
"Papa, papa dimana? Ferdi mau ke papa." Ferdi menghubungi Liyon menggunakan hanponnya Gali.
"Sayang, Ferdi tak sama mama?" tanya Liyon balik merasa heran karena Ferdi sampai menghubungi dirinya.
"Mama tak ada Pa. Ferdi lapar." adu Ferdi dan Liyon baru sadar kalau saat ini sudah malam.
"Iya sayang tunggu papa ya." ucap Liyon dan mematikan hanponnya lalu pergi kekamarnya untuk melihat Lira. Dan Lira benar ada didalam kamar dengan keadaan sama sebelum Liyon meninggalkan Lira seorang diri.
"Lira?" Liyon terkejud karena Lira meringkuk di pinggir sofa dengan tubuh masih terbungkus sama sprei.
"Apa dari siang dia begini?" Liyon bertanya dalam hatinya dan mengangkat tubuh Lira untuk dibaringkan ke tempat tidur.
"Liyon, maaf." Gumam Lira dalam tidurnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia menyiksa dirinya sendiri. Jika memang ini adalah keinginannya kenapa dia harus seperti ini." suara hati Liyon memperhatikan wajah Lira.
"Jika aku menyelidiki tentang dirimu, apa kau akan membenciku? Kau terlalu indah untuk dilepas, haruskah aku menahan mu dan memaksa mu untuk berada disisiku dengan kekerasan?" gumam suara hati Liyon lagi
"Tidurlah kak, jangan pikirkan apa pun." ucap Liyon lalu keluar untuk melihat Ferdi.
"Papa, Ferdi laper. Mama mana?" tanya Ferdi dan mengintip di belakang Liyon.
"Mama sedang istirahat karena lelah, Ferdi ikut papa akan papa masakan makan malam untuk Ferdi." Liyon mengangkat Ferdi dan membawahnya masuk kedalam rumah.
Semua orang yang ada di rumah Liyon merasa kaget dan juga heran karena mereka melihat mata Liyon yang sembab. Namun mereka semua hanya menatap saja tak ada yang berani bertanya.
30 menit lamanya Ferdi menunggu akhirnya Liyon selesai dalam memasak makan malam sederhana untuk sang putra. Liyon menyajikan makanannya diatas meja makan lalu membawah Ferdi cuci tangan dan makan malam bersama walau sedikit telat makannya karena sudah jam 9 malam.
"Mama masih istirahat ya Pa?" tanya Ferdi setelah selesai makan dan dimandikan oleh Liyon untuk tidur malam.
"Iya Mama istirahat, ayo Ferdi tidur sama papa sayang." jawab Liyon dan membawah Ferdi tidur dikamar yang lain.
Ferdi adalah anak yang dewasa dan juga tak merepotkan, dia langsung terlelap dalam dekapan Liyon. Begitu juga dengan Liyon ikut terlelap karena telah merasa lelah dalam pemikirannya dari sejak siang hari.
Liyon tersentak karena teringat kalau Lira belum makan malam, Liyon bangun perlahan dan membawakan makanan untuk Lira walau sudah tengah malam.
"Dia masih tidur saja." ucap Liyon mendekat dan mendapati tubuh Lira terasa sangat panas.
"Kak, bangun lah. Jangan buat aku takut. Lira, Lira bangun lah, Lira!" Liyon menggoyang tubuh Lira. Namun Lira masih saja tak bangun.
"Bagas, datanglah ke mansion sekarang karena Lira sedang demam tinggi." Liyon menghubungi Bagas dengan panik.
__ADS_1
Selama menunggu Bagas Liyon menggantikan baju Lira dan mengompres Lira dan terus menunggui Lira disampingnya tak beranjak sedikit pun dari sisi Lira.
"Akses masuk" suara otomatis pintu mansion Liyon.
"Duh merepotkan saja." gerutu Bagas mengeluarkan kartu ID yang diberikan oleh Liyon untuk mengakses masuk kedalam mansion-nya.
"Liyon." teriak Bagas begitu masuk kedalam rumahnya.
"Aku dikamar atas." teriak Liyon dari atas dan Bagas langsung naik melihat Lira.
"Dia kenapa, habis makan apa?" tanya Bagas memeriksa keadaan Lira.
"Dia belum makan dari siang." jawab Liyon langsung.
"Kau kenapa, matamu bengkak begitu." tanya Bagas yang melihat Liyon bengkak di matanya.
"Tidak apa, periksa saja keadaan Lira." ucap Liyon dan Bagas langsung memeriksa dengan serius kondisi Lira.
"Sepertinya dia sedang banyak pikiran, apa kalian sedang ada masalah?" tanya Bagas pada Liyon setelah memasang infus untuk Lira.
"Kenapa dia jadi sering sakit jika kepikiran?" tanya Liyon yang merasa heran karena Lira sudah 2 kali sakit karena kepikiran sesuatu.
"Jangan membuatku jadi tersangka." jawab Liyon menghindar.
"Papa." Ferdi terbangun dan mencari Liyon kedalam kamarnya.
"Sayang, kebangun ya." Liyon mengangkat Ferdi.
"Mau sama Mama." Ferdi menunjuk pada Lira.
