Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Pernyataan liyon


__ADS_3

Sebelum menjawab pertanyaan lira Liyon tersenyum menatap lira penuh dengan rasa sayang yang sangat dalam, lalu memegang dagu lira dan mengarahkannya keatas, "Sebegitu ingin taunya ya? Iya, yang aku suka adalah diri kakak dan semua yang ada pada diri kakak aku suka tanpa terkecuali." jawab liyon dan menc*um bibir lira dengan dalam.


"Emm." lira memukul lengan liyon karena dia sulit bernafas.


"Apa kakak tau betapa besar aku menyukaimu?" liyon tersenyum setelah bertanya pada lira dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku tak tau kenapa kamu begitu menyukai aku dan aku juga tak tau kenapa kamu suka aku, sejak kapan, dimana dan bagaimana semuanya aku tak tau, dan sekarang aku ingin tau itu semua dari kamu. Kamu mau kan menceritakan semuanya pada ku?" lira memeluk tangan liyon yang melingkar ditubuhnya.


Cup


Liyon menc*um tengkuk lira, leher, bahu dan juga punggung lira. Liyon seolah sedang mengungkapkan betapa dia sangat menyukai lira dengan sesungguhnya.


"Liyon hentikan geli, jawab pertanyaan ku." lira meminta liyon berhenti menc*umi bagian belakang tubuhnya


"Lira, aku sangat menyukaimu bahkan lebih dari yang kamu tau, aku benar - benar sangat menyukai mu dan tak pernah ada wanita lain yang aku pikirkan selain diri mu."


Liyon menatap jauh kedepan ketitik terjauh dari jarak pandangnya dan menghela nafas dalam lalu menghembuskan dengan pelan.


"Didalam hati dan pikiran ku hanya ada namamu seorang kak, aku mampu bertahan untuk tak menyentuh wanita walau mereka berada didepan ku tanpa busana, namun aku tak mampu jika orang itu adalah dirimu kak."


"Aku menyukai kakak bukan hanya karena has-rat ku saja dan juga bukan karena tubuh kakak saja, bagiku kakak adalah segala - galanya. Tak peduli seperti apa diri kakak dan seperti apa bentuk kakak asalkan itu adalah diri kakak aku akan tetap menyukainya."


"Lira, aku menyukai mu sudah sangat lama sebelum kamu melihat dan mengenalku sebagai bos kamu." bisik liyon ditelinga lira.


Lira menatap liyon bingung mendengar bahwa liyon telah menyukai dirinya sebelum kenal dan tau kalau dia adalah bos-nya.


"Hem, apa kakak bingung?" liyon tersenyum lagi dan mengecup kening lira.


"Apa kakak masih ingat waktu kakak salah masuk kamar dan bertemu dengan seorang pria dalam keadaan tanpa busana?" liyon bertanya dan lira mengingat - ingat kejadian itu yang akhirnya lira ingat kejadian waktu Desi mengatakan bahwa itu adalah kamar yang dia sewa.


"Sudah ingat? Mungkin waktu itu kakak tak memperhatikan atau kakak sudah melupakannya. Tapi pria itu tak bisa lupa hingga dia bertekad akan mencari dimana dan siapa wanita itu, namun semuanya terhalang oleh janji dan pekerjaan yang harus dia selesaikan."


"Apa kah pria itu adalah kamu?" pertanyaan lira tepat dan liyon mengangguk.

__ADS_1


"Jadi kamu menyukai aku dari sejak itu? Tapi bagaimana bisa? Dan itu sudah sangat lama sekali." tanya lira yang merasa semakin bingung, bagaimana bisa ada orang yang menyukai seseorang bahkan tak tau apa pun tentang orang itu.


"Apa kakak berfikir bagaimana bisa ada orang yang menyukai seseorang bahkan dia tak tau apa pun tentang orang itu.?"


"Tapi itu terjadi pada ku. Dan aku sangat tersiksa untuk itu semua, aku menanggung konsekuwensi dari semua pilihanku."


"Aku berusaha keras dan bertahan dengan sangat susah payah agar aku bisa lebih cepat menyelesaikan studi ku dan pekerjaan ku selama 3 tahun."


"Tiga tahun? Kenapa harus 3 tahun?" tanya lira dengan memutar tubuhnya menghadap liyon.


