
Seharian ini benar - benar sangat tenang bagi lira karena tak ada masalah atau hal yang merepotkan. Lira membawah Ferdi ke sebuah mol untuk bermain dan membeli beberapa baju serta jaket untuk Ferdi.
"Mama aku mau yang itu." tunjuk Ferdi pada sebuah kaos bergambar teddy bear.
"Yang ini?" tunjuk lira dan mengambil kaos itu.
"Iya, iya yang itu Ma." Ferdi berkata sambil melompat kegirangan
"Baiklah kamu tunggu di sini Mama mau bayar dulu ok." ucap lira pada Ferdi dan dia berjalan ke kasir sementara Ferdi berdiri tak jauh dari Lira.
"Liyon." ucap seorang ibu - ibu yang memanggil Ferdi dan menatap Ferdi dengan lekat.
Fedi menoleh ke sumber suara yang memanggilnya karena Ferdi tau yang disebutnya adalah nama Papanya jadi secara sepontan Ferdi menoleh.
"Kamu, kamu benar - benar mirip sekali dengan putraku Liyon saat dia masih kecil." ucap ibu - ibu itu yang tak lain adalah nyonya Li.
"Ferdi ay,,, Nyonya Li?" ucap Lira terkejud karena dia bertemu dengan Nyonya Li.
"Lira. Jadi dia putramu? Apakah dia anak Liyon. Katakan apakah dia cucuku?" tanya Nyonya Li dengan keras pada Lira.
"Tidak dia adalah putra saya." jawab Lira.
"Jangan bohong dia pasti anak Liyon cucuku, berani sekali kamu berkata bohong" bentak Nyonya Li pada Lira.
"Aku yang melahirkan dia dan dia adalah putraku, Nyonya jangan sembarangan berkata." jawab Lira
Plak
Nyonya Li melayangkan tamparan tepat di pipi Lira dan Lira tak menghindar dari tamparan Nyonya Li, Lira menerima tamparan itu seolah itu sebagai tamparan permintaan maaf dia pada nyonya Li karena tak mau menyerahkan Ferdi padanya.
"Apa yang Nyonya lakukan pada Mamaku, orang jahat." maki Ferdi pada Nyonya Li dan menatap Nyonya Li dengan tajam.
"Sayang jangan begitu tak baik bicara tak sopan pada yang lebih tua." ucap Lira memeluk Ferdi.
"Ya ampun ada apa itu ya? Kenapa nyonya itu tiba - tiba saja menampar wanita itu ya? Sangat mengejutkan, apakah nyonya itu ada masalah dengan wanita itu."
"Entahlah, sepertinya nyonya itu orang kaya tapi kenapa dia kok ada masalah dengan wanita itu, dari tadi aku lihat wanita itu hanya sama putranya saja."
"Iya, pasti nyonya itu yang bermasalah dan mencari gara - gara, lihatlah anak kecil tak akan berkata bohong. Anak kecil itu tak menyukainya."
Kasak kusuk semua orang yang melihat adegan itu dan juga yang tau dari awal Lira hanya bersama Ferdi saja jadi menyalahkan nyonya Li yang tiba - tiba datang membuat keributan hingga sampai menampar Lira.
"Kalian yang tak tau apa - apa jangan bicara sembarangan, dia adalah wanita yang jahat sudah membawah pergi cucuku selama bertahun - tahun." ucap nyonya Li dengan sangat marah.
"Ma... Mama" Ferdi menggoyang tubuh Lira hingga Lira terbangun.
"Ah, Ferdi sayang, rupanya itu hanya mimpi." gumam Lira dalan hati dan Lira langsung memeluk Ferdi dengan sangat erat.
"Mama kenapa, apa Mama mimpi buruk? Apa yang sedang Mama mimpikan?" tanya Ferdi mengelus pipi Lira
"Iya Mama mimpi buruk, Mama mimpi kehilangan kamu sayang." jawab Lira menempelkan keningnya pada kening Ferdi.
__ADS_1
"Mama jangan takut, Ferdi tak akan pernah meninggalkan Mama selamanya karena Ferdi sayang Mama dan Mama adalah peri kecil aku yang paling baik dan paling cantik." jawab Ferdi menangkub pipi Lira masih dalam posisi kening mereka saling menempel.
