Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Kembali pulang ke rumah


__ADS_3

"Duduk dengan tenang ya sayang gak boleh menyakiti kakak Ferdi ok." ucap Meli yang mengangkat Arlin dan mendudukkan Arli didepan Ferdi.


"Akak, sakit." tanya Arli memegang tangan Ferdi dengan kata - kata cadel dan kurang jelas dari Arlin.


"Tidak, tidak sakit. Kamu terluka ya." Ferdi menyentuh kepala Arlin yang diperban.


"Sakit." Arlin tersenyum lalu mendekat dan mencium pipi Ferdi.


"Eh, coba lihat apa yang dilakukan mereka?" ucap Meli dan semuanya melihat ke arah Meli lihat.


Arlin memeluk Ferdi dan Ferdi juga membalas pelukan Arlin mereka berdua seperti sepasang pasangan yang lagi melepaskan rindu yang mendalam karena telah lama Tek bertemu.


Semua yang melihat tersenyum melihat aktifitas dua bocah yang menggemaskan bagi mereka. Lalu timbul ide gila dari kedua mama mereka untuk mengikat kedua bocah itu dalam sebuah janji pertunangan dan pernikahan saat nanti mereka berdua telah dewasa, dan para papa hanya bisa menyetujuinya saja.


"Baik kalau begitu kita lakukan nanti kalau Ferdi telah sehat dan pulang ke rumah, bagaimana?" tanya Meli dengan sangat antusias.


"Hem, baiklah itu ide yang bagus. Sekalian kita rayakan kepulangan Ferdi ke rumah, bagaimana Lira?" Yuniar tak kalah semangatnya dari Meli.


"Ya baiklah aku juga setuju itu, tapi,,, bagaimana jika nanti saat mereka dewasa ternyata mereka memiliki cinta yang lain?" tanya Lira sedikit merasa khawatir.


Ketiga wanita itu mulai berfikir untuk memecahkan masalah Ferdi dan Arlin yang masih kecil dan tak tau apa - apa. Ketiga wanita itu tenggelam dalam pemikiran mereka yang membuat para suami mereka merasa bingung.


"Dia adalah putraku, sekali dia memilih dia tak akan mau melepaskan pilihannya. Kita lihat perkembangan dari hubungan mereka." ucap Liyon memeluk Lira.


"Apa kau yakin untuk itu?" Lira bertanya pada Liyon yang berkata penuh dengan keyakinan.


"Hem." Liyon tersenyum dan mengangguk.


Setelah itu ketiga wanita itu merasa bahagia dan merasa telah berhasil memecahkan masalah yang rumit antara anak - anak mereka. Dan mereka pun telah masuk dalam pembicaraan yang menyenangkan bagi mereka bertiga.


"Senang kalau semuanya sehat dan juga selamat. Aku sangat bahagia dan juga lega atas semuanya." ucap Yuniar memeluk Meli dan Lira.


"Iya aku juga lega semuanya selamat, walau banyak kehilangan juga." jawab Lira, dan Meli mengangguk.


"Bener banget, walau sebelah kakiku bukanlah kaki yang sebenarnya, namun aku sangat bangga dan tak menyesal karena sudah kehilangan kaki demi mencari bantuan dan menyelamatkan semua keluarga ku. Semuanya terasa telah terbalaskan dengan kebahagiaan ini." Meli juga ikut menjawab dan ketiga wanita itu tertawa terbahak bersamaan.

__ADS_1


"Aku tak peduli dengan yang lain, tapi aku tak bisa kehilangan kalian, karena kalian adalah kakak - kakak ku." sambung Meli lagi dengan tersenyum bahagia.


"Ya, kau adalah adik ku yang manis." Lira memegang pipi Meli dan menatapnya penuh rasa sayang seorang kakak pada adiknya.


"Hey, bukan hanya dia, aku juga adik mu tau." ucap Yuniar dengan memanyunkan bibirnya.


"Iya, ya kau teman yang telah mencuri adik ku." jawab Lira memukul bahu Yuniar dan tersenyum.


"Siapa suruh dia jatuh cinta pada ku." jawab Yuniar dan mereka kembali tertawa terbahak lagi.


Melihat itu para suami merasa lega dan juga senang karena para istri mereka ternyata adalah orang - orang yang bisa pulih dengan cepat serta wanita kuat sehingga tak berlarut - larut tenggelam dalam kesedihan dan rasa trauma.


"Syukurlah mereka telah bahagia." ucap Liyon tersenyum melihat keseruan obrolan istrinya dengan kedua istri sahabatnya.


"Ya, kakak ku adalah wanita yang hebat dan istriku juga kuat, itu sebabnya aku mencintai dan menikahinya." jawan Satria menuju kakak dan juga istrinya.


"Benar juga, dan energi positif itu mempengaruhi sekitarnya termasuk Meli yang yang pemalu." sambung Farid atas ucapan kedua sahabatnya.