"Tidur yang tenang dan jangan buat mama sakit ya." ucap Liyon menurunkan Ferdi.
"Iya." Ferdi naik dan tidur disebelah Lira dan masuk kedalam selimut.
"Jaga Mama dengan baik ya sayang." ucap Liyon dan Ferdi mengangguk.
Liyon keluar dari kamar dan menuju kedalam ruang kerjanya diikuti oleh Bagas. Dan Liyon mengerjakan berkat - berkas yang belum dia lihat dari siang tadi.
"Liyon katakan padaku ada apa sebenarnya?" Bagas bertanya saat dia sudah didalam ruang kerja Liyon dan duduk di sofa.
"Sebenarnya tadi siang mama kemari dan bicara sama Lira, aku baru tau kalau Lira punya niat untuk pergi meninggalkan aku lagi. Dan ada sedikit pembicaraan tadi dan itu membuat aku sedikit emosi. Karena aku tak ingin kalau nanti menyakitinya jadi aku meninggalkan dia tanpa mendengarkan dulu penjelasannya." jelas Liyon dan Bagas mendengarkan dengan seksama.
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
Saat Liyon sedang membahas masalahnya dengan Lira sama Bagas, disisi lain Santo merasa senang dan juga menang karena dia bisa menghancurkan Liyon nanti melalui Lira karena balas dendamnya atas nama adiknya yang ditolak oleh Liyon.
"Liyon lihat saja aku akan menghancurkan mu sampai benar - benar hancur berkeping - keping." ucap Santo sambil melihat berkas yang ada digenggaman tangannya.
"Jadi anda punya dendam dengan tuan Liyon rupanya." ucap Denis yang juga sedang berkumpul dengan Santo dalam sebuah klab malam.
"Hem, kau tak perlu tau soal itu. Apakah kau tau bahwa wanita yang dulu kau lepas sekarang dia telah menjadi wanita yang sangat menarik. Sayang dia memiliki pendirian yang teguh dan tak mudah untuk digoyahkan." ucap Santo dengan santai sambil meminum minumannya.
"Maksud tuan Santo siapa. Yusnia?" tanya Denis pada Santo yang merasa bingung.
"Apa maksudmu. Wanita murahan itu tak sebanding dengan dia. Aku sudah bosan sama wanita itu." jawab Santo lalu meminum lagi minumannya.
"Dia adalah wanita tangguh yang sungguh luar biasa, apa kau tak ingat pada wanita yang kau tinggalkan dan kau selingkuhi 10 tahun lalu?" tanya Santo menatap Denis dengan senyumannya.
"Siap, Lira? Itu tidak mungkin, dia adalah wanita kampung yang sangat tak menarik dan selalu menjaga jarak serta membatasi dirinya. Tak ada apa - apa dalam dirinya selain kemampuannya dalam bela diri." jelas Denis dengan nada mengejek.
"Hem, kau salah. Matamu itu selalu tak jeli dalam memiliki. Pantas saja kau selalu kalah dalam berbisnis." ucap Santo menolak pendapat Denis.
"Jika 10 tahun lalu dia adalah merpati yang jinak, sekarang dia adalah seekor elang yang terbang bebas. Dia bisa memilih mangsa yang dia incar dan ingin dia hancurkan. Dia telah menjadi peliharaan yang jinak dan juga predator yang ganas, aku sangat menginginkan wanita yang seperti itu." Santo berkata dan mendescripsikan tentang Lira sambil menutup matanya dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa klab.
"Apa yang tuan Santo katakan? Apakah mungkin Lira bisa berubah jadi sejauh itu? Apa tuan Santo hanya membesar - besarkan itu saja." ucap Denis tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Santo padanya dan cara Santo menggambarkan tentang Lira.
"Kau tak percaya? Lihatlah dia." Santo menunjukkan foto Lira dalam hanponnya kepada Denis.
Lira saat di kantornya.
Saat dipesta perusahaan Liyon.
"Di-dia Lira?" Denis kaget karena Lira jauh berbeda dengan Lira yang dulu.
"Ya, dan kemampuannya dalam beladiri adalah kelebihan dia yang sangat luar biasa. Apa kau tau, saat dia meliuk dan menghajar orang - orang itu terlihat bagai sebuah tarian yang sangat indah. Wanita yang seperti itu adalah wanita impian serta idaman dari banyak pria, aku yakin, wanita seperti Lira adalah wanita yang banyak diinginkan oleh kebanyakan pria." jelas Santo pada Denis
Melihat hal itu membuat Denis tanpa sengaja mengepalkan tangannya karena merasa kesal dan juga marah pada dirinya sendiri ya g dulu telah melepaskan Lira dari genggamannya, karena dulu Lira adalah orang yang cinta mati pada dirinya.
Dalam hati Denis dia juga memiliki keinginan sama dengan Santo, ya itu ingin mendapatkan Lira kembali dan menjadikan Lira sebagai wanitanya sekaligus penjaganya. Dan dalam hati Denis berfikir kalau dia akan bisa mendapatkan hati Lira kembali karena mereka pernah bersama selama 3 tahun lamanya.
__ADS_1