
"Maafkan aku kak, kamu pasti kelelahan ya? Aku tak bermaksud membuat mu takut pada ku, aku hanya tak mampu mengendalikan diriku bila dekat dengan mu. Karena aku sangat menyukai mu kak." Gumam liyon lirih didekat lira yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Cup
"Selamat pagi kak, tidurlah lebih lama lagi. Maaf membuat mu susah semalaman." liyon bangun dari tidurnya dan meninggalkan lira yang masih terlelap dalam balutan selimutnya.
Liyon terlihat melamun dalam lamunan yang dalam, tak ada yang tau apa yang sedang dia pikirkan dalam kepalanya. Dia terhanyut dalam lamunannya hingga tak sadar kalo Farid sudah berdiri di depannya.
"Selamat pagi nona Lira." sapa farid pada lira yang berjalan menuruni tangga dengan tertatih.
Liyon tersentak dan menoleh kearah lira, liyon berdiri menghampiri lira "kakak sudah bangun, ayo sarapan dulu." ajak liyon pada lira.
"Tidak aku mau pulang sekarang." lira menepis tangan liyon yang hendak menyentuh tangannya.
"Kak?" liyon berusaha lagi untuk menggenggam tangan lira.
"Maaf aku lagi tak bertenaga dan gak mau melakukannya lagi." lira melangkah mundur menghindari liyon.
Melihat itu liyon hanya bisa membiarkan tangannya kosong menggenggam udara, liyon melihat ada raut wajah takut di wajah lira. "Farid antarkan dia pulang." liyon menyuruh Farid dan melangkah naik keatas melewati lira.
Dalam perjalanan pulang didalam mobil lira tak bicara apa pun, suasana sangat hening sehingga membuat Farid bingung dan bertanya apa yang telah terjadi.
"Maaf rumah non lira dimana? Dan sebenarnya kalo boleh saya tau apa yang sudah terjadi?" Farid membuka suara untuk bertanya.
"Ah, iya." lira melihat keluar jendela untuk mengawasi sudah sampai di daerah mana, "di perempatan depan lampu merah belok kiri. Dan tidak terjadi apa apa" ucap lira lalu suasana kembali hening.
"Sudah tolong berhenti di sini." lira menyuruh Farid menghentikan mobil tepat disamping apotik.
"Rumahnya yang mana?" Farid bertanya karna dia tak melihat ada rumah, semua adalah pertokohan dan apotik.
"Saya mau ke apotik membeli sesuatu." ucap lira dan berjalan masuk ke dalam apotik.
"Apa kah dia sedang sakit? Atau tuan liyon sedang menghajarnya. Dia berjalan dengan tertatih, kalinya sakit kah." Farid yang melihat lira masuk kedalam apotik bergumam sendiri.
Sekitar 10 menit lira keluar dan menghampiri farid di mobil, "asisten Farid sebaiknya pulang saja, rumah saya sudah dekat. Tinggal lewat gang itu sudah sampai." jelas lira sambil menunjuk gang disebelah apotik.
"Benar kah? Apa tak sebaiknya saya antar sampai depan rumah, kelihatannya nona lira susah buat jalan" Farid menawarkan karna merasa kasihan pada lira yang berjalan dengan tertatih.
"Tidak, tidak usah. Saya tidak apa apa, terima kasih banyak dan selamat ketemu lagi hari senin." tolak lira dan dia langsung berjalan meninggalkan Farid yang masih berdiam melihat lira sampai tak kelihatan dibalik gang.
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
Brrrt
"Farid kamu sudah selesai mengantar kakak?" tanya liyon lewat panggilan telpon.
"Iya sudah, sekarang saya dalam perjalanan kembali." Farid menjawab sambil menyetir.
"Baik, tolong mampirlah ke rumah utama ambil alat golf dan susul aku. Kita pergi bermain golf." perintah liyon dan langsung mematikan sambungan telpon.
"Halo Li lama tak jumpa akhirnya nongol juga kamu." sapa Bagas, Brayen dan Saputra yang sudah berada di area golf lebih dulu.
Farid yang melihat bosnya main golf bersama dengan teman temannya itu merasakan ada yang aneh dari bosnya, seolah bosnya sedang menahan sebuah beban besar dan berusaha untuk menghilangkannya.
...🍂🍂🍂...
Sementara didalam rumah lira sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan juga memberi pergelangan kakinya dibaluri obat untuk kaki keseleo.
