
"Hem, tak mau angkat? Sepertinya dia mulai berani sama aku dan mengabaikan panggilan ku. Tunggu hukuman mu besok pagi kak." gumam liyon dengan kesal menatap layar handphonenya dan dia pun membaringkan tubuhnya untuk tidur.
"Tunggu dulu, kakak pasti sangat kecewa pada ku dan juga marah. Tapi aku tak bisa melibatkan dirinya dalam urusan ini, semoga saja Farid bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat karena aku tak sabar ingin menikah dengan Lira." gumam liyon sambil menutup mata dan mengulas senyum dibibirnya.
Keesokan paginya liyon bangun dengan terburu - buru karena dia ingin segerah pergi menjemput lira untuk pergi ke kantor bersama. Liyon mandi dengan cepat dan segerah bergegas pergi melajukan mobilnya kearah rumah lira.
Sangat lama liyon memencet bel rumah lira dan juga menghubunginya lewat panggilan telepon namun tak ada respon dari lira.
"Tuan mencari lira ya? Tadi pagi - pagi sekali dia sudah pergi dijemput oleh seorang pria dan mereka pergi dengan mobil." jelas tetangga rumah lira pada liyon.
"Apa? Kalau boleh saya tau seperti apa orang yang menjemputnya." tanya liyon dengan menahan rasa kesal.
"Orang yang sudah berumur tapi mereka terlihat sangat akrap. Saya permisi." jawab tetangga lira lagi dan pergi meninggalkan liyon.
"Orang berumur dan terlihat akrap, siapa sebenarnya yang telah menjemput lira?" liyon bergumam dan menuju ke mobilnya lagi.
"Entah kenapa sejak kejadian itu, lira jadi terlihat seolah menghindari aku. Bahkan sekarang dia dengan sangat sengaja dan terlihat jelas mengabaikan dan tak peduli dengan ku." gerutu liyon dalam mobil menatap rumah lira yang kosong.
...🍂🍂🍂...
Ditempat nyonya Li.
Lira yang yang dijepit oleh pak Yus atas perintah nyonya Li membuat lira bertanya - tanya dan bingung, karena dia sudah berusaha keras untuk tak menunjukkan hubungannya degan liyon selama pesta temu keluarga semalam.
"Lira ayo masuk ikut aku." ucap nyonya Li saat dia keluar dari kamarnya dan masuk kesebuah ruangannya yang ternyata adalah ruang kerja papa Li.
"Silakan duduk Lira, aku akan bicara langsung tak basa basi lagi." ucap nyonya Li saat dia sudah duduk di sofa dalam ruang kerja papa Li, sedangkan Lira hanya diam duduk dengan tenang tak bersuara.
"Lira aku tau kamu sedang menjalin hubungan dengan Liyon, tapi aku tak tau sudah sampai tahap mana hubungan kalian." ucap mama Li seketika.
"Deg" lira terkejud dan jantungan berdetak sangat cepat, karena dia tak menyangka kalau akan ketahuan secepat ini.
"Maaf nyonya." ucap lira menunduk.
"Kata Yusnia kemaren kalian dihadang preman dan kamu melindungi Yusnia. Namun saat liyon datang dia tak memperhatikan dirinya melainkan mencemaskan diri mu."
"Aku sangat tau siapa putraku, dia adalah orang yang tak pernah bisa dipaksa atau ditekan. Dan aku sangat senang saat dia tak membantah waktu dijodohkan dengan Yusnia, itu artinya liyon pun juga menyadari bahwa Yusnia lah yang bisa membantu dia dalam mengembangkan bisnis, jadi aku memintak pada mu agar kamu jangan jadi gangguan bagi mereka berdua." pinta mama Li pada lira sambil menekankan kata - kata jangan jadi gangguan.
__ADS_1
Mendengar itu tubuh lira langsung bergetar dan tatapannya kosong, namun tak lama kemudian lira sudah bisa menguasai kondisi dirinya atas terkejutnya dari permintaan mama Li pada dirinya.
"Lira aku tau kamu adalah bawahan yang baik dan pekerja keras, mungkin Liyon tertarik pada mu karena kegigihan mu dan rasa kagumnya pada mu. Tapi aku minta agar kamu jangan memasukkan kedalam hati apa yang dilakukan oleh liyon dan perhatiannya pada mu, agar kamu tak merasa sakit hati saat nanti liyon telah meninggalkan mu." pinta mama Li menasehati lira.
"Baik nyonya saya mengerti." jawab lira dengan tegas tak ada rasa takut atau pun sakit hati sama sekali dari sorot mata lira.
"Iya aku tau kamu bisa menepati janji dan kata - kata mu, hanya itu yang ingin aku sampaikan pada mu. Maaf sudah mengganggu waktu mu, kamu sudah bisa pergi sekarang nanti aku akan menyuruh pak Yus untuk mengantarkan mu lagi." ucap mama Li pada lira.
"Tidak perlu nyonya saya bisa pergi sendiri, sama pamit sekarang." ucap lira dan keluar dari rumah orang tua liyon.
Setelah keluar dari rumah orang tua liyon lira tak kembali ke kantor dia bolos dan berjalan ke taman kota, lira duduk diantara bangku - bangku taman dan memejamkan matanya menghadap ke langit yang terik mentari ya sangat terang.
"Jadi Yusnia yang cerita pada nyonya Li serta menceritakan semua kejadian semalam." gumam lira yang masih menutup matanya.
"Jangan menjadi gangguan bagi mereka." gumam lira lagi dan mengulas senyum meratapi nasibnya.