Liyon tersenyum, "Ya karena itu adalah tugas yang diberikan oleh papa ku untuk menangani dan memegang perusahaan yang ada di sini yang saat ini aku pimpin." jawab liyon dengan wajah sendu.


"Jadi kamu sudah menyukai aku selama itu bahkan sebelum kamu tau siapa diri ku?" lira menatap dalam bola mata liyon.


"Iya, aku menyukai kakak selama itu. Dan selama itu juga aku tersiksa bahkan aku mengkonsumsi obat penenang untuk mengatasi semua has-rat yang kadang muncul akibat dijebak oleh orang dengan memberiku obat."


"Dari kejadian itu juga aku telah mengambil keputusan yang sangat ekstrim dengan melakukan Vasectomy, karena aku tak mau benih ku tertanam di rahim wanita lain, aku hanya ingin menitipkan benih ku pada kakak dan hanya kakak yang akan menjadi ibu dari anak - anak ku."


"Tapi saat aku kembali ke sini aku tak bisa menemukan kakak dimana pun, rasanya aku sangat frustasi saat itu. Tapi disaat aku sudah hampir putus asah tiba - tiba saja kita bertemu lagi disaat dan tempat yang tak terduga, pertemuan itu terjadi dalam keadaan kakak yang sedang mabuk berat."


"Apa kakak tau, waktu itu aku sangat bahagia bisa menemukan kakak. Dan aku jadi selalu khawatir pada kakak karena sepertinya kakak ku ini tak ada kewaspadaan sama sekali dan suka sembarangan." liyon mencubit pipi lira.


"Jadi, saat kamu datang ke pesta itu.?" pertanyaan lira ditahan oleh jari telunjuk liyon.


"Kedatangan ku ke pesta itu memang sudah aku rencanakan, tapi karena aku ada pertemuan jadi aku agak terlambat. Aku sangat menyesali kejadian itu, seandainya saja aku datang lebih awal mungkin kakak tak akan dihina dan dibuat malu di pesta itu." liyon meneteskan bulir bening dari kedua bola matanya karena rasa penyesalannya, lira menghapus air mata liyon.


Lira menyimak semua pernyataan dari liyon malam itu, dan lira tak menyangka bahwa dia akan dipertemukan dengan orang seperti liyon dalam dihidupnya.


"Aku tak apa, dan apa kakak tau saat kakak menangis didepannku dan bercerita bahwa kakak tak bisa berhubungan dengan seorang pria itu membuat ku merasa nyeri, aku merasakan sakit saat kakak meneteskan air mata."


"Aku awalnya ingin menjaga kesucian kakak dan tak ingin menodai kakak, tapi tameng ku tak sekuat itu untuk menahan godaan didepan mata ku. Dan has-rat ku selalu saja muncul yang akhirnya pertahanan ku jebol setiap kali aku berhadapan dengan kakak."


"Hingga aku ingin membantu dan ingin mengatakan pada kakak kalau kakak itu normal dan tak ada kelainan. Aku merasa sangat senang waktu itu"

__ADS_1


"Apa Kakak tau apa yang aku rasakan waktu itu? Waktu aku tau kalau kakak juga masih murni dan aku adalah orang pertama yang membuka dan menembus segel kakak rasanya aku bagai mendapatkan berlian yang sangat berharga di dunia ini dan aku sangat bahagia dan kebahagian itu tak bisa ku ungkapkan dengan cara apa pun."


"Liyon." lira mengusap pipi dan menghapus bulir - bulir bening yang mengalir di pipi liyon.


"Aku ingin mengatakan sesuatu pada kakak tapi aku selalu takut, takut kalau nanti kakak akan pergi meninggalkan aku." liyon menggenggam tangan lira dan mengecupnya.


"Katakan saja aku akan mendengarkan." lira meminta agar liyon bercerita soal beban yang mungkin ditanggungnya.