"Maafkan Mama sayang, Ferdi tak marah kan sama Mama karena masih belum memberi tau siapa Papa kamu?" tanya Lira pada Ferdi dan mengusap pipi putranya itu.
"Tidak, Ferdi tak marah Ma. Ferdi cuma mau sama Mama saja." Jawa Ferdi memeluk lira.
"Terima kasih ya sayang dan tolong maafkan Mama." ucap Lira lagi dan langsung mencium Ferdi.
"Hei, ada apa ini? Kenapa kalian terlihat seperti sedang bernostalgia dan akan berpisah jauh, pakek peluk - pelukan segala." celetuk Meli yang masuk kerumah Lira karena pintunya tak dikunci.
"Eh, iya Mel habis belanja tadi kok ketiduran karena capek banget." jawab Lira sambil tersenyum.
"Ini mbak tadi aku dikasih sama tetangga depan rumah katanya ada selamatan anaknya yang baru lahiran dengan selamat." Meli menyerahkan bungkusan tas pada Lira.
"Oh iya, aku belum melihat anaknya yang kemaren melahirkan. Nanti ae sekalian kita beli hadiah untuk bayinya." jawab Lira bangun dan berjalan kearah dapur.
Pagi itu Meli sengaja datang ke rumah Lira karena dia juga sedang libur dan sengaja ingin belajar masak sama Lira.
"Mel nanti siang ikut ke mol ya nyariin kado apa gitu yang bagus untuk bayi baru lahir." ucap Lira menata makanan diatas meja makan setelah masak dengan bantuan Meli dan Ferdi yang merecoki.
"Kita kasih tempat tidur bayi saja mbak." usulan Meli dan Lira hanya mengangguk.
...🍂🍂🍂...
Setelah selesai makan dan beberes - beres rumah jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Lira, Ferdi dan juga Meli berangkat ke mol, selain mencari kado Lira juga membelikan beberapa baju dan jaket untuk Ferdi.
"Ya Ampun cakep banget Bu putranya dan lihatlah tatapan matanya sangat tajam." ucap ibu - ibu pengunjung mol itu juga dan Lira membalas dengan tersenyum.
Mereka bertiga belanja banyak hal, dan membeli banyak sekali barang. Mulai dari baju, perabot dapur dan juga make up untuk Lira dan juga Meli.
"Mama Ferdi mau es krim, ayo Ma beli di toko yang tadi Ferdi lihat." Ferdi menarik tangan Lira untuk membelikannya es krim kesukaannya.
"Kita sekalian cari makan saja Mel karena ini sudah lewat jam makan siang." ucap Lira dan mereka pun pergi mencari makan di restoran yang ada didalam mol itu.
Saat Lira sedang menikmati makanannya tiba - tiba saja ada seseorang yang mendekati dia dan langsung memeluk lira dari belakang. Untung saja orang itu cepat tanggap sehingga dia cepat menghindar saat Lira mau melayangkan pukulan.
"Om Rian.!" teriak Ferdi dengan sangat riang.
"Hahaha, kau merindukan Om sayang." Rian pindah memeluk Ferdi.
"Ya Ferdi rindu Om." jawab Ferdi membalas pelukan Rian.
"Kapan kamu tiba dan kenapa tak memberi aku kabar?" tanya Lira pada Rian dan Meli hanya bengong melihat interaksi mereka bertiga.
Setelah berbincang Lira mengenalkan Rian pada Meli, dan terlihat Meli ada rasa tertarik pada Rian karena Rian memang cukup tampan.
"Baiklah aku balik dulu ya karena aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan, nanti kalau ada waktu aku akan mampir lagi. Oh iya, lusa kamu ikut Aku ya karena akan diadakan pesta perusahaan, aku mau kamu datang sebagai pasangan ku." ucap Rian saat dia ikut mengantarkan Lira dan juga Ferdi pulang setelah mereka berempat jalan - jalan dan juga nonton bersama.
"Iya nanti kamu kabari aku saja." jawab Lira menyetujui ajakan Rian.
