
Lira mengepalkan tangannya dan meras roknya dengan pikiran yang melayang kemana mana, lira yang tak pernah menyangka bahwa hubungannya akan jadi berantakan lagi seperti hubungannya yang dulu merasa lucu dengan dirinya.
"Kak Lira!" teriak satria memanggil nama lira.
"Eh Sat, sudah dari tadi?" jawab lira seperti orang yang lagi bingung dan kosong.
"Aku sudah memanggil kakak dari tadi, kakak lagi mikirin apa sih sampai bengong begitu.?" tanya satria mengusap kepala lira.
"Capek mikirin kerjaan yang menumpuk sangat banyak. Sat ayo kita makan yuk, aku ingin makan sate yang ada didekat rumah nenek sekalian kita main ke rumah nenek karena sudah lama kita gak pernah ke rumah nenek." ajak lira sambil bergelayut di lengan satria.
"Ok, kita langsung berangkat ke sana sekarang, tapi ini aku baru sadar kalau Kakak ganti baju ya? Perasaan kemaren bukan ini bajunya waktu kakak pergi dari rumah." tanya satria yang menyadari ada perubahan dari baju kakaknya.
"Ah baju ini dibelikan oleh teman, dan bajunya sangat nyaman karena enak serta leluasa untuk bergerak." jawab lira sambil tertawa lebar.
"Tunggu tangan kakak terluka, apa kakak habis berkelahi lagi?" satria memegang tangan lira yang tanpa sengaja waktu berkelahi tadi tergores.
"Iya kan aku sedang mengawal bos dan tadi ada sedikit masalah serta kesalah pahaman tadi, ya jadinya aku sedikit membela diri." jelas lira
"Ayo berangkat ke rumah nenek dan makan sate." lira siap siap naik di boncengan motor satria.
Satria pun melajukan motornya dan lira memeluk satria dengan menyandarkan kepalanya di bahu satria.
Liyon yang sedari tadi mengikuti dan mengawasi lira dari kejauhan merasa kesal dan juga cemburu sama satria yang bisa dekat serta terlihat sangat mesrah dengan lira, bahkan lira juga sangat nyaman memeluk satria dari belakang.
"Kenapa mereka harus berpelukan seperti itu sih Rid?!" kesal liyon yang merasa tak sabar dan ingin sekali menghentikan motor satria dan merebut lira dari satria.
"Mereka sedang boncengan tentu saja harus pegangan kan." jawab Farid yang merasa heran pada liyon yang marah dan merasa kesal serta cemburu pada satria yang jelas adalah adik lira.
"Ya tapi gak harus sampai pelukan begitu kan." kesal liyon dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi belakang.
"Jadi bagaimana? Mau terus mengikuti mereka atau pulang ini?" tanya Farid pada liyon.
"Hem, pulang saja. Toh mereka pasti juga akan pulang." jawab liyon dengan nafas beratnya.
...🍂🍂🍂...
"Nenek.!" lira lari pada neneknya dan memeluk neneknya dengan sangat erat serta menciumi sang nenek begitu dia sampai di rumah sang nenek.
"Aduh kamu ini ada apa jangan kayak anak kecil begini nenek jadi gak bisa nafas tau." keluh nenek Sulasih pada lira.
Lira terbahak dan pegawai nenek Sulasih yang ada disekitar nenek Sulasih juga ikut tertawa melihat ulah lira yang tiba tiba menempel pada neneknya dan menghujani neneknya dengan ciuman yang sangat banyak.
Setelah bercanda lira, satria dan para pegawai neneknya pergi ke kedai sate yang dekat dengan rumah nenek lira hanya berjarak 1 kilo dari tempat nenek Sulasih. Mereka semua makan dan juga bercanda di kedai sate itu.
Lira lebih banyak bicara dan bercerita banyak hal soal pengalamannya mengawal nyonya Li dan juga tempat latihan yang sangat besar dan bagus di rumah nyonya Li.
Malam itu lira sengaja menginap di rumah neneknya karena dia ingin tidur bersama dengan neneknya dan bermanja sama sang nenek.
...🍂🍂🍂...
