyon ambruk.
Mereka yang ada di situ terkejud melihat gerakan lira yang gesit, terutama Lian, Bagas dan Brayen mereka bertiga tak menyangka kalo wanita yang datang dengan gaun yang anggun itu memiliki tenaga yang kuat.
"Liyon." lira dan yang lain masuk dan mendapati liyon terguyur dengan air shower.
Anggap saja seperti itu ya, dan silakan kalian berfantasi sendiri dengan gambaran kalian masing - masing.
"Ya Ampun bocah ini." lira mendekat dan menghampar liyon hingga liyon tersadar dan menatap lira.
"Apa yang kakak lakukan, pergilah dari sini." ucap liyon dengan nada lemas.
"Bocah ini, bukankah dia sudah steril, lalu untuk apa dia menahan diri sampai seperti ini?" suara hati lira memperhatikan liyon yang tak berdaya.
"Jangan mendekat kak.!" teriak liyon saat melihat lira berjalan mendekati dia.
"Tak apa aku ijinkan, kamu jangan menahannya apa kamu ingin merusak dirimu sendiri? Aku adalah milik mu." ucap lira dan dengan seketika liyon bangun lalu mendekap lira dengan sangat kuat.
"Jangan menyesalinya dan jangan ditarik kembali apa yang sudah kakak katakan barusan." bisik liyon.
"Tidak akan." lira menjawab dengan tegas.
"Aku terima." liyon langsung mengangkat tubuh lira dan membawah lira masuk kedalam kamar lain.
Orang yang lain dianggap sebagai bayangan oleh liyon, sehingga mereka merasa terkejud dan tak percaya kalo sang liyon bisa menerima seorang wanita dan dia tidak kelainan atau berbelok haluan dengan penyuka sesama jenis.
"I - ini liyon. Dan siapa wanita itu? Farid tolong jelaskan." ucap Bagas menatap Farid dengan bertanya saat liyon dan lira melewati semuanya dan menghilang dalam kamar yang lain.
"Apakah mereka sudah lama berhubungan?" tanya yuki pada Farid juga.
"Apakah dia wanita yang selama ini dikencani oleh liyon? Dan bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Lian
"Tunggu dulu, jadi sahabat kita tidak kelainan ya dan dia normal?" tanya Brayen yang baru kali ini melihat, karena selama ini dia taunya liyon tak tertarik dengan seorang wanita.
__ADS_1
Farid merasa terpojok dengan pertanyaan yang diajukan oleh semua orang, dan dia bingung yang mana dulu yang harus dia jawab. Farid hanya tertunduk disidang oleh semua orang sementara liyon dan lira sedang menikmati permainan malam mereka.
"Se - sebenarnya dari dulu nona lira adalah wanita yang disukai oleh liyon." jelas Farid perlahan dan menceritakan asal mulanya dan mereka pun akhirnya tau kalo wanita yang disukai oleh liyon dari dulu adalah lira, hanya saja dulu liyon belum tau siapa namanya hingga mereka bertemu di perusahaan.