
Liyon terlihat frustasi dengan semua yang terjadi dan kenyataan yang baru saja dia ketahui, Liyon tak bisa memarahi Mama-nya karena membuat Lira pergi dari sisinya dan juga tak bisa menyalahkan Lira yang langsung setuju untuk pergi meninggalkan dirinya.
"Bagaimana bisa, bagaimana bisa mereka mempermainkan diriku sampai seperti ini, mereka adalah orang - orang yang ku percaya dan ku sayang." Liyon bergumam dan memegang kepalanya yang terasa sakit.
Setelah menghabiskan rokoknya yang entah habis berapa dan juga minumannya Liyon langsung merebahkan tubuhnya ditempat tidur berusaha untuk memejamkan matanya yang terasa sangat panas.
...🍂🍂🍂...
Sementara ditempat lain Lira yang tadi lari dari pesta memilih untuk menghilangkan rasa sakitnya karena teringat akan kejadian masa lalunya dengan menghabiskan berkotak - kotak es krim di kedai es krim. Dan Rian yang sedang menemaninya tak bisa berbuat apa pun untuk mencegah dan gejolak yang ada didalam hati Lira.
"Lira kenapa kamu seperti ini, kamu bisa sakit perut nanti hentikan." cegah Rian yang sudah melihat Lira makan es krim habis 4 kotak.
"Tidak apa aku hanya ingin memakannya dan tak akan sakit." Lira terdiam sebentar, "Rian sebaiknya kamu pulang, maaf aku telah merepotkan mu. Aku tak apa sebentar lagi aku akan kembali ke hotel untuk menemui keluarga ku." sambung Lira menatap Rian dengan senyuman manisnya.
"Lira apa tak sebaiknya kamu pulang ke rumahmu saja, baru besok pagi kembali lagi ke hotel untuk menjemput Ferdi." saran Rian yang melihat Lira kacau
"Tidak nanti dia pasti akan mencari aku kalau mau tidur malam." jawab Lira yang masih saja memakan es krim.
"Kalau begitu aku antar kamu." tawar Rian pada Lira.
"Iya." Lira bangun dan masuk kedalam mobil Rian.
Didalam mobil Lira lebih banyak diam dan pikirannya melayang kemasa lalunya yang menyakitkan. Ingatan akan dirinya yang diminta untuk meninggalkan Liyon dan dianggap tak pantas untuk Liyon serta surat pernyataan kalau dia tak akan mengulangi perbuatannya lagi untuk mendekati dan menjalin hubungan dengan Liyon.
Tanpa sadar Lira meneteskan air matanya saat semua rekaman masa lalunya terputar lagi dalam ingatannya, rasa sakit Lira saat dia berusaha keras melupakan Liyon dan meninggalkan keluarganya. Serta menjalani masa kehamilan dan melahirkan tanpa adanya satu pun dari orang terdekatnya.
"Lira, jangan menangis lagi aku tak sanggup melihatmu bersedih terus seperti ini." Rian menghentikan mobilnya dan membelai rambut Lira, "aku menyukaimu dari sejak dulu ayo kita menikah, dan aku akan membuatmu bahagia lalu membawah mu pergi jauh dari sini." sambung Rian.
"Maafkan aku Lira aku tak tau kalau kau punya trauma di sini, andai aku tau dari awal aku tak akan membiarkan mu kembali lagi kesini." ucap Rian yang terlihat menyesal atas keputusannya menyetujui kalau Lira dipindahkan kerja di sini.
"Tak apa ini bukan salah mu, karena aku juga ingin ketemu sama keluarga ku." jawab Lira menghapus air matanya.
"Lira, ayo kita menikah dan meminta ijin dari orang tuamu. Setelah itu kita pergi dari sini bertiga dan hidup bahagia." ajak Rian pada Lira
"Rian, aku,,," kalimat Lira tertahan "aku bukanlah orang baik dan masih punya banyak kekurangan dalam hidup ku, aku tak mau menyusahkan kamu." jawab Lira lagi.
"Lira jangan langsung menolak ku, pikirkanlah dulu aku akan menunggumu. Aku tau kamu masih belum menyukai ku, tapi bagiku itu tak masalah biarlah aku saja yang menyukai mu." jawab Rian dengan sangat serius.
Mereka tak tau kalau kegiatan mereka didalam mobil itu diawasi oleh seseorang yang tanpa sengaja mau keluar untuk mencari udara segar.
__ADS_1
"Maafkan aku Rian, tapi aku tak bisa memberimu harapan atau jawaban karena aku tak mau kau kecewa dan sakit hati karena aku." jawab Lira tersenyum dan Rian langsung menarik tubuh Lira kepadanya dan memeluknya.
"Jangan pikirkan yang lain atau yang menyulitkan mu dan jangan membuat mu sakit karena masalah ini dan jangan juga merasa terbebani, aku juga tak peduli siapa dan bagaimana dengan masalalumu." ucap Rian yang berusaha untuk meyakinkan Lira.
"Masuklah besok aku akan menjemputmu lagi." ucap Rian dan Lira keluar dari mobilnya dengan senyuman diwajahnya lalu berjalan masuk kedalam hotel.
"Bagaimana bisa ada orang sepertinya, apa yang harus aku lakukan dengan semuanya." gumam Lira sambil berjalan menyusuri koridor hotel menuju ke kamarnya orang tuanya, dan tak tau kalau dia diikuti oleh seseorang dibelakagnya.
