
"Lira, kau tak papa?" tanya farid yang datang mendekati lira, Safitri dan juga Endang yang sedang istirahat dan berteduh dibawah pohon kelapa serta memberikan air dingin yang entah dari mana didapatkan.
"Ah, tidak - tidak aku tak apa terima kasih." ucap lira menerima air dingin dari Farid yang setelah dia melihat ke arah liyon dan didapati liyon sedang mengedipkan sebelah matanya pada lira dari jauh.
"Minumlah dan jangan sampai tersedak lagi." ucap Farid dan itu membuat lira tertawa malu.
"Ehem, jadi ada apa ini? Kamu dan kaki tangan kepercayaan sang bos, apa kalian lagi peroses pendekatan satu sama lain?" goda Endang setelah Farid pergi menjauh dan kembali lagi berkumpul dengan para pegawai pria.
"Tidak, kamu jangan sembarangan ngomong." lira dan Safitri berkata bareng dan itu membuat Endang terkejud serta menatap lira dan Safitri bergantian.
"Ah, kalau seperti ini aku bisa gila." keluh Safitri dan dia menatap lira yang ternyata juga menatapnya dengan tatapan tanda tanya.
"Maafkan aku lira, aku tak bisa menyembunyikannya lagi, aku harus cerita setidaknya pada Endang biar aku tak merasa terbebani karena memendam ini seorang diri." ucap Safitri dan itu membuat lira serta Endang jadi bingung dan bertanya - tanya.
"Sebaiknya kita kembali saja dulu ke kamar kamu lira." ajak safitri dan mereka bertiga pun berdiri serta bersama - sama berjalan ke arah kamar lira.
"Sebenarnya ada apa sih mbak Fitri? Aku jadi penasaran kabar apa yang mau mbak Fitri katakan kepada kami dan kenapa juga harus ke kamar lira untuk cerita, bukannya langsung cerita saja sudah bisa ya tadi." tanya Endang saat mereka berjalan kearah kamar lira.
"Aku juga tak tau, jadi jangan menatapku." lira menggerakkan bahunya ke atas saat Endang menatapnya.
"Ayo lira buka kamar mu." perintah Safitri dan lira mengikuti saja.
"Sebelumnya aku mintak maaf ya lira, mungkin ini mau kamu sembunyikan. Namun Serapi apa pun itu pasti akan ketahuan juga pada suatu hari, dan aku tanpa sengaja melihatnya rahasia yang ingin kamu jaga itu." Safitri memulai pembicaraan saat mereka sudah berada didalam kamar lira dan duduk di sofa bersama.
"Aku tak tau apa yang mbak Fitri ingin katakan dan rahasia apa, jadi mbak Fitri cerita saja tak usah meminta ijin pada ku." jawab lira yang masih belum sadar kalau hubungannya dengan liyon sudah diketahui oleh Safitri.
"Lira kamu masih ingat waktu acara makan malam kamu tanya pada ku kenapa aku tak menjemputmu? Sebenarnya aku sudah datang menjemput kamu dan aku langsung masuk saat pintu kamar mu terbuka sedikit, di situ aku tanpa sengaja melihat dan menyaksikannya dengan mata kepala ku sendiri kalau kamu dan bos...Bla...Bla...Bla." Safitri menceritakan semua yang dia lihat dari awal sampai akhir pada lira dan juga endang, mendengar cerita itu lira tak bisa lagi mengelak apa yang sudah dilihat oleh Safitri dengan jelas, dan endang terkejud dia menutup mulutnya sendiri serta menatap lira dengan tatapan kagum.
__ADS_1
"Ja - jadi, jadi bukan asisten Farid melainkan Bos sendiri yang merupakan kekasih Lira?" Endang bertanya dengan sangat menggebuh segerah ingin tau cerita selanjutnya.
"Iya, jadi bukan asisten Farid yang sedang pendekatan, melainkan Bos kitalah yang menjalin cinta dengan lira." jelas Safitri dengan sangat yakin.
"Ya ampun Lira kamu hebat sekali, kamu sungguh luar biasa." puji Endang dan akhirnya dengan terpaksa lira pun mengakui kalau dia memang punya hubungan dengan liyon.
Pada akhirnya lira pun menceritakan kisahnya dengan login atas desakan Endang dan Safitri. Dua orang teman kerja lira itu pun mendengarkan dengan seksama atas apa yang diceritakan oleh lira, dan lira memilih tak menyembunyikan semuanya dari kedua orang teman baiknya itu, dan lira ingin membagikan ceritanya dengan mereka.
Setelah mendengar cerita lira Safitri dan Endang pun bersantai dikamar lira itu sambil menonton tv, sedangkan lira sedang asyik masak mie intan untuk dirinya dan kedua teman baiknya Endang dan Safitri.