Keesokan pagi lira berangkat kerja dari rumah sang nenek, lira sengaja datang lebih siang dan sudah lewat dari jam apsensi kantor.
__ADS_1
Saat datang lira juga tak langsung masuk kedalam ruangannya karena dia tak ada pekerjaan yang harus dia tangani. Lira duduk dan bercengkrama dengan Yanuar dan Aditya di ruang sekretaris.
"Kamu belum melihat dia datang Rid?" tanya liyon pada farid lewat panggilan telepon.
"Belum bos, aku tak melihatnya dari tadi."
"Eh, tunggu sepertinya dia baru saja datang." ucap Farid saat dia melihat lira yang melintas lewat depan ruangan Farid.
"Ok." jawab liyon lalu mematikan panggilan teleponnya.
"Lira kok kamu datang telat, apa ada masalah?" tanya Endang saat dia melihat lira baru datang saat sudah jam 9 lewat.
"Tidak aku dari ngumpul sama Aditya dan Yanuar di ruang sekretaris." jawab lira dan dia mulai mengaktifkan komputernya.
"Lira apa kamu tau apa yang sedang terjadi dengan Bos? Pagi ini bos terlihat suram banget." bisik Endang pada lira.
Saat lagi asik mengobrol dengan Endang tiba tiba telepon di meja lira berdering yang menandakan itu adalah panggilan dari sang Bos Liyon.
"Lira hati hati jangan sampai kena omel." bisik Endang memperingati lira karena sejak datang tadi liyon sudah terlihat menyeramkan.
Tok tok tok
"Masuk.!" teriak liyon dari dalam
"Maaf bos ini berkas yang Bos minta, hari ini tak ada jadwal untuk keluar, hanya pertemuan dengan tuan Haris saja nanti malam ini, apa mau saya jadwalkan pada saat makan malam saja nanti sekalian pulang kerja Bos." tanya lira pada liyon dengan nada bicara formal.
"Iya boleh." jawab liyon menatap lira.
"Kak, dengarkan aku dulu." cegah liyon saat lira sudah selesai menyampaikan jadwal liyon hari ini, tapi panggilan liyon diabaikan oleh lira.
"Lira berhenti.!" teriak liyon saat lira hampir saja membuka pintu dan keluar.
"Iya, ada yang saya bantu lagi Bos?" tanya lira dan membalikkan badan menghadap liyon.
"Aku ingin kamu menani aku nanti saat pertemuan dengan tuan Haris." pinta liyon yang terdengar seperti perintah untuk lira.
"Baik Bos, tapi untuk tugas luar bukankah harusnya adalah tugas sekretaris Safitri." jawab lira mengingatkan liyon.
"Aku ingin kamu menemaniku sebagai sekretaris sekaligus pengawal. Aku gak mungkin bawah kalian berdua, kalau bisa dibawah 1 dalam sepaket." jawab liyon tersenyum.
"Baiklah Bos. Saya akan menghubungi sekretaris tuan Haris dulu." jawab lira dan langsung keluar dari ruangan liyon.
...🍂🍂🍂...
Malam itu setelah lira mengatur jadwal ulang pertemuan tuan Haris dan liyon menjadi pertemuan untuk maka malam bisnis, lira menemani liyon dalam pertemuan itu.
"Tuan Liyon wah wah aku ucapkan selamat ya atas pertunangan kamu dan juga putri tuan Bagas, tak ku sangka kalau kamu akan bertunangan dengan wanita lain." ucap tuan Haris pada liyon dengan tersenyum misterius.
"Jangan macam macam, siap juga yang bertunangan dengannya? Aku tak menerima semuanya jadi jangan bahas soal mereka." jawab liyon kesal.
Selama makan malam tuan Haris terlihat sangat dekat dengan lira, bahkan mereka saling bertukar makanan. Jelas perbuatan itu membuat liyon kesal dan cemburu.
__ADS_1
Setelah makan malam mereka membahas soal pekerjaan bersama, terlihat liyon sangat kesal dengan tuan Haris karena ulahnya disaat makan malam tadi. Dan liyon terlihat mulai ogah ogahan menanggapi tuan Haris.