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
Keesokan paginya pada hari Senin suasana hotel sangat sibuk karena semakin dekatnya acara resepsi anak buah Liyon dan juga kedatangan pimpinan di hotel itu. Kesibukan sudah dimulai dari sejak pagi hari hingga siang baru bisa duduk dengan santai.
"Katanya pimpinan sudah datang? tapi aku tak melihatnya yang mana, yang aku lihat hanya kaki tangannya yang tampan - tampan itu, sekretaris dan asistennya." ucap pegawai hotel bagian resepsionis.
"Iya padahal dari tadi aku sudah sengaja datang pagi tapi tetap saja tak bisa melihat pimpinan, orang e benar - benar misterius ya." timpali temannya dan akhirnya mereka berempat saling bergosip.
Sementara didalam kamar Liyon Farid dan Satria mengawasi dan melihat - lihat kamar yang disiapkan oleh pihak hotel untuk kamar Sem|nyata pimpinan mereka.
"Fasilitasnya lengkap walau ruangannya sempit karena ini adalah junior room" jawab Farid
"Ya lumayan cara penataan mereka sangat fleksibel untuk semua perabotnya." sambung Satria dan duduk di sofa yang agak jauh dari Farid juga Liyon.
"Bagaimana penyamaran mu selama 2 hari terakhir apa tak ada masalah atau menemukan masalah.?" tanya Satria pada Liyon
"Lumayan nyaman, dan untuk masalah kamu bisa memutar ulang rekaman cctv dari laptopku didepan mu itu." jawab Liyon sambil menandatangani berkas yang dibawah oleh Farid.
Satria pun membuka dan memutar ulang dari hari pertama Liyon menginap, "wah ada keributan rupanya." gumam Satria melihat dengan seksama.
"Iya namun sebelum aku turun tangan sudah diatasi oleh sekretaris pak Sugeng." jawab Liyon lagi.
"Eh, tunggu." Satria mengulangi suatu adegan dalam rekaman cctv itu dan dia melihat dengan sangat serius lalu sibuk mencari hanponnya.
"Ayo cepat diangkat." Satria terlihat tak sabar, Farid dan Liyon yang melihat hanya tersenyum saja. Karena saat Satria sedang panik atau tak sabat pasti dia sedang menghubungi istrinya.
"Halo Bu, katakan apa yang ingin ibu katakan waktu itu dalam telepon apakah ibu bertemu dengan kakak?" ucap Satria seketika saat panggilannya diangkat oleh ibunya.
"Deg." Liyon berhenti dan menatap Satria.
"Apa? Kakak memang datang ke makan dan mengirim buket ke rumah?" ucap satria lagi dan tangan Liyon jadi bergetar, Farid yang melihat itu sangat tau kalau selama ini Liyon telah menyimpan rindu yang sangat mendalam untuk Lira.
"Apa maksud Ibu? Kakak sudah menikah dan memiliki anak?" ucap Satria lagi dan itu membuat tubuh Liyon bergetar hebat.
"Jadi Ibu tak bisa menemukannya, tapi aku sudah menemukan dia." ucap satria mematikan sambungan teleponnya dan menghubungi seseorang lagi.
"Pak Sugeng katakan dimana sekretaris anda sekarang." tanya Satria dengan nada dingin dan langsung beranjak keluar dari kamar Liyon.
Satria lari melewati koridor dan setiap ruangan hingga dia sampai di sebuah ruangan yang pintunya tertutup dengan papan nama sekretaris Ani.
Brak
Satria langsung membual pintu itu dengan sangat keras hingga menimbulkan suara yang keras juga dan membuat penghuni yang ada didalam ruangan itu kaget.
"Hah, hah, Kak." panggil Satria dengan nafas terputus - putus.
"Sa-tria." ucap Lira kaget melihat satria berdiri diambang pintu ruangannya.
Satria berjalan dengan langkah cepat dan langsung menarik Lira kedalam pelukannya. Satria memeluk Lira sangat erat dan menumpahkan air matanya seketika tanpa ditahan lagi.
"Kenapa kakak pergi begitu lama dan juga jauh, kenapa kakak membuat aku sangat takut selama ini." ucap Satria memeluk Lira dengan erat.
Sementara Liyon yang mengikuti Satria dia melangkah mundur saat melihat Satria memeluk tubuh Lira dalam pelukannya.
__ADS_1