"Sayang, aku sangat merindukan mu." ucap liyon sambil memeluk lira dari belakang dan langsung menyusupkan wajahnya dileher lira.
"Apa yang kau lakukan?!" lira mendorong liyon hingga liyon menabrak meja
"Auh, apa yang kakak lakukan? Sakit tau." ucap liyon dan berjalan mendekati lira lagi.
"Hem, kenapa?" liyon bertanya dan memutar tubuhnya melihat kearah lira memandang.
"Uhuk uhuk." liyon langsung tersentak hingga batuk - batuk karena batu menyadari kalau lira tak sedang sendirian dan ada sekretaris Endang serta sekretaris Safitri didalam kamar lira.
"Ma - maaf kami, kami sudah tau kok." jawab Endang dan Safitri bersamaan.
Liyon langsung merubah wajahnya yang tadi terkejud jadi wajah dingin dan penuh kharisma. Menatap Endang dan Safitri bergantian serta berjalan dan duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Safitri dan endang berdiri.
"Kalian berteman, apa kalian bisa dipercaya?" tanya liyon seketika sambil menatap dua gadis yang berdiri didepannya.
Endang dan Safitri seperti seorang murid yang sedang menerima hukuman atas kesalahan yang mereka perbuat didepan guru BK, berdiri dengan tegap dan menatap kebawah seakan - akan menanggung kesalahan yang begitu besar dan tak termaafkan sama sekali.
__ADS_1
"Jika kalian sudah tau itu artinya lira sangat percaya pada kalian berdua, aku akan menyerahkan urusan ini sepenuhnya pada lira, walau sebenarnya aku bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat sekarang juga." kata - kata liyon yang pelan dan sabar itu terdengar bagaikan sebuah ancaman yang mematikan bagi Endang dan Safitri yang mendengarnya langsung.
"Liyon kau jangan menakuti mereka, aku yakin mbak Fitri dan Endang bisa dipercaya." ucap lira Karen Asia menatap Endang dan Safitri yang sudah terlihat sangat ketakutan pada Liyon.
"Kau selalu membela teman mu itu pilih kasih namanya." liyon menarik tangan lira hingga lira duduk dipangkuannya.
"Aku sudah cukup bersabar ya, dan aku juga sudah menghadapi dengan sabar semua ulah mu ini." ucap lira mendorong dada liyon dan dia berdiri dari pangkuan liyon.
Setelah mendengar lira sudah menceritakan soal dirinya pada teman - tema lira yang saat ini ada didepannya, liyon tak lagi menahan diri dan dia dengan bebas menunjukkan kemesraannya dengan lira didepan endang juga Safitri.
Setelah segala kesenangan selama 3 hari berdarma wisata semua pegawai pun kembali lagi untuk beraktifitas lagi dan bergelut lagi dengan berkas - berkas dan para dokument yang sudah teriak memanggil - manggil untuk segerah dikerjakan dan diselesaikan.
"Hei apa kalian tau? Kalau lira itu sebenarnya bukan lah orang baik, di tak lebih dari seorang ja***g yang berpura - pura baik." ucap Suryani saat dia sedang makan dikantin.
"Hah? Apa maksud mu itu? Jangan menebar fitnah kamu kalau tak tau yang sebenarnya." ucap orang yang diajak bergosip oleh Suryani.
"Aku tak lagi menebar gosip tapi aku mengatakan faktanya, karena aku mendapatkan info dari sumber ya g dapat dipercaya secara langsung."kelas Suryani.
Dari mulut ke mulut semua orang yang mendengar kabar itu mulai banyak dan semuanya mulai berkasak kusuk setiap kali mereka melihat lira melintas, hingga kabar itu terdengar juga oleh telinga lira.
"Bagaimana bisa ya dia seperti itu? Ku pikir dia itu orangnya polos dan lugu, tak taunya ternyata dia adalah orang yang menyimpang seperti itu." ucap seorang pegawai
"Ih, benar ngeri banget ya, kenapa harus berhubungan dengan cara seperti itu? Biasa saja sudah nikmat banget kok." timpali pegawai lainnya.
"Tentu saja kalau orang kelainan memang begitu, karena katanya kalau tak seperti itu maka dia tak akan mendapatkan sebuah kepuasan." sahut pegawai lainnya lagi.
Semua pegawai di kantor itu pada akhirnya tau semua dengan cerita dan kabar yang saling. menambahi dan juga melebih - lebihkan kabar berita, bahkan membuat ceritanya berbeda dengan cerita aslinya.
__ADS_1
Mendengar kabar yang simpang siur itu lira tak bergeming dan dia hanya diam menanggapi kabar tentang dirinya, lira seolah cuek dan tak peduli seperti apa pun mereka menjelekkan dirinya. Karena bagi lira dia tak melakukannya maka dia tak perlu menanggapi mereka hanya perlu menghadapi dengan sabar sampai kabar itu menghilang dengan sendirinya.