1 jam berlalu akhirnya pembicaraan mereka selesai dan tuan Haris sama sekretarisnya pergi lebih dulu, namun tiba tiba tuan Haris balik dan berpamitan pada lira, tapi cara berpamitan tuan Haris pada lira yang dengan cara menc*um punggung tangan lira asli telah membuat liyon muntap.
"Apa apaan kalian.!" kesal liyon dan langsung menarik tangan lira.
"Kamu yang apaan. Aku hanya ingin menghormati nona lira dan juga menyanjungnya sebagai seorang wanita. jawab tuan Haris yang merasa bahwa liyon tertalu protektif pada lira selalu sekretarisnya.
Melihat itu tuan Haris kaji. menuadari kalau hubungan liyon dan lira tak sesederhana antara atas dan bawahannya, namun reaksi lira yang biasa saja membuat tuan Haris menyadari kalau mereka sedang bertengkar, sehingga tuan Haris memanfaatkan keadaan itu untuk mengajak lira jalan di akhir pekan.
"Oh iya nona Lira apa di akhir pekan ini ada acara? Kalau tidak ada maukah nona Lira menemani saya untuk melihat lihat perkembangan dari pembangunan proyek dari kerja sama 2 perusahaan yang sedang kami jalani ini? Ya sekalian kita jalan jalan." ajak tuan Haris yang sengaja dilakukan didepan liyon.
"Wa maafkan saya tuan Haris saya sudah ada janji dengan teman saya." tolak lira dengan sopan.
"Oh, apakah itu dengan tuan liyon?" tanya tuan Haris dengan sedikit rasa sedih.
"Tidak, saya mau jalan dengan teman saya yang lain." jawab lira sambil tertawa.
"Sudah, bukan kah tadi kamu sudah pergi kenapa malah kembali dan mengajak lira jalan. Jangan genit jadi orang." kesal liyon yang terlihat nyata kalau dia tak suka.
"Hahaha, bukan kah dulu aku sudah pernah bilang kalau sampai kamu tak bisa menjaganya maka aku akan merebutnya dari mu." bisik tuan Haris pada liyon setelah dia tertawa lebar.
"Dan aku tak akan pernah melepaskannya." jawab liyon yang juga dengan cara berbisik.
"Baiklah aku pergi dulu nona lira, lain kali kita bertemu lagi." ucap tuan Haris lalu dia benar benar pergi.
"Apa kakak begitu senang dengan dia?" tanya liyon pada lira dengan nada yang terlihat sangat marah.
"Tidak juga." jawab lira ogah ogahan sambil berjalan melewati liyon.
Cup
Liyon yang merasa sangat kesal pun tak peduli lagi disitu ada Farid atau tidak, dia menarik lira dalam pelukannya dan menc*um bibir lira saat mereka sudah didalam mobil yang disupiri oleh Farid.
"Apa yang kau lakukan.!?" kesal lira mendorong tubuh liyon.
"Kenapa? Itu adalah hukuman untuk kamu."ucap liyon dan duduk dengan tegap.
"Tak apa lira." ucap Farid yang tau kalau lira malu pada dirinya.
"Farid, kenapa kamu memangilnya dengan begitu akrab." ucap liyon menatap Farid tajam.
"Haaaah." Farid tak menjawab hanya menghela nafas panjang saja.
"Farid makasih ya sudah mengantar ku sampai rumah. Hati hati dijalan, selamat malam." lira keluar dari mobil setelah mengucapkan rasa terima kasih pada Farid tanpa perduli pada liyon yang duduk disebelahnya.
"Haaah, kenapa rasa cemburu ini sangat tidak nyaman dan tidak enak." gumam liyon menatap lira melangkah dan masuk kedalam rumahnya.
"Aku sangat menyukainya dan gak suka melihat dia dekat serta mesrah dengan pria lain, sangat tidak suka." sambung liyon lagi dengan geram
"Ya kalau cemburu katakan langsung pada orangnya jangan menggeritu sendiri di sini." jawab Farid sambil mengemudikan mobil.
__ADS_1
Liyon diam tak bersuara mendengar Farid berpendapat, karena gak mungkin Liyon akan berani menunjukkan rasa dan melampiaskan rasa gak sukanya pada lira.