"Lira, kamu benar - benar siap ya. Dulu kamu kehilangan kekasihmu karena orang yang kamu anggap sebagai sahabat mu, dan sekarang kamu juga akan kehilangan lagi karena sepupu dari orang yang sama. Apakah nasib ku harus berakhir pada keluarga mereka ya?" lira bertanya pada dirinya sendiri dan tertawa geli.
"Untungnya sekarang aku sudah menyiapkan hati dan pikiranku jadi aku tak merasa sakit serta putus asah seperti dulu, ya walau memang ada rasa sakitnya sih. Tapi aku masih bisa mengatasinya." lira menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
Lira pun mengisi hari itu itu dengan bermain sama anak kecil yang dibawah oleh orang tua mereka ke taman kota itu, lira terlihat sangat senang dan bahagia bermain bersama dengan anak - anak kecil itu.
"Hem, siapa yang menghubungi ku ya?" lira melihat hanponnya dan melihat nama gali dilayar hanponnya sedang memanggilnya.
Lira : "Halo, ya Gali ada apa?"
Gali : "Lira kamu sedang dimana sekarang? Bisa tidak kamu datang kesini kami sedang berpesta ringan di rumah."
Lira : "Ada apa?"
Gali : "Hahaha, merayakan kebebasan, karena di rumah sedang tak ada orang. Sudah 3 hari tuan Farid tak ada dan sekarang taun muda juga keluar dan katanya dia akan kembali 2 hari lagi, jadi kami berpesta di sini, kemarilah pasti akan lebih seru kalau kita berpesta sambil berlatih, karena sudah lama aku tak melawan mu."
Lira : "Baik, aku akan kesana."
Setelah mematikan panggilan telepon dari gali lira langsung naik taksi menuju mansion atau rumah besar liyon untuk berpesta dengan yang lainnya, lira lewat pintu belang biar langsung masuk ke paviliun jadi tak perlu lewat pintu utama.
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
30 menit kemudian lira sudah sampai dan benar saja taknada orang di rumah utama, terlihat sangat sepi dan juga gelap karena lampunya tak dinyalakan hanya lampu taman dan halaman saja yang menyala.
"Lira di sini." terima gali saat dia melihat lira masuk dengan mengendap - endap.
"Wah non Lira terlihat sangat cerah ya." ucap bi min
"Jarang - jarang kita berpesta sendiri dan hanya orang - orang seperti kita." Surti menimpali dengan sangat senang.
Mereka semua denah memanggang jagung dan juga membuat grill ala mereka sendiri, serta bi min membuat masakan rendang yang diolah alah dirinya dengan dibantu Sulasih.
8 orang itu sangat menikmati pesta mereka sambil berbincang dan berfoto bersama. Namun mereka tak memperhatikan kalau ada seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari mereka berpesta sedang memperhatikan mereka semau yang terlihat sangat bahagia serta begitu bebas.
"Uhuk uhuk uhuk." lira terbatuk - batuk saat dia memulai memakan masakan rendang bi min yang ternyata sangat pedas, dan lira tak bisa makan pedas.
"Lira cepat minum air apa yang terjadi?" suryo terlihat sangat panik memberikan air putih pada lira yang terbatuk - batuk dan terlihat sulit bernafas.
"Sial.!" orang yang dari tadi mengawasi merasa kesal dan langsung melangkah keluar dari persembunyiannya dan mendekat ke arah lira dan yang lain berkumpul.
Gali menepuk - nepuk punggung lira dengan lembut untuk mengurangi kepanikan lira akibat tersedak karena pedas. Dan orang yang bersembunyi tadi berjalan semakin mendekati lira dengan tatapan mata yang mulai menggelap serta menakutkan untuk dilihat semua orang."
"Lira, apa yang kau lakukan?!" bentak liyon seketika pada lira saat dia telah berdiri tepat dibelakang lira.
Mendengar suara liyon yang menggelegar seketika semua orang menatap ke arah sumber suara, dan gali sama suryo langsung menghentikan aktifitasnya dalam membantu lira. Kedatangan liyon merupakan gangguan bagi pesta sederhana yang dilakukan oleh mereka.
"Tuan muda lira tak sengaja tersedak karena masakannya terlalu pedas pada bagi lira." ucap suryo yang tadi mendengar penuturan lira.
"Terlalu pedas?" liyon bertanya bingung, sementara lira hanya diam mengatur nafasnya karena kepedasan.
"Lira bangunlah." liyon memerintah lira dan lira langsung bangun dari duduknya dengan menahan rasa pedas yang membakar lidahnya serta rongga mulutnya.
Liyon tersenyum tipis menatap lira yang tertunduk didepannya dengan diam. Mata ekor liyon melirik pada mereka semua yang sedang duduk dan bisa melihat dengan tepat posisi lira berdiri.
"Ku pikir akan susah untuk melakukannya, ternyata mereka memberikan jalan sungguh sangat luar biasa." gumam liyon dalam hati dan berjalan mendekat semakin dekat pada lira.
"Coba ku lihat apa benar masakannya terlalu pedas karena selama ini bi min tak pernah masak pedas sama sekali." liyon mengangkat dagu lira, tersenyum sekilas dan langsung meraup bibir lira dihadapan semua orang.
Yang belum tau merasa kaget dengan adegan itu dan bagi yang sudah tau seperti Gali dan Suryo sudah tak kaget karena tau kalau bosnya memang menaruh hati pada lira, namun karena lupa dia malah dengan sengaja menepuk punggung lira dengan lembut saat lira tersedak tadi.
__ADS_1
Liyon langsung membawa lira ke pojok dan mengunci tubuh lira diantara dinding dan juga tubuhnya, karena liyon tau lira pasti akan berontak. Itu sebabnya setelah meraup bibir lira dia langsung menggiring lira tanpa melepaskan c*umannya.