"Kak kau di rumah?" teriak satria yang baru datang dari luar.
"Ya aku di kamar." teriak lira menjawab satria.
"Kak, eh kenapa kaki kakak?" satria terkejud dan panik melihat kaki lira diberi laburan obat untuk kaki keseleo.
"Ya Ampun bagaimana bisa terjadi, untung sekarang akhir pekan." satria melihat kaki lira dan berdiri memegang telpon seperti sedang menghubungi seseorang.
"Bagaimana bisa terjadi?" lira bergumam dan mengingat kembali pertengkarannya dengan liyon.
"Aku bilang hentikan.!" teriak lira saat liyon menggagahi tubuh lira lagi.
"Jangan membuat ku kesal." liyon memaksa dan mengikat tangan lira keatas kepala dengan dasinya.
"Liyon kamu b*r*ngsek.!" lira marah dan berusaha menendang liyon, namun dengan cepat liyon menangkap kaki lira dan membukanya dengan paksa sehingga kaki lira terkilir karna cengkraman dari liyon.
"Aaah, liyon sakit." lira menghiba, namun seolah tak peduli liyon mengabaikan lira, sehingga lira pun tak mampu untuk melawan lagi.
"Dia benar benar berandal yang kejam dan keterlaluan." lira mulai menangis mengingat semua kekejaman dan kebrutalan liyon.
"Iya maaf aku tak jadi ikut, kita kumpul kumpul lagi lain waktu saja karna aku sedang sibuk."
"Tidak, bukan hal yang genting cuma kakak ku sedang sakit dia kakinya terkilir dan aku mau mencarikkan tukang urut serta mau menemaninya saja."
"Ok, kita lakukan lain waktu. Tut"
__ADS_1
"Bicara dengan siapa Sat?" lira berusaha berjalan keluar kamar.
"Hai kakak mau kemana?" satria berjalan mendekati lira.
"Aku mau ke ruang tengah capek dikamar." jawab lira yang memaksakan diri tersenyum.
"Baiklah, ayo." satria langsung menggendong lira dan membawanya keruang tengah dan menurunkan lira di sofa.
"Kakak di sini saja, aku mau cari tukang urut buat kakak." satria bergegas keluar rumah.
"Enak juga ada adik ya, dia begitu perhatian sama aku." lira tersenyum melihat satria pergi keluar rumah.
Setelah sekitar 30 menit menunggu satria telah kembali dengan seseorang yang dibawah dari rumah neneknya.
"Ya Ampun bagaimana mbak lira bisa terkilir sampai seperti ini sih."
"Aku juga tak tau, saat aku sampai rumah kakak sudah seperti ini."
"Duh, mas Satria ini bagaimana. Gak perhatian banget sama mbak lira."
"Lah kenapa aku yang disalahin, kan sudah ku bilang kalo aku tak tau."
"Kenapa kalian berisik sekali." lira terbangun dari tidurnya karna merasa terganggu dengan pertengkaran satria sama Sriyani.
Setelah melalui perdebatan akhirnya suasana rumah lira jadi tenang, dan kaki lira juga sudah mulai mendingan karna diurut sama Surep.
Lira sudah mulai bisa berjalan dengan baik walo masih ada sedikit tertatih, dan surep juga sangat rajin datang ke rumah lira untuk mengurut kaki lira seperti sore ini surep datang dan sedang mengurut kaki lira di teras rumah.
Selama 2 hari surep selalu datang sendiri tanpa ditemani oleh Sriyani, yang merupakan kekasih surep.
"Mbak Lira bagaimana apa sudah mulai enakan kakinya?" tanya surep yang sedang duduk dengan memangku kaki lira untuk memberinya terapi urutan.
"Mereka, siapa pria itu? Kenapa mereka terlihat sangat akrap dan juga kenapa pria itu memegang kaki kakak dengan begitu mesra." pandangan liyon sangat gelap menyaksikan lira dan juga surep.
"Apa selama 2 hari ini kakak selalu bersama dengan pria itu?" liyon mencekram kemudi mobil dengan sangat erat.
"Rupanya dia selama ini ada pria yang menemaninya, sementara aku sia sia khawatir dan cemas atas dirinya." gumam liyon yang menahan kesalnya.
Nyut..!
Liyon memegang dadanya yang terasa sakit dan juga sesak melihat aktifitas lira dan juga surep yang tak diketahui oleh liyon apa hubungan mereka berdua.
__ADS_1