"Ugh, sakit" lenguh Lira saat tiba - tiba merasakan sakit diperutnya karena kebanyakan makan es krim.
"Aduh sakit sekali." Lira ambruk dan tersungkur dilantai sambil memegangi perutnya.
"Lira apa yang terjadi?" tanya Liyon yang dari tadi mengikuti Lira serta mengawasi aktifitas Lira dan Rian.
"Sakit, perutku sakit sekali." aduh Lira menahan perutnya dengan kedua tangannya.
"Bagaimana bisa, apa kau makan terlalu banyak es krim? Apa kau anak kecil hah?!" Liyon memarahi Lira dan mengangkat tubuh Lira dan masuk kedalam kamarnya lalu menghubungi Bagas untuk datang.
"Sakit Liyon.!" teriak Lira yang merasakan sakit diperutnya.
"Tenang dan diam lah, sebentar lagi Bagas akan datang." Liyon memasang air hangat diperut Lira
"Lira, diamlah. Apa kau sudah gila sudah sebesar ini masih saja banyak makan es krim." Liyon memarahi Lira sambil mengusuk perut Lira dengan lembut.
"Kenapa kau marah aku yang sakit. Pergilah aku bisa sendiri." Lira memberontak dan memukul bahu Liyon.
"Aku bilang diam." Liyon yang sudah tak sabar langsung melahap bibir Lira agar diam dan menempelkan air hangat diperutnya.
Tok tok tok
"Li.!" teriak Bagas memanggil dari luar kamar.
Liyon langsung melepas penyatuannya dengan bibir Lira dan keluar untuk bukain pintu, sementara Lira yang terbengong memegangi kompres air hangat diperutnya.
"Lama banget." bentak Liyon saat membukakan pintu.
"30 menit lama apanya.! Mana yang sakit, tidurlah biar aku periksa." ucap Bagas memegang lengan Liyon.
"Bukan aku, yang sakit didalam." tegas Liyon dan Bagas langsung masuk kedalam kamar Liyon
__ADS_1
"Eh, Lira? Sudah lama kemana saja kau, apa kau tau aku sangat merindukanmu." Bagas berceloteh sambil memeriksa keadaan Lira.
"Kau habis makan apa sampai seperti ini.?" tanya Bagas sambil masang cairan infus pada Lira.
"Tak makan apa - apa hanya es krim." jawab Lira dengan senyum menatap Bagas.
"Wah berapa banyak yang kau habiskan, apa tak bisa menjaga kesehatan mu." omel Bagas pada Lira.
"Kalau sudah selesai pergilah" Liyon menarik Bagas keluar dari kamarnya.
"Nanti kalau infusnya habis kau cabut seperti biasa, dan obat minumnya jangan lupa untuk diminum." jelas Bagas pada liyon.
"Iya aku tau, pergilah sekarang." Liyon mendorong Bagas keluar dari kamarnya.
"Hei kau tak sopan sekali, setelah habis pakai aku langsung diusir.!" teriak Bagas kesal pada Liyon didepan kamar Liyon yang sudah tertutup.
"Mau kemana?" tanya Liyon yang melihat Lira berjalan tertatih mau keluar.
"Aku kekamarnya ibu ku saja." ucap Lira sambil menunduk.
"Istirahatlah, tak ada yang tau nanti cara mencabut infus kalau sudah habis dan minum obat mu." cegah Liyon dan menyerahkan obat Sera air pada Lira.
Dengan patuh Lira kembali lagi ke kamar Liyon dan meminum obatnya. Saat Lira merebahkan tubuhnya Liyon duduk disamping Lira menatap dengan dalam pada Lira, bibirnya ingin berkata namun dia merasa ragu untuk menanyakannya.
"Dimana Rian kenapa dia meninggalkan kamu seorang diri, seharusnya dia menemanimu disaat kamu sakit begini." ucap Liyon, padahal yang ingin dia katakan bukan itu.
"Dia ada pekerjaan lain dan dia tak pernah meninggalkan aku. Dia selalu ada untuk ku disetiap rasa sakit ku." jawab Lira memalingkan wajahnya.
"Terima kasih karena kamu sudah merawat ku dan memanggilkan aku Bagas untuk mengobati ku." sambung Lira lagi.
"Apa kalian begitu bahagia? Kau harus mengatakan padanya untuk membayar hutangnya ini, karena aku telah merawat wanitanya." ucap Liyon dengan mengepalkan tangannya.
"Tentu, aku akan bilang padanya nanti." jawab Lira yang lagi - lagi tak mau melihat Liyon.
"Lira untuk rasa sakit mu aku meminta maaf." ucap Liyon lagi dan itu membuat Lira kaget.
"Jangan lagi makan es krim terlalu banyak, jika ada masalah sebaiknya kamu selesaikan dengan benar jangan membuat dirimu sakit seperti ini." ucap Liyon pada lira.
"Apakah kamu tau kalau rasa sakit mu ini adalah satu hal yang sangat dipahami oleh Liyon penyebabnya apa. Aku sangat memahami mu dan juga tau akan dirimu. Jangan menyiksa dirimu lagi seperti ini." sambung Liyon dan keluar meninggalkan Lira sendiri.
__ADS_1