"Baik, aku katakan dan tolong dengarkan sampai aku selesai..." liyon menjedah kalimatnya dan bernafas berat seolah ada beban yang begitu besar. "Sebenarnya mama ingin menjodohkan aku dengan yusnia putri dari Bagaskara," liyon berhenti lagi dan menatap lira, "dan aku sedang berusaha untuk menyelidiki semua kasus yang pernah dilakukan oleh keluarga Bagaskara. Aku akan menolak semua bentuk perjodohan apa pun itu, tapi aku tak bisa melakukannya dengan gegabah karena aku ingin menangkap basah mereka, apa kakak mau menunggu dan mempercayai aku?" liyon bertanya dengan khawatir.


Tak ada jawab dari lira dan juga ekspresi datar dari lira membuat liyon semakin panik dan juga takut, jantung liyon berdetak lebih cepat dari yang tadi. Liyon menarik tangan lira dan mengecupnya sangat lama.


"Aku, aku minta maaf. Aku mungkin egois tapi aku tak tau harus bagaimana lagi." liyon menatap lira masih tak bereaksi.


"Kak, aku bisa kehilangan apa pun dan juga bisa meninggalkan segalanya, bahkan aku mampu untuk menanggung rasa sakit sebesar apa pun, tapi aku tak akan bisa jika harus kehilangan kakak, aku tak akan sanggup menanggung rasa sakitnya kalau aku harus kehilangan kakak," liyon menarik tubuh lira kedalam pelukannya. "aku tak akan sanggup, tak akan pernah sanggup menanggungnya, tak akan pernah bisa." pelukan liyon semakin kuat.


"Liyon, bagaimana bisa ada orang yang menyukai aku seperti dirimu ini, bagaimana bisa kamu melakukan semua itu untuk ku. Aku saja selalu berusaha menguatkan hati ku untuk kemungkinan kalau harus kehilangan mu, lalu kenapa? Kenapa kamu justru tak bisa melepasku, sekarang apa yang harus aku lakukan untuk mu? Kenapa kamu menyukai ku begitu besar liyon? Kenapa kau lakukan itu. Padahal kau adalah orang terpandang dan hebat, kamu bisa mendapatkan wanita seperti apa pun itu." lira bergumam dalam hati dan mulai menangis karena merasa sesak dan sakit dihatinya.


"Hei, kenapa kakak menangis? Tolong jangan menangis kak, maafkan aku."liyon menghapus air mata lira dan menghujani lira dengan c*uman di wajahnya.


"Aku sudah tau, aku tau kamu dijodohkan dengan yusnia, bahkan saat pertama kabar itu belum muncul aku sudah tau dari pak Hendra"


"Dan aku juga berkelahi dengan anak buah tuan Bagas itu juga karena yusnia kesal pada ku dan meminta ku untuk tak berfikir untuk mendapatkan mu, dia sampai menghina aku dan mengatai aku wanita j****g"


Lira menjelaskan pada liyon kalau dirinya sebenarnya sudah mengetahui tentang kabar kalau Liyon akan dijodohkan dengan yusnia sejak awal.


"Jadi kakak sudah tau dan kakak diam saja? Maafkan aku yang egois, dari dulu hingga sekarang. Aku selalu menyakiti kakak dan selalu melapiaskan segala rasa kesal ku pada kakak."


"Aku bahkan selalu melampiaskannya dengan meluapkan has-rat ku pada kakak tanpa peduli apa yang kakak rasakan dan pikirkan, aku dulu berfikir dengan begitu aku bisa memiliki dan menahan kakak disisiku selamanya."


"Taukah kakak bahwa bagi ku kakak bagaikan dunia ku, berada didekat kakak membuat ku tenang, dan setiap kali selesai tidur dengan kakak aku selalu merasa lega dan ringan seakan segala beban ku hilang." liyon tersenyum setelah mengatakan itu.


"Apa itu kata - kata mu yang jujur?" lira bertanya dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Ya, itu kata - kata ku yang jujur yang keluar langsung dari dalam hati ku. Aku mencintai mu kak, sungguh sangat mencintaimu." liyon memeluk lira lagi dengan erat dan lira membalas pelukan dari liyon dengan sama eratnya.


Malam itu mereka saling berpelukan dan mengutarakan semua isi hati masing - masing, hingga tak ada lagi rahasia dan juga kebohongan. lira memilih jujur kali dirinya sedang menyiapkan hati jika nanti harus kehilangan liyon. Dan lira mengakui kalau dirinya juga sangat menyukai liyon serta ingin menggantungkan diri pada liyon.


__ADS_2