
Setelah sarapan lira dan liyon berangkat ke kantor bersama dengan dijemput oleh Farid, dan seperti biasa kalo berangkat bareng liyon lira selalu turun di perempatan lampu merah jika liyon tak mau masuk kedalam parkiran.
Pagi itu sangat sibuk, semua orang mengerjakan tugas dan juga laporan mereka dengan cepat dan tak ada satu pun dari mereka yang berkeliaran hanya sekedar menyapa atau pergi ke pentri untuk bersantai. Semua orang sibuk dengan diri mereka sendiri.
Begitu juga dengan bos mereka, liyon sangat sibuk pagi itu. Karena pekerjaan yang dia tinggalkan selama 3 bulan lamanya jadi menumpuk, dan semua laporan yang harusnya sudah diselesaikan belum dikoreksi dan ditanda tangani oleh liyon.
Farid dan juga Safitri tak kalah sibuknya, mereka yang justru bekerja dengan mengsurvei lokasi dan tempat tempat yang melakukan kerja sama dengan kantor mereka secara langsung jadi sering keluar.
"Ya Ampun capek banget, perasaan pekerjaan ini sudah ku kerjakan dan ku cicil namun ternyata masih saja menumpuk." keluh endang yang merasa punggung dan juga lehernya kaku karena seharian menatap layar komputer.
"Iya, perasaan ini pekerjaan sudah aku selesaikan, namun begitu bos datang jadi seolah belum ku kerjakan." sambung lira dengan meregangkan tubuhnya
"Hahaha, iya benar. Bagaimana dengan Mbak Fitri ya? Dia pasti capek banget karena harus kesana kesini." ucap Endang menatap meja kerja Safitri yang ada disebelahnya.
"Iya, dia yang paling sibuk dari pada kita." sambung lira.
"Nanti siang makan bareng yuk." ajak Endang pada lira.
"Iya Ayuk." jawab lira penuh semangat.
Saat pulang kantor lira berjalan menuju halte dan tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang yang dia kenali, dan lira pun mengikuti orang itu.
Deg
Lira terkejut saat dia tau siapa orang yang dia ikuti itu, dan ternyata mereka adalah Daniah dan juga Denis yang tak lain adalah kekasih Yuniar sahabatnya dan teman kerjanya di kantor.
"Apa yang mereka lakukan ya? Apakah Denis selingkuh dibelakang yuniar? Dan apa Yuniar tau soal kelakuan Denis ini?" gerutu lira dengan sangat marah.
Lira pergi dan tak memperdulikan mereka berdua yang dia khawatirkan adalah Yuniar sahabatnya, karena lira tau bagaimana rasanya dikhianati dan diselingkuhin oleh orang yang sudah kita percaya i.
Sesampainya di rumah lira berusaha untuk menghubungi yuniar lagi, namun nomor telpon Yuniar masih tak bisa dihubungi.
"Apa dia tak apa apa? Di rumahnya tadi juga tak ada orang, dan sepertinya dia sedang keluar. Tapi dia keluar kemana ya? Dan dengan siapa?" gumam lira berfikir dan semakin tak tenang.
...🍂🍂🍂...
Disebuah bar Yuniar sedang mabuk dan terus berceloteh tak karuan. Dia terus memaki Denis dan melampiaskan rasa sesaknya dengan menari nari tak karuan disebuah kamar vip yang dia sewa.
"Si baji***n itu tak tau diri. Dia pengecut.!" teriak yuniar dan meminum lagi minumannya.
"Hei sudah hentikan, kakak sudah mabuk."
__ADS_1
"Diam, aku mau minum apa urusannya dengan mu." Yuniar mendorong orang itu yang tak lain adalah satria.
"Harusnya aku senang, karena ini yang aku tunggu. tapi kenapa aku jadi kasian padanya kalo seperti ini." gumam satria melihat Yuniar yang mabuk.
1 jam sebelumnya.
"Lira buka pintunya, huhuhu." Yuniar menggedor rumah lira dan menangis dengan berjongkok.
"Eh, kak Yuni kenapa? Kakak belum pulang ya? Mau masuk dulu Kak, mungkin kak Lira lembur." ucap satria yang merasa aneh dengan keadaan Yuniar.