Bagi para suami istri mereka adalah matahari yang selalu memberikan sinar mereka dan juga menyalurkan energi, selama para istri bahagia dan tertawa lepas bagi para suami itu sudah cukup karena tawanya seorang istri menandakan kalau kebahagian akan selalu ada didalam rumah mereka. Dan senyuman istri adalah kebahagian bagi suami. Karena selam seorang istri bahagia maka cahaya rumah akan selalu hidup.


Seminggu telah berlalu dan kini Ferdi telah bisa berjalan dengan sempurna dan Lira yang setiap hari menemaninya terapi pun merasa sangat bahagia.


"Lira," sapa Bagas pada Lira yang baru saja menemani Ferdi terapi.


"Bagas, bagaimana apa semuanya baik?" tanya Lira karena melihat Bagas membawah berkas catatan medis Ferdi.


"Ya semua baik, dan Ferdi sudah boleh pulang." ucap Bagas dan mendengar itu Lira tersenyum bahagia begitu juga dengan Ferdi yang melompat - lompat kegirangan karena boleh pulang dan bertemu dengan adik - adiknya.


"Bagaimana Ferdi kamu suka bisa pulang?" tanya Bagas mendekati Ferdi yang melompat kegirangan.


"Ya suka om Bagas, sangat,,, sangat suka." Ferdi menjawab dengan sangat senang.


"Baiklah, aku akan mengurus semuanya biar besok bisa langsung pulang." ucap Bagas dan meninggalkan ruang rawat Ferdi.


Ferdi meminta Lira agar segera mengepak baju - bajunya karena besok pagi dia mau langsung pulang. Melihat kebahagiaan Ferdi Lira melupakan sesuatu yang selama ini mau dia tutupi dan menyiapkan mental Ferdi.

__ADS_1


"Papa besok Ferdi mau pulang pagi - pagi sekali karena Ferdi sudah gak betah tinggal di sini." alucap Ferdi pada Liyon yang menemaninya malam itu. Sementara Lira di rumah sedang menyiapkan pesta kecil penyambutan kepulangan Ferdi besok pagi.


"Hem, baiklah besok siap - siap pulang pagi sekarang cepat tidur." ucap Liyon pada Ferdi.


"Iya, tapi Ferdi mau melihat berkas papa dulu." ucap Ferdi dan Liyon tersenyum, mempelajari berkas perusahaan bersama dan dengan pelan Liyon menjelaskan pada Ferdi sampai akhirnya Ferdi tertidur.


Keesokan paginya Liyon sudah menyiapkan semuanya dan langsung pulang begitu selesai menyelesaikan soal administrasi Ferdi selama tinggal di rumah sakit.


"Ayo, kamu sudah siap?" tanya Liyon pada Ferdi yang sudah berpakaian dengan rapi dan berdiri disamping Suryo dan Gali.


"Sudah siap papa." jawab Ferdi dengan tegas.


"Dia benar - benar mirip dengan tuan." bisik Gali yang berjalan dibelakang Liyon dan Ferdi.


"Ya, mereka bagaikan pinang dibelah dua. Liyon versi kecil." sahut Suryo mengiyakan.


Dalam perjalanan pulang Ferdi terlihat sangat tak sabar dia terus melihat keluar jendela dengan senyum yang terus saja dia tebar disepanjang jalan.


...🍂🍂🍂...


"Ferdi selamat datang di rumah sayang." sambut mama Li dan bu Yulia didepan pintu masuk rumah dan semua orang sudah berkumpul disana.


"Nenek" Ferdi lari menghambur kedalam pelukan mama Li dan juga Bu Yulia, kedua wanita tua itu sangat bahagia melihat cucu mereka telah kembali dalam pelukan mereka.


Kebahagiaan semua orang tak bisa dilukiskan atau diucapkan dengan kata - kata, mereka semuanya menyunggingkan senyum cerah diwajah mereka semuanya, karena sumber kebahagiaan Lira telah kembali sehingga tak ada lagi kesedihan diwajah Lira lagi.


Disaat semua kebahagian terpancar diwajah semua orang, dan pesta malam itu membuat semuanya merasa lega serta ringan karena beban mereka telah terangkat. Namun tidak dengan Ferdi, kebahagiaan dia seolah telah sirna karena adik - adiknya tidak sesuai dengan harapannya.


"Ferdi sayang, maafkan Mama karena semua itu diluar kendali mama sayang. Mama tak bisa merubah takdir." ucap Lira membujuk Ferdi yang sedang kesal karena mengetahui kenyataan soal adik - adiknya.


"Sayang yang Mama katakan benar, semua itu diluar kendali mama dan papa." sambung Liyon juga membujuk Ferdi yang meringkuk di sudut ruangan adik - adiknya berada.


"Hei bukankah ada Arlin, Ferdi tetap punya adik cewek kan." ucap Liano membujuk Ferdi juga.


"Gak mau, Ferdi gak mau anggap Arlin adik karena kalau besar Ferdi mau menikahi Arlin.!" teriak Ferdi dengan kesal.

__ADS_1


Semua yang mendengar kaget termasuk keluarga Liyon dan orang tua Lira yang tak tau apa - apa, tapi Lira dan Meli tersenyum mendengar penuturan Ferdi, begitu juga Liyon dan Farid.



__ADS_2