"Satria, apa kamu mau menemani aku? Aku butuh teman sekarang." tanya Yuniar dengan menangis menatap satria.
"Ya, baiklah kakak kenapa? Ayo bangun dan duduk dulu" tanya satria dengan memegang bahu Yuniar dan membuat Yuniar berdiri.
"Danis, Denis dijodohkan dan dia telah menghamili wanita itu." adu Yuniar pada satria.
"Eh, bagaimana bisa?" tanya satria
"Aku mau minum." ucap yuniar
"Mau aku temani minum?" tanya satria dan Yuniar mengangguk.
1 jam kemudian
"Hem, kau mau menemani aku di rumah ya? Apa kau mau menggodaku? Dasar anak nakal, bruk" ucap Yuniar dan dia pun jatuh tertidur karena sudah sangat mabuk.
"Ya Ampun, merepotkan sekali." ucap satria dan membawah Yuniar pulang dengan naik taksi dan meninggalkan motornya di bar.
"Kak berikan kunci rumahnya pada ku." ucap satria saat mereka sampai didepan rumah Yuniar.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa membongkar isi tas ku." Yuniar merebut tasnya lagi dari satria.
"Ini di rumah ku ya? Aku akan masuk kalo begitu." ucap Yuniar dan membuka pintu rumahnya.
"Eh, hati hati jalannya." satria menopang tubuh Yuniar yang mau jatuh karena jalannya oleng.
Bruk
Yuniar tertidur diats tempat tidurnya tanpa melepaskan bajunya dan juga sepatunya.
"Dasar bere****k, orang tak berguna.!" umpat Yuniar dalam tidurnya.
__ADS_1
"Hah, bagaimana aku bisa meninggalkan dia kalo seperti ini." satria mengehela nafas dalam menatap Yuniar yang mabuk berat
Greb
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tak mau sendiri." ucap Yuniar memegang tangan satria saat satria mau keluar dari kamar Yuniar.
"Kakak tidurlah aku tak kemana mana, aku ada di ruang tengah." ucap satria dan menidurkan Yuniar lagi.
Cup
Yuniar menc*um satria sambil bergelayut dileher satria.
"Ehm, kak hentikan. Apa kakak tau apa yang kakak lakukan ini?" satria mendorong paksa tubuh Yuniar
"Aku tau, aku tau. Kau sangat harum dan aku sangat suka dengan bau tubuhmu yang harum." ucap Yuniar menatap sayu pada satria.
"Iya tidurlah sekarang." satria melepaskan tangan Yuniar yang memegangnya.
"Gak mau aku mau menc*umnya lagi." Yuniar menarik lagi tubuh satria, hingga satria jatuh menimpah tubuh Yuniar.
"Kak apa kau sadar dengan ulah mu ini?!" teriak satria yang sedang berusaha menahan diri.
"Kau memarahiku, kau jahat.! Kau sama jahatnya dengan dia!" teriak yuniar dan menangis histeris.
"Ya Ampun, apa dia tak tau aku sudah menahannya dengan keras dari tadi." satria habis akal, dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ok, ini kakak yang minta dan jangan salahkan aku." satria mendekat dan memeluk Yuniar.
"Kakak menginginkan aku? Apa Kakak tau siapa aku? Jika kakak tau siapa aku, maka aku akan menemani kakak." bisik satria ditelinga Yuniar
"Sat - ria." jawab Yuniar dan dia berhenti menangis.
"Anak pintar, apa yang kakak inginkan hem?" tanya satria menatap Yuniar dalam.
"Kamu, aku ingin kamu." jawab Yuniar
Satria tersenyum "sesuai dengan permintaan kakak." jawab satria yang langsung memeluk dan menc*um Yuniar
"Ehm."
"Anak manis, tunjukkan semuanya sayang." ucap satria dan Yuniar pun menggila.
__ADS_1
Malam itu satria dan Yuniar menghabiskan malam yang panjang bagi mereka berdua, entah sudah berapa lama mereka bermain dan itu seolah tak membuat Yuniar berhenti, dan dia semakin menjadi hingga satria kewalahan